Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Sejarah Rock Collapse


SEJARAH ROCK COLLAPSE


Saat makan malam Suster Diana tak bicara sepatah kata pun. Aku jadi canggung sendiri.


Bapaknya Lilith langsung datang dan menaruh makanan yang disimpan Andy untukku. "Selamat makan, Nyonya" . Sebenarnya setiap Bapak Lilith menyebutku nyonya, aku agak gimanaaaa gitu, tak nyaman sekali mendengarnya. Tapi aku malas menjelaskan.


Suster Diana menghentikan makannya tiap Bapaknya Lilith datang membawa piring saji untukku, dia sangat memperhatikan kata demi kata yang Bapaknya Lilith ucapkan. Sedangkan aku hanya fokus pada makanannya.


Kali ini Bapaknya Lilith menyampaikan salam Lilith untukku, katanya Lilith sudah hampir sembuh. Istrinya senang sekali aku mau menerima makanan buatannya. Aku tak mengerti apa yang dia bicarakan, aku hanya mengangguk dan tersenyum.


Aku hanya ingin dia cepat pergi, agar aku bisa cepat makan, ujian bahasa tadi membuat perutku keroncongan.


Selesai makan, aku diantar ke aula ruang kursus. Disana sudah berkumpul peserta kursus minus tentara. Aku memilih duduk di depan.


Di hadapan kami, ada screen besar, kemudian ada suara dr Hosch. "Film dokumenter ini tidak di pertontonkan ke umum, hanya kepada mereka yang akan berjuang untuk menjaga keamanan dan keutuhan rock collapse"


Kemudian screen itu menyala, nampaknya ini adalah hasil proyeksi kristal air mata beberapa orang yang digabungkan.


Film bisu dokumenter ini, dimulai dengan gambar planetku di jaman bumi. Sudah rusak bumi, hanya tanah gersang, dan gedung-gedung tinggi. Gambar lalu beralih ke sebuah pulau dengan papan kayu yang bertuliskan WELCOME TO GREENLAND.


Kemudian dilayar itu keluar naskah dan terdengar suara lelaki yang membacakan naskah itu.


Greenland adalah satu-satunya pulau di bumi yang mempunyai taman nasional terbesar di dunia, dan terus menjaganya sampai akhir bumi. Taman nasional itu tadinya hanyalah pulau es, dengan sedikit populasi manusia, seiring dengan pemanasan bumi, melelehnya salju abadi, membuat taman itu menjadi hutan hujan yang luar biasa luasnya, dan terus dilestarikan sampai akhir bumi. Dalam masa kehancuran bumi, banyak orang yang pindah ke *greenland.


Sejak masa logam dan pertambangan habis, manusia mulai mencari sumber kekuatan lain untuk mempertahankan sumber daya di bumi. Saat itu matahari sudah sangat panas. Manusia giat mencari pengganti logam, sampai dekat dengan pusat bumi. Banyak sekali penelitian-penelitian tentang mineral-mineral* baru.


Screen berganti lagi, dengan sekumpulan anak- anak yang sedang melatih konsentrasi mereka. Beberapa diantaranya bisa terbang, mengangkat benda, menghitung cepat, berlari secepat kilat dan masih banyak lagi. Semua anak-anak itu berambut putih. Layar berganti kembali menjadi naskah.


Manusia dihadapkan pada satu pilihan, untuk bisa bertahan hidup dengan kekuatannya sendiri karena sumber daya energi yang terbatas. Keterbatasan logam membuat semua barang menjadi kecil. Keterbatasan sumber daya alami selain matahari juga semakin sedikit, pohon-pohon semakin susah untuk tumbuh, karena bumi yang sangat gersang. Solar cell untuk listrik yang terbuat dari silicon juga mulai dibatasi, *karena jumlah silcon semakin terbatas. Satu-satunya yang bisa menghasilkan listrik adalah petir di atmosfer.


Selama milyaran tahun manusia mencari cara untuk menampung energi listrik dari petir agar bisa dimanfaatkan. Di masa akhir bumi kekuatan* pemusatan pikiran manusia dan kecerdasannya mampu menjadikan tubuh manusia menjadi alat canggih bagi dirinya sendiri, seperti telekinetik, berlari supercepat, dan sebagainya. Beberapa manusia yang sangat pintar dan kuat, mampu mengembangkan sel-sel dalam tubuhnya *sehingga bisa menyerap dan menahan laju energi petir agar bisa tersimpan di dalam tubuhnya. Manusia-manusia itu adalah leluhur kita.


Bagian kerak bumi yang sudah sangat gersang, amblas perlahan-lahan. Saat bumi mulai amblas ke intinya, leluhur kita berjuang agar kemiringan bumi bisa berubah dan membuat kita terlempar dari sistem tata surya matahari. Terlontar ke sistem tata surya bintang lain yang masih muda*.


Screen berubah menjadi pertempuran antar suku di rock collapse. Banyak sekali suku penyangga putih yang meninggal... meledak.


Kemudian screen berubah lagi menjadi tentara-tentara yang rambutnya berasap lalu pinsan. Lalu layar besar itu mati.


Kami peserta kursus terdiam, baru kali ini kami mendengarnya. Sepertinya film tadi terpotong, mungkin... ada lagi kelanjutannya besok.


Dari belakang banyak yang berbisik, "50 orang yang diterima"!


"Kudengar tiga tahun lalu hanya 30!", sahut yang lainnya. Kemudian Suster Diana, yang menjadi pengawas memukul- mukulkan tangannya keatas meja, minta supaya kami tenang.


Sekitar satu jam, peserta kursus sudah pergi semua, ruangan itu menjadi kosong. Aku diantar lagi ke kamar oleh Suster Diana. Kali ini sebelum aku bertanya, dia sudah memberitahu duluan, "Ujian untuk besok, belum ditentukan, harus dengan persetujuan walimu dulu".


Sampai depan kamar, Suster Diana mengingatkan, "Sarapan jam 7 pagi". Kemudian dia tersenyum lebar seperti Suster Jun, tapi agak sedikit dipaksakan.


Setelah mengganti baju, cuci muka, dan mengganti half shield, aku langsung rebahan.


Aku kangen sekali ayah dan ibu, teman-teman di kafe Bu Mimmi, dan Miss Brenda. Kemudian sebelum terlelap muncul wajah Andy, aku juga mungkin... kangen Andy....


"Dimana ini??, daratan salju yang luas, menyenangkan sekali....Kemudian dari belakang, aku diambil lalu digendong oleh lelaki yang samar wajahnya. Dia menggendongku sambil berlari dengan sangat cepat kemudian muncul sayap cahaya keemasan seperti punyaku tapi lebih besar. Indah sekali. Aku dibawanya terbang. Kepakan sayap cahayanya yang mengandung listrik menimbulkan suara berdengung yang sangat kuat. Ketika mulai terbang suara dengungan itu keras sekali, tapi setelah di angkasa, suaranya hilang. Aku memeluk erat-erat lelaki yang tak memakai baju ini. Wajahnya samar. Kemudian dalam pelukannya, dia mencium keningku. Keningku seperti terkena sengatan listrik. "Ahhhhhh sakit!!!".


Aku kaget sekali, sampai terbangun, mimpi lelaki itu lagi. Sudah jam 5 pagi, nampaknya tak masalah kalau aku bersiap-siap mandi sekarang.


Tepat jam 6 pagi, pintu kamarku diketuk.


"Miss Brenda....!!!!" Aku langsung memeluknya.


Hari- hari aku di test, terasa sangat lama. Aku menceritakan semuanya kepada Miss Brenda yang terjadi di sini. Semuanya kuceritakan kecuali tubuhku yang hanya mau makan bekas gigitan Andy. Itu memalukan.


Miss Brenda menemaniku sarapan, sepanjang perjalanan ke ruang makan. Giliran Miss Brenda yang bercerita tentang perjalanan dinasnya. Di kota Tepian banyak yang tertempel parasit, selain itu banyak juga suku penyangga yang tinggal disana keracunan bubuk perasa.


Padahal bubuk perasa mereka dibuat oleh laboratorium Kingdom. Miss sampai mengirim sampelnya ke ibuku. Mengapa bubuk perasanya bisa beracun begitu. Sampai di ruang makan, aku langsung duduk saja, tidak ke meja saji yang berpintu kaca itu. Kemudian Bapaknya Lilith datang, dan menyajikan makanan yang disiapkan Andy untukku. Selesai meletakan piring saji Bapaknya Lilith menganggukan kepala dan langsung pergi.


Miss Brenda duduk depan ku, sambil bertanya, "Hannah apa kau mendapat pelayanan spesial disini?? Mengapa makanan mu tidak berasal dari meja saji."


Aku tersenyum, lalu menjawab, "Tidak spesial Miss, hanya... aku membekukan masakan kesukaanku di freezer, setelah dipanaskan langsung diantar ke mejaku".


"Selama aku bolak- balik ke Rumah Sakit Kingdom, aku tak pernah mendengar hal seperti yang kau lakukan?!"


Kemudian Miss melihat jus jeruk, "Kau membekukan ini juga??" , dia ambil gelasnya lalu didekatkan kewajahnya. "Jus jeruk?!!". Aku tersenyum, malas menjawab. Dia masih terheran-heran, tapi masih saja terus melanjutkan ceritanya tentang Kota Tepian.


Selesai makan Miss Brenda tak bisa mengantarku kembali ke kamar. Katanya mau ke kantor kepala sekolah, bertanya tentang hasil ujianku.