
Ardi sengaja mengajak Monic untuk ketemuan di restoran saat makan siang. Pria itu ingin membicarakan hal penting dengan mantan istrinya itu. Dia tidak ingin membicarakan itu di rumah, karena dia tidak ingin Rasya maupun kedua orang tuanya mengetahui apa yang ingin dia bicarakan dengan Monic.
Monic sudah tiba di restoran lebih awal, karena dia tidak ingin membuat Ardi menunggunya, tapi ternyata setelah sampai di restoran itu, Ardi bahkan belum sampai di restoran itu. Sudah setengah jam Monic menunggu tapi Ardi belum juga datang.
“Apa dia ingin mempermainkan aku!” Monic terlihat sangat kesal.
Monic awalnya berniat untuk pergi dari restoran itu, tapi dia mengurungkan niatnya saat melihat Ardi masuk ke dalam restoran itu.
“Disini, Ar!” teriaknya dengan senyuman di wajahnya. Tapi senyuman itu lambat laun menghilang saat dia melihat Zahra yang masih tertinggal di belakang Ardi tengah masuk ke dalam restoran. Kenapa dia nggak bilang kalau dia mau mengajak Zahra! pikirnya.
“Maaf, aku terlambat. Apa kamu sudah menunggu lama?” tanya Ardi sambil menarikkan salah satu kursi di depan Monic untuk Zahra.
“Makasih sayang,” ucap Zahra lalu mendudukkan tubuhnya di kursi itu. Ardi tersenyum, dia lalu menarik salah satu kursi di samping istrinya lalu dia duduki.
“Aku kira kamu hanya sendirian, tapi ternyata...” Monic menatap ke arah Zahra, tatapan penuh kebencian.
“Apa kakak kecewa karena nggak bisa makan siang berdua dengan suami aku?” Zahra sengaja lebih menekankan suara pada kata suami aku. Itu sengaja Zahra lakukan agar Monic sadar jika Ardi bukan lagi suaminya, tapi sudah menjadi milik Zahra selamanya.
“Aku memang sengaja mengajak Zahra, karena aku nggak ingin ada kesalahpahaman nantinya, selain itu apa yang ingin aku bicarakan sama kamu, itu juga ada hubungannya dengan Zahra,” ucap Ardi lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.
“Kamu mau pesan apa sayang?” Ardi tampak tengah melihat-lihat buku menu di tangannya.
“Apa saja, samakan saja sama kakak,” ucap Zahra.
“Kalau kamu, Mon?” tanya Ardi.
“Terserah kamu,” ucap Monic. Ardi pun memesan makanan dan minuman yang sangat dia sukai di restoran itu.
Pelayan sudah mencatat apa saja yang di pesan oleh Ardi sebelum pelayan itu pamit undur diri.
“Apa yang ingin kamu bicarakan sama aku?” tanya Monic.
“Aku hanya ingin memperingatkan kamu, jangan pernah sekali-kali kamu meracuni pikiran Rasya untuk membenci Zahra. Jika aku sampai mendengar itu lagi dari mulut Rasya, maka aku nggak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah aku. Selama ini aku membiarkan kamu tinggal di rumah aku karena aku memandang kamu sebagai ibunya Rasya. Tapi aku nggak akan tinggal diam jika kamu berusaha menghancurkan kebahagiaan keluarga aku,” ancam Ardi dengan sorot mata yang tajam, “aku nggak akan kamu menghancurkan rumah tangga aku lagi seperti saat aku masih bersama dengan Kay dulu,” imbuhnya.
Monic tersenyum sinis, “siapa juga yang ingin menghancurkan kebahagiaan keluarga kamu, aku bicara apa adanya. Bukankah seorang ibu tiri itu selalu bersikap kejam ya dengan anak tirinya? Dan soal hancurnya rumah tangga kamu sama Kay, itu adalah kesalahan kamu, dan aku hanya mempertahankan apa yang sudah menjadi milik aku,” ucapnya.
“Tapi aku bukan seperti itu, Kak. Aku tulus sayang sama Rasya. Aku sudah menganggap Rasya seperti anak kandungku sendiri,” ucap Zahra tidak terima dengan persepsi yang dikatakan Monic.
“Kamu nggak usah munafik. Kamu mau menikah dengan Ardi itu karena dia kaya kan, mana ada seorang gadis muda seperti kamu mau menikah dengan pria yang bahkan lebih tua dari kamu, sudah duda dua kali lagi,” sindir Monic.
“Monic! Jaga ucapan kamu itu!” seru Ardi keras. Pria itu tidak terima jika istrinya di hina di hadapannya.
Zahra tersenyum, “kalau soal urusan kekayaan, kedua orangtua aku bahkan masih mampu untuk membiayai hidup aku, jadi aku nggak butuh pria kaya untuk menjadi suami aku.” wanita itu lalu menggenggam tangan suaminya, “aku mencintai Kak Ardi apa adanya, walaupun dia miskin dan tidak mempunyai apa-apa, aku akan tetap mencintainya. Rezeki itu sudah ada yang mengatur, roda itu juga berputar. Bisa saja yang kaya berubah menjadi miskin, dan yang miskin berubah menjadi kaya, semua itu tergantung bagaimana kita berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan,” ucapnya.
