
“Zahra sebenarnya ada apa ini? Kenapa kamu bilang sama teman-teman kamu kalau aku ini tunangan kamu. Padahal tadi aku ingin bilang kalau kita ini saudara sepupu.” Samuel lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.
“Karena aku ingin mereka tau, bukan hanya mereka yang bisa bahagia, tapi aku juga.”
Samuel mengernyitkan dahinya, “maksud kamu? Jangan bilang pria itu tadi adalah pria yang kamu ceritakan waktu itu?” tanyanya terkejut.
Zahra menganggukkan kepalanya, “dia pria itu,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya.
“Tapi tadi kamu mengucapkan selamat kepada mereka atas pernikahan mereka, itu berarti...” Samuel tidak sampai hati meneruskan kata-katanya.
“Kata Kak Kenzo Kak Micel sudah menikah, mungkin benar mereka sudah menikah.”
Samuel menggenggam tangan Zahra, “kamu nggak apa-apa kan? Jika dia benar-benar sudah menikah, maka lupakanlah saja dia. Masih banyak pria di luar sana yang mau menikah sama kamu,” ucapnya.
Zahra tersenyum, “memang aku barang obralan, hingga banyak orang yang tertarik untuk memiliki aku,” ucapnya.
“Nah gitu dong senyum, kalau kamu cemberut gitu, wajah kamu jelek tau,” ledek Samuel dengan menepiskan senyumannya.
“Tapi tidak untuk Kak Ardi, bagi dia wajah cemberut aku malah membuat wajah aku semakin menggemaskan,” ucap Zahra sambil menepiskan senyuman.
Tak berselang lama pelayan datang untuk mengantarkan makanan yang mereka pesan. Mereka mulai menikmati makanan yang tersaji di atas meja.
***
Ardi dan Micel masih berdiri di depan restoran, mereka tengah menunggu seseorang. Micel masih penasaran kenapa Ardi sejak tadi hanya diam, bahkan sikap dia terhadap Zahra juga dingin. Padahal yang gadis itu tau selama ini Ardi masih sangat mencintai gadis itu.
“Kenapa kamu diam saja melihat Zahra salah paham dengan hubungan kita? Apa kamu nggak tau kalau Zahra mengira aku menikah sama kamu?” tanya Micel heran.
“Lalu untuk apa aku menjelaskan semua itu sama dia, kamu tau kan dia tadi sedang bersama dengan siapa? Zahra sudah melupakan aku, dia akan segera menikah. Lalu apa yang bisa aku harapkan?”
“Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi sama kalian. Aku akui dulu aku sudah jahat sama Zahra, aku meminta dia untuk menjauhi kamu, tapi semua itu sudah berlalu, apa dia masih berfikir aku akan terus mengejar kamu?”
Ardi menghela nafas panjang, “sudah lah, aku nggak mau membicarakan ini lagi,” ucapnya.
“Tapi bukankah kamu sangat ingin bertemu dengannya? Sekarang kamu sudah bertemu dengannya, apa semua hanya akan berakhir seperti ini?”
“Lalu aku harus berbuat apa? Nggak mungkin kan aku merebut Zahra dari pria itu, sedangkan mereka akan segera menikah.” Ardi meraup wajahnya dengan kasar, “kenapa aku baru menyadari semua ini setelah Zahra menjadi milik orang lain? Kenapa aku bisa melupakan Kay sepenuhnya setelah Zahra pergi dari aku, kenapa?” Ardi terlihat begitu menyesal.
Micel mengusap lengan Ardi, “kalau Zahra memang sudah bertunangan, kenapa Kenzo nggak memberi tahu kamu?” ucapnya.
“Karena Kenzo masih kecewa sama aku, dia sudah nggak ingin mencampuri urusan aku dengan Zahra lagi.”
Seorang pria berjalan menghampiri Ardi dan Micel, pria itu tak lain adalah suami Micel sekaligus kolega Ardi.
“Itu suami kamu sudah datang,” ucap Ardi sambil menatap suami Micel yang bernama Kris.
