
SEPERTI BERKENCAN
Jam setengah tujuh malam, aku bersiap mau makan malam, baju yang dicuci laundri oleh RS belum datang, aku pakai baju ini saja.
Tok tok tok.....tok tok tok. Aku lari ke pintu, karena lapar sekali. "Hai Susssss......., Andy?!!
Mana Suster Jun?".
"Dia ijin pulang, kakaknya sakit".
Aku menutup pintu kamar, dan berjalan beriringan bersama Andy.
"Andy!", aku membuka pembicaraan.
" Hmmm", jawab Andy datar.
"Jalanmu lambat Andy, perutku...aku lapar sekali", aku bicara tanpa basa basi pada Andy.
Andy tak bicara dia mempercepat langkahnya agar segera sampai ke ruang makan. Sampai di ruang makan, Andy langsung menuju meja menu, membuka pintu kaca makanan
"Yang mana Hannah?".
"Kau mau mentraktirku lagi?" , tanyaku. Andy mengangguk senyum.
Aku menunjuk makanan mahal yang ingin aku makan dan jus jeruk kesukaanku.
"Kau tak makan Andy?", tanyaku heran.
Andy hanya mengambil satu piring untukku saja.
"Tadi sudah makan, dengan para dokter dan perwira".
Aku hanya ber "ooooh". Kami duduk di tempat biasa meja paling depan.
Andy mengambil sesuap nasi, dia makan sedikit