
Hari wisuda yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, dengan setelan kebaya berwarna crem Kay dan Vero terlihat sangat cantik.
"Kamu sangat cantik Kay," puji Vero.
"Kamu juga."
"Dimana Arka?" tanya Vero.
"Aku nggak tau."
"Apa Arka masih belum bisa menerima semua ini?" tanya Vero penasaran.
"Aku nggak tau, aku sebenarnya juga nggak tega melihat Arka selalu bersedih, makanya aku mutusin untuk tinggal di kontrakan aku lagi, aku ingin secepatnya melupakan Arka walau itu terasa sulit bagiku."
"Aku tau Kay gimana perasaan kamu, apalagi kamu dan Arka sudah dekat selama tiga tahun, itu waktu yang cukup lama, apa lagi kalian selalu menghabiskan waktu bersama-sama."
"Aku nggak mau membahas ini, rasanya semakin terasa sakit," ucap Kay lalu melangkah pergi.
Kini mereka berjalan menuju gedung tempat diadakannya acara wisuda, dengan memakai toga yang menjadi kebanggaan para wisudawani.
Acara dimulai dengan penyambutan Rektor. Setelah selesainya memindahkan tali yang dilakukan oleh bapak Rektor. Vero dan Kay turun dari podium, mereka menghampiri keluarga masing-masing.
"Selamat ya sayang, akhirnya kamu lulus juga," ucap Merisa sambil memeluk Kay.
"Makasih, Bun," ucap Kay.
"Selamat ya Kay, Ayah bangga padamu," ucap David lalu memeluk Kay.
"Makasih, Yah," ucap Kay.
" Dimana suamimu?" tanya David.
"Nggak tau Yah, katanya tadi masih ada meeting penting," ucap Kay.
Mereka pun akhirnya mengambil foto untuk kenang-kenangan.
Kay melihat Arka yang kini tengah menatapnya dari kejauhan, ingin sekali Kay berlari menghampiri Arka untuk sekedar mengucapkan selamat atas kelulusannya, tapi Kay tak berani melakukannya karena sekarang Kay bukan siapa-siapanya Arka lagi.
"Itu suamimu, sayang," ucap Merisa sambil melihat Ardi yang sedang kesusahan melepaskan diri dari kerumunan para mahasiswi.
"Menantu Ayah memang tampan, hingga banyak wanita yang mengaguminya," ucap David.
Kay melihat Ardi yang sedang di kelilingi para wanita-wanita cantik.
"Ardi memang tampan, pasti banyak wanita yang tertarik padanya," gumam Kay pelan.
"Sayang, coba kamu hampiri suami kamu, kasian dia," ucap Merisa.
"Baik, Bun," ucap Kay lalu melangkah menghampiri Ardi.
Ardi melihat Kay yang kini tengah berjalan kearahnya.
"Kak Ardi! dipanggil Bunda!" teriak Kay.
"Siapa sih dia, menganggu saja," ucap salah seorang mahasiswi.
"Cepetan kak! kalau nggak aku marah ni!" ancam Kay.
"Siapa sih kamu! nggak sabaran amat!" seru salah seorang mahasiswa.
"Maaf saya permisi dulu, istri saya sudah menunggu," ucap Ardi.
Hah! semua mahasiswi terkejut mendengar ucapan Ardi, dan langsung saja tanpa aba-aba mereka segera pergi satu persatu.
"Maaf, tadi aku sudah berusaha menghindar, tapi mereka terlalu banyak," ucap Ardi menjelaskan.
"Nggak apa-apa, suamiku ini kan memang tampan jadi wajar dong banyak wanita cantik yang terpesona," ucap Kay dengan cemberut.
"Apa kamu cemburu?" tanya Ardi dengan senyuman di wajahnya.
"Apa! cemburu! ya enggaklah!" Kay lalu melangkah pergi.
"Aku tau kalau sebenarnya kamu itu cemburu, terlihat jelas di wajah kamu tapi kamu nggak mau mengakuinya," pikir Ardi dalam hati.
"Ayo kak! ngapain bengong!" teriak Kay.
