Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Gadis kecil yang manis


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ardi bergegas keluar dari ruangannya. Sejak kedatang Monic siang tadi, Ardi sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Pria itu memikirkan apa yang akan dikatakan Zahra jika dia tau Monic saat ini sedang berada di rumahnya.


Ardi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sudah telah beberapa menit untuk menjemput Zahra. sesampainya di rumah sakit, Ardi melihat Zahra sedang mengobrol dengan Samuel di luar gedung rumah sakit.


Ardi membuka pintu dan keluar dari mobil, dia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Zahra dan Samuel, “sayang, maaf aku terlambat,” ucapnya saat sudah berdiri tepat di depan Zahra.


Zahra tersenyum, dia lalu beranjak dari duduknya, “makasih ya, Kak, sudah mau menemani aku untuk menunggu Kak Ardi,” ucapnya sambil menatap Samuel.


Samuel mengangguk, “kalau begitu aku pulang duluan ya,” ucapnya. Ardi juga mengucapkan terima kasih kepada Samuel karena telah menemani istrinya sampai dia datang menjemputnya.


“Ayo kita pulang sekarang,” ajak Ardi sambil menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya menuju ke mobilnya.


Dalam perjalanan pulang Ardi hanya diam, dan itu membuat Zahra penasaran, “kakak kok diam saja, apa ada masalah di kantor?” tanyanya.


Ardi menggelengkan kepalanya, “sayang, ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu,” ucapnya sambil terus menatap ke depan.


“Apa itu, Kak?”


Ardi bingung harus mengatakan apa, dia takut akan membuat istrinya marah dan kecewa, “tapi kamu harus janji sama aku, kamu nggak akan berpikiran yang macam-macam,” ucapnya.


“Apa sih, Kak! jangan bikin aku penasaran deh!”


Ardi menghela nafas panjang, dia lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, “sayang, tadi siang Monic datang ke kantor,” ucapnya pelan.


“Apa! Maksud kakak, Monic mantan istri kedua kakak!” seru Zahra terkejut.


Ardi menganggukkan kepalanya, “dia datang ke sini untuk menemui Rasya,” ucapnya.


“Tapi kenapa? Bukankah dia sama sekali nggak peduli dengan Rasya, lalu kenapa setelah sekian tahun dia kembali lagi ke sini? Apa dia ingin mengambil Rasya dari kakak?”


Ardi menggenggam tangan Zahra, “itu nggak mungkin sayang. Aku juga nggak akan membiarkan Monic mengambil Rasya dari aku. Aku yang memegang hak asuh atas Rasya, dan Monic sendiri yang menyerahkan Rasya ke aku,” ucapnya.


“Tapi, Kak. Jika Kak Monic benar-benar ingin mengambil Rasya bagaimana? Aku nggak mau pisah dari Rasya, Kak. aku sudah menganggap Rasya seperti anak kandungku sendiri,” ucap Zahra dengan perasaan takut dan cemas.


“Sayang, kamu tenang saja. Aku nggak akan membiarkan Monic mengambil Rasya dari kita.” Ardi lalu menarik tubuh Zahra ke dalam dekapannya, “nanti kita bicara baik-baik dengan Monic,” imbuhnya.


Zahra menganggukkan kepalanya. Ardi lalu kembali melanjutkan perjalanannya, pria itu melajukan mobilnya dengan menambah kecepatan mobilnya. Entah mengapa perasaannya tidak tenang. Sesampainya di rumah, mereka bergegas keluar dari mobil. Mereka lalu membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Orang yang pertama mereka cari adalah Rasya.


Zahra menatap ke arah wanita yang duduk di samping Rasya, ‘jadi dia yang bernama Monic, ternyata dia masih cantik.’


“Tante, Mama Rasya datang untuk menemui Rasya. Rasya senang sekali, akhirnya Rasya bisa bertemu dengan Mama Rasya,” ucap Rasya dengan senyuman di wajahnya.


Zahra hanya tersenyum, dia lalu menyapa Monic, “halo, kenalkan nama saya Zahra,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Monic menyambut uluran tangan Zahra, “aku Monic, mantan istri Ardi,” ucapnya.


Zahra hanya menepiskan senyumannya, “Kak, aku ke kamar dulu ya, aku mau mandi dulu, badan aku rasanya lengket,” ucapnya.


Ardi menganggukkan kepalanya, dia melihat istrinya menaiki tangga, setelah itu dia mengalihkan tatapannya, “sayang, sekarang kamu belajar dulu ya, ada yang ingin Papa bicarakan sama Mama kamu,” ucapnya.


Rasya menganggukkan kepalanya, dia lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menjauh.


Ardi menarik tangan Monic dan membawanya menuju teras belakang rumahnya, “kenapa kamu masih di sini?” tanyanya.


“Aku sudah izin sama Mama, aku akan tinggal disini selama satu bulan.”


“Apa maksud kamu? Kenapa kamu harus tinggal di rumah ini? Kenapa kamu nggak tinggal di hotel?” tanya Ardi terkejut.


Monic melipat kedua lengannya di dada, “kenapa kamu sepertinya begitu ketakutan? Apa sekarang kamu menjadi suami yang takut kepada istrinya? Apa kamu takut istri kamu itu akan meninggalkan kamu hanya karena ada aku disini?” ledeknya.


“Zahra nggak akan pernah meninggalkan aku. Cinta kami sangat kuat dan nggak akan tergoyahkan oleh apapun.”


Monic tertawa, “kenapa kamu menjadi seperti ini, apa hanya karena istri kamu yang masih sangat muda, hingga kamu berubah menjadi seperti sekarang ini? Bahkan dulu saat kita menikah, kamu nggak pernah bersikap seperti itu sama aku,” ucapnya.


“Aku nggak pernah bersikap seperti itu sama kamu, karena kita menikah hanya karena kesalahan, dan aku juga nggak pernah mencintai kamu.”


“Jangan bawa-bawa Rasya dalam masalah kita dulu, apa kamu sudah lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan dulu sama anak kamu sendiri? Sekarang apa yang akan Rasya lakukan sama kamu, jika dia mengetahui semuanya?” Ardi mencengkeram lengan Monic, “aku peringatkan sama kamu, jika sampai aku tau kamu mempengaruhi Rasya untuk membenci Zahra, aku nggak akan tinggal diam, kalau perlu aku akan memberi tahu Rasya apa saja yang sudah kamu lakukan padanya dulu,” ancamnya.


Ardi lalu melangkahkan kakinya menjauh, dia tidak mau berlama-lama dengan Monic. Jika bersamanya dia sama sekali tidak bisa meredam amarahnya.


“Kenapa kamu masih bersikap seperti ini sama aku? apa salah aku sama kamu, Ar? Setelah sekian lama kita tidak bertemu, kenapa kamu masih sangat membenciku?”


***


 


Ardi membuka pintu kamarnya, dia lalu masuk ke dalam kamar. Pria itu melihat istrinya yang sudah berganti pakaian, dan sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


“Sayang, aku lapar,” ucap Ardi manja, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping istrinya itu.


“Kak Ardi mandi dulu, nanti aku ambilkan makanan untuk kakak.”


Ardi menggenggam tangan Zahra, “apa kamu marah sama aku?” tanyanya.


Zahra menggelengkan kepalanya, “kenapa aku harus marah sama kakak. Kak Monic berhak datang ke sini untuk menemui Rasya, karena dia adalah ibu kandung Rasya,” ucapnya.


“Sayang, kamu percayakan sama aku?”


Zahra menangkup kedua pipi Ardi, “aku percaya sama kakak, kakak nggak mungkin berpaling dari aku dan kembali lagi sama mantan istri kakak itu,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.


Ardi mengecup kilas bibir tipis istrinya itu, “makasih sayang, aku mencintaimu,” ucapnya.


“Sekarang kakak mandi, aku akan siapkan makan malam.” Zahra lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar.


***


 


Monic menghampiri Zahra di dapur, “boleh aku bicara sebentar sama kamu?” tanyanya sambil menarik salah satu kursi meja makan lalu dia duduki.


“Apa yang ingin Kak Monic bicarakan sama aku?” Zahra mengambil nasi dan dia letakkan di atas piring.


“Bagaimana kamu bisa mengenal Ardi?”


Zahra mengalihkan tatapannya, dia tatap wajah Monic dengan seksama, ‘apa dia sedang memancing ku?’ “kakak nggak akan percaya dengan apa yang akan aku katakan. Aku sudah mengenal Kak Ardi sejak lama, bahkan sebelum Kak Ardi menikah dengan Kakak dan juga Kak Kay,” ucapnya.


Monic mengernyitkan dahinya, “maksud kamu? Apa kamu sedang bercanda?” tanyanya tidak percaya.


“Apa yang dikatakan Zahra memang benar.” Ardi melangkahkan kakinya menuju meja makan, “aku dan Zahra sudah saling mengenal sejak aku masih sekolah dulu, dia adalah gadis kecil yang sangat manis.” Ardi lalu memeluk Zahra dari belakang, “aku nggak menyangka dia bakalan jadi istri aku,” ucapnya lalu mengecup pipi kanan Zahra.


“Mungkin sejak dulu kita memang sudah berjodoh, hanya saja baru sekarang kita di persatukan,” ucap Zahra sambil mengusap pipi suaminya.


Monic beranjak dari duduknya, “kalian nikmati saja makan malam kalian, aku pergi dulu untuk menemui Rasya,” pamitnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.


Ardi membalikkan tubuh istrinya agar menghadapnya, “kamu nggak apa-apa sayang, apa yang sudah Monic lakukan sama kamu?” tanyanya cemas.


Zahra tersenyum, “Kak Monic nggak melakukan apa-apa kok Kak sama aku.” wanita itu lalu mengambilkan sayur dan lauk lalu dia taruh ke atas nasi yang sudah dia taruh di atas piring, “lebih baik sekarang kakak makan dulu,” ucapnya sambil meletakkan di atas meja.


Ardi menarik salah satu kursi lalu dia duduki, “aku ingin makan dari tangan kamu sayang, suapin aku ya,” pintanya dengan manja.


Zahra tersenyum, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping suaminya, “sekarang kenapa jadi kakak yang manja,” godanya.


“Biarin, sekali-kali aku ingin bermanja-manja dengan istri aku ini,” ucap Ardi sambil mencolek hidung mancung istrinya.


Zahra akhirnya menyuapi suaminya, begitu pun sebaliknya, Ardi juga menyuapi istrinya itu. Mereka terlihat begitu romantis, siapapun akan merasa iri saat melihat kemesraan mereka. Setelah selesai makan, mereka kembali ke dalam kamar. Sebelum mereka tidur, seperti malam-malam biasanya, mereka melakukan pergulatan panas dulu sebelum mereka tidur. Itu sudah menjadi rutinitas mereka setiap malam. Setelah merasa kelelahan, mereka pun akhirnya terlelap dan pergi ke alam mimpi mereka.


~oOo~