
Sejak perkataan malam itu Monic selalu memikirkan kata-kata Ardi. Sejak Rasya lahir, Ardi sudah tidak lagi membahas soal perceraian, tapi Ardi memilih untuk tidur terpisah dengan Monic.
Monic tengah duduk di sofa kamarnya. Dia menyandarkan tubuhnya sembari menatap langit-langit kamarnya. Monic mengingat kembali saat dirinya tengah mengerang kesakitan saat melahirkan Rasya.
Flash back 1 tahun yang lalu.
Monic tengah menahan sakit di perutnya. Ia berada di rumah sendirian, karena Ardi sedang berada di kantor. Dengan menahan sakit di bagian punggung dan bawah perutnya. Monic berjalan tertatih-tatih untuk mengambil ponsel di atas meja. Sakit..sakit..sakit sekali..
Monic duduk di tepi ranjang sembari mengambil ponselnya dari atas meja. Dengan gerak cepat Monic segera menghubungi Ardi.
Saat ini Ardi baru saja selesai meeting. Ardi masuk ke dalam ruang kerjanya. Saat hendak mendudukkan tubuhnya di kursi kerjannya Ardi mendengar dering ponselnya berbunyi. Ardi mengambil ponselnya dari atas meja lalu melihat siapa yang menelfon. Saat mengetahui Monic lah yang menelfon Ardi langsung menjawab telfon itu.
Ardi mendengar suara Monic yang tengah kesakitan dan menangis. Ardi langsung mematikan ponselnya dan bergegas keluar dari ruangan. Ardi meninggalkan semua pekerjaannya setelah mendengar jerit kesakitan Monic.
Sesampainya di rumah Ardi bergegas turun dari mobil dan berlari menuju pintu. Ardi masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju kamarnya.
Semenjak kembalinya mereka ke LA, Ardi tidur seranjang dengan Monic. Ia lakukan itu semata-mata untuk menjaga sang buah hati agar tetap aman.
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena terus-terusan berlari, Ardi membopong tubuh Monic dan memasukannya ke dalam mobil. Ardi dan Monic memang tidak mempekerjakan asisten rumah tangga atas permintaan Monic, karena Monic ingin menjadi ibu rumah yang sebenarnya.
Sesampainya di rumah sakit, Ardi membopong Monic keluar dari mobil. Saat ini wajah Monic terlihat sangat pucat, keringat bercucuran dari kening Monic. Setelah masuk ke dalam rumah sakit, Ardi berteriak memanggil dokter. Monic pun langsung di tangani oleh dokter.
Ardi menunggu di luar ruang persalinan. Ardi tidak tega mendengar jerit kesakitan Monic. Ardi teringat saat pertama kalinya ia menjadi seorang ayah. Betapa paniknya ia saat menemani Kay di ruang persalinan. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat proses kelahiran Kevin. Rasa lelah dan paniknya terbayar sudah saat mendengar tangis pertama Kevin.
Tanpa sadar air mata Ardi mengalir deras membasahi kedua pipinya. Pintu ruang persalinan tiba-tiba terbuka, suster meminta Ardi untuk masuk karena Monic terlihat sangat lemah. Mungkin dengan dukungan dari Ardi Monic bisa menjalani proses kelahiran degan lancar.
Ardi tengah berdiri di samping Monic. Ia menggenggam erat tangan Monic. Monic yang hampir tak sadarkan diri dengan perlahan bisa merasakan genggaman tangan Ardi. Monic membuka matanya dengan perlahan. Ardi mengecup kening Monic dan memberinya semangat untuk terus berjuang dalam melahirkan sang buah hati.
"Sakit..sakit sekali..aku sudah nggak sanggup," ujar Monic sembari meneteskan air mata.
