
Ardi menggenggam erat tangan Kay untuk menyapa para tamu undangan. Pesta pernikahan yang seharusnya diadakan satu bulan yang lalu dan harus tertunda gara-gara ada masalah dengan Arka, kini pesta pernikahan itu akhirnya terlaksana. Entah berapa banyak undangan yang telah mereka sebar, mulai dari relasi bisnis sampai teman-teman Ardi dan Kay.
Bermacam-macam makanan tersaji apik di meja prasmanan. Benar-benar mencerminkan keluarga kaya kalangan atas. Pesta memang tidak diadakan di outdoor atau dengan pelaminan mewah yang berada didepan sana sebagai pusat perhatian semua orang yang datang.
Ardi menolak pesta seperti itu, dia tidak ingin hanya diam di pelaminan dan menunggu para tamu undangan mendatanginya dan memberinya ucapan selamat sembari bersalaman dengannya dan juga istrinya.
Ardi lebih suka berbaur bersama tamu undangan dan bercakap-cakap sebentar bersama mereka kemudian beralih lagi ketemu yang lain. Menurutnya, dia tidak akan terlihat bodoh dengan melakukan itu dibanding hanya terus berdiri seperti orang dungu yang menunggu ucapan selamat.
Lagu-lagu romantis juga terus mengalun indah dan penyanyi yang mengiringi suasana pesta tersebut.
Ardi tidak sekalipun melepaskan Kay barang sedetikpun, apa lagi Kay terlihat begitu cantik mengenakan gaun berwarna crem dengan rambut tertata rapi.
Sedangkan Ardi terlihat begitu tampan mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya semakin menawan.
Ardi tersenyum dan menyambut jabatan tangan dari sahabatnya yang menghadiri pesta pernikahannya.
"Selamat ya sobat, aku nggak menyangka kamu akan menikah secepat ini," ucap Reza sambil tersenyum ramah ke arah Ardi dan Kay yang terlihat bahagia malam ini.
Lagi-lagi Ardi tersenyum, Ardi memeluk erat Kay, menunjukan kepemilikannya yang hakiki.
"Terimakasih Za, karena memang jodohnya dikirim secepat ini," ucap Ardi kalem.
"Istri kamu sangat cantik, beruntung kamu mendapatkannya," ucap Reza sambil menatap kearah Kay.
"Tentu saja istri aku sangat cantik." Ardi menggenggam tangan Kay.
"Aku tinggal dulu," imbuhnya lalu pergi untuk menemui kedua orang tua Kay.
"Ayah..bunda," sapa Kay sambil memeluk kedua orangtuanya.
"Malam ini kamu terlihat sangat cantik sayang," puji Merisa.
"Makasih, Bun."
Gimana hubungan kalian? sudah ada kemajuan?" tanya David.
Ardi dan Kay saling bertatap muka, mereka tidak ingin David dan Merisa mengetahui masalah yang sedang mereka hadapi.
"Kita baik-baik saja kok, Yah. Sekarang Kay sudah bisa menerima Kak Ardi," ucap Kay sambil mengandeng lengan Ardi.
"Ayah senang melihatnya," ucap David.
Arka yang sedari tadi mengamati Kay dan Ardi berencana untuk menyapa kedua orang tua Kay. Arka berjalan mendekati mereka yang kini tengah asyik mengobrol.
"Malam Om..Tante, kenalkan saya adiknya Kak Ardi," ucap Arka lalu mencium tangan kedua orang tua Kay.
"Malam," balas Merisa.
"Adik kamu tampan juga," puji David.
"Makasih Om pujiannya," ucap Arka dengan senyuman di wajahnya.
"Oya..siapa nama kamu?" tanya Merisa.
Kay terlihat sangat gugup,dia takut mama nya akan shock setelah mengetahui nama Arka, karena Merisa tau semuanya tentang Arka.
"Bun--"
"Nama saya Arka, Tante," sahut Arka menyela ucapan Kay.
"Arka...kayaknya Tante pernah mendengar nama itu tapi dimana ya," ucap Merisa sambil mengingat-ingat.
"Saya teman kuliah Kay, Tante," ucap Arka.
Ardi yang takut David akan tau tentang Arka akhirnya mengajak David untuk menemui kedua orangtuanya.
"Ayah, sekarang ayo kita temui Mama dan Papa," ajak Ardi sambil menatap Arka.
Ardi dan David berjalan menghampiri Jonny dan Lina yang sedang asyik mengobrol dengan rekan bisnisnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kay marah.
"Ada apa ini sayang? apa Arka ini orang yang sama yang kamu ceritakan itu?" tanya Merisa penasaran.
"Iya, Bun. Arka adalah orang yang Kay ceritakan waktu itu sama Bunda," ucap Kay.
