Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Malam Pertamaku


MALAM PERTAMAKU


Nyonya ketua, memimpin jalan di depan. Ketua kampung sembilan sangat ramah, dia mendampingiku berjalan sambil menjelaskan pemandangan di kampungnya.


'Kampung kami jadi sepi begini, karena separuh penduduk pindah ke kampung dalam, kata mereka disana lebih aman, banyak tetua", aku tak tahu yang dimaksud aman, diam mendengarkan adalah cara terbaik menghadapi sesepuh seperti ketua kampung sembilan.


"Sudah sore nak Andro, sebaiknya perjalanan pulang ke kampung pertama ditunda saja besok pagi"


"Iya, nanti saya sampaikan ke istri saya"


"Iya, memang susah memutuskan apapun sendirian jika sudah mempunyai tanggung jawab", ketua kampung sembilan menepuk nepuk punggungku.


Ketua kampung sembilan sangat menjaga perasaan istrinya, dia terus mengawasi langkah istrinya sambil ngobrol denganku, sama ketika Hannah berjalan didepanku.


Mungkinkah aura ku yang mencintai Hannah terlihat oleh dua orang sepuh ini? Sulit untuk mengatakannya, karena mereka belum bertemu Hannah. Aku yakin sebentar lagi kami akan diusir, karena terlihat auranya bukan suami istri. Hannah tak kan pernah mencintai lelaki jelek lemah sepertiku.


"Permisi ketua, saya mau lewat", anak kesil berusia tanggung berlari mendahului kami dari belakang.


"Maaf ketua, saya duluan", sekarang ibu yang mengendong anaknya.


Ada apa disini, kenapa mereka berlarian riang seolah ada pesta di depan sana.


"Istriku, ada apa dengan warga, mengapa mereka meloncat berlari riang ke depan?"


"Tak tahu suamiku, aku pun sama bingungnya denganmu"


Ketua kampung dan Nyonya, tak tahu mengapa warganya berlarian riang ke depan, melewati kami.


Sampai di pilar, penduduk kampung berkumpul di sekitar pilar. Aku mencari Hannah, karena kuminta Hannah menunggu disini


"Permisi..., permisi, maaf saya mau lihat ke depan", aku menerobos masuk ke kerumunan.


"HANNAAAAAH!, " aku lihat Hannah terduduk pingsan denga tas ransel nya yang besar, dia seperti tertidur, harusnya tak kubiarkan dia kelelahan.


Aku lepas ranselnya, lalu kugendong dia, masih terpejam, dan suara nafasnya seperti orang tertidur, wajahnya memerah kecapekan.


"Maaf bisa tolong bawa ranselnya", aku minta tolong pada pemuda yang berdiri tak jauh dari tempat Hannah pingsan.


"Mari kesini nak Andro, bawa istrimu ke rumah tamu kampung kami", aku mempercepat langkahku mengikuti ketua kampung sembilan sambil menggendong Hannah. Di belakangku pemuda yang membawa ransel Hannah mengikuti.


"Tidurkan saja disini", istri ketua kampung sudah menyiapkan kamar untuk kami.


"Sudah.....temani saja istrimu dulu, mungkin dia kelelahan menunggumu", aku mengangguk.


Keduanya sesepuh itu, langsung mengira Hannah adalah istriku. Apakah aura Hannah mencintaiku?


Aku lap wajah Hannah yang kemerahan dengan air jeruk hutan yang disiapkan nyonya ketua. Wajahnya cantik sekali, damai melihatnya.


"Nak Andro, ayo makan malam bersama kami, biarkan saja istrimu istirahat", nyonya ketua membujukku.


Aku ke kamar mandi berganti baju dan ikut makan malam bersama mereka.


"Tadi ketika kau menggendong panik istrimu, aku melihat matanya sedikit terbuka lalu tersenyum memandang anda, nak Andro", nyonya ketua memulai pembicaraan dengan tema yang sangat ingin kudengar.


"Pilarnya nyala, cahaya putih, bukan hitam, mungkin istrimu tahu tentang medan listrik petir?", ketua kampung bertanya padaku


"Aku tak tahu ketua, tapi tadi sebelum kutinggalkan dia berbicara pilarnya longgar, mungkin dia iseng memperbaikinya dan akhirnya tertidur di pilar", aku mengira-ngira kejadian.


"Kendor yah!"


"Hannah tadi mengatakan seperti itu, kendor katanya" aku tersenyum, tak berani berbohong.


"Maaf Ketua, Nyonya, saya mau masuk kamar dulu, saya ingin menengok Hannah"


Kamar ini hanya bertirai kain, aku harus tidur bersama Hannah. Aku tidur disampingnya, dia membalikkan badannya mengarah padaku, lalu tangannya memelukku


"Andro....Andro....", Hannah berbisik menyebut namaku


Aku memeluknya dalam tidur, dia seperti sengaja mencari aroma tubuhku dalam tidur.


Alam bawah sadarnya mencintaiku, benarkah?


Tidur bersama Hannah sangat menggangguku, karena tidurnya terus bergerak dan mencari tubuh untuk dipeluk. Dia tidur seperti anak kecil, pelukan ku tak bertahan lama, karena dia menendangku dalam tidurnya, aku hampir jatuh. Wanita macam apa yang dalam tidur pun ingin terus menolakku?


