Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 12


Ardi sudah sampai di sebuah cafe tempat di mana dirinya dan Kenzo janjian. Pria itu masuk ke dalam cafe untuk mencari Kenzo dan para sahabatnya yang lain.


“Kenzo kemana sih, bukannya dia sudah berangkat duluan tadi,” gerutu Ardi sambil menatap ke kanan dan kiri untuk mencari sahabatnya itu.


“Ardi.” Terndengar seseorang tengah memanggilnya. Ardi menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya,


ternyata yang memanggilnya adalah Leo.


Leo adalah teman Kenzo, tapi Ardi kini sudah akrab dengan pemuda itu. Leo umurnya jauh di bawah Ardi, tapi mereka terlihat sangat akrab dan saling memanggil nama tanpa ada embel-embel kakak. Ardi melambaikan tangannya dan berjalan menghampiri Leo dan para sahabatnya.


“Kenzo mana, kok kamu sendirian?” tanya Leo saat Ardi mendudukkan tubuhnya di depannya.


Ardi menaikan kedua bahunya, “mana aku tau, padahal dia tadi sudah berangkat duluan sama Micel,” ucapnya.


“Maksud kamu Micel sekretaris kamu yang cantik itu?” tanya Leo dan langsung mendapat anggukkan dari Ardi. “wah gercep juga itu orang,” imbuhnya.


Ardi memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi, “maksud kamu apa? Jadi benar dugaan aku, kalau Kenzo suka sama Micel?” tanyanya.


“Kalau yang aku tau sih gitu, tapi sekretaris itu sama sekali tidak menanggapi Kenzo.” Leo mengambil secangkir kopi di atas mejaa lalu meneguknya, “atau jangan-jangan Micel suka sama kamu?” tanyanya kemudian.


“Ngaco kamu, mana mungkin Micel suka sama aku, dia tau kalau aku ini sudah bercerai dua kali. Mana ada wanita yang mau sama pria yang pernah dua kali gagal dalam pernikahannya, mereka akan berfikir dua kali untuk menyukaiku,” ucap Ardi sambil menghela nafas panjang.


“Kamu tampan, bagi wanita itu mau perjaka maupun duda itu nggak masalah, yang penting dia baik dan bisa memberi mereka cinta dan kasih sayang,” ucap wanita yang duduk di samping Leo.


“Apa! Kamu duda! Masa sih, aku nggak percaya,” ucap sahabat Leo yang lain.


“Dia itu Duren alias duda keren, CEO sukses, wanita mana sih yang nggak mau sama dia,” ucap Leo sambil merangkul wanita di sampingnya.


Kenzo dan Micel masuk ke dalam cafe, mereka lalu menghampiri para sahabatnya yang sudah menunggu.


“Maaf kami terlambat,” ucap Kenzo lalu duduk di sofa, pria itu menyuruh Micel untuk duduk disampingnya, mau tidak mau Micel terpaksa duduk di samping Kenzo.


“Kalian dari mana saja, bukannya tadi kalian sudah berangkat duluan?” tanya Ardi kesal.


“Tadi aku dan Micel mampir ke suatu tempat dulu, apa kalian sudah memesan makanan?” tanya Kenzo melihat meja di depan mereka hanya ada minuman dan camilan.


“Kami itu nungguin kalian dari tadi, sekarang kamu saja yang pesan makanan.” Leo menggenggam tangan wanita yang ada di sampingnya, “aku sama Kania pesan steack aja,” imbuhnya.


Kenzo memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk semua sahabatnya, “kalian sudah jadian?” tanyanya sambil menatap Leo dan Kania, dan langsung mendapat anggukkan dari Leo.


“Kapan kamu nyusul?” tanya Leo balik.


“Mau nya sih secepatnya, tapi dianya nggak tanggap,” ucap Kenzo sambil melirik wanita yang duduk di sampingnya.


“Ardi, gimana pendapat kamu tentang Kenzo dan Micel?” tanya Leo.


Ardi mengacungkan kedua jempol tangannya, “cocok,” ucapnya sambil tersenyum.