Ardi bangga mempunyai istri cerdas seperti Zahra, sudah cantik, baik hati, pandai dan juga pengertian. Bagi Ardi, Zahra adalah anugerah terindah yang dia dapatkan dari kesabarannya selama ini.
“Siapa yang ingin menyakiti Rasya?” Monic menunjukkan dirinya sendiri, “kamu menuduh aku?” tanyanya kemudian.
“Memang siapa lagi yang nggak suka dengan kebahagiaan aku dan Rasya, itu kamu tau!” Ardi mengacungkan jari telunjuknya ke arah Monic.
Tak berselang lama makanan dan minuman yang mereka pesan sudah tertata rapi di atas meja. Mereka pun mengakhiri perdebatan di antara mereka dan mulai menikmati hidangan yang berada di hadapan mereka saat ini.
Ardi dengan manjanya minta di suapi oleh Zahra. Tentu saja Zahra dengan senang hati menyuapi suaminya itu. Mereka kini menjadi tontonan para pengunjung restoran itu, tapi Ardi maupun Zahra tidak memperdulikan itu. Karena mereka mendengar sebagian pengunjung restoran itu mengatakan jika mereka adalah pasangan yang serasi dan juga romantis.
“Sudah tua juga, tapi kelakuannya masih kayak anak kecil,” sindir Monic sambil terus menikmati makanannya.
“Bilang saja kamu iri, karena nggak ada orang yang akan menyuapimu,” serang Ardi balik. Mereka pun sudah menyelesaikan makan siang mereka. Zahra harus kembali ke rumah sakit, karena masih ada pasien yang sedang menunggunya.
Ardi dan Zahra beranjak dari duduknya.
“Ini peringatan terakhir buat kamu! Jika kamu masih ingin bertemu dengan Rasya, kamu harus menjaga sikap dan ucapan kamu, aku masih mengizinkan kamu tinggal di rumah aku, itu semua karena Rasya, tapi jika kamu masih bikin ulah lagi, aku nggak akan segan-segan untuk mengusir kamu dari rumah aku. Aku bahkan akan melarang kamu untuk bertemu dengan Rasya lagi.” Ardi menggenggam tangan Zahra, “sekarang Rasya sudah sepenuhnya menerima Zahra sebagai ibunya, jadi mulai sekarang Rasya sudah menjadi tanggung jawab Zahra sepenuhnya. Meskipun kamu ibu kandungnya, Zahra juga berhak melarang kamu untuk menemui Rasya jika kamu tidak bisa merubah sifat kamu itu,” ancamnya.
Monic hanya diam membisu, dia tidak bisa membantah apa yang dikatakan mantan suaminya itu. Jika dia berusaha melawan, maka dia sendiri yang akan rugi. Selamanya dia tidak akan bisa bertemu dengan anaknya, jika dia sampai salah mengambil langkah. Itu semua juga karena Monic pernah memberi surat kuasa sepenuhnya kepada Ardi untuk merawat Rasya.
“Ayo, Kak kita pergi dari sini, aku harus kembali ke rumah sakit,” ajak Zahra sambil menggandeng lengan suaminya.
Ardi menganggukkan kepalanya, “ayo, kita juga sudah nggak ada urusan lagi disini,” ucapnya.
“Kita duluan ya, Kak,” pamit Zahra dengan menyungingkan senyumannya.
Mereka pun melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Zahra nampak tengah melamun, dan itu membuat Ardi penasaran.
“Sayang apa yang sedang kamu pikirkan?” Ardi terus menatap ke depan.
“Apa sikap kita sudah keterlaluan pada Kak Monic?”
Ardi menggenggam tangan istrinya itu, “sayang, Monic memang harus diancam seperti itu, kalau nggak...lama-lama dia bisa ngelunjak. Aku juga nggak ingin kamu tersakiti karena ulah Monic,” ucapnya.
“Tapi bagaimana kalau Kak Monic berbicara yang macam-macam sama Rasya? Aku nggak ingin Rasya sampai membenci kita, Kak,” ucap Zahra cemas.
“Itu nggak akan terjadi sayang, karena Rasya itu sudah besar. Dia pasti tau mana yang benar dan mana yang salah. Dia akan mengikuti apa kata hatinya, jadi kamu tenang saja,” ucap Ardi lalu mengecup punggung tangan istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, Zahra langsung keluar dari mobil. Dia lalu melambaikan tangannya saat suaminya mulai melajukan mobilnya pergi dari halaman rumah sakit.
“Makasih ya, Kak. aku tau, kakak melakukan semua ini demi aku,” ucap Zahra sambil menatap ke arah mobil Ardi yang sudah menjauh.
~oOo~