Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Kekhawatiran Ardi


Zahra akhir-akhir ini merasakan perutnya sering kram, dia saat ini tengah mencari keberadaan suaminya yang sejak tadi sepertinya sedang berbincang-bincang dengan Arka dan juga Kevin.


Kay yang baru saja keluar dari dapur terkejut saat melihat wajah pucat Zahra yang sedang berjalan keluar dari kamarnya, “Ra, apa kamu baik-baik saja, wajah kamu pucat banget?” tanyanya cemas.


“Iya, Kak, perut aku sejak tadi keram terus.”


Kay lalu membantu Zahra untuk duduk di sofa, “lebih baik kamu duduk di sini dulu,” ucapnya.


“Ansel, tolongin Bunda ya, tolong panggilan kan Om Ardi sekarang,” pinta Kay.


“Baik, Bun,” ucap Ansel.


Ansel lalu bergegas menuju teras depan, tempat dimana Ardi, Arka dan Kevin tengah mengobrol, “Om...Om di panggil Bunda,” ucapnya saat dia sudah berdiri di depan pintu.


“Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu?” tanya Arka.


“Sepertinya tante Zahra sedang sakit,” ucap Ansel.


Kedua mata Ardi membulat dengan sempurna, “apa?” pria itu lalu beranjak dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Ardi terlihat sangat khawatir, dia lalu mempercepat langkahnya. Pria itu melihat istrinya yang tengah meringis kesakitan, “sayang, kamu kenapa?” tanyanya cemas sambil duduk berjongkok di depan Zahra.


“Perut aku sakit banget, Kak.” Tangis Zahra akhirnya pecah saat melihat Ardi yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.


“Kevin, ambilkan kunci mobil Ayah di kamar, cepat!” pinta Ardi.


Kevin menganggukkan kepalanya, dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar Ardi untuk mengambil kunci mobil yang diminta oleh Ardi.


“Zahra kenapa sayang?” tanya Arka yang juga terlihat sangat cemas melihat Zahra yang meringis kesakitan.


“Sepertinya Zahra mau melahirkan,” ucap Kay.


“Tapi HPL nya masih satu minggu lagi,” ucap Ardi.


“HPL itu nggak bisa pasti Kak, kadang bisa maju dan juga bisa mundur. Kadang juga bisa tepat prediksinya,” jelas Kay.


Kevin memberikan kunci mobilnya kepada Ardi.


“Kay tolong siapkan beberapa baju untuk Zahra,” pinta Ardi.


“Baik, Kak,” ucap Kay lalu masuk kedalam kamar Ardi yang mengemas beberapa pakaian Zahra, dia juga memasukkan beberapa perlengkapan bayi yang sudah di beli oleh Zahra dan juga Ardi.


Ardi membopong tubuh Zahra, “kita ke rumah sakit sekarang,” ucapnya lalu keluar dari rumah itu.


“Kak, aku takut terjadi apa-apa dengan anak kita,” ucap Zahra takut.


“Anak-anak kita akan baik-baik saja sayang, kamu nggak usah khawatir,” ucap Ardi mencoba menenangkan Zahra.


Ardi meminta Arka untuk menyetir, karena dirinya harus menemani zahra di bangku penumpang. Ardi mengusap rambut Zahra dengan lembut, mencoba menenangkan Zahra yang saat ini tengah kesakitan.


“Kak, sakit sekali,” lirih Zahra.


“Arka, kita ke rumah sakit keluarga Zahra saja,” pinta Ardi.


“Baik, Kak.” Arka lalu menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil itu menuju rumah sakit keluarga Zahra.


Kay, Arka dan Ardi tidak tega melihat Zahra yang begitu kesakitan, “Ka, lebih cepat, kasihan Zahra,” ucap Kay.


“Iya sayang,” ucap Arka lalu mempercepat laju mobilnya.


Setelah sampai di rumah sakit, Ardi lalu membantu Zahra keluar dari mobil itu. Sebelum itu Ardi menyuruh Arka untuk mencari dokter Cesa, dokter yang menangani kandungan Zahra selama ini.


Cesa sangat terkejut setelah mendengar kabar tentang Zahra dari Arka, dia pun bergegas menemui Zahra dan Ardi. Cesa menyuruh Ardi untuk merebahkan Zahra di ranjang pasien.


Mereka lalu mengikuti suster yang mendorong ranjang pasien itu dan masuk ke dalam UGD, “maaf, Pak, sebaiknya anda menunggu di luar,” ucap suster itu saat Ardi ingin masuk ke ruangan itu.


“Maaf, Bu. Untuk saat ini suami anda harus menunggu di luar,” ucap suster itu membuat Zahra menitihkan air mata.


Ardi melangkahkan kakinya mendekati Zahra, dia lalu mencium kening Zahra dengan lembut, “aku akan menunggu di luar, aku nggak akan kemana-mana,” ucapnya.


Zahra hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya.


