Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Ayah Sangat Sakit


AYAH SANGAT SAKIT


"Aku pergi dulu ke rumah Jack, kau ingin menitipkan sesuatu....", aku kecup kening Hannah


"Tak ada, aku hanya ingin dibawakan kripik jamur putih buatan ibu, kalau tak merepotkan", pintanya sederhana


"Akan kucoba minta pada Liyana...", berat sekali berpisah dengan Hannah


"Ayah mau kemana?, tanya Edward


"Kami boleh ikut?, pinta Rossy


Ada dua manusia lagi, yang membuat ku malas berpergian


"Kau jaga ibumu saja disini, Edward", anak lelaki ku mengangguk


"Rooossy.....jangan terlalu capek ya, kamu harus bisa menumbuhkan sayap cahayamu lagi, ok", Rossy cemberut


"Ayah, kau tahu kan, aku bisa terbang tanpa sayap cukup inner saja. Kata om Spain, innerku sangat hebat", Aku tak bisa membalas kata-katanya, hanya pelukan


Kemudian Rossy berbisik padaku, tapi Hannah dan sepertinya Edward juga bisa mendengarnya, "Kata om Spain, aku bisa menjadi Jendral Besar ketika dewasa nanti"


Senyuman Rossy, tak bisa diabaikan. Aku membelai pipi yang seindah porselen itu


"Kau bisa jadi apapun nak, kau anak ayah yang hebat".


Aku dikawal pergi oleh pasukan Sandy. Perjalan an ke timur Edges tak bisa dengan lift, atau pesawat atau kapsul mobil. Kami hanya bisa mengandalkan kekuatan sayap.


Pengawalan pasukan bersayap, aku ada di diatas, dibawahku pasukan bersayap membentuk segitiga


Kami melakukan perjalanan yang cukup panjang, tapi membuatku bersemangat


Sampai juga di depan rumah Jack. Rumah yang cukup luas halamannya. Tapi bangunannya sangat mungil. Kuperintahkan pasukan pengawalku beristirahat di bawah rumah terbuka panggung di sisi rumah utama


Sunyi..., Liyana dan Jack sengaja tak diberitahu kedatanganku. Aku tak mau merepotkan mereka


Tok tok tok, sudah jam tujuh malam, tak ingin terlalu bersemangat mengetuk pintu


"Iya......", Liyana membuka pintu


"Ya Tuhan, Andy....., kau bersama siapa? Mengapa tak kirim kabar akan kemari? Ayo masuk-masuk!!"


Aku hanya tersenyum melihat rona wajah Liyana yang sangat kaget


Sebelum menutup pintu, Liyana melihat ke arah gazebo depan sisi rumahnya yang penuh dengan pasukan pengawalku.


"Kau..Andy, kau tahu kan sangat sulit mencari persediaan makanan untuk menjamu tamu sebanyak itu?!!", wajah ibu mertuaku kesal


"Jangan merepotkan Liyana, beri saja yang kau punya, tak usah berlebihan, mereka akan memakannya, mereka sedang dalam tugas!!"


"Ooouw, ok, apa saja!"


Liyana bergegas ke arah belakang rumahnya, pasti dia sibuk sekali


Di tengah rumah, aku melihat Millard dan Jack sedang berbincang serius


Mereka berdiri ketika melihatku. Millard langsung membungkuk, "Yang Mulia Raja, selamat datang. Maaf tak bisa menyambut anda dengan semestinya. Aku tak membawa pakaian formal". Millard masih mempertahankan tata krama kerajaannya


"Tenang saja Millard, ini di rumah Jack"


Jack langsung menghampiriku dan memelukku erat, "Pa kabar nak?"


"Aku baik Jack", aku duduk di sofa panjang


Ada dua sofa panjang di ruang tengah rumah Jack, di sofa satunya, tertidur ayahku. Yang nampaknya tak terganggu dengan kedatanganku.


"Ayah.....tertidur...?, aku berbisik


"Tak usah berbisik Andy, ayahmu belum tidur jam segini, dia hanya tak bisa membuka matanya"


"Kami sengaja mengeraskan suara agar dia bisa mendengar dan ikut ngobrol bersama"


"Tapi aku tak mendengarnya....", biasanya telepati ayah aku bisa mendengarnya


"Nanti Liyana akan membuatmu mendengarnya, mungkin dia sedang sibuk sekarang", Jack menoleh ke jendela rumahnya


Liyana terlihat membawa lima ekor ayamnya, dan bolak balik membawa peralatan serta bumbu dapur dan sayuran ke halaman depan


"Sepertinya kita akan makan besar atau kau membawa pasukanmu Andy?", tanya Jack datar


"Aku dikawal", Jack dan Millard mengangguk


"Hai Andy", Liyana masuk ke dalam rumah, tangannya basah


"Aku baru saja cuci tangan, tapi sepertinya aku juga harus ganti baju, tunggu sebentar"


Liyana masuk ke dalam kamarnya dan keluar dengan pakaian yang berbeda


"Kau ingin mendengar ayahmu ya?!", sebentar


Liyana nampak menyiapkan racikan sesuatu


"Apa ini?", tanyaku pada Liyana


Sebuah bola kristal bening berdiameter satu sentimeter, seperti kristal


"Ini air murni, memurnikan pendengaranmu, memperlebar tangkapan getaran suara yang bisa kamu dengar", Liyana memasukan kristal itu ke dalam telingaku


Awalnya berdengung tapi kemudian, perlahan semua suara menjadi sangat jelas


"Gunakan innermu Andy, untuk memfokuskan suara, lihat ke arah ayahmu, konsentrasi dan fokus"


Aku mendengarnya, aku mendengar ayah bicara....


