
Ardi berjalan mendekati ranjang, dia menatap lekat wajah cantik Kay, “saat tidur pun kamu masih tetap cantik, Kay. Seandainya aku sanggup mengulang waktu, aku nggak akan pernah melakukan kesalahan itu. Aku nggak akan pergi untuk menemui Arka dan meninggalkan kamu sendirian. Aku akan tetap menerima Kevin sebagai anak
aku, karena sampai kapan pun Kevin adalah anak aku. Kay...aku...” Ardi seketika langsung menghentikan ucapannya, dia menatap sosok yang berdiri di depan pintu kamar Kay, “Mama,” ucapnya terkejut.
Lina melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Kay, “apa yang kamu lakukan di kamar Kay, sayang?” tanyanya sambil berjalan mendekat.
“Em...tadi Ansel menangis, jadi Ardi mengeceknya, ternyata Kay tengah tertidur,” ucapnya gugup.
Lina mengambil cucunya dari gendongan Ardi, “sini biar Mama saja mengurus Ansel, kamu turunlah ke bawah, papa kamu mencari kamu tadi,” ucapnya.
Ardi menganggukkan kepalanya, dia lalu berjalan keluar kamar. Lina menatap kepergian Ardi, “mau sampai kapan kamu seperti ini sayang, Kay sudah bahagia bersama dengan Arka. Mama juga ingin kamu bahagia, tapi bukan seperti ini yang Mama mau,” ucapnya pelan.
Kay membuka kedua matanya secara perlahan, dia terkejut melihat mama mertuanya berada di dalam kamarnya, “Mama, ada apa, Ma?” tanyanya lalu bangun dan duduk di tepi ranjang.
“Tidak apa-apa, tadi Ansel menangis, jadi Mama hanya mengeceknya saja,” ucapnya lalu menyerahkan Ansel kepada Kay.
“Oh...sayang, maafkan Bunda ya, tadi Bunda ketiduran, kamu pasti haus ya sayang.” Kay lalu menyusui Ansel., “apa Arka sudah pulang, Ma?” tanyanya.
“Belum sayang, memangnya ada apa, apa kamu perlu sesuatu?” tanya Lina sambil mengusap pipi gembul cucunya.
Kay menggelengkan kepalanya, “nggak kok, Ma. Kay cuma tanya saja, katanya dia akan makan malam di rumah, tapi sampai sekarang kok belum pulang,” ucapnya.
“Di tunggu saja sebentar lagi pasti pulang.”
“Siapa Ma yang kangen sama aku,” ucap Arka sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Arka duduk di samping istrinya lalu mengecup pipi gembul Ansel.
“Kapan kamu pulang?” tanya Kay terkejut.
“Baru saja, kamu kangen ya...sama aku,” goda Arka sambil mencolek hidung mancung istrinya.
“Siapa juga yang kangen ya sama kamu,” elak Kay sambil memalingkan wajahnya ke lain arah sambil menahan senyumannya.
Arka melingkarkan kedua lengannya ke leher istrinya, “kok kamu gitu sih, padahal akusudah kangen banget sama kamu,” ucapnya lalu mengecup bahu istrinya.
Lina senang melihat kemesraan Arka dengan Kay, terlihat senyuman mereka di sudut bibirnya, “semoga kalian tetap bahagia sayang, tidak akan Mama biarkan siapapun mengusik kebahagiaan kalian,” pikirnya dalam hati.
“Arka, lepas! Malu ada Mama di sini,” ucap Kay sambil menyingkar lengan suaminya dari lehernya.
“Kenapa harus malu, ya kan, Ma?” tanya Arka sambil menatap mamanya daan langsung mendapat anggukkan dari mamanya.
“Mendingan sekarang kamu mandi, aku mau menidurkan Ansel dulu,” ucap Kay lalu berdiri. Kay menidurkan Ansel ke dalam box bayi. Lina keluar dari kamar, dia sengaja ingin meninggalkan Arka dan Kay untuk berduaan.
Arka memeluk Kay dari belakang, “sayang, kita mandi bareng, yuk,” bisiknya.
Kay membalikkan tubuhnya menatap lekat wajah suaminya, “nggak. Nanti kamu nggak bisa menahan diri lagi, aku kan masih dalam masa nifas,” tolaknya.
“Aku janji akan menahan diri, please...” pintanya sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Ada apa sih, tumben kamu ingin mandi bareng, biasanya juga kamu mandi sendirian?” tanya Kay penasaran.
“Kan tadi aku sudah bilang, aku kangen sama kamu. Aku ingin menghabiskan waaktu bersama dengan kamu.”
“Nggak ada sayang, sudah ayo kita mandi, setelah itu kita turun untuk makan malam.” Arka menarik tangan istrinya menuju kamar mandi. Kay menghela nafas panjang, mau tidak mau dia harus menuruti permintaan suaminya.
***
Semua keluarga berkumpul untuk makan malam. Ini pertama kalinya kedua belah pihak keluarga makan malam bersama setelah perceraian Kay dan Ardi.
“Akhirnya kita bisa berkumpul lagi seperti ini setelah sekian lama,” ucap Jonny.
“Kamu benar Jon, aku senang akhirnya keluarga kita bisa akur seperti dulu lagi. Semua akhirnya bisa menerima dan mengikhlaskan semuanya,” ucap David.
Ardi menatap kedua orangtuanya dan juga kedua orang tua Kay, “Ma, Pa, Om, dan Tante. Ardi minta maaf jika selama ini Ardi ada salah sama kalian semua. Semua ini terjadi karena sikap egois Ardi,” ucapnya.
“Sayang sudah lah, semua sudah berlalu. Sekarang mendingan kita makan malam dulu,” ucap Lina.
Kay dan Arka saling menatap. Kay tau jika dirinya lah yang salah dalam hal ini. Arka menggenggam tangan istrinya dan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Ma, Pa, besok Ardi akan kembali ke Jogja. Ardi nggak bisa meninggalkan pekerjaan lama-lama, apa lagi Ardi sedang ada pekerjaan penting yang nggak bisa di tunda.” Ardi menatap Kay yang tengah menikmati makan malamnya, “maafin aku, Ma. Aku nggak sanggup berlama-lama tinggal di sini, aku takut nggak bisa menahan perasaan ini, aku nggak mau merusak kebahagian Kay dan Arka untuk kedua kalinya,” ucap Ardi dalam hati.
“Pa, Rasya masih mau di sini sama Kak Kevin. Kalau di rumah Rasya nggak ada temen,” ucap Rasya dengan suara lucunya.
Ardi mengusap puncak kepala anaknya, “kamu bisa pulang bareng sama oma dan opa,” ucapnya.
“Tapi Kevin masih kangen sama Ayah,” ucap Kevin.
“Kevin bisa tinggal bersama Ayah lagi jika Kevin libur sekolah. Kevin harus jadi anak yang baik dan bantu bunda jagain adik Ansel. Ok...,” ucap Ardi dengan senyuman di wajahnya. Kevin mengangguk pelan.
Arka menyadari jika keputusan kakaknya untuk kembali ke Jogja karena dia merasa tidak nyaman dengan tinggal satu atap bersama dengan dirinya dan juga Kay. Arka tidak ingin menghalangi kakaknya, mungkin ini yang terbaik untuk semuanya. Rasa takut akan kehilangan Kay kembali Arka rasakan, entah mengapa perasaan itu kini selalu menghantuinya.
Dirinya tidak akan pernah merasa tenang sebelum sang kakak menemukan tambatan hatinya yang baru. Arka bahkan tidak akan pernah menyerah untuk menyuruh kakaknya untuk menikah lagi. Karena hanya itu jalan satu-satunya agar hidupnya kembali tenang.
“Biar besok aku antar ke bandara,” ucap Arka dan langsung mendapat anggukkan dari kakaknya.
“Kamu tidak apa-apa tinggal di rumah sendirian?” tanya Lina cemas.
Ardi menganggukkan kepalanya, “Ardi bukan anak kecil lagi, Ma. Ardi bukan Arka yang selalu manja sama Mama,” sindir Ardi sambil menatap Arka.
“Kakak! Apaan sih! Aku kan sekarang sudah nggak manja lagi!” seru Arka sambil mengerucutkan bibirnya.
“Arka masih manja, Ma. Dia selalu manja sama Kay, hingga Kay kerepotan menghadapi sikap manjanya,” keluh Kay sambil melirik suaminya.
“Sayang! Kok kamu gitu sih! Ya wajar dong kalau aku manja sama istri aku yang cantik ini,” ucap Arka sambil menangkup kedua pipi Kay.
Ardi menampakkan senyum keterpaksaan menatap kemesraan Kay dan Arka, “kenapa hati aku rasanya sakit banget,” pikirnya dalam hati.
~oOo~