
Kay tetap diam saja, dia tidak merespon ucapan Arka. Itu membuat Arka semakin penasaran, akhirnya Arka menarik tangan Kay dan membalikan tubuhnya.
"Sayang!" Teriak Arka terkejut.
Kay hanya mampu tertunduk, dia tak berani menatap Arka.
"Sayang, apa yang kamu lakukan disini? bagaimana kamu tau rumah aku?" Tanya Arka penasaran.
Terlihat raut muka Arka yang begitu terkejut melihat Kay berada di rumahnya. Lina yang sedari tadi melihat Arka dan Kay juga tak kalah terkejutnya, apalagi saat Arka memanggil Kay dengan sebutan sayang.
"Sayang, apa kamu kenal dengan Kay?" Tanya Lina penasaran.
"Tentu saja, Ma. Kay kan pacar Arka, dia wanita yang ingin Arka kenalkan sama Mama dan Papa," sahut Arka dengan menggenggam tangan Kay.
Lina terkulai lemas di kursi, dia tidak tau apa maksud dari semua ini, dia terlihat sangat shock dengan apa yang baru saja didengarnya.
Ardi yang baru masuk ke dalam rumah berjalan menuju ruang makan, dia melihat mamanya duduk lemas di kursi meja makan, sedangkan Arka tengah menggenggam tangan Kay. Ardi berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" Tanya Ardi penasaran.
"Kak, apa maksud semua ini?" Tanya Arka.
"Maksud kamu apa? kakak nggak mengerti? terus apa yang terjadi sama Mama?" Tanya Ardi sambil menyentuh pundak mamanya.
"Kak, kenapa kakak nggak bilang kalau kakak mau menikah sama Kay?" Tanya Arka.
"Memangnya kenapa? Apa kamu mengenal Kay?" Tanya Ardi penasaran.
"Ya..aku sangat mengenal Kay bahkan aku sangat mencintainya."
"Maksud kamu apa, Ka?" Tanya Ardi terkejut.
"Kakak ingat, aku pernah cerita tentang cewek aku yang mau aku kenalin sama kakak, yang orang tuanya belum merestui hubungan kami, dia adalah Kay," ucap Arka sambil menatap Kay.
Ardi sangat terpukul, dia terkejut mendengar ucapan Arka. Dia tak pernah menyangka kalau wanita yang dia nikahi adalah orang yang sangat dicintai oleh adiknya.
"Kamu bercanda kan, Ka?" Tanya Ardi tidak percaya.
"Aku nggak bercanda, kak, kalau kakak nggak percaya kakak bisa tanya sama Kay." Arka terus menggenggam tangan Kay.
"Sayang, kamu kasih tau kakak aku, kalau kita saling mencintai, kita sudah pacaran selama tiga tahun dan kita sudah berencana untuk menikah," pinta Arka sambil menatap Kay.
Kay menghapus air mata di pipinya.
"Maaf," ucap Kay yang masih tertunduk.
"Maaf untuk apa sayang?" Tanya Arka bingung.
"Maaf, karena aku sudah menyakiti hati kamu," ucap Kay.
Lina dan Ardi tidak percaya Kay mengatakan itu.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan? Kay itu istri kakak kamu," ucap Lina sambil meneteskan air mata.
"Nggak Ma, Kay adalah pacar Arka, Arka nggak rela Kay menikah sama kakak."
"Lepasin tangan Kay, Ka!" Teriak Ardi.
"Nggak! aku nggak akan pernah melepaskan Kay, dia hanya milikku," ucap Arka lalu menarik Kay ke dalam pelukannya.
Kay mencoba melepaskan diri dari pelukan Arka.
"Arka, lepasin aku, ini sakit Ka," ucap Kay sambil terus mencoba melepaskan diri.
Akhirnya Arka melepaskan pelukannya, Arka memegang dagu Kay dan langsung menciumnya. Kay yang terkejut sontak langsung mendorong tubuh Arka.
"Apa yang kamu lakukan!" Teriak Kay.
"Aku merindukanmu, sayang, apa kamu tidak merindukan aku?"
Ardi yang sangat geram melihat tingkah Arka yang sudah semakin kelewat batas langsung menghampiri Kay dan menarik tangan Kay.
"Ikut aku," ucap Ardi sambil menarik tangan Kay lalu melangkah pergi.
"Kak! lepasin tangan Kay!" Teriak Arka.
Tapi Ardi tidak menghiraukan teriakan Arka dan terus menaiki tangga. Ardi membawa Kay masuk ke dalam kamar.
"Sekarang jelasin semuanya sama aku."
"Untuk apa aku jelasin sama kamu," ucap Kay ketus.
"Jadi menurut kamu ini semua salah aku, hah! disini aku yang jadi korban atas perjodohan bodoh ini!" Seru Kay marah.