"Jangan menyerah Mon, demi anak kita. Demi anak yang selama ini kita tunggu-tunggu kehadirannya. Yang akan menemani hari-hari kita. Kamu harus terus berjuang, aku akan menemanimu disini," ujar Ardi sembari menepiskan senyumnya. Dengan perlahan Monic menganggukkan kepalanya.
Monic mengikuti arahan dari dokter, dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya Monic mengedan sekuat-kuatnya. Terdengar suara tangisan bayi yang menggema di seluruh ruangan.
Terlihat senyuman merekah dari bibir Ardi dan Monic. Tidak henti-hentinya Ardi menciumi tangan Monic yang masih di genggamnya.
"Makasih atas perjuanganmu, akhirnya anak kita telah lahir," ucap Ardi sembari mengecup kening Monic.
Monic merasa sangat bahagia mendapatkan perlakukan seperti ini dari Ardi. Dia bahkan rela menghadapi semua ini berkali-kali demi untuk mendapatkan perhatian dari Ardi.
"Selamat Pak..Bu, anak kalian terlahir dengan sehat dan tak kurang satu apa pun, anak kalian laki-laki," ucap sang dokter lalu memberikannya kepada Ardi.
Dengar perlahan dan hati-hati Ardi mengendong anaknya. Ardi kembali teringat saat pertama kali ia mengendong Kevin untuk pertama kalinya. Ardi mencium kedua pipi gembul anaknya. Ardi membawa anaknya kepada Monic. Dengan sisa-sisa tenaganya Monic mengangkat tubuhnya untuk mencium pipi gembul anaknya.
"Dia sangat mirip denganmu," ucap Monic sembari menatap wajah tampan putranya.
"Aku akan memberinya nama Rasya Raditya Pratama," ucap Ardi sembari mengecup kening putranya.
Setelah puas memandangi dan mengendong anaknya Ardi menyerahkan anaknya kepada suter untuk di mandikan. Ardi keluar dari ruang persalinan untuk mengurus ruang rawat inap Monic.
"Makasih Ardi, kamu masih mempunyai sedikit kepedulian untuk ku. Meski itu kamu lakukan semata-mata demi kelancaran kelahiran anak kamu, tapi aku sangat bahagia. Aku berharap kamu akan seperti ini selamanya," ucap Monic pelan sembari menatap kepergian Ardi.
Setelah mendapatkan penangan sehabis melahirkan, Monic di pindahkan ke ruang rawat inap. Saat ini Monic tengah menyusui anaknya untuk pertama kali. Ardi terus menatap wajah anaknya yang tengah asyik menyusu. Ardi terus menerus mengusap lembut pipi gembul anaknya.
"Makasih ya, kamu mau menemani aku saat melahirkan. Aku tadi hampir putus asa, untung ada kamu," ucap Monic sembari tersenyum.
"Itu sudah jadi kewajiban aku sebagai suami kamu, aku hanya ingin menjadi ayah yang baik. Aku juga ingin melihat proses kelahirannya," sahut Ardi. Ardi mengambil Rasya yang sudah tertidur dari pangkuan Monic dan menidurkannya di box bayi.
"Kamu mau makan apa? biar aku belikan," tawar Ardi. Monic menggelengkan kepalanya. Dia hanya ingin Ardi berada di sisinya. Monic tak ingin Ardi pergi meninggalkannya.
Walau Monic menolak untuk makan, Ardi tetap memaksa Monic untuk makan. Ardi dengan sangat perhatian menyuapi Monic dengan perlahan. Monic menatap Ardi dengan senyuman di wajahnya.
"Aku ingin waktu tetap seperti ini, agar kepedulian Ardi tidak akan pernah lenyap. Hanya Ardi yang aku ingin kan di dunia ini. Makasih Di..kamu sudah meluangkan semua waktumu hanya untuk menemaniku di sini. Semoga dengan hadirnya Rasya rumah tangga kita dengan perlahan akan membaik. Aku mencintaimu Di, sangat mencintaimu," Batin Monic.
~oOo~