
RELAWAN MILITER
Kedatanganku ke Kingdom, tentu saja tak lepas dari pengawasan Spain. Dia bahkan memberiku pekerjaan tambahan di malam hari untuk para tentara muda, sebagai penguji fisik.
"Hannah, datanglah malam ini, kami semua merindukanmu", Spain melakukan telepati padaku, dia pasti di sekitar kantor ku. Kemampuan inner yang tinggi membuat kita tak bisa mengelak.
Latihan fisik hanya dua jam, seperti olahraga tak membuat kelelahan di pagi hari.
"Ok, siapkan diri kalian lihat beban itu, pilih yang paling ringan, angkat 50 kali, lalu ambil yang lebih berat sedikit, angkat lagi 50 kali, sampai beban paling berat, SIAP!!!!", inilah tugas penguji fisik.
"Yang merasa paling kuat, bisa mencoba mengangkat pedangku", semuanya diam, dan terus melanjutkan angkat bebannya.
"Priiiiiiit, priiiiiit", bunyi peluit ditiup, ada pengumuman dari pusat.
"Yang punya nilai tinggi di pengujian fisik, bantu senior kita melawan zombi di timur Edges", aku memberikan datanya, hanya dua puluh orang.
"Berapa jumlah zombi disana?", tanyaku pada Spain
"Dua ratus, banyak orang sipil!", Spain tegang.
"Boleh aku ikut membantu?, tapi pagi-pagi antarkan aku kembali ke Kingdom.
Spain mengangguk.
Aku ikut pesawat tempur, dengan seratus tentara, kami hanya tambahan sudah siap di Edges tentara lainnya.
"Ingat, jangan membunuh, cukup ikat saja mereka", Spain mengingatkan karena korban orang sipil.
Aku menggunakan seluruh tenaga untuk mengikat mereka, energi emosi marah dari para zombi ini, menjadikan tenaga mereka sangat besar.
Padahal hanya dua ratus orang, tapi repot sekali.
Jam 03.00 dini hari Spain mengantarku kembali ke Kingdoms, dengan pesawat kecil, "Hannah, lain kali pulanglah dengan sayapmu, lebih cepat, dan aku tak harus mengantarmu".
Spain selalu mencari kalimat yang membuat pertengkaran, "Harusnya.....terima kasih Hannah, sudah membantuku mengatasi para zombi, bukankah seharusnya kau mengucapkan kalimat itu?!", aku kesal sekali dengan Spain yang menggerutu mengantarkan ku pulang ke Kingdom.
"Kau relawan, aku bahkan tak memintamu ikut!", Spain ini memang sangat sangat menjengkelkan.
Aku relawan rahasia Spain, hanya Spain yang bisa menghubungiku. Aku menggunakan half shield saat bertugas ke markas militer, jadi tak ada yang mengenaliku.
Setelah menangani para zombi parasit, aku kelelahan, sebentar lagi pagi, aku belum tidur sedikitpun. Pasang lima alarm sepertinya akan membantuku. Jam enam tiga puluh aku harus bersiap, mataku masih ngantuk, di cermin, oh tidak rambutku masih putih.Tak cukup waktu, kalau ketahuan, cukup bilang pakai pewarna putih.
Cup rambut, Miss Brenda yang baru, menarik sekali, rambutku sepenuhnya tertutup. Miss Brenda tak ingat rambutku sudah putih, dia hanya ingat aku senang memakai cup rajut buatannya.
Sampai di kantor Tang Wei mengejekku, "Nyonya Hannah, hari apa ini sekarang?mengapa kau memakai cup rajut jelek ini lagi?".
"Sabtu, Wei, ini hari Sabtu. kau tak tahu!! berapa IQ mu Wei, apakah rendah? Hati-hati nanti ketauan yang lain, tim Miss Reina bisa malu", aku tersenyum pada Wei, yang disenyumin mendengus kesal.
"Hai Andro, selamat pagi!", kepalaku pusing sekali.
"Baik Miss Hannah, ini laporan yang kemarin, sudah selesai, ada lagi?", Andro memang gila kerja.
Aku pergi hendak mengambil laporan yang belum selesai, tapi Andro juga berdiri melangkah, kami bertabrakan, "Ups, maaf Andro", aku tak konsentrasi, masih ngantuk.
"Miss Hannah, kau baik-baik saja?", Andro bertanya sambil mendekat padaku.
"Baik aku hanya sedikit pusing", Andro menempelkan tangannya di keningku, lalu merapikan cup rajutku yang miring.
Apa ini? Kenapa dia tiba-tiba menyentuhku.
"Sudah, rapi lagi!", ada lekukan senyum di ujung matanya.
Lalu dia berjalan menyerahkan laporan ke Miss Reina, meninggalkanku yang berdiri mematung.
Jasmin dan Wei melihat Andro menyentuh keningku.....
"Hannah, cobalah berkencan dengan Andro.....kau tak pernah berkencan dengan siapapun disini", Jasmin berbisik di telingaku menyadarkanku dari terdiam berdiri mematung.
Aku langsung kembali ke mejaku, menenangkan denyut jantungku yang deg- degan, kaget.
"Wei, berdiri di samping mejaku, lalu membungkuk dan berbicara pelan, "Badan Andro, sudah mulai berisi, aku rasa dia cukup lumayan, satu level denganmu gadis penunggu gudang!".
Masih kesal dengan gurauan ku tentang IQ tadi, Wei bisa seminggu menghinaku.
Jantungku berdegup kencang karena aroma tubuh Andro yang sangat familiar seperti Pak Andy.....Apakah mereka memakai sabun mandi yang sama. Baunya tak sekuat Pak Andy, tapi wanginya sama.
Mendekat dengan Andro berarti ingin mengenang lagi Pak Andy, sebaiknya jauhi.
Hari ini kerjaanku tak banyak, karena sebagian besar dikerjakan Andro. Bisa pulang cepat seperti yang lain.
"Aku sudah selesai, pulang dulu", aku pamit.
Dia seperti jam alarm, punya pengingat untuk hal yang rutin dia lakukan, tak pernah lupa.
"Ayo, kita makan ikan bakar!", aku senang-senang saja, ada yang menemani di malam minggu, tapi kepalaku pusing sekali.
Andro menyiapkan sendiri peralatan bakarnya. Aku mengeluarkan bumbu dan peralatan masak yang biasa kita pakai.
Tak usah mandi kali ini, aku tak berkeringat.
"Miss Hannah, kau yang ambil ikannya ya....
"Miss Hannah!!, kenapa tidur disini?!!"
"Iya Andro, aku akan ambil ikannya", aku bicara tapi suaraku tak mau keluar, Andro kenapa berteriak, mengapa semuanya terasa berputar, Mata Andro mirip sekali dengan.....gelap.
Mengapa aku dikamar? Nampaknya aku kehilangan moment makan ikan bakar bersama Andro, menjadi relawan militer di malam hari, bukan tugas yang mudah.
Andro pasti menggendongku ke kamar, kepalaku masih pusing.
Aku harus mengunci pintu depan, bagaimanapun juga aku gadis yang tinggal sendirian. Cup rajutku kencang sekali, lepas saja. Leganya kepala, tadi berat sekali. Tubuhku sempoyongan membuka pintu kamar.
"Andro!" Dia tertidur di sofa ruang tamu. Dia menjagaku.
"Andro" , kutepuk bahunya.
"Miss Hannah kau sudah sadar", dia langsung bangun, lalu memegang keningku.
"Miss kau masih demam!", sudahlah tidur saja, aku menjagamu disini.
"Tapi Andro....tak baik dilihat orang kau dan aku bukan....", Andro menggendongku, lalu membawaku masuk ke kamar.
"Istirahat saja, besok libur, di rumahku tak ada yang akan kehilangan aku menginap sehari disini, tenang saja...", suara paraunya dalam, menenangkan sekali.
Badanku lemas sekali, aku bahkan tak berkutik, ketika Andro membelai rambutku yang putih. Dia perhatian sekali. Mataku ngantuk sekali......
Sinar matahari masuk ke kamarku, ruangan ini jadi hangat, badanku segar sekali... kurang tidurnya sudah terbayar.
Jam berapa ini, Jam 12 siang!!!! Kebunku belum disiram dua hari.
Aku lari ke luar rumah. Andro ada disana, sedang menggali tanah dekat jamur putih.
"Andro kau masih disini, kupikir sudah pergi..." aku tak terbiasa menerima perhatian sebesar ini, di Kingdoms.
"Hai Miss Hannah, aku belum makan ikan bakarnya, bagaimana aku bisa pergi?", dia bicara seolah memang itu alasannya.
"Bisakah kau ambilkan ikannya Miss Hannah, aku belum makan dari malam", Ya Tuhan mungkin memang benar dia sangat miskin sampai menjadwalkan makan ikan bakarku.
"Oh iya, aku ambilkan", aku tak enak mengganggu rencananya makan ikan bakar.
Kami bakar ikannya dengan bumbu yang sama, Andro selalu membuat bumbunya.
"Andro kau tahu jenis ikan apa ini?", tanyaku sambil meniup ikannya, masih panas.
"Sini ku tiupkan ikannya", dia mengambil ikanku, lalu mengambil sedikit dagingnya dan menyuapkannya padaku.
Mulutku refleks terbuka, malunya aku, kuambil ikanku yang ada ditangannya.
Andro hanya menunduk ketika ku cepat-cepat mengambil ikannya.
"Aku tak tahu ikan apa ini mungkin sejenis salmon", Andro menjawab pertanyaanku.
"Miss Hannah, tadi malam aku mengompres keningmu dengan air, rambut putihnya tak luntur, ini warna rambutmu asli", Andro bertanya hal yang tak ingin kujawab.
"Rambutku tadinya grey, terus jadi memutih begini", tak tahu mengapa.
"Daftarkan saja perubahan warnanya ke pusat, jadi kau tak perlu menutupinya dengan cup rajut", nadanya datar tak menuduh.
"Sudah, tapi belum kuurus lagi", aku tersenyum.
Andro tak lagi bertanya, dia hanya makan ikannya dengan lahap.
"Sudah sore Miss Hannah, aku pulang dulu", aku mengantar Andro keluar, masuk ke gedung dapur.
"Oh iya Miss Hannah, aku tak pernah melihat ada yang lain mendekatimu", aku tak paham maksud Andro.
"Bisakah kau mempertimbangkanku menjadi pacarmu", nada bicaranya datar tanpa ekspresi.
"Aku beri waktu sampai besok, nanti akan kutanyakan lagi jawabannya di kantor, selamat sore Miss Hannah", Andro punya gangguan salah ekspresi sepertinya.
Bukankah ajakan menanyakan kesediaan menjadi pacar seharusnya lebih lembut dan romantis?