"Maaf Tante, saya terlambat memperkenalkan diri," ucap Arka.
Merisa terkejut mendengar ucapan Kay, tubuhnya terkulai lemas.
"Tante..Tante kenapa?" teriak Arka sambil menopang tubuh Bunda Kay.
"Arka tolong bawa Bunda aku ke kamar aku," pinta Kay.
Arka dan Kay membawa Merisa masuk ke dalam kamar Kay. Arka merebahkan tubuh Merisa di atas ranjang. Merisa membuka kedua matanya dengan perlahan.
"Bunda nggak apa-apa?" tanya Kay cemas.
"Apa yang terjadi sayang? kenapa kamu tidak bilang kalau Arka itu adiknya Ardi?" tanya Merisa lalu menyenderkan tubuhnya.
"Awalnya Kay juga nggak tau kalau Arka itu adiknya Ardi," ucap Kay.
"Saya yang salah Tante, karena saya nggak pernah mengenalkan Kay pada keluarga saya. Andai saat itu saya memaksa Kay untuk menemui keluarga saya, maka perjodohan ini nggak akan terjadi," ucap Arka.
"Bunda nggak usah khawatir, Kay baik-baik saja kok.Kay mau menerima pernikahan ini," ucap Kay dengan senyuman di wajahnya.
"Sayang, kamu pasti berat menjalani ini semua ini. Maafkan Bunda dan Ayah, karena telah memaksa kamu untuk menerima perjodohan ini, kalau saja kami tau dari awal kalau orang yang kamu cintai adalah anaknya Jonny maka kami akan merestui kalian," ucap Merisa.
"Tante bisa tolongin kami untuk membatalkan pernikahan ini?" tanya Arka yang membuat Kay terkejut.
"Maksud kamu apa, Ka?" tanya Kay terkejut.
"Tante, saya dan Kay sampai saat ini masih saling mencintai, saya nggak bisa hidup tanpa Kay, begitu juga Kay. Saya ingin menikahi Kay, Tante. Saya ingin membahagiakan Kay," ucap Arka.
"Tapi Kay sudah menikah dengan Ardi, mana mungkin Tante membuat Kay bercerai dengan Ardi," ucap Merisa terkejut mendengar permintaan Arka.
"Kenapa nggak bisa Tante? Kay tidak mencintai kak Ardi, Kay terpaksa menikah dengan kak Ardi, kalau kita bicara pelan-pelan dengan Om, Om pasti bisa mengerti Tante, dan Om akan baik-baik saja," ucap Arka untuk meyakinkan Merisa.
Merisa menatap Kay yang dari tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Sayang apa kamu masih mencintai Arka?" tanya Merisa.
"Semuanya sudah nggak ada gunanya Bun,.karena Kay sudah menjadi istri Kak Ardi," ucap Kay.
"Nggak sayang, kita masih punya harapan, apa lagi kamu dan kak Ardi belum melakukan hubungan layaknya suami istri," ucap Arka.
"Apa betul itu sayang?" tanya Merisa terkejut.
"Kamu tau apa, Ka. Yang tau aku sudah melakukan itu atau belum hanya aku dan Kak Ardi, kamu tidak tau apa-apa," ucap Kay.
"Bukannya kamu sendiri yang bilang sayang, kalau kamu masih suci," ucap Arka sambil menggenggam tangan Kay.
"Itu dulu, Ka, tapi sekarang sudah nggak lagi," ucap Kay berbohong.
Arka memegang kedua bahu Kay dengan sangat kuat.
"Kamu pasti bohong kan sayang, kamu bilang kamu nggak mencintai kak Ardi dan kamu nggak akan mau disentuh oleh kak Ardi, kamu pasti cuma berbohong untuk membodohi aku kan!" seru Arka terkejut.
"Buat apa aku bohong, Ka. Itu semua memang sudah terjadi, aku adalah istrinya jadi Kak Ardi berhak atas diriku," ucap Kay sambil menundukkan kepalanya.
Arka terlihat sangat marah, dia mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
"Argh! kenapa kamu lakuin ini sama aku sayang? aku begitu tulus mencintai kamu bahkan kita sudah merajut mimpi-mimpi indah kita berdua, tapi kamu tega melakukan ini sama aku! apa salah aku!" seru Arka tanpa sadar air mata menetes di kedua pipinya.
"Maafin aku, Ka. Aku nggak pantas untuk kamu cintai, kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku," ucap Kay sedih.
"Aku cuma mau kamu sayang, tiga tahun kita bersama, tiga tahun kita lalui hari-hari yang begitu indah, semudah itu kamu melupakan semuanya, dalam sekejap kamu hancurkan mimpi-mimpi indah kita," ucap Arka sambil terkulai lemas di lantai.
~oOo~