"Maksud kamu apa?" Teriak Ardi.
"Sekarang aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu mau melakukan perjodohan ini padahal kamu tidak mengenal aku?"
"Karena aku tak bisa menolak permintaan Papa aku," ucap Ardi berbohong.
Ardi tak mungkin mengatakan pada Kay kalau dia setuju dengan perjodohan ini karena dia sangat mencintai Kay.
"Sekarang aku balik tanya sama kamu, kenapa kamu juga menerima perjodohan ini kalau kamu mencintai Arka?"
"Karena aku menyayangi Ayah aku, aku nggak mau menyakitinya, aku nggak mau membuat penyakit Ayahku semakin parah, kalau aku tau kamu kakaknya Arka, maka aku akan menolak perjodohan ini," ucap Kay sambil menatap tajam kearah Ardi.
Ardi merasa bersalah telah berfikiran buruk tentang Kay, dia mengira Kay melakukan ini untuk menyakiti keluarganya.
"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan, sekarang kamu tau kalau Arka adalah adik aku."
"Aku nggak tau," ucap Kay sambil duduk di sofa.
"Apa kamu sangat mencintai Arka?"
"Aku sangat mencintainya, hanya dia pria yang aku cintai di dunia ini setelah Ayahku."
Hati Ardi terasa amat sakit mendengar jawaban Kay, wanita yang sangat dicintainya ternyata sangat mencintai adiknya.
"Sekarang terserah kamu, apapun keputusan kamu aku akan menerimanya," ucap Ardi sambil duduk di samping Kay.
Kay mengerutkan dahi dan menatap Ardi, kay tidak mengerti apa maksud dari ucapan Ardi.
"Maksud kamu apa?" Tanya Kay bingung.
"Kalau kamu ingin kita bercerai, maka aku akan melakukannya dan kamu bisa menikah dengan Arka."
"Apa kamu sudah gila!" Teriak Kay marah.
"Bukankah itu yang kamu inginkan," ucap Ardi.
Kay tidak menyangka Ardi akan semudah itu memikirkan tentang perceraian.
"Apa kamu pikir aku ini barang yang bisa dipindah tangankan? setelah kamu bosan bisa langsung kamu buang begitu saja! apa kamu pikir aku menikah denganmu nggak dengan pertimbangan yang matang?" Tanya Kay sedih, tanpa sadar air mata menetes dikedua pipi Kay.
Ardi tidak sanggup jika melihat Kay menangis, akhirnya Ardi memeluk Kay.
"Maafin aku, aku nggak bermaksud untuk menyakiti hati kamu."
"Kenapa kamu tak perduli dengan perasaan aku sebelum mengatakan itu," ucap Kay disela tangisannya.
"Aku pikir kamu akan bahagia jika menikah dengan Arka," ucap Ardi lalu melepas pelukannya.
"Kalau aku melakukan itu terus apa yang akan terjadi sama Ayah aku, aku memang akan bahagia jika menikah dengan Arka, karena aku mencintainya, tapi dengan begitu aku akan menyakiti kedua orang tua ku. Lebih baik aku tidak bahagia, tapi kedua orang tua ku bahagia," ucap Kay sambil menghapus air matanya.
"Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini?" Tanya Ardi dengan perasaan sedih dan kecewa.
"Sekarang aku balik tanya sama kamu, apa kamu juga bahagia atas pernikahan ini?" Tanya Kay balik.
"Ya...aku bahagia karena aku sangat mencintaimu, aku mencintaimu lebih dulu sebelum Arka," gumam Ardi dalam hati.
"Kenapa kamu diam saja? apa kamu juga tak bisa menjawabnya?" Tanya Kay lagi.
"Sudahlah, aku nggak mau membahas ini, sekarang kita pikirkan gimana caranya menghadapi Arka," sahut Ardi.
"Aku tau aku sudah menyakiti hati Arka, aku ingin menyelesaikan masalah ini berdua dengan Arka, tapi jika kamu mengizinkan."
"Kenapa kamu harus minta izin sama aku?" Tanya Ardi heran.
"Karena sekarang kamu adalah suamiku."
Ardi senang Kay mengakuinya sebagai suaminya, ingin sekali Ardi memeluk Kay dan mengucapkan kata aku mencintaimu, tapi Ardi tak ingin terburu-buru, Ardi tak ingin memaksa Kay untuk mencintainya.
"Aku akan mengizinkan kamu, tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Jangan sampai ada adegan ciuman seperti tadi," ucap Ardi dengan raut wajah kesal.
"Itu bukan keinginan aku, Arka yang mencium ku secara mendadak." Kay melihat raut wajah Ardi yang nampak kesal.
"Tunggu-tunggu, jangan bilang kalau kamu cemburu melihat Arka mencium ku?" Tanya Kay yang mulai curiga.
~oOo~