
MUNTAH
Setelah mengunyah obat mual, aku minum segelas jus apel buatan Miss. Berhasil.... aku tak mual. Lalu aku makan kue-kue kering yang ada di meja makan. Aku tak perlu mencari Andy. Tubuhku yang tak bisa di atur akhirnya patuh dengan obat mual.
Aku malas mandi pagi. Air jeruk hutan membuat mood mandiku hilang. Aku rebahan saja di kasur.
"Belum dikenal memanggil!, belum dikenal memanggil!!
Aku malas menekan koin hologram nya.
Miss Brenda membuka pintu kamar , "Hannah tekan koinnya. Siapa tahu dari Rumah Sakit dari tempat kursus mu".
Aku ubah menjadi mode suara, mode hologram kumatikan dulu.
"Hai Hannah, aku Andy", Aku ubah mode suara menjadi mode hologram lagi.
"Andy, apa kabar.....?! Kau sehat Andy? Apa kau terluka? Apa ada teman temanmu yang terluka?", aku beruntun bertanya. Dia tertawa sangat lebar.
"Hannah, apakah kau sangat merindukanku" , kemudian dia tertawa lagi.
"Kau masih bisa meledek! gerutu ku...."Syukurlah kau baik-baik saja".
Andy bertanya serius, "Apakah kau bisa makan, Hannah! Apa perlu aku ke rumahmu sekarang!".
"Aku bisa makan Andy, aku bisa minum jus apel dan ku.....Huek, huek, kenapa tiba-tiba aku ingin muntah.
"Hannah, apa kau baik- baik saja?" . Andy bicara sendirian, karena aku lari turun tangga menuju kamar mandi. Semua yang aku makan tadi keluar lagi. Kepalaku pusing. Miss Brenda menunggu di luar kamar mandi. "Hannah apa kau baik- baik saja?! " , dia bertanya sambil mengetuk- ngetuk pintu."
"Aku baik- baik saja Miss". Aku menegakkan tubuhku yang lemas.
Di luar pintu kamar mandi Miss Brenda bertanya cemas.
"Kau muntah Hannah??!". Maag mu parah ya?" .
"Tidak seserius itu Miss". Aku keatas dulu yah...Mungkin membaik jika aku lebih banyak istirahat".
Miss mengangguk. Aku masuk ke kamar lagi. Andy masih on di koin hologram. Dia mondar- mondir.
"Hannah, kau muntah lagi?!!".
"Iya".
"Apa harus aku ke rumah mu?!" .
"Kau tau Andy, Miss Brenda tak tahu, obat mualku adalah makan makanan sisamu. Memalukan sekali...... Aku mau tidur. Daaah Andy".
Andy hanya memandangku tak berkata apa-apa. Aku matikan koin. Aku tak mau ada yang menggangguku. Aku tidur, lelah sekali.....
Seharian aku tidur bangun jam 6 sore. Air shower kamar mandi aku setel jadi hangat. Biasanya aku mandi air dingin. Aku memakai hair cup. Supaya rambutku tak memutih.
Segar sekali habis mandi. Setelah memakai pelembab wajah dan half shield. Sambil mengunyah obat mual. Aku menghitung sisa obat, ada 8 lagi. Cukup untuk 2 hari lagi. Setelah makan aku harus kunyah lagi obat nya.
Aku turun kebawah. Miss sudah menyiapkan sup wortel dan dan daging rusa. Aku sengaja membawa koin hologram ku ke meja makan. Aku akan menelpon Andy sambil makan, supaya dia tidak cemas.
"Andy". Andy langsung mengangkat telponku, hologramnya terlihat separuh badan
"Hannah!! Kau sehat?, aku berencana akan ke rumahmu sekarang!."
"Lihat Andy aku mau makan, kau temani aku makan ya".
Aku sebenarnya masih mual, tapi kupaksakan makanan masuk ke tubuhku. Agar Andy melihat aku baik- baik saja. Wajah Andy senang sekali.
