
Zahra kini sudah mulai mejalani rutinitasnya sebagai mahasiswi kedokteran. Dia mempunyai banyak teman baru. Gadis itu baru menyadari, ternyata lebih menyenangkan kuliah di negaranya sendiri ketimbang di negara orang lain.
Tapi yang berbeda buat gadis itu adalah masa kebebasannya, kedua orangtuanya melarangnya untuk keluar malam-malam bersama dengan teman-temannya. Beda dengan saat dirinya masih kuliah di Jepang tidak ada
seorangpun yang melarangnya, meskipun dirinya tidak pernah melakukan hal yang melampaui batas.
Sandiwaranya dengan Ardi pun masih terus berlanjut, karena sampai sekarang Matteo masih bersikukuh untuk mendapatkannya. Kata pemuda itu sebelum ada hal yang bisa membuktikan dirinya percaya jika Zahra dan Ardi
benar-benar menjalin hubungan, dia tidak akan pernah menyerah.
Matteo sebenarnya adalah pemuda yang baik, meskipun dia kakak kelas Zahra waktu sekolah dulu, tapi sebenarnya dia lebih muda dari Zahra satu tahun. Zahra memang harus mengulang sekolahnya yang tertinggal selama dia koma dua tahun lebih. Tapi Zahra gadis yang sangat pintar, hingga dia bisa mengejar ketertinggalannya tanpa hambatan apa pun.
Kini gadis itu sedang mendengarkan solusi dari kakak sepupunya dan juga kekasih sandiwaranya. Zahra sedang berada di sebuah cafe tempat biasa Kenzo dan teman-temannya berkumpul.
“Bagaimana kalau kalian berciuman di depan Matteo? Mungkin dengan begitu Matteo akan percaya kalau kalian memiliki hubungan,” usul Kenzo.
“Nggak!” tolak Zahra langsung.
“Kenapa? Kan Cuma ciuman doang nggak lebih?” tanya Kenzo.
“Kakak kan tau itu ciuman pertama aku masa harus aku berikan kepada pria yang bukan kekasih aku,” ucap Zahra dengan mengerucutkan bibirnya.
“Jangan manyun seperti itu, apa kamu lupa dengan apa yang aku katakan di rumah aku waktu itu?” tanya Ardi sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya yang bertumpu pada meja.
Sejak tadi pria itu menatap gadis di sampingnya tanpa berkedip sedikitpun, hal itu tentu saja tidak di sadari oleh Zahra karena dia sedang serius mendengarkan usulan kakak sepupunya tentang apa yang harus dia lakukan.
“Memang apa yang akan kamu lakukan sama Zahra? Perkataan apa yang kamu maksud?” tanya Kenzo penasaran.
“Bukan apa-apa,” ucap Zahra sambil melipat kedua lengannya di dada. Gadis itu terlihat sangat kesal. Dia merasa dirinya tidak bebas berekspresi saat bersama dengan Ardi, tentu itu karena dia takut Ardi akan benar-benar
mencium bibirnya. Bahkan saat di rumah Ardi, pria itu berani mengecup pipinya. Padahal itu gadis itu belum pernah mendapatkan kecupan di pipi selain dari kedua orangtuanya.
“Aku akan mencium bibirnya jika dia cemberut di depan aku,” ucap Ardi sambil tersenyum.
“Apa kamu berani mencium Zahra di depan aku?” tantang Kenzo.
“Kak! Apa kamu sudah gila! Kakak mau aku di jadikan taruhan nggak penting seperti itu!” seru Zahra kesal.
“Zahra, jika kamu sudah melakukan ciuman itu, aku jamin kamu akan ketagihan nantinya,” ucap Kenzo sambil menaikkan kedua alisnya naik turun.
“Aku nggak butuh hal kayak gitu, itu kan bagi kakak, karena kakak sering mempermainkan hati wanita. Apa kakak nggak sadar dengan usia kakak sekarang? Kakak sudah 32 tahun tapi sampai sekarang kakak belum juga menikah. Apa kakak akan selamanya melajang seumur hidup kakak?” tanya Zahra.
“Betul kata Zahra, aku aja udah menikah dan bercerai, anak aku aja sudah berusia 5 tahun, la kamu...” ledek Ardi.
“Apa kakak mau aku langkahi? Siapa tau aku yang nikah duluan, memangnya kakak nggak mau?” tanya Zahra.
Ardi membulatkan kedua matanya, “memangnya kamu mau menikah dengan siapa?” tanyanya terkejut.
“Dengan pria yang aku sukai lah,” ucap Zahra santai.
“Ardi maksud kamu?” tanya Kenzo penasaran.
Zahra menatap Ardi yang kini tengah menatapnya, gadis itu lalu menggelengkan kepalanya, “nggak mungkinlah, Kak. Mana mungkin aku berani berharap seperti itu,” ucapnya.
“Kenapa memang? Nggak ada yang melarang kamu untuk berharap?” tanya Ardi sambil terus menatap wajah cantik gadis itu.
“Ya...aku...aku nggak mungkin berharap itu sama kakak.” Mana mungkin aku berani, kakak itu terlalu sempurna untuk aku, selain itu ancaman Kak Micel membuat aku tak berani sampai berfikir akan menyukai kakak, pikirnya.
“Sekarang aku tanya sama kamu. Selama kalian menjalin hubungan pura-pura ini, apa lagi ini sudah lebih dari dua bulan, apa kamu diam-diam menaruh perasaan kepada Ardi?” tanya Kenzo.
“Kenapa kakak bertanya seperti itu? Mana mungkin itu...” Zahra menghentikan ucapannya saat melihat Matteo berjalan menuju meja mereka.
“Zahra, kamu di sini juga!” Matteo menatap Kenzo dan Ardi, “Kak, apa aku boleh gabung?” tanyanya.
“Nggak!” tolak Ardi langsung.
“Tentu saja boleh, Matt,” ucap Kenzo lalu menarik kursi di sebelahnya. Pria itu lalu menyuruh pemuda itu untuk duduk.
“Makasih, Kak.” Matteo lalu mendudukkan tubuhnya di samping Kenzo. Pemuda itu memanggil pelayan untuk memesan minuman.
“Kamu sedang apa di sini?” tanya Zahra.
“Aku tadi dari kampus dan mampir ke sini, aku nggak menyangka akan bertemu kamu di sini,” ucap Matteo.
Ardi mendengus kesal, kenapa juga Kenzo mengizinkan Matteo untuk bergabung?
Kenzo tau apa yang sedang di pikirkan oleh sahabatnya itu, tapi Ardi tidak tau apa niat Kenzo menginzinkan pemuda itu untuk bergabung. Kamu tenang saja, justru situasi ini akan sangat menguntungkan buat kamu, pikirnya.
“Zahra, bukankah kamu sama Ardi sudah lama pacaran, tapi aku belum pernah mendengar kamu mengatakan sama Ardi kalau kamu sangat mencintainya.” Kenzo menatap Ardi lalu mengedipkan matanya.
Ardi tersenyum, “ia sayang, aku belum pernah mendengar kamu bilang kalau kamu mencintai aku. Padahal aku selalu mengatakan itu sama kamu, kalau aku sangat...sangat mencintai kamu,” ucapnya dengan senyuman yang terus mengembang.
Zahra membulatkan kedua matanya, dia menelan saliva nya. Apa yang sedang di rencanakan sama mereka berdua? Pikirnya.
~oOo~