
Ardi bingung harus menjawab apa. Ardi tidak mungkin menceraikan Monic, karena dia sekarang sedang mengandung anaknya. Ardi tidak menyangka Kay akan mengambil keputusan seperti ini. Ardi pikir Kay sudah memaafkannya dan menerima Monic.
"Sayang bukannya kamu melarang aku untuk menceraikan Monic, tapi kenapa kamu sekarang memintaku untuk menceraikan Monic?"
"Aku berubah pikiran, Kak, karena aku nggak mau diduakan, aku nggak mau berbagi suami aku dengan wanita lain, apalagi wanita itu sekarang sedang mengandung anak kamu."
"Sayang, a--aku...mana mungkin aku--"
"Aku tau, Kak Ardi nggak akan sanggup melakukan itu, sudahlah Kak, tinggalkan aku sendiri," ucap Kay lalu duduk di sofa.
Ardi mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Ardi tidak sanggup mengambil keputusan yang sangat sulit.
Kay mengambil nafas panjang dan membuangnya kasar. Kay menatap wajah Ardi yang sedang gelisah.
"Kak, pergilah, temani lah Monic dia sangat membutuhkan kakak sekarang. Bukankah kandungannya sangat lemah? Kak Ardi seharusnya memperhatikannya dan memberinya kasih sayang dan perhatian agar suasana hati Monic tenang dan itu baik untuk kandungannya," pinta Kay.
"Sayang, kamu tau kan aku sangat mencintai kamu, tapi aku juga nggak bisa meninggalkan Monic karena dia sedang--"
"Aku tau, Kak, makanya aku lebih baik mundur dari pada aku harus berbagi suami dengan Monic, aku nggak mau, Kak."
"Sayang, selamanya aku hanya milik kamu, nggak akan ada orang lain yang akan memiliki aku selain kamu sayang," ucap Ardi sambil berjalan ke arah Kay dan berjongkok didepannya.
"Selamanya aku hanya suami kamu, raga serta jiwa ini hanya milikmu," imbuh Ardi sambil menggenggam tangan Kay.
"Nggak kak, sekarang kakak sudah menjadi milik Monic, jiwa dan tubuh Kak Ardi juga sudah menjadi milik Monic. Kakak juga suami Monic serta ayah dari anak yang kini sedang dikandung Monic," ucap Kay lalu melepas tangan Ardi.
"Sayang jangan katakan itu, aku tau aku salah aku minta maaf."
"Buat apa kakak minta maaf, ini bukan salah kak Ardi. Lebih baik sekarang kak Ardi keluar, aku mohon."
"Tapi sayang--"
"Aku mohon kak, dan aku akan secepatnya mengurus perceraian kita, jadi Kak Ardi nggak perlu khawatir, Kak Ardi cukup fokus saja sama kandungan Monic, kasian dia."
"Sampai kapan pun aku nggak akan menceraikan kamu!" Teriak Ardi
"Kak Ardi nggak boleh egois, apa kak Ardi berniat untuk mempertahankan kita berdua? Apa kak Ardi berniat untuk memiliki kita berdua? aku nggak mau kak, sampai kapan pun aku nggak mau berbagi suami aku, sekarang kakak pikirkan baik-baik, pilih aku atau Monic, dan aku beri waktu satu minggu, sekarang kakak keluar," usir Kay sambil menunjuk ke arah pintu.
Ardi menatap Kay dan keluar dari kamar Arka. Ardi membanting pintu kamar Arka.
Blammm...
"Maafin aku kak, hanya ini jalan yang terbaik untuk kita," ucap Kay sambil meneteskan air mata.
Kay juga menyadari jika dirinya sudah tidak pantas untuk Ardi, Kay merasa dirinya sudah sering mengecewakan serta menyakiti Ardi. Bagi Kay dengan melepaskan Ardi maka Ardi akan bahagia dengan keluarga barunya.
✓✓✓
Selang beberapa hari Monic harus dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang sangat lemah. Dokter menyarankan agar Monic tidak terlalu banyak fikiran ataupun stres karena itu akan berdampak buruk untuk kondisi kandungannya.
Ardi semakin berada diposisi yang sulit. Ardi tidak mungkin meninggalkan Monic disaat seperti ini. Saat ini Monic sangat membutuhkan dukungan serta perhatian Ardi.
Sedangkan waktu yang ditentukan Kay tinggal dua hari lagi. Ardi sangat frustasi, dia sering marah-marah tanpa alasan, apalagi saat ini Kay lebih memilih balik ke Pekanbaru.
Kedua orang tua Kay sudah mengetahui perihal tentang rumah tangga anaknya. David sangat kecewa dengan Ardi. David pikir Ardi tidak akan pernah menyakiti Kay dan menepati janjinya.
David dan Merisa mendukung Kay jika dia memang ingin berpisah dengan Ardi. Mungkin itu adalah jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Merisa tidak terima jika anak semata wayangnya harus hidup dengan wanita lain suaminya.
"Sayang, kamu harus kuat demi Kevin," ucap Merisa sambil mengusap lembut punggung Kay.
"Iya Bun, hanya Kevin yang membuat Kay bertahan sampai sekarang."
"Terus gimana soal perceraian kalian?"
"Kay nggak tau, Bun, tapi Kay sudah mengirimkan surat cerai itu kepada Kak Ardi dan Kay sudah menandatangi nya. Kay harap kak Ardi secepatnya menandatangi surat itu."
✓✓✓✓
Monic sudah keluar dari rumah sakit, sekarang kondisinya sudah lebih baik. Ardi selalu berada di sisi Monic.
"Kak!" panggil Arka sambil berjalan ke arah Ardi.
"Ada apa?"
"Ada surat untuk kakak," ucap Arka sambil memberikan amlpop coklat kepada Ardi.
"Dari siapa?" tanya Ardi sambil menerima amplop itu.
"Kay."
Arka berjalan meninggalkan Ardi dan Monic. Ardi penasaran apa isi amplop itu, Ardi membuka amplop coklat itu.
"Apa ini! Kenapa Kay mengirim ini, sampai kapan pun aku nggak akan pernah menceraikan mu Kay!" Teriak Ardi emosi.
~oOo~