Lalu aku bertanya tentang Alex dan Macbirth. Dia bercerita semangat sekali. Aku hanya sedikit mengambil makanannya. Jadi cepat habis. Sekitar 15 menit, Andy masih mendominasi percakapan kami. Miss Brenda datang membawa buah- buahan. Dia melihat Andy di hologram. Lalu mereka saling menyapa dan berbicara agak lama. Aku pamit dulu mau ke atas. Mereka seru sekali cerita. Aku buru-buru mengambil obat kunyah agar tak muntah.
Setelah satu jam, perutku mual sekali. Aku lari ke bawah, masuk ke kamar mandi. Muntah lagi.
Miss Brenda melihat aku berlari ke kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Miss sudah memakai pakaian lengkap mau pergi.
"Ayo Hannah kita ke Rumah Sakit, mualmu parah sekali", aku nurut saja.
Aku dibawa ke Rumah Sakit Pangkalan kota Dams, tempat Miss Brenda bekerja. Saat datang aku langsung mendapat rangkaian pemeriksaan, yang diminta Miss Brenda. Hasilnya sementara negatif. Ada beberapa hasil pemeriksaan yang harus menunggu besok. Aku hanya diberi cairan infus glukosa untuk mencegah mal nutrisi. Aku menginap di Rumah Sakit. Ditemani Miss Brenda.
Koin hologram Hannah berbunyi
"Ibu memanggil"
"Ibu memanggil".
"Hai Liyana, bagaimana kabarmu sayang?".
"Oooooh Brenda, hasil uji bunga perasa sudah kukirim ke tempatmu ya, tadi pagi. Aku ingin bicara dengan Hannah, bisakah kau alihkan koin ke Hannah?"
"Aku benar-benar menyesal Liyana, Hannah sedang dirawat, di Rumah Sakit Pangkalan tempat aku bekerja".
"Dirawat???, Hannah sangat kuat Brenda dia hanya punya masalah kulit. Kulit menjadi merah bila terkena sinar bintang".
"Sayang...Liyana maafkan aku, Hannah muntah-muntah setelah pulang dari test selama seminggu di tempat kursus. Mungkin Hannah mengalami kecemasan ketika harus di test, sedang dilakukan pemeriksaan. Kita tunggu hasil lengkapnya besok".
" Ooooh sayangku.. anakku. ... Hannah, Hannah sangat jenius Brenda!!!. Aku rasa dia bahkan tak perlu belajar untuk semua ujian itu....".
"Kau benar Liyana, aku juga yakin dia tak mungkin stress karena ujian, jadi tadi aku meminta pemeriksaan lengkap untuk semua kemungkinan penyakit yang bergejala seperti mual dan muntahnya Hannah".
"Brenda terima kasih ya.. sudah menjaga anakku".
"Bisakah aku melihat Hannah" , lampu sorot mungil di tepi koin diarahkan ke Hannah yang sedang tidur.
"Dia tertidur Liyana.....".
"Baiklah Brenda, ku titip Hannah ya...., kau tahu kan, kami tak bisa menggunakan akses kami di tempat pemerintahan. Bye Brenda".
Kupandangi Hannah yang sedang tertidur, sejak kapan dia mual begini, sebelum test dia baik-baik saja. Andy...Mengapa Hannah bisa berbicara dengan sangat akrab dengan dia. Aku melihat langit-langit kamar. Besok akan ketahuan apa yang menyebabkan Hannahku menjadi begini.
Tok tok tok tok. Suara pintu kamar diketuk. Jam 6 pagi. Cairan infusnya masih banyak. Untunglah satu botol infus nya bisa untuk 3 hari, kalau seperti jaman bumi, aku pasti sudah lelah sekali sekarang.
"Silahkan suster mau antar sarapan ya....".
"Iya dokter".
"Gimana hasil pemeriksaan keponakanku, sudah lengkap?".
"Belum dok, tinggal scan tubuhnya, harus menunggu dr Brian".
"Ok makasih infonya.... dan sarapannya".