“Sayang, percayalah, semuanya akan baik-baik saja,” imbuh Ardi lagi dengan senyuman di wajahnya. Ardi berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya agar Zahra merasa tenang.


Zahra menganggukkan kepalanya, Ardi lalu keluar dari ruang UGD itu. Ardi duduk di ruang tunggu bersama dengan Arka dan Kay. Arka bisa melihat kekhawatiran di wajah kakaknya itu.


“Tenanglah, Kak. kakak harus yakin jika Zahra dan calon anak-anak kakak akan baik-baik saja, yang bisa kita lakukan saat ini hanya berdoa,” ucap Arka.


Lina, Jonny, dan juga kedua orang tua Zahra melangkahkan kaki mereka dengan terburu-buru menuju ruang UGD. Kay menghubungi kedua mertuanya dan juga kedua orang tua Zahra, memberitahu mereka jika saat ini Zahra tengah berada di rumah sakit.


Kedua orang tua Ardi maupun Zahra terlihat sangat mencemaskan Zahra. Ardi beranjak dari duduknya, dia lalu berjalan mendekati mama mertuanya yang tengah menangis karena mengkhawatirkan istrinya. Ardi mencoba untuk menenangkan mama mertuanya itu, sementara sebenarnya hatinya pun saat ini juga sangat mengkhawatirkan istrinya yang masih berada di dalam ruang UGD.


Arka yang melihat kekhawatiran Kay pun menarik kepala Kay dan menyandarkannya di bahunya, dia lalu menggenggam tangan istrinya itu, “sayang, kita harus yakin Zahra dan calon kedua anaknya akan baik-baik saja,” ucapnya.


Cesa dokter yang menangani Zahra, memanggil Ardi dan mengajaknya untuk berbicara di dalam ruangannya, di sana juga sudah ada Samuel yang juga terlihat sangat khawatir.


“Apa Zahra baik-baik saja?” tanya Ardi cemas.


“Kondisi Zahra saat ini sangat lemah, dia tidak mungkin bisa melahirkan secara normal, apalagi dia mengandung anak kembar. Zahra harus melakukan operasi caesar,” ucap Cesa.


“Lakukan yang terbaik, tolong selamatkan Zahra dan juga calon anak-anak ku,” ucap Ardi.


Samuel menepuk bahu Ardi, “Zahra dan calon anak-anak kamu akan baik-baik saja, kita akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan mereka,” ucapnya.


Ardi keluar dari ruangan dokter dengan tubuh lunglai, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping Arka, dia lalu memejamkan kedua matanya.


“Bagaimana keadaan Zahra sayang?” tanya Lina cemas.


“Zahra harus dioperasi caesar, karena kondisi Zahra sangat lemah,” ucap Ardi.


Semua orang yang berada di tempat itu terlihat sangat mencemaskan Zahra, mereka hanya bisa berdoa semoga Zahra dan calon anggota baru keluarga baik-baik saja.


Ardi meminta untuk masuk ke ruang UGD sebelum Zahra kehilangan kesadarannya, karena saat ini obat bius baru saja dimasukkan ke dalam tubuh Zahra.


“Kak, doakan aku ya, semoga aku dan anak-anak kita baik-baik saja,” lirih Zahra.


“Iya sayang.” Ardi mencoba untuk menahan tangisannya. Dia menggenggam tangan Zahra lalu mengecupnya.


“Kakak jangan sedih ya,” ucap Zahra dengan tatapan matanya yang sendu.


“Sayang, kamu harus kuat ya, demi kedua anak kita,” pinta Ardi.


Zahra menganggukkan kepalanya pelan, “Kak, aku sangat mencintaimu,” ucapnya.


“Kalau begitu kamu harus tetap kuat sayang, karena aku ingin selalu bersamamu dan anak-anak kita.”


Suster mendekati Ardi, “kita akan segera masuk ke dalam ruang operasi, silahkan bapak menunggu di luar saja,” ucapnya.


Ardi menganggukkan kepalanya, dia lalu melepaskan genggaman tangannya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang UGD itu. Ardi lalu mendudukkan tubuhnya di samping Arka, dia lalu menundukkan wajahnya dan menangis. Tangisan seorang suami yang sangat mengkhawatirkan istrinya dan juga calon anak-anaknya.


Tangis tanpa isakan dan hanya air mata yang keluar dari kedua sudut matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan keluarganya. Arka merangkul bahu Ardi dan mencoba untuk menenangkannya.


Samuel berjalan mendekati Ardi, dia juga ikut merangkul Ardi, “Cesa adalah dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini, aku yakin Zahra kuat, mereka akan baik-baik saja,” ucapnya.


“Terima kasih,” ucap Ardi dengan suara seraknya. ‘sayang, kamu harus kuat, kamu harus berjuang demi anak-anak kita, aku nggak akan sanggup jika harus kehilangan kamu,’ gumamnya dalam hati.


~oOo~