
“Zahra, ada sesuatu hal yang belum aku ceritakan sama kamu.” Ardi sudah memutuskan untuk tidak lagi merahasiakan apapun dari Zahra. mau seperti apa tanggapan gadis itu nantinya, Ardi tidak perduli. Dia tidak ingin memulai sebuah hubungan dengan kebohongan.
Pengalaman itu dulu pernah dia alami saat menikah dengan Kay. Tidak ada rasa saling terbuka diantara mereka, saling menyimpan rahasia masing-masing, hingga akhirnya itu menjadi bumerang yang menghancurkan pernikahannya.
“Apa ada yang nggak aku tau tentang kakak?” Ardi menganggukkan kepalanya, “soal apa? Apa ini ada hubungannya dengan Kak Kay?” tanya Zahra penasaran.
“Maaf aku nggak menceritakan semua ini dari dulu. Aku nggak bermaksud untuk menyembunyikan ini dari kamu, tapi aku lupa,” akunya. Ardi menggenggam tangan Zahra, “setelah kamu mendengar semua ini, aku harap kamu nggak akan mengubah keputusan kamu,” imbuhnya.
Zahra menatap kedua mata Ardi dengan seksama, dia juga menajamkan pendengarannya. Apa yang ingin Ardi katakan, Zahra tidak ingin melewatkan satu kata pun. Dia ingin tau apa yang begitu membuat Ardi segelisah itu, bahkan dia juga takut gadis itu akan mengubah keputusan yang sudah dia ambil.
“Kay itu istri pertama aku.”
Zahra mengernyitkan dahinya, istri pertama! Maksudnya apa? Apa Kak Ardi nggak hanya menikah satu kali? Zahra tetap diam, dia bahkan tidak berkomentar. Dia ingin Ardi menyelesaikan apa yang ingin dia katakan.
“Kamu pasti sudah tau, aku dan Kay menikah karena perjodohan. Tapi aku menerima perjodohan itu karena aku sangat mencintainya. Saat aku tau jika Kay adalah kekasih Arka, hati aku hancur, aku bahkan akan menceraikan Kay saat itu juga.” Ardi menghela nafas, “tapi Kay meminta aku untuk tetap mempertahankan pernikahan kami. Dia nggak ingin membuat kedua orangtuanya sedih.”
“Lalu apa yang terjadi?” Sebenarnya Zahra enggan bertanya, tapi dia tidak ingin Ardi berfikiran dirinya tidak mendengarkan apa yang dia ucapkan.
“Kamu pasti sudah tau apa yang terjadi, aku dan Kay akhirnya bercerai.”
Zahra menggelengkan kepalanya, “bukan itu yang aku maksud. Kak Kay nggak mau bercerai, lalu apa yang terjadi?” tanyanya.
“Kita memutuskan untuk memulainya dari awal lagi. Aku dan Kay memutuskan untuk saling mengenal satu sama lain. Kay akhirnya melupakan Arka sepenuhnya dan mulai mencintai aku. Tapi aku nggak menyangka Arka akan melakukan sesuatu yang akhirnya menghancurkan rumah tangga aku.” Ardi menundukkan kepalanya, setiap dia mengingat kejadian itu, hatinya masih terasa sakit. Rasa itu seakan sudah mendarah daging.
“Memang apa yang Kak Arka lakukan?”
Ardi menggelengkan kepalanya, “maaf, kalau itu aku nggak bisa cerita. Aku sebenarnya mempunyai anak satu lagi, nama nya Kevin, dia kakaknya Rasya,” akunya.
“Kevin, kenapa kakak nggak pernah cerita? Jadi sebenarnya Kak Ardi mempunyai berapa anak dari Kak Kay?”
“Pernikahan aku dan Kay...” Ardi menjeda ucapannya, dia lalu menghela nafas panjang, “aku nggak mempunyai anak dengan Kay,” akunya.
“Aku berharap Kay akan hamil. Saat mendengar kehamilan Kay aku sangat bahagia, aku bahkan sudah nggak sabar menunggu kelahiran anak kami, buah cinta aku dan Kay. Bahkan saat Kevin lahir, cinta aku ke Kay semakin besar. Aku merasa keluarga aku sudah lengkap karena kehadiran Kevin, kebahagiaan yang aku impikan saat menikah dengan Kay akhirnya terwujud. Hingga kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang menghancurkan semuanya...”
Ardi membekap mulutnya, kedua sudut matanya mulai mengeluarkan cairan bening yang sejak tadi sudah memenuhi kedua sudut matanya. Dia mencoba untuk tidak menangis, tapi apalah daya, kenangan-kenangan yang sudah dia lupakan, kini kembali dia ingat. Rasa sakit yang sudah dia pendam dalam-dalam, seakan kembali muncul kepermukaan.