Setelah suster itu keluar kamar, aku makan sarapan yang khusus buatku. Sarapan Hannah masih tertutup rapat. Nanti saja dibangunkannya. Setelah aku makan, aku takut tak berselera makan lagi. Lumayan enak untuk masakan rumah sakit. Sarapanku habis, saatnya membangunkan Hannah.
"Sarapan Miss?".
"Hannah ayo minum ini dulu". Susu hangat. Hannah tak muntah.
"Ku suapin ya".
Aku ambil sedikit kentang dan daging rusa dalam sop. Hannah pelan pelan bisa memakannya tak muntah, aku lega sekali, mungkin cairan anti mual yang ditambahkan pada infusnya bekerja.
Habis....Hannah memakan semuanya. Kemudian dia tiduran dan tersenyum padaku. Aku bisa melihat senyum dari sudut matanya.
"Hannah aku ganti half shield mu ya....dari kemaren sore belum diganti". Hannah mengangguk.
Aku tekan kelima jariku ke half shield, seperti sedang menscanku dari half shield keluar sinar. Kemudian half shield terlepas, Hannah cantik sekali, wajahnya simetri sempurna, mata, hidung, bibir dan bentuk rahangnya indah sekali. Aku ambil half shield pengganti dari tas Hannah. Half shield yang tadi aku rendam dalam mangkuk yang berisi air, sepuluh detik, lalu aku letakkan diatas handuk bersih.
Di setiap kamar penginapan hotel, rumah sakit bahkan tempat umum, pemerintah menyediakan kulkas yang berisi air botol dan mangkuk- mangkuk untuk merendam half shield. Half shield sudah menjadi kebutuhan penduduk di rock.
"Masih mual Hannah?"
"Tidak Miss".
"Syukurlah...." .
"Hannah aku ingin bertanya bagaimana kau mengenal Andy?".
"Dia tentara yang ada di ruang kursus Miss".
Hannah malas menjawab.
"Kau akrab sekali dengan Andy ya...".
"Aku baru bertemu beberapa kali Miss, memang Andy itu ramah. Dia suka sekali tertawa dan mengusiliku".
Hannah bicara sambil menutup matanya dengan tangannya.
"Kenapa Hannah?".
"Entahlah Miss, kepalaku jadi pusing".
"Istirahat dulu aja lagi, aku mau ke kantor dulu..". Hannah mengangguk.
Di kantor masih sepi, karena belum jam 8. Aku ambil koin hologram.
"Brian!. Brian! Brian".
Hanya mode suara
"Brenda aku ada di lift penghubung. seperempat jam lagi aku sampai Rumah Sakit mu". Dia mematikannya,
Brian..... selalu menutup telpon tanpa memberitahu.
Benar saja setelah 15 menit, dia datang langsung ke kantor ku.
"Brenda! Mana hasil scan tubuhnya!"
Sambil melihat hasil scan Hannah dia menggerutu, "Jam 4 tadi pagi aku baru pulang ke rumah setelah perjalanan yang panjang, dan belum cukup tidur. Kalau ini tidak seheboh yang kau katakan, aku akan memasukanmu dalam daftar hitamku".
"Brian....aku heran mengapa kau punya banyak pasien tetap, tapi etika mu buruk" ,ungkapku datar ke Brian.
"Tentu saja karena aku lebih pintar dan koneksiku lebih banyak", jawabnya ringan tidak tersinggung.
"Ikut aku!". Brian mengajakku ke kantornya. Sampai di kantor, hasil scan Hannah di masukkan dalam alat. Kemudian muncul hologram dari tubuh Hannah. Detail sekali 5 dimensi, pembuluh nadi, aliran darah, rumitnya saraf ada nampak jelas senyata melihat manusia aslinya. Hanya saja ini dalam tubuhnya tanpa kulit. " "Ponakanmu unik sekali Hannah. Tulang punggungnya berbeda...seperti suku penyangga. Tapi aliran darah, bentuk jaringan tubuhnya, kerja sarafnya, mirip kita suku pengisi. Katamu dia mual?".
"Mual dan muntah hebat, muntah proyektil".
"Lambungnya ok...berapa umurnya?".
"Dua puluh desember tahun ini".
"Mungkin.....tak ada hubungannya dengan lambung, tapi karena ada benda asing masuk"
"Hasil lab nya gimana?".
"Negatif tak ada infeksi".
Kemudian dia mengklik bagian pembuluh darah memperbesar hologram 5 dimensi itu. sehingga yang nampak hanya aliran darah Hannah. Dia memperhatikan dengan seksama aliran darah pada pembuluh. Dia memutar, berdiri, jongkok, kadang memajukan wajahnya untuk lebih melihat jelas.
"Ponakanmu, di marked Hannah. Lihat titik-titik kuning ini". Dia menunjuk leher belakang Hannah. Titik-titik yang berwarna merah ke orange, membaur dengan darah.
"Ini racun dari bulu sayap. Seharusnya tidak heboh begini reaksinya. Kita harus segera mengambil jarumnya. Ponakanmu bisa mati lemas nanti".
Aku tak percaya, aku mengikuti semua yang dikatakan Brian. Saat ku masuk kamar Hannah dari kamar mandi, dia muntah lagi. Jalannya sempoyongan. Aku mengatakan dia akan diperiksa dokter Brian, harus di bius dulu. Hannah mengangguk.
Dokter Brian masuk, memperkenalkan diri, lalu meminta suster membius Hannah.
Hannah dibius total, lalu dibawa ke ruangan khusus. Hannah diberdirikan ke dalam alat seperti pintu gerbang melengkung, walaupun tak ada yang menyangganya Hannah bisa berdiri di dalam alat itu. Kemudian alat dinyalakan. Brian dengan sarung tangan pelindung nya, membuat sinar yang keluar dari alat itu mengarah ke belakang leher Hannah. Tangan lincah Brian mengklik-klik sinar itu. Terdengar suara jepretan cahaya. Kemudian alat itu mati. Hannah masih tetap berdiri dengan mata terpejam. Kemudian Brian melambaikan tangan padaku. Aku mendekat dia memperlihatkan padaku, sekitar seratus jarum-jarum keemasan melayang- layang di sekitar leher Hannah. Itu adalah bulu- bulu sayap. Berbentuk jarum yang sangat tipis, dengan panjang bervariasi dari satu senti sampai tiga senti. Brian mengambilnya satu persatu, dimasukan ke dalam kotak sample.
Aku terhenyak kaget. Hannah masih memakai half shield siapa yang menembakan bulu sayap lebih dari sampai ratusan begini.
Dengan bantuan 2 perawat, Hannah dibawa lagi ke kamar, masih tertidur pulas.
Brian menyuruhku masuk ke kantornya. Kemudian dia meneliti bulu-bulu sayap itu. Dia bolak- balik melihat bulu sayap yang gambarnya diperbesar dengan monitor. Lalu mengambil buku di rak.
"Kemudian tersenyum lebar, Kau hebat Brenda, tak sia-sia aku kurang tidur".
"Maksudmu apa Brian?"
"Ini adalah bulu sayap suku penyangga putih.
Ponakanmu tak kuat karena darah yang dilepaskan bulu sayap nya terlalu banyak".
Aku bengong.
"Ini bulu jenis ringan Hannah, bahkan yang mempunyainya tak sadar pernah memarked ponakanmu. Mungkin suku putih ini, benar-benar mencintai ponakanmu".
"Aku belum pernah melihat bulu sayap suku putih yang seindah ini Brenda, berkilauan".
"Tanyakan keponakanmu siapa saja yang sudah dia temui. Aku minta 5 bulu sayap untuk diteliti. Ini sisanya serahkan pada ponakanmu. Kau tau kan caranya mengenali siapa yang memarked. Aku pergi dulu".
"Brian makasih, nanti aku kirimkan makan malam enak ke rumah mu".
Brian hanya memberi acungan jempol lalu keluar kantor nya.
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan lambat. Hannah, kau memakai half shield, wajahmu selalu di lindungi tak pernah diperlihatkan kepada siapapun. Siapa yang telah menembakkan bulu- bulu sayap ini kepadamu??......