Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Move on..


Enam bulan kemudian..


Ardi dan Kay sudah pindah ke rumah baru mereka. Ardi semakin bahagia setelah mendengar tentang kehamilan Kay, perut Kay semakin membuncit bertambahnya usia kandungannya. Semakin hari Ardi semakin mencurahkan semua kasih sayang dan perhatiannya.


"Kamu mau makan apa sayang? biasanya orang hamil minta dibelikan ini itu, tapi selama masa kehamilan kamu nggak pernah minta yang aneh aneh."


"Em...jadi kak Ardi mau aku minta yang aneh-aneh, kalau gitu aku mau makan sate ayam."


"Tapi malam-malam begini mau cari sate ayam dimana sayang?" tanya Ardi bingung.


"Terserah dan aku nggak perduli, pokoknya malam ini juga aku ingin makan sate ayam," ucap Kay sambil cemberut.


"Tau gini tadi aku nggak usah menawarinya makanan, jadi susah sendiri kan," gumam Ardi dalam hati.


"Cepetan kak, apa kak Ardi nggak kasian sama anak kita?"


"Iya-iya, aku akan cari sate ayam sampai dapat demi anak kita," ucap Ardi sambil mengusap usap perut Kay yang buncit.


Ardi kebingungan mau mencari sate ayam kemana lagi, waktu menunjukan pukul 11 malam. Ardi melajukan mobilnya di sekeliling pinggir jalan tapi tidak ada yang menjual sate ayam. Ardi terus berfikir.


"Oh iya, didekat kontrakan Kay yang dulu kan ada penjual sate ayam yang buka sampai larut, coba aku cari di sana semoga masih buka," ucap Ardi sambil terus melajukan mobilnya.


Ardi menghentikan mobilnya didepan warung sate di pinggir jalan. Ardi turun dari mobil.


"Maaf, Pak, apa satenya masih ada?" tanya Ardi.


"Tinggal satu porsi, Mas," ucap penjual sate itu.


"Nggak apa-apa, Pak. Tolong dibungkus ya, Pak," pinta Ardi.


Selang beberapa menit sate pun selesai dibungkus. Ardi membayar sate itu. Ardi masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Sesampainya di rumah Ardi langsung menuju kamar.


Ardi masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju ranjang. Ardi melihat Kay sudah tidur lelap. Ardi mengecup kening Kay.


"Dasar! sudah capek-capek mencari sate ayam, bukannya ditungguin malah ditinggal molor, kalau bukan karena demi anak sudah aku kasih pelajaran kamu," ucap Ardi pelan.


Ardi menaruh bungkusan sate di atas meja. Ardi merebahkan tubuhnya di samping Kay dan memeluknya. Karena capek akhirnya Ardi pun terlelap.


Keesokan harinya..


Ardi mulai membuka matanya dengan perlahan. Ardi mencari sosok yang semalam tidur disampingnya.


"Jam berapa ini, dia kenapa pagi-pagi begini sudah bangun," ucap Ardi lalu turun dari ranjang.


Ardi berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai mandi dan berpakaian Ardi keluar dari kamar. Ardi menuruni tangga dan berjalan menuju dapur.


"Kemana ya, Kay, kok di dapur juga nggak ada," ucap Ardi cemas.


Ardi berjalan keluar rumah, Ardi melihat Kay sedang duduk di ayunan di samping rumahnya. Ardi berjalan menghampiri Kay.


"Kamu ngapain disini sayang, ayo masuk, diluar dingin," ucap Ardi sambil berjongkok di depan Kay.


"Aku ingin menghirup udara segar di pagi hari," ucap Kay lalu mencium kilas bibir Ardi.


"Tapi diluar dingin sayang," ucap Ardi sambil duduk di ayunan.


Ardi mendekap Kay memberinya kehangatan. Kay menatap Ardi dengan senyuman manis diwajahnya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"


"Terima kasih karena kamu telah mencintaiku selama ini, selalu menjagaku dan menyayangiku, kamu sudah sabar menungguku sampai aku bisa melupakan masa laluku," ucap Kay sambil memeluk tubuh Ardi.


"Justru aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu karena kamu mau menikah denganku, mencintaiku dan menemaniku selama ini," ucap Ardi sambil mengecup kening Kay.


"Aku sudah nggak sabar ingin melihat anak kita lahir sayang, rasanya kebahagiaan aku sudah lengkap."


"Aku juga sudah nggak sabar menunggu kelahiran anak kita, anak kita adalah pelengkap kebahagiaan kita," ucap Kay sambil mengusap lembut perutnya.


"Aku mencintaimu sayang, terima kasih kamu sudah memberikan aku anugerah yang terindah," ucap Ardi sambil mengecup kening Kay.


"Sama-sama, aku bahagia bisa menikah dan hidup bahagia bersama kamu, semua kasih sayang dan perhatianmu kamu curahkan hanya untukku."


Di rumah Arka.


Sudah enam bulan semenjak kepergian Arka Lina merasa kesepian di rumah, walau Ardi dan Kay sering berkunjung tapi Lina masih sangat merindukan Arka. Lina memandang foto yang terakhir Arka kirim dari Paris.



Terlihat jelas Arka sangat bahagia di sana. Lina merasa bersalah karena telah menjauhkan Arka dari keluarganya. Untuk menghilangkan rasa rindunya Lina menelfon Arka.


Tut..tut..tut..


"Halo," jawab Arka dengan suara parau nya.


"Halo sayang, apa Mama menganggu tidurmu?" tanya Lina.


"Em...ada apa Ma, malam-malam begini menelfon," ucap Arka sambil menguap.


"Mama sangat merindukanmu sayang, kapan kamu akan pulang, sekarang Ardi dan Kay sudah bahagia, sebentar lagi Kay akan melahirkan, apa kamu nggak ingin melihat keponakanmu?"


Arka bangun dari tidurnya dan turun dari ranjang. Arka keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.


"Halo sayang, kamu masih di situ?"


"Iya, Ma," ucap Arka sambil membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral.


"Apa kamu masih marah sama Mama sayang?"


"Enggak kok, Ma. Arka sudah melupakan semuanya, Arka sudah bahagia di sini dan Arka juga sudah mengikhlaskan Kay untuk Kak Ardi, jika sudah waktunya Arka akan pulang," ucap Arka lalu meneguk air mineral yang tadi diambilnya.


"Kapan kamu akan pulang, Mama dan Papa sudah kangen sama kamu."


"Arka nggak tau, Ma. Semester ini sampai semester depan Arka sangat sibuk. Arka nggak bisa janji, Ma, tapi Mama tenang saja, kalau Arka sudah ada waktu luang, Arka akan mengabari Mama."


"Baiklah sayang, jaga diri kamu baik-baik, dan jangan lupa makan, jaga kesehatan kamu."


"Baik, Ma."


"Ya sudah, kembalilah tidur, selamat malam sayang," ucap Lina lalu mematikan telfonnya.


Dengan mendengar suara Arka Lina sudah bahagia, suara Arka adalah obat rindunya kepada anak bungsunya.


"Mama kok bahagia banget?" tanya Jonny.


"Mama habis menelfon Arka, Pa. Mama sangat merindukan Arka."


"Yang sabar ya, Ma. Arka kan di sana belajar, kalau dia ada waktu dia pasti pulang."


"Papa kan tau Arka itu tidak pernah jauh dari kita, Pa. Apalagi Arka itu anaknya manja, ya wajar kan kalau Mama kangen dan khawatir."


"Iya..Papa ngerti, Ma. Papa juga mengkhawatirkan Arka, tapi Mama bisa lihat sendiri kan Arka bahagia di sana."


~oOo~