
Ardi sangat senang melihat Kevin mau tinggal bersamanya untuk sementara waktu. Dia bahkan juga meminta Arka untuk menginap satu hari, tapi Arka menolaknya. Tentu saja itu karena dia meninggalkan Kay di Pekanbaru.
Pagi gini Ardi berjanji akan mengajak Kevin untuk lari-lari pagi, bahkan saat ini Ardi tengah memakai sepatu pemberian Kevin. Ardi berusaha membangunkan Kevin yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Sayang, ayo bangun. Katanya mau ikut Ayah lari-lari lagi, " ucap Ardi sambil membelai puncak kepala Kevin.
Kevin membuka kedua matanya secara perlahan, kedua matanya mulai mengerjap, dia menatap wajah Ardi yang kini juga tengah menatapnya.
"Ayo bangun sayang, jadi ikut lari pagi nggak?" Kevin pun menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, sekarang kamu bangun, cuci muka, Ayah tunggu di bawah." Ardi berjalan keluar dari kamar Kevin.
Ardi menunggu Kevin di ruang tamu, dan tak berselang lama Kevin turun dari tangga dan berjalan menghampiri Ardi.
"Ayo, Yah. Kevin sudah siap."
"Ayo."
Mereka keluar dari rumah. Ardi mengajak Kevin berlari pagi mengelilingi taman. Di hari libur seperti ini taman tampak begitu ramai. Saat Ardi tengah berlari dia tidak sengaja menyenggol lengan seseorang yang mengakibatkan orang itu terjatuh.
"Aduh.." teriak wanita itu.
"Maaf, kamu tidak apa-apa?" Tanya Ardi lalu mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri.
Wanita itu menggenggam tangan Ardi lalu berdiri.
"Terima kasih," ucap wanita itu sambil menatap wajah Ardi.
"Micel!" Seru Ardi terkejut.
Ternyata wanita yang tidak sengaja dia senggol lengannya dan terjatuh adalah sahabatnya waktu kuliah. Wanita itu pun juga terkejut saat dirinya menatap wajah Ardi.
"Ardi!" Seru Micel yang sama-sama terkejut.
"Apa yang kamu lalukan disini? Apa kabar?" Tanya Micel sambil membersihkan celananya yang kotor terkena debu.
"Kabar aku baik."
Micel menatap Kevin yang tengah berdiri di samping Ardi.
"Dia siapa kamu?" Tanya Micel sambil menatap Kevin.
"Oh..ini anak aku, namanya Kevin. Sayang beri salam sama tante," ucap Ardi sambil mengusap puncak kepala Kevin.
"Pagi tante," sapa Kevin sambil mencium tangan Micel.
"Anak kamu tampan seperti kamu, umur berapa dia sekarang?" Tanya Micel.
"Kevin sekarang berumur 6 tahun," sahut Ardi.
"Sekarang di mana istri kamu? Aku ingin tau, siapa wanita yang berhasil menarik hati sang pangeran es ini," goda Micel.
Ardi hanya tersenyum, dia dulu memang terkenal dengan sebutan pangeran es. Sebutan itu tentu dia dapat karena sifatnya yang begitu dingin dengan semua cewek yang ingin mendekatinya.
"Sayang, kalau boleh tau, di mana mama kamu?" Tanya Micel kepada Kevin.
"Bunda ada di Pekanbaru," sahut Kevin dengan polosnya.
"Emm...gitu," ucap Micel sambil mangut-mangut.
"Boleh aku gabung dengan kalian, kebetulan aku hanya sendirian," pinta Micel.
Ardi merasa tidak enak hati jika menolak permintaan Micel, mau tidak mau Ardi menganggukkan kepalanya. Mereka akhirnya melanjutkan lari pagi mereka dengan mengelilingi taman.
Tentu saja Micel selalu bertanya tentang kehidupan Ardi. Ardi hanya menjawab seperlunya saja. Dia memang kenal dengan Micel karena dia dulu satu kelas dengannya, tapi dia tidak terlalu akrab dengan gadis itu.
Micel diam-diam selama ini menyukai Ardi, tapi dia hanya memendamnya, karena dia tidak ingin terluka nantinya. Gadis itu tau betul bagaimana watak Ardi. Ardi dulu adalah pemuda yang sangat sulit untuk di dekati oleh siapapun.
Tetapi ketampanannya memikat hati siapa saja yang menatapnya.
"Em...boleh aku meminta nomor telfon mu?" tanya Micel ragu-ragu.
"Untuk apa?" tanya Ardi penasaran. Dia tidak merasa akrab dengan Micel, jadi dia tidak harus memberikan nomor telfonnya kepada Micel.
"Hanya untuk jaga-jaga, siapa tau aku membutuhkan bantuan kamu. Sebenarnya aku baru pindah ke sini satu bulan yang lalu," ucap Micel dengan menepiskan senyumannya.
"Bantuan apa yang kamu maksud?" tanya Ardi penasaran.
"Sebenarnya aku sedang membutuhkan pekerjaan, apa kamu bisa membantu aku? apa ada lowongan pekerjaan di perusahaan kamu?"
Ardi sejenak terdiam, kebetulan sekali, sebenarnya dia membutuhkan seorang sekretaris karena sekretaris lamanya kini sedang cuti karena melahirkan.
"Sebenarnya aku sedang membutuhkan seorang sekretaris, apa kamu mau?" tanya Ardi.
Micel menganggukkan kepalanya, "mau, aku mau. Kapan aku bisa mulai bekerja?" tanyanya begitu antusias.
Micel bagaikan mendapat undian berhadiah ratusan juta rupiah. Yang dia butuhkan hanyalah pekerjaan, tapi yang dia dapat selain pekerjaan, dia juga bisa melihat pria pujaan hatinya setiap waktu.
Micel menyadari jika dirinya tidak mungkin bisa mendapatkan pria yang sangat dia kagumi sejak dulu, karena pria itu ternyata sudah menikah dan memiliki anak.
Tapi dengan melihatnya setiap hari, itu sudah cukup baginya. Apalagi sudah bertahun-tahun dia tidak berjumpa dengan Ardi semenjak kelulusan mereka, tentu saja karena Ardi harus kembali ke Jogja, tempat asalnya.
Ya...Micel tinggal di Pekanbaru, mereka saling kenal karena Ardi kuliah di Pekanbaru untuk mengambil gelar S1 nya. Perasaan Micel mulai tumbuh setelah tahun pertama dia mengenal Ardi.
"Kamu bisa datang ke kantor aku besok, dan kamu bisa langsung bekerja."
"Apa aku nggak perlu di interview dulu?"
"Nggak usah, kamu langsung temui saja bagian HRD di sana, bilang saja aku yang menyuruh kamu."
"Makasih ya, aku merasa sangat tertolong," ucap Micel sembari menjabat tangan Ardi.
"Sama-sama," ucap Ardi dengan menepiskan senyumannya.
Kevin mulai bosan, apalagi melihat Ardi yang terus mengobrol dengan Micel.
"Ayah, ayo kita pulang. Kevin sudah capek," rengek Kevin.
Ardi pun menganggukkan kepalanya, "maaf ya, Cel. Aku balik dulu," ucapnya.
Micel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sebelum Ardi pergi, tidak lupa dia memberikan nomor telfonnya kepada Micel.
"Andai kamu belum mempunyai istri, aku pasti akan mengejar mu lagi," ucap Micel sambil menatap kepergian Ardi dan Kevin.
~oOo~