Pagi-pagi sekali, seperti ada alarm dalam tubuhku, sisa pelatihan fisik di Kiehl. Bangun pagi menjadi kebiasaan semalam apapun tidurku. Hannah masih pulas, tentu saja karena aku jadi boneka tinju dalam mimpinya. Selesai berkemas pagi hari, aku duduk di ruang makan kecil sambil memandang jauh keluar.


Hannah membuat pilar cahaya menyala, apakah dia hanya membenarkan posisi pilar yang longgar? Ketua kampung dan nyonya datang berkunjung, mereka membawa sarapan pagi.


"Istri anda bukan orang biasa nak Andro, dia sangat pintar, anak ku mencoba membetulkan posisi pilar, tapi yang terjadi cahaya hitam masuk melalui pilar itu, dan menjadikan orang yang panik seperti tertempel parasit", ketua kampung menjelaskan awal parasit di Tepian.


"Padahal hanya di luruskan sedikit, kata anakku ketika sudah pulih dari sakit waktu itu", sambung nyonya ketua.


"Untunglah pilarnya rusak lagi, jadi berhenti cahaya hitam itu", aku meneruskan


"Saya dapat kabar dari militer yang bertugas, cahaya hitam nya hanya sebentar, karena pilarnya rusak", aku menerangkan darimana informasiku berasal.


"Istrimu belum bangun nak?", tanya ketua kampung.


"Belum, pasti dia lapar sekali ketika bangun", kami semua tertawa


Hannah bangun, keluar dari kamar langsung ke kamar mandi. Wajahnya lucu sekali, "Bagaimana kau melihatnya saat bangun nak, itu adalah keajaiban kecil yang Tuhan datangkan untukmu", ketua kampung melihatku memandangi Hannah.


"Iya, dia kebahagiaanku", aku berbisik lirih.


Kali ini aku yakin Hannah mencintaiku karena ketua kampung dan nyonya berinner tinggi, mereka pasti mengusir kami kalau Hannah tak mencintaiku.


Aku akan mencoba membuat Hannah terbuka padaku, pelan-pelan akan kubuat Hannah melihat bahwa aku mencintainya.


********************************************


Ring ketiga kampung dalam, aku dan Hannah mendapat tugas pergi ke kampung sebelas, kampung yang taat beragama, hanya pasangan sah yang bisa masuk dan diterima disana.


Hannah kesal sekali, sandiwaraku yang berpura-pura menjadi suaminya ternyata di ketahui oleh Miss Reina. Dia cemberut sepanjang perjalanan.


Kemarin aku tak mau bicara dengannya, sekarang akan kubuktikan aku benar-benar mencintainya. Wajah Hannah lama kelamaan menjadi terbiasa dengan perhatianku sepanjang perjalanan.


Dia diam, tak banyak bicara, aku tak tahu ada apa dengan hatinya sehibgga tak mau membuka diri terhadapku, tapi aku akan berusaha.


Sampai di kampung sebelas, kami disambut oleh ketua kpung sebelas dan nyonya, mereka mendengar kabar bahwa kami akan datang dari kampung sembilan. Syukurlah jadi kami tak perlu berbasa basi dengan tugas survey yang akan dilakukan.


"Maaf nak, sebelum masuk dan bermalam di kampung kami, kalian harus menikah dengan cara agama kami", aku sudah tahu itu, tapi Hannah tidak, matanya terbelalak.


"Baik pak, kami akan melakukannya sesuai dengan agama kampung sebelas", aku lihat Hannah melototiku, bukan bermaksud mengambil kesempatan, hanya ingin pekerjaan jadi cepat selesai.


Hannah membisu sepanjang ritual, marah padaku, karena ketua kampung meminta koin kami untuk didaftarkan pernikahannya ke pusat. Aku tak masalah, tapi Hannah ragu-ragu menyerahkan koinnya.


Setahuku, inner para sesepuh disini lebih tinggu dari kampung sebelas, tapi mereka tidak mencurigai Hannah yang ragu memberikan koinnya, "Sedang bertengkar ya...., tapi aura saling mencintai tak bisa dibohongi", seorang pemuda berkata itu padaku, seusai melihat Hannah ragu menyerahkan koinnya.


Semuda itu sudah bisa melihat aura, kampung sebelas memang kumpulan orang-orang ber inner tinggi.


Kami belum bisa melakukan survey karena kami sampai ke kmpung sebelas sudah sore, dan malam ini aku diminta mengikuti ritual menikah agama mereka.


Jam sepuluh, aku dan Hannah masuk ke rumah tamu, kami diberi pengawal yang berjaga di luar dan didalam rumah. Kami harus satu kamar.


Setelah berganti pakaian aku tertidur di sofa, aku ingin pulas, tak mau lagi ditendangi Hannah. Saat tengah malam aku merasakan hembusan nafas Hannah di depan wajahku, matanya menjadi merah, "Husssh jangan ribut", dia melepas half shieldku, berbicara padaku sambil menutup mulutnya dengan jari, setelah puas memandang wajahku, dia memakaikan lagi half shieldnya , lalu berjalan ke kasur dan tertidur lagi. Hannah sakit kah?