“Kak...”
Ardi mengangguk pelan, “aku nggak apa-apa, aku harus menceritakan semuanya sama kamu.” Pria itu lalu mengambil nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, “kenyataan pahit yang harus aku terima, Kevin...ternyata bukan anak kandung aku, dia ternyata anak Arka. Aku sangat murka saat mendengar kenyataan itu, aku ingin meminta penjelasan dari Arka, hingga aku berniat untuk menemuinya. Tapi takdir berkata lain, aku mengalami kecelakaan yang membuat aku kehilangan ingatan aku.”
Zahra bergitu tercenggang, Ardi memang tidak pernah menceritakan tentang semua ini kepada dirinya. Gadis itu bisa merasakan kesedihan yang Ardi rasakan saat ini. Yang dia tangkap dari cerita Ardi, Kay telah mengkhianati Ardi, hingga dia mengandung anaknya Arka. Tapi Zahra tidak tau, jika Arka lah yang menyebabkan kehancuran rumah tangga Ardi. Kak Kay, kamu begitu tega menyakiti pria sebaik Kak Ardi, kakak akan menyesal telah melepaskan pria sebaik Kak Ardi. Pikirnya.
“Zahra, aku lah yang membuat Kay meninggalkan aku. aku melakukan hal bodoh yang telah menyakiti hati Kay. Di saat aku kehilangan ingatan, aku menikah dengan gadis yang telah menabrakku. Dan Rasya, dia adalah anak aku dari pernikahan kedua aku. Walau aku tau, di masa lalu aku sudah menikah, tapi aku tetap menikahi Monic. Ingatan aku kembali saat Monic mengandung anak aku. aku memutuskan untuk kembali menemui Kay, tapi Kay nggak bisa menerima pernikahan kedua aku, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri pernikahan.”
Tubuh Zahra seakan lemas, mendengar pengakuan Ardi. Ternyata penilaiannya salah, bukan hanya Kay dan Arka yang bersalah, tapi Ardi juga ikut andil dalam hancurnya pernikahannya.
“Kak, ini sangat mengejutkan buat aku. Aku nggak menyangka kakak sudah menikah dua kali, bahkan semuanya kandas. Aku benar-benar shock mendengar semua ini.” Sebenarnya status Ardi yang duda tidak akan menjadi masalah buat Zahra, apalagi sudah ada anak dari pernikahan itu. Tapi menikah dua kali dan gagal dua kali pula, itu seperti bumerang yang kapan saja bisa menghancurkan rencananya.
Semua itu tidak masalah untuk Zahra, tapi apa yang akan di pikirkan oleh kedua orang tua Zahra jika mengetahui semua kebenaran ini. Apa mereka akan terima jika ternyata putrinya akan menjadi istri ketiga? Semua orang tua pasti berharap putrinya akan menikah dengan pria baik-baik dan pria lajang tentunya.
Apa persepsi orang jika mereka tau putri satu-satunya menikah dengan seorang pria yang sudah gagal dua kali dalam pernikahannya. Pasti juga ada rasa takut tersendiri, takut kejadian yang dulu-dulu akan terulang lagi, hingga pernikahan itu akan kandas untuk ketiga kalinya.
Ardi menggenggam tangan Zahra, “untuk kegagalan pernikahan pertama aku, aku akui itu karena kebodohan dan keegoisan aku. Tapi untuk kegagalan pernikahan kedua aku, itu karena aku nggak bisa hidup dengan wanita yang sama sekali nggak aku cintai. Aku nggak mungkin menyiksanya dengan sikap dingin aku, maka dari itu aku melepaskannya agar dia bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari aku,” ucapnya.
“Kak...apa Kak Ardi bisa menjamin kakak bisa mempertahankan pernikahan ketiga kakak nanti? Apa kakak bisa menjamin nggak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi?”
“Apa maksud kamu? Aku nggak mungkin melakukan semua itu tanpa alasan. Apa kamu meragukan cinta aku?” Ardi mencengkeram kedua pundak Zahra, “katakan sama aku, apa kamu akan mengubah keputusan kamu? Apa kamu akan meninggalkan aku setelah kamu tau semua ini?”
Zahra mengambil nafas sambil memejamkan kedua matanya, dia lalu menghela nafas secara perlahan. Dengan perlahan Zahra membuka kedua matanya, dia tatap kedua mata sendu Ardi. Dia bisa melihat ada harapan dia kedua mata itu, dan juga kesedihan yang mendalam.
~oOo~