Micel melirik ke arah Ardi, “apa katanya tadi, cocok! Apa dia nggak tau apa kalau selama ini aku menyukainya,” gumamnya kesal.


“Jadi kamu setuju aku mendekati Micel?” tanya Kenzo senang.


“Terserah kamu, bagi aku yang penting kamu nggak menganggu pekerjaan Micel aja,” ucap Ardi cuek.


“Mau aku temani?” tawar Kenzo dan langsung mendapat gelengan kepala dari Micel. Micel melangkahkan kakinya menjauh dari tempatnya semula.


“Kenzo kamu merasa nggak sih kalau Micel itu cuek sama kamu?” tanya Kania.


“Iya aku tau, tapi aku nggak akan menyerah untuk bisa mendapatkannya,” ucap Kenzo. Ardi hanya menggelengkan kepalanya melihat tekad sahabatnya itu.


Tiba-tiba ada seorang gadis yang tengah berjalan mendekati meja mereka, “maaf aku terlambat,” ucapnya.


“Kenzo, kamu nggak bilang kalau dia juga mau ikut,” ucap Leo terkejut.


Ardi menatap ke arah gadis yang berdiri di samping sahabatnya itu, dahi mengkerut, “siapa dia?” tanyanya kemudian.


Kenzo dan Leo saling menatap, mereka lalu menatap Ardi sambil mengernyitkan dahi mereka, “kamu nggak tau dia?” tanyanya bersamaan.


Ardi menggelengkan kepalanya, “memangnya dia siapa?” tanyanya lagi sambil terus menatap gadis itu.


Gadis itu hanya menepiskan senyumannya, dia lalu duduk di sofa tunggal dekat Kania. Ardi yang begitu penasaran dengan tatapan gadis itu yang seakan mengingatkannya dengan seseorang, tatapan yang penuh dengan kehangatan.


“Dia ini...” Leo menghentikan ucapannya saat gadis itu menggelengkan kepalanya. Makanan yang mereka pesanpun akhirnya datang. Gadis itu memesan segelas jus kepada pelayan itu.


“Kamu nggak makan?” tanya Kenzo kepada gadis itu.


“Aku tadi sudah makan,” ucap gadis itu.


“Kapan kamu pulang ke Jogja, bukannya kamu sedang kuliah di Jepang?” tanya Leo.


“Aku sudah di Jogja selama satu minggu, mumpung masih liburan, aku juga kangen sama keluarga aku,” ucap gadis itu.


“Kamgen apanya, setiap hari pergi melulu. Itu yang namanya kangen,” sindir Kenzo.


“Kangen kan nggak harus di rumah terus, lagian mereka juga sibuk. Aku juga nggak mau di rumah sendirian,” bela gadis itu.


“Sudah...sudah, kalian ini kalau bersama pasti bertengkar terus, kayak Tom and Jerry tau, nggak pernah bisa akur,” ledek Leo.


Dari semua orang yang berada di situ, hanya Ardi yang tidak tau siapa gadis itu. Gadis itu melirik ke arah Ardi lalu tersenyum, dia tau jika sejak tadi Ardi terus menatap ke arahnya.


Micel yang sudah selesai dengan urusannya kembali menghampiri para sahabatnya, “maaf lama,” ucapnya sambil kembali duduk di samping Kenzo.


Kania menyengol lengan gadis yang duduk tak jauh darinya itu, “dia gebetan baru Kenzo,” bisiknya.


“Apa!” seru gadis itu terkejut dan membuat semua orang yang berada di cafe itu menatap ke arahnya.


Gadis itu menyengir kuda, sambil mengatupkan kedua tangannya. Ardi tersenyum melihat tingkah gadis itu, “imut,” ucapnya pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Kenzo.


Kenzo menatap Ardi sambil mengernyitkan dahinya, “aku nggak salah dengerkan?” tanyanya.


“Apa?” tanya Ardi bingung, kurang paham dengan pertanyaan sahabatnya itu.


~oOo~