
Keesokan paginya
Ardi pagi ini bangun lebih awal, dengan membuka kedua matanya secara perlahan, dia menatap sosok cantik yang kini masih betah memejamkan kedua matanya.
“Sayang, akhirnya aku memiliki kamu seutuhnya, sudah sangat lama aku menunggu hari itu tiba, dan akhirnya semua mimpi-mimpiku menjadi nyata.” Pria itu menyikap rambut Zahra yang menutupi wajah cantiknya, “aku berjanji, aku nggak akan pernah menyakiti kamu, aku nggak akan mengulang kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. Kamu begitu sangat berarti dalam hidupku, sama seperti Kay dulu. Tapi bedanya sekarang, tak akan ada seorangpun yang akan merebut kamu dari sisi aku,” ucapnya pelan.
Ardi memang sengaja tidak ingin membangunkan Zahra, karena istrinya itu kalau sedang tidur wajahnya seperti bayi mungil yang tak berdosa. Rasanya begitu tenang dan nyaman, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung serta bibir tipis wanita itu menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pria itu betah untuk berlama-lama menatapnya.
Ardi ingin waktu berhenti sejenak, agar dia terus bisa memandangi wajah cantik istrinya itu, yang begitu tenang dalam tidurnya. Pria itu mengernyitkan dahinya saat melihat senyuman merekah dari kedua sudut bibir istrinya, sedangkan kedua mata indah itu masih tetap terjaga, ‘apa Zahra sedang bermimpi? Apa yang sedang dia mimpikan?’ gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba Zahra menggerakkan salah satu tangannya dan langsung memeluk Ardi. Kedua mata Ardi membulat dengan sempurna saat ada sesuatu yang menempel pada tubuhnya. Apalagi setelah pergulatan semalam yang entah sudah mereka lakukan berapa kali, mereka enggan untuk memakai pakaiannya kembali karena rasa lelah yang mereka rasakan, hingga mereka memilih untuk langsung memejamkan kedua matanya.
Ardi tersenyum, dia lalu membelai dengan lembut pipi istrinya itu, “sayang, apa kamu sedang menggodaku?” tanya Ardi pelan saat dia merasakan salah satu tangan Zahra yang berada di dalam selimut menggelitik dada bidangnya.
Zahra tersenyum, “ah, kakak, nggak seru ih,” ucapnya manja.
Wanita itu lalu mendongakkan wajahnya menatap kedua manik mata suaminya yang berwarna kecoklatan itu, “kok Kak Ardi nggak membangunkan aku?” tanyanya dengan wajahnya yang cemberut.
Ardi mengecup kilas bibir tipis istrinya itu, “karena aku melihat tidur kamu sangat nyenyak, aku nggak tega membangunkan kamu. Aku juga tau, karena pergulatan kita semalam, kamu pasti merasa sangat lelah,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Kak Ardi jahat sama aku, semalam Kak Ardi bahkan nggak memberi aku waktu untuk beristirahat.” Zahra lalu menyentuh bagian bawahnya yang masih terasa nyeri, “sakit,” imbuhnya.
Ardi menelan ludah, saat tangan istrinya tidak sengaja menyentuh area sensitifnya yang sejak tadi sudah bereaksi. Susah payah dirinya menahan diri, tapi sekarang dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Pria itu lalu memeluk istrinya dengan sangat erat, “sayang, sekarang kamu harus bertanggung jawab,” ucapnya.
Zahra mengernyitkan dahinya, “memang apa yang aku lakukan, hingga aku harus bertanggung jawab?” tanyanya bingung.
“Apa kamu nggak merasakan sesuatu sekarang?”
Zahra membulatkan kedua matanya, dia menelan ludah saat merasakan sesuatu dibawah sana yang sudah menempel sepenuhnya di bagian tubuh bawahnya, “Kak!” pekiknya keras.
“Apa kamu nggak tau, aku sudah berusaha menahannya sejak tadi, tapi karena sentuhan tangan kamu itu, benteng pertahananku runtuh, jadi kamu harus bertanggung jawab,” ucap Ardi dengan senyuman manisnya.
“Tapi...”
Zahra belum sempat menyelesaikan ucapannya, karena dengan cepat Ardi melahap bibir tipisnya itu, bahkan kedua tangan suaminya itu mulai bergerilya menyentuh setiap inci tubuhnya. Desahan demi desahan kini kembali terdengar di ruangan itu.
Tubuh Zahra menggelinjang hebat saat Ardi mulai mengecup setiap jengkal bagian-bagian tubuhnya, apalagi saat tangan itu mulai bermain dengan bagian tubuhnya yang paling sensitif, “Kak...” lenguhan panjang keluar dari bibir tipis itu.
Ardi tersenyum puas, karena dia sudah membuat istrinya mencapai puncaknya. Pergulatan panas itu pun mereka ulang kembali, dua insan yang sedang memadu kasih itu seakan tidak pernah merasa lelah. Tubuh mereka yang sudah bercucuran keringat bahkan tidak menghentikan mereka untuk menikmati kenikmatan yang kini sedang mereka rasakan.
Zahra sama sekali tidak menyangka, jika di usia suaminya yang sudah tidak lagi muda, suaminya itu masih memiliki stamina yang kuat. Dirinya bahkan kewalahan saat mencoba mengimbangi apa yang yang tengah suaminya lakukan pada tubuhnya. Tapi Zahra juga tak ingin kalah dengan suaminya itu, dia berusaha membuat suaminya itu merasa puas.
***
Setelah pergulatan panas pagi ini yang mereka lakukan bahkan bukan hanya satu kali. Zahra kembali mendengus kesal, saat adegan panas itu kembali terulang saat mereka tengah melakukan ritual paginya di dalam kamar mandi.