"Iya tunggu!" teriak Ardi lalu berjalan mengejar Kay.
"Menantu Ayah ini memang mempesona, gimana rasanya dikerubungi banyak cewek?" goda David.
"Capek, Yah," ucap Ardi sambil menatap Kay.
Kay hanya memalingkan muka mendengar ucapan Ardi.
"Apa kamu nggak cemburu Kay, suamimu jadi rebutan banyak cewek cantik," goda David.
"Enggak!" jawab Kay singkat.
"Bohong, Yah. Kay itu sebenarnya cemburu, lihat saja mukanya cemberut gitu," goda Ardi.
Merisa dan David hanya tertawa melihat tingkah anak dan menantunya. Mereka pun kembali mengambil foto untuk kenang-kenangan.
"Ayo kita temui keluarga kamu, Ayah juga ingin memberi selamat kepada adik kamu," ucap David.
"Baik, Yah."
Mereka akhirnya berjalan menghampiri Arka, Jonny dan Lina yang sedang asyik berfoto.
"Halo Om...Tante," sapa Arka lalu mencium tangan David dan Merisa.
"Selamat ya Arka atas kelulusan kamu," ucap David dan Merisa.
"Makasih ya Om...Tnte," ucap Arka.
"Selamat ya, Ka, atas kelulusan kamu," ucap Kay sambil tersenyum menatap Arka.
"Makasih ya, Kay. Selamat juga atas kelulusan kamu, semoga semua mimpi-mimpi kamu tercapai," ucap Arka dengan menepiskan senyumannya.
"Makasih," ucap Kay dengan menepiskan senyumannya.
"Kalian mau langsung pulang atau masih mau di sini?" tanya Jonny.
"Kami masih ada acara lain, Pa. Habis ini anak-anak mau bikin acara perpisahan," ucap Arka.
"Kamu juga, Kay?" tanya David.
"Iya, Yah," ucap Kay.
"Ya sudah, kami pulang dulu," ucap David.
Mereka pun berjalan meninggalkan Arka, Kay dan Ardi. Arka pergi meninggalkan Kay dan Ardi.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Ardi.
"Aku mau kenalin kamu sama sahabat aku."
"Apa sahabat kamu itu cantik?"
Ardi sengaja memancing Kay, Ardi ingin melihat apa Kay akan cemburu kepadanya.
"Kenapa? apa kamu berniat untuk menggoda sahabat aku?" tanya Kay sambil cemberut.
"Ya tergantung, kalau sahabat kamu tertarik sama aku boleh juga, lagian kan kamu nggak tertarik sama aku," goda Ardi.
"Terserah!" seru Kay ketus.
Kay berjalan meninggalkan Ardi, dia tidak tau kenapa hatinya begitu sakit saat Ardi membicarakan soal wanita lain.
"Tunggu Kay!" teriak Ardi lalu berlari mengejar Kay.
Kay menghampiri Vero yang sedang duduk sendirian.
"Dimana orangtuamu?" tanya Kay lalu duduk di samping Vero.
"Mereka baru saja pulang, mana suami kamu?"
"Itu," ucap Kay sambil melihat Ardi yang sedang berjalan kearahnya.
"Kenalin, ini Vero sahabat aku," ucap Kay.
"Hai Kak, aku Vero sahabat Kay," ucap Vero sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Ardi suami Kay," ucap Ardi sambil menjabat tangan Vero.
"Suami kamu cakep Kay, lebih cakep ketimbang Arka," puji Vero.
Mereka duduk sambil melihat acara selanjutnya. Arka naik ke atas panggung.
"Kay, bukannya itu Arka, mau ngapain dia di sana?" tanya Vero terkejut.
Kay menatap ke arah panggung, kebetulan mereka duduk di kursi depan, jadi Kay bisa melihat Arka dengan sangat jelas.
Ardi menggenggam tangan Kay, Ardi tau apa yang dirasakan Kay saat ini. Kay menatap Ardi dan tersenyum.
"Ada apa?" tanya Kay heran melihat sikap Ardi.