“Maaf, aku datang terlambat, tadi jalanan sangat macet. Apa kalian sudah makan siang?” tanya Kris dengan nafas yang terengah-engah karena berlari dari parkiran.
“Kita belum jadi makan, karena Ardi kehilangan selera makannya,” ucap Micel.
“Karena dia bertemu dengan gadis yang sangat dia rindukan selama ini,” ucap Micel sambil menatap raut wajah Ardi yang terlihat sangat sedih.
“Maksud kamu Zahra!” seru Kris terkejut dan langsung mendapat anggukkan dari Micel.
“Maaf, aku duluan ya, kalian makan siang berdua saja. Aku mau balik ke kantor dulu,” ucap Ardi lalu berjalan menjauh.
“Sayang, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kris penasaran.
“Nanti aku jelaskan.” Micel merangkul lengan Kris, “aku lapar, lebih baik kita cari makan dulu,” ucapnya.
Kris menganggukkan kepalanya, “ayo kita masuk,” ajaknya.
Micel menggelengkan kepalanya, “kita cari tempat lain saja,” ucapnya.
“Em...baiklah, apa sih yang enggak aku lakukan buat istri aku yang cantik ini.” Kris mengusap perut Micel yang masih rata, “kamu harus makan yang banyak biar anak kita sehat,” imbuhnya. Mereka lalu berjalan menuju mobil.
***
Ardi mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya, dia menatap bingkai foto yang berada di atas meja kerjanya. Dalam bingkai foto itu ada foto dirinya dengan Zahra. Foto yang sempat dia abadikan saat mereka masih menjalankan sandiwara mereka.
“Kamu sudah banyak berubah, Ra. Kamu terlihat lebih dewasa, kamu semakin terlihat sangat cantik.” Ardi mengambil bingkai foto itu, “apa aku benar-benar sudah nggak memiliki kesempatan untuk memiliki kamu. Apa aku salah jika aku masih sangat mengharapkan kamu?”
Ardi mencium foto gadis itu, “aku tau aku sudah terlambat menyadari semuanya, tapi aku kira kamu akan tetap menunggu ku, tapi...kamu akan segera menikah, bahkan pria itu bisa selalu berada di dekat kamu. Dia juga terlihat lebih muda dari aku. Sekarang aku sudah semakin terlihat tua jika aku berharap akan bersanding dengan mu, aku merasa nggak pantas. Kamu masih muda, cantik, sedangkan aku...”
Terdengar suara pintu di ketul, Ardi kembali meletakkan bingkai foto itu ke atas meja, “masuk,” sahutnya sambil menghapus air mata yang sempat menetes dari kedua sudut matanya.
Pintu terbuka dengan perlahan, sekretaris pribadi Ardi masuk ke dalam ruangan, “maaf, Bos. Di luar dari seseorang yang ingin bertemu dengan anda,” ucapnya.
“Siapa?”
“Katanya dia teman anda.”
“Bilang sama dia, aku sedang tidak ingin di ganggu,” ucap Ardi lalu mencoba menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas yang berada di atas mejanya.
Terdengar langkah memasuki ruangan itu, “yakin kamu nggak ingin bertemu dengan ku?” Kenzo berjalan mendekati meja kerja Ardi.
Ardi menyuruh sekretaris nya untuk keluar, “tumben kamu ke sini? Sudah lebih dari satu tahun kamu nggak lagi datang ke kantor aku,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya. Ardi mengajak Kenzo untuk duduk di sofa.
“Aku kira kamu sudah lupa dengan alamat kantor aku,” sindir Ardi sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
Kenzo mendudukkan tubuhnya di samping Ardi, dia lalu mengambil sesuatu dari dalam saku jas nya, “aku ke sini hanya ingin memberikan ini sama kamu,” ucap Kenzo sambil memberikan sebuah benda berbentuk persegi panjang kepada Ardi.
Ardi mengernyitkan dahinya saat menerima benda itu. Ternyata yang di berikan Kenzo adalah sebuah undangan pernikahan. Ardi mulai membuka undangan itu, “ini...”
~oOo~