Zahra merasa tubuhnya begitu lemas, tapi dia juga tidak bisa memungkiri jika semua itu begitu terasa nikmat, kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Sayang, aku minta maaf ya, nanti aku akan membelikanmu vitamin agar tubuh kamu bisa kembali fit.” Ardi membantu Zahra untuk memakai pakaiannya, bahkan saat ini pria itu sudah menelan ludah berkali-kali, sial! Kenapa setiap melihat tubuh Zahra, gejolak dalam tubuhnya semakin mendidih sih! Umpatnya dalam hati.
Zahra tersenyum, dia lalu memeluk suaminya dengan sangat erat, “aku nggak apa-apa kok, Kak. Nanti setelah sarapan, tenaga aku pasti akan pulih lagi,” ucapnya lalu melepaskan pelukannya.
Ardi menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya, “sepertinya mulai hari ini, apa yang kita lakukan di kamar ini akan menjadi rutinitas kita setiap malam deh,” godanya dengan menggerakkan kedua alisnya naik turun.
Ardi mengernyitkan dahinya, “kenapa kamu menanyakan itu?” tanyanya terkejut.
“Karena aku takut nggak bisa memberikan kepuasan kepada kakak, apalagi ini kan bukan pertama kalinya kakak melakukan itu, aku mungkin nggak bisa memberikan apa yang selama ini kakak harapkan dari aku.” Zahra berbicara sambil menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap kedua mata suaminya.
“Sayang....” Ardi lalu mendongakkan wajah istrinya, “aku merasa sangat puas, bahkan aku nggak menyangka akan bisa merasakan kenikmatan ini.” Pria itu lalu mengecup kening istrinya, “meskipun ini bukan yang pertama kali buat aku, tapi ini pertama kalinya aku merasakan kepuasan yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan. Tubuh kamu seperti narkotika, yang selalu membuatku candu dan ingin terus menikmatinya,” imbuhnya.
Zahra tersenyum bahagia, “terima kasih ya, Kak. Aku janji, aku akan belajar mulai saat ini,” ucapnya.
Ardi kembali mengernyitkan dahinya, “belajar! Belajar untuk apa sayang?” tanyanya bingung.
Zahra melingkarkan kedua lengannya ke leher suaminya, “belajar untuk mengimbangi stamina suami aku ini, aku nggak menyangka kakak begitu kuat, aku sampai kewalahan mengimbangi tenaga kakak,” ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Ardi tertawa, “aku kan sudah bilang sama kamu, jangan pernah meremehkan aku. Meskipun usia aku sudah tak lagi muda, tapi kalau soal urusan seperti ini, akulah jagonya,” ucapnya sambil mencolek hidung mancung istrinya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, “siapa yang datang?” Ardi lalu berjalan menuju pintu.
“Siang, Kak,” sapa Arka sambil menyengir kuda.
“Dasar! Untuk apa kamu datang ke sini?” Ardi lalu kembali masuk ke dalam kamar dan di ikuti oleh Kay dan Arka.
“Untuk menjemput kakak lah, memangnya kakak nggak mau pulang, atau jangan-jangan kakak betah menginap di hotel ini,” goda Arka.
“Apa kalian senang dengan kejutan yang kami berikan?” tanya Kay.
Ardi memeluk tubuh istrinya dari belakang, dia lalu menopangkan dagunya ke bahu istrinya itu, “bukan hanya senang, aku dan Zahra mengucapkan terima kasih atas kejutan yang kalian berikan ini,” ucapnya.
“Apa kakak sudah berhasil melakukannya?” goda Arka dan langsung mendapat cubitan dari sang istri.
“Berhasilah, apa kamu nggak lihat istri aku sampai kelelahan karena sejak semalam sampai pagi ini, aku nggak membiarkannya lepas,” goda Ardi sambil memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.
“Kak!” pekik Zahra yang merasa sangat malu, karena suaminya mengubar apa yang mereka lakukan di depan adik dan juga mantan istrinya.
“Apa kakak minum obat kuat juga?” ledek Arka.
Zahra mengernyitkan dahinya, dia lalu memiringkan wajahnya untuk menatap wajah suaminya, “jadi semalam kakak bisa sekuat itu karena minum obat kuat?” tanyanya terkejut.
Ardi mengecup bibir tipis istrinya itu, “apa kamu melihat aku meminum sesuatu semalam? Aku nggak butuh obat seperti itu hanya untuk membuat kamu puas sayang,” godanya.
“Iya sih, aku juga nggak melihat Kak Ardi meminum apapun setelah makan malam.” Zahra lalu menatap Arka dan Kay, “kalian kok udah pada rapi, mau kemana?” tanyanya kemudian sambil menyingkirkan kedua tangan suaminya dari tubuhnya.
“Iya, Ka. Kalian mau kemana?” tanya Ardi juga.
Arka menatap Kay, “kami hari ini akan kembali ke Pekanbaru, urusan aku sudah selesai di sini, lagian kasihan Kevin kalau ditinggal lama-lama,” ucapnya.
“Apa kalian mau mengantar kami ke bandara?” tanya Kay.
Zahra dan Ardi saling menatap, mereka lalu menganggukkan kepalanya. Setelah bersiap-siap, mereka keluar dari kamar hotel itu. Dalam perjalanan menuju bandara, Ardi bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan istrinya. Sesekali dia juga mengecup punggung tangan istrinya itu.
“Wah...wah...ada yang sedang dimabuk cinta ini,” ledek Arka sambil tersenyum.
~oOo~