"Nggak, aku cuma ingin menggenggam tangan kamu," ucap Ardi sambil tersenyum.
Di atas panggung Arka berniat untuk memeriahkan acara yang diadakan oleh kampusnya.
"Halo semuanya, terima kasih masih tetap berada di sini, selamat atas kelulusan kita semua, aku ingin ikut memeriahkan acara ini, aku ingin menyanyikan lagu untuk orang yang saat ini masih mengisi relung hatiku," ucap Arka sambil menatap ke arah Kay.
Musik pun mulai terdengar.
"Aku nggak menyangka Arka akan ikut berpartisipasi dalam acara ini," ucap Vero terkejut.
Arka mulai bernyanyi.
💓💓Lintang sing ono ning wengi
Gawe kengen ati
Ati sing tansah nandang kasmaran iki
Endahe esemmu
Gawe bungahe atiku
Mung sliramu pepujaning atiku
Ning awang katon netramu
Ing saben wengiku
Keroso ing sumilire angin dalu
Sliramu doh nyimas
Seng dadi memanik e kalbu
Mung sliramu sing ono ning atiku
Aku tresno sliramu
Ning angin tak titepne
Roso kangen marang sliramu
Nadyan baten pingin ketemu
Amung biso nyawang fotomu
Abote mendem kangen
Kangen sing ning njero dodoku
Gedine roso tresno iki
Amung tak simpen ning njero ati
"Kamu kenapa Kay, apa kamu mengerti lirik dari lagu ini?" tanya Vero yang melihat Kay mulai meneteskan air mata.
"Aku nggak tau arti lagu ini, tapi entah mengapa saat mendengar lagu ini hati aku terasa amat sakit," ucap Kay lalu menghapus air matanya.
"Jika kamu tau makna dari lirik lagu ini, maka kamu akan tau betapa Arka sangat merindukanmu. Maafin aku Kay, karena telah membuatmu dan Arka berpisah, aku tak bisa berbuat apa-apa, karena kamu juga yang menginginkan semua ini. Aku juga tak bisa melepaskan mu, aku begitu sangat mencintaimu," gumam Ardi dalam hati.
💓💓Lintang sing ono ning wengi
Gawe kengen ati
Ati sing tansah nandang kasmaran iki
Endahe esemmu gawe
Bungahe atiku
Mung sliramu pepujaning atiku
Ning awang katon netramu
Ing saben wengiku
Keroso ing sumilire angin dalu
Sliramu doh nyimas
Seng dadi memanik e kalbu
Mung sliramu sing ono ning atiku
Aku tresno sliramu
Ning angin tak titepne
Roso kangen marang sliramu
Nadyan baten pingin ketemu
Amung biso nyawang fotomu
Abote mendem kangen
Kangen sing ning njero dodoku
Gedine roso tresno iki amung tak simpen Ning njero ati.....
Semua penonton bertepuk tangan, Arka menatap Kay dan tanpa sadar air mata menetes di kedua pipinya.
"Aku sangat merindukanmu, Kay. Semenjak kamu pergi dari rumah, aku tak lagi bisa menatapmu setiap waktu, aku sangat merindukanmu, tapi aku hanya mampu memendamnya, semoga lewat lagu ini kamu bisa merasakan betapa aku sangat merindukan mu, aku ingin sekali memelukmu," gumam Arka dalam hati.
Arka turun dari panggung. Ardi bisa melihat betapa Arka sangat merindukan Kay, air mata yang Ardi lihat membuktikan semuanya.
Kay menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Aku mau pulang," ucap Kay lalu berdiri.
"Baiklah. Vero, kami duluan ya," ucap Ardi lalu berdiri.
Ardi mengandeng tangan Kay dan membawanya pergi keluar dari gedung. Mereka berjalan menuju mobil, mereka masuk ke dalam mobil.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ardi cemas.
"Ya," ucap Kay singkat.
"Kamu mau makan dulu?"
"Enggak, aku mau langsung pulang."
"Ok," ucap Ardi lalu melajukan mobilnya.
~oOo~