
Setelah dari supermarket, Ardi menghentikan mobilnya di depan apotek, “kamu tunggu disini dulu,” ucapnya lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil itu. Dia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam apotek.
“Untuk apa kakak ke apotek, mau beli obat apa dia? Atau jangan-jangan kakak beneran mau beli obat kuat, atau untuk apa, bukannya Zahra sedang datang bulan?” Arka terus menatap ke arah pintu kaca itu, hingga Ardi keluar dari balik pintu kaca itu.
“Apa yang kakak beli?” tanya Arka saat Ardi kembali masuk ke dalam mobil.
“Obat nyeri perut untuk Zahra.” Ardi lalu melajukan mobilnya kembali.
“Kok kakak tau obat kayak gituan?” tanya Arka penasaran.
“Karena dulu....” Ardi menghentikan ucapannya, dia tidak mungkin mengatakan jika dulu Kay sering memintanya untuk membeli obat nyeri perut saat dia tengah datang bulan.
“Dulu kenapa, Kak?”
“Kamu itu ya...kepo.”
Arka mendengus kesal, karena kakaknya tidak menjawab pertanyaannya. Mereka pun akhirnya sampai di rumah. Ardi bergegas keluar dari mobil, dia begitu mencemaskan keadaan Zahra saat ini. Kay sangat terkejut saat melihat Ardi yang tengah berlari masuk ke dalam rumah dengan menenteng kantong kresek berukuran besar.
“Ka, ada apa dengan Kak Ardi, kenapa dia berlari seperti itu?”
Arka meletakkan barang belanjaan ke atas meja, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping Kay, “dia mencemaskan istrinya, katanya Zahra sedang sakit perut, sedang datang bulan katanya,” ucapnya.
Kay tersenyum, “kasihan dong kakak kamu, nggak jadi melakukan malam pertamanya,” ledeknya.
“Kok kamu kayak senang gitu saat Kak Ardi gagal melakukan malam pertamanya?” tanya Arka curiga.
“Siapa yang senang, aku biasa-biasa kok.” Kay lalu duduk bersila sambil menatap Arka, “sekarang coba kamu bayangkan, saat kakak kamu dan Zahra sedang ingin melakukan itu, lalu tiba-tiba Zahra datang bulan, gimana ekspresi kakak kamu? Pasti lucu banget,” imbuhnya.
Arka mencium kilas bibir Kay, “betul juga kata kamu.” Pria itu lalu merangkul pundak istrinya, “bagaimana kalau kita yang menggantikan mereka, aku kangen sama kamu,” imbuhnya.
“Dasar!”
***
“Sayang...kamu dimana?” tanya Ardi saat masuk ke dalam kamarnya, dia tidak menemukan Zahra di dalam kamar itu, “apa dia ada di dalam kamar mandi ya?”
Ardi lalu bergegas menuju kamar mandi, dia lalu mengetuk pintu kamar mandi itu, “sayang, apa kamu ada di dalam?” tanyanya cemas.
Zahra membuka pintu itu dengan perlahan, “kakak dari mana saja sih, aku sudah menunggu dari tadi,” ucapnya.
“Maaf, tadi aku bingung saja ingin membeli pembalut buat kamu. Ini kan pertama kalinya aku membeli barang begituan.”
Apa! Jadi Kak Ardi nggak pernah membelikan pembalut untuk mantan-mantan istrinya? “maaf ya kak, nggak seharusnya aku marah sama kakak,” ucap Zahra.
Ardi yang melihat Zahra terus memegang perutnya pun akhirnya memberikan obat yang tadi dia beli di apotek, “sekarang kamu minum ini, ini akan menghilangkan rasa sakit di perut kamu,” ucapnya sambil membuka tutup botol obat itu, setelah itu dia berikan obat itu kepada Zahra.
“Bagaimana kakak tau kalau aku sering meminum obat ini saat aku datang bulan?” Zahra menerima obat itu lalu meneguknya sampai habis.
“Karena dulu Kay sering meminta aku untuk membeli obat itu saat dia datang bulan.”
Zahra hanya menjawab dengan ‘oh’ saja, tapi saat Ardi menceritakan semua itu membuat hati Zahra sakit. Tapi wanita itu mencoba untuk tetap tersenyum dan seakan tidak mendengar apa-apa, “mana pembalut yang aku minta?” pintanya.
Ardi memberikan sekantong kresek besar kepada Zahra, hingga membuat wanita itu membulatkan kedua matanya, “apa kakak memborong semua pembalut di toko itu?” tanyanya terkejut.
Zahra mencubit perut Ardi, “awas saja kalau Kak Ardi sampai kegenitan sama pelayan toko itu, aku nggak akan maafin kakak!” serunya lalu menutup pintu kamar mandi.
Ardi tersenyum, “aww...cubitan kamu sakit banget sayang,” ucapnya sambil mengusap perutnya.
“Rasain itu, lihat saja, aku bisa melakukan lebih dari itu kalau sampai Kak Ardi macam-macam di belakang aku!” teriak Zahra dari dalam kamar mandi.
“Istri aku ini galak juga ya, sampai takut aku,” goda Ardi.
Ardi lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang, dia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu. Dia tatap langit-langit kamarnya, “malam ini adalah malam pertama aku tidur satu ranjang sama Zahra. Sudah lama aku menunggu momen-momen seperti ini, tapi aku nggak bisa melakukan apa-apa sama dia,” gerutunya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Zahra keluar dari kamar mandi, tapi saat ini Zahra sudah tidak lagi memakai lingerie yang tadi dia pakai. Wanita itu lalu merangkak naik ke atas ranjang, dia lalu merebahkan tubuhnya di samping suaminya.
Zahra terlihat sangat kikuk saat tidur di samping pria yang kini sudah sah menjadi suaminya itu, karena ini pertama kali baginya tidur satu ranjang dengan seorang pria meskipun pria itu adalah suaminya sendiri.
Ardi memiringkan tubuhnya menghadap istrinya, dengan menopang kepalanya dengan tangan kirinya, “ada apa sayang, apa perut kamu masih terasa sakit?” tanyanya sambil menyibak rambut Zahra yang sempat menutupi kening wanita itu.
“Nggak kok, Kak, makasih ya, kakak sudah membelikan aku obat nyeri perut tanpa aku minta,” ucap Zahra sambil tersenyum.
“Buat kamu apapun akan aku lakukan, aku sangat cemas saat melihat kamu yang begitu kesakitan tadi.” Ardi lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh istrinya.
“Maafin aku ya, Kak. Malam ini kakak nggak jadi...”
Ardi mencium kilas bibir istrinya, hingga membuat Zahra membulatkan kedua matanya dengan sempurna, “aku masih bisa menahannya. Aku akan menunggu sampai kamu selesai datang bulan,” ucapnya.
“Em...apa itu terasa sakit? bukankah tadi itu...sudah...” Zahra menghentikan ucapannya, dia malu untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya. Tapi Ardi tau maksud dari pertanyaan istrinya itu.
“Kenapa kamu begitu ingin tau, apa kamu ingin mengobatinya jika aku bilang itu sakit?” goda Ardi dengan senyuman di wajahnya.
Wajah Zahra menjadi merah merona, dia lalu membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi Ardi. Dia tidak ingin suaminya melihat wajahnya yang kini merah merona karena malu dengan apa yang sudah dia tanyakan.
Ardi memeluk tubuh Zahra dengan sangat erat, dia lalu menempelkan wajahnya ke ceruk leher istrinya hingga membuat tubuh Zahra gemetar, “jika kamu ingin melihatnya, aku akan memperlihatkannya dengan senang hati,” godanya dengan berbisik.
Zahra dengan cepat menggelengkan kepalanya. “kenapa?” tanya Ardi tanpa melepaskan ceruk leher istrinya itu.
“Kak...” Zahra melenguh pelan, “jangan lakukan itu,” pintanya.
Ardi yang mendengar lenguhan istrinya pun tersenyum, dia lalu membalikkan tubuh istrinya agar menghadapnya, dia lalu menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya, “tidurlah.” Pria itu lalu mengangsur wajah wanita itu untuk membenamkan ke dada bidangnya.
Jantung Zahra berdetak dengan sangat kencang saat Ardi memeluknya dengan sangat erat, wanita itu bahkan bisa mendengar detak jantung Ardi yang juga sama cepatnya seperti detak jantungnya saat ini. Zahra tersenyum senang, ‘apa Kak Ardi juga merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini?’
“Jangan mendengar detak jantungku.” Ardi tau jika Zahra saat ini tengah mendengarkan suara detak jantungnya yang berdegup kencang.
Zahra mendongakkan wajahnya, kini kedua matanya saling bertemu tatap dengan kedua mata suaminya, “kenapa detak jantung kakak secepat itu? Apa kakak juga gugup seperti apa yang aku rasakan saat ini?” tanyanya.
Ardi mengecup kening istrinya, “bukan hanya gugup, tapi aku mencoba menahan diri agar tidak memakanmu saat ini juga,” godanya.
“Kak!” pekik Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.
Ardi kembali menarik Zahra dan memeluknya dengan sangat erat, “tidurlah, aku hanya bercanda,” ucapnya. Zahra pun kembali menenggelamkan wajahnya ke dada bidang suaminya, dia lalu memejamkan kedua matanya, hingga dia pun akhirnya terlelap dalam dekapan suaminya yang terasa begitu hangat.
~oOo~