Jack dan Millard tersenyum padaku, kugenggam tangan ayah yang sudah tak berdaya


"Ayah, masalah sudah selesai, mereka kabur!"


"Kabur?!", tanya ayah pelan


"Ya ayah kabur!", aku tertawa dan menangis. Rindu sekali berbincang dengan ayah tentang kondisi kerajaan, meski kami sering tak sependapat tapi aku tetap anaknya


"Andy....., kau tahu, konflik itu memperkuat persekutuan...."


Aku harus mendengar kembali pendapat ayah tentang konflik, yang selalu membuat kami bertengkar


"Tak ada negara yang sepenuhnya damai, kau memerintah manusia, bukan robot"


"Konflik itu perlu...", Ayahku masih saja tetap dengan pendiriannya


"Ayah.....sudahlah!", aku paling tak suka membahas ini


"Kau harus tahu kebenarannya Andy...", apa yang ayah coba katakan padaku


"Pasukan Sammy tak pernah ada, Sammy sudah lama mati olehku, semua keluarganya menyerah", aku tak percaya apa yang kudengar


"Maksud ayah apa.....?" Aku melihat ke arah Jack dan Millard


Mereka terdiam lalu mengangguk, "Benarkah itu ayah, keluarga Sammy tak pernah ada?", aku benar-benar tak mengerti


"Lalu selama ini, kita melawan siapa, di hutan, semua penyerangan itu?", ayah belum mau menjawab


"Ayah......", aku menitikkan air mata lagi. Banyak pasukan dan temanku yang tewas karena perlawanan keluarga Sammy


"Ayah.....", dia tak mau menjawab


Jack membuat aku duduk di sofa kecil, melepaskan genggamanku dari tangan ayah


"Kemarilah nak, mungkin ayahmu sudah benar-benar tidur", Jack menenangkanku


"Mari kita duduk disana di belakang rumahku, sambil menikmati indahnya kebun bunga perasa milik Liyana"


Aku dan Millard pergi mengikuti Jack


Di belakang rumah, penuh dengan tanaman dan kebun, sudah malam tapi lumayan terang disini


Ada banyak tempat duduk yang terbuat dari pangkal pohon tua, sangat indah


Jack menyiapkan racikan daun kering dan menyalakan tungku kecil, yang diatasnya sudah ada teko dari tanah. Dia sedang menyiapkan minuman untuk kami


"Kau lapar Andy?",Jack tiba-tiba bertanya memecah kesunyian


"Iya Jack, aku lapar, kau ada makanan?", tanyaku tak sungkan lagi


Jack bergerak ke arah kotak pendingin makanan di ujung sana


"Ini, rusa rebus yang sudah dibumbui dan siap dipanggang!", Jack tersenyum padaku


Millard seketika berdiri dan menyiapkan panggangan. Dia sepertinya sudah sangat hafal tempat ini


"Bumbu yang diracik Nyonya untuk rusa rebus itu luar biasa, Yang Mulia Raja harus mencobanya", Millard yang sedari tadi diam sekarang mulai bicara


"Sudah dipotong tipis dan kecil siap untuk dimakan", Jack membawa potongan beku daging rusa lalu menaruhnya sembarang diatas panggangan


"Nanti kalau ada yang sudah siap makan, ambil saja Yang Mulia, seperti itu cara makannya!"


"Ooh iya", aku duduk sambil membolak balik daging


"ini sudah matang bukan ?", Aku mengambilnya


"Huf huf huf, harus ditiup begini bukan, dan hmmmm ini enak, lebih enak dari buatan Hannah"


Jack mengambil piring, lalu mengambil daging yang matang dan memberikan satu piring daging panggang siap makan untukku


Millard nampak nyaman disini, dia mengambil piring untuk Jack dan dirinya sendiri


Satu piring penuh daging rusa ludes olehku. Aku sendiri terheran-heran cepat sekali aku makan.


Jack dan Millard tertawa melihatku makan, "Kau mau lagi?", tanya Jack


Aku masih ingin daging panggang ini, tapi aku sangat ingin tahu tentang keluarga Sammy dan maksud perkataan ayah tadi


"Jadi Jack, siapa yang ku perangi kalau bukan keluarga Sammy?"


Jack diam, lalu mulai bicara sambil menyantap daging panggang pelan....


"Pasukan ayahmu sendiri...., terlatih dan hebat!"


"Millard....kau tahu ini?!", Millard mengangguk


"Bagaimana dewan penyangga, apakah mereka tahu juga?'


"Tidak, mereka tidak tahu, hanya kita berempat yang tahu, aku, Millard, Spain dan tentu saja ayahmu", jawab Jack datar


Aku ingin meledak, perasaan marah, kesal, kecewa bercampur. "Apa kau tahu berapa banyak korban mereka Jack?! Kau tahu berapa banyak?!!!"


Jack menghentikan makannya, begitu juga Millard mereka memandang sedih ke arahku


Aku meneteskan air mata, aku bingung, ini terlalu tiba-tiba.....


"Aku pikir ayah hanya sakit fisik, tapi ini.....ayah sangat sakit...dia benar-benar sakit....."