
Micel kini sudah resmi menjadi sekretaris pribadi Ardi. Bahkan gadis itu selalu ikut kemana pun Ardi pergi meeting.
Ardi juga merasa terbantu dengan kehadiran Micel, dia tidak menyangka Micel begitu kompeten dalam bekerja. Gadis itu bahkan menyelesaikan pekerjaannya tanpa cacat sedikitpun.
"Maaf, Pak, apa ada yang perlu saya kerjakan lagi?" tanya Micel sambil berdiri di depan meja kerja Ardi.
Ardi tengah memeriksa berkas-berkas yang di berikan Micel padanya. Berkas-berkas yang berisi tentang proyek kerja samanya dengan perusahaan lain.
"Tidak ada, kamu boleh kembali ke tempat kerjamu," ucap Ardi tanpa mengalihkan tatapannya pada berkas-berkas yang ada di depan matanya.
Micel menganggukkan kepalanya, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Ardi. Sebenarnya gadis itu sangat penasaran dengan gosip yang beredar di perusahaan itu.
Gosip tentang CEO perusahaan itu yang ternyata sudah menduda dua kali. Tapi Micel tidak langsung mempercayai gosip murahan seperti itu. Bagaimana mungkin pria sebaik dan setampan Ardi bisa bercerai sampai dua kali.
Wanita mana yang dengan bodohnya melepaskan pria idaman setiap wanita itu. Micel melihat arloji di tangannya, ternyata sudah masuk jam makam siang. Gadis itu beranjak dari kursi kerjanya, dia berniat untuk makan siang di kantin.
Saat Micel baru setengah perjalanan, tiba-tiba dia mendengar para karyawan wanita sedang berbisik-bisik membicarakan bos mereka. Meskipun mereka saling berbisik, tapi Micel bisa mendengarnya dengan jelas.
"Pak Ardi dulu melepaskan Ibu Kay dan menikah dengan Ibu Monic, tapi sekarang Pak Ardi juga di tinggalkan oleh Ibu Monic."
"Apa itu karma yang di terima oleh Pak Ardi ya, karena telah tega meninggalkan Ibu Kay yang sangat baik dan ramah itu?"
"Kalian sudah tau belum, ternyata Ibu Kay sekarang sudah menikah dengan adiknya Pak Ardi."
"Aku kasihan sama Pak Ardi, nasibnya sungguh malang, dia harus menjadi orang tua tunggal untuk anaknya."
Seperti itulah yang di bicarakan sang biang gosip. Micel mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar percakapan mereka. Jika dia bukan karyawan baru di perusahaan itu, mungkin saat ini dia susah menghajar habis-habisan si biang gosip itu.
"Apa mereka nggak mikir dulu sebelum bergosip ria? Apa lagi yang mereka bicarakan atasan mereka sendiri. Jika Ardi sampai tau, apa yang akan Ardi lakukan? Memecatnya, minta ganti rugi, atau--" Micel membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.
Gadis itu tidak ingin ikut campur urusan mereka, bahkan dia juga tidak mempercayainya kecuali dia mendengarnya langsung dari sumber yang bersangkutan.
Micel melanjutkan jalannya menuju kantin. Sesampainya di kantin dia langsung memesan makanan, dia tidak mau duduk lama di kantin. Gadis itu akan melakukan hal yang telah dia rencanakan dari awal, yaitu makan siang, nggak ada hal lain.
Apa lagi di dalam kantin itu dia merasa sangat tidak nyaman, karena suasana di kantin tak jauh beda dengan suasana para karyawan wanita menjelek-jelekan BOS mereka. Setelah selesai makan, dia kembali ke kursi kerjanya.
Waktu terus berlalu, tak terasa susah waktunya pulang. Ardi keluar dari ruangannya. Ardi melihat Micel masih duduk di kursi kerjanya.
"Kenapa kamu belum pulang? Bukannya hari ini kamu nggak lembur?" tanya Ardi penasaran.
"Lain kali, jika sudah waktunya pulang, kamu juga harus pulang, tidak usah menunggu aku pulang," ucap Ardi lalu berjalan keluar.
Micel bergegas membersihkan meja kerjanya dan menyimpan semua berkas-berkas penting ke dalam laci meja kerjanya. Setelah selesai, Micel mengambil tas selempang nya lalu dia bergegas mengejar Ardi.
Micel terlambat, ternyata Ardi sudah masuk ke dalam base man untuk mengambil mobilnya. Gadis itu kini tengah berdiri sambil menunggu kedatangan taksi yang dia pesan.
Saat Ardi melajukan mobilnya keluar dari base man, dia tidak sengaja melihat Micel sedang menunggu taksi pesanannya. Ardi melajukan mobilnya dengan perlahan, dia bahkan menghentikan mobilnya tepat di depan Micel.
Micel sangat terkejut saat melihat Ardi keluar dari mobil mewahnya.
"Mau aku antar?" Tawar Ardi lalu berjalan menghampiri Micel.
"Tidak usah Pak, takut merepotkan bapak," tolak Micel.
"Kalau di luar jam kerja, kamu bisa memanggilku Ardi."
"Tapi--"
"Ini perintah dari atasan kamu!" Micel menganggukkan kepalanya. Dia lalu masuk ke dalam mobil saat Ardi membukakan pintu mobil untuk Micel.
"Sungguh romantis," gumamnya dalam hati.
Ardi lalu masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya meninggalkan kantor. Dalam perjalanan Ardi maupun Micel tidak saling bicara, hanya ada keheningan di antara mereka.
Micel sebenarnya ingin menanyakan soal gosip yang beredar di kantornya, tapi dia bingung harus memulainya dari mana.
"Ardi," panggil Micel pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Ardi.
Ardi menoleh sekilas lalu kembali lagi fokus ke depan, "apa, tanyanya.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu sama kamu, tapi kamu jangan marah ya." Ardi terpaksa harus mengiyakan permintaan Micel.
"Apa benar kamu sudah menikah dua kali? Dan sekarang kamu menjadi duda yang kedua kalinya juga," tanya Micel memberanikan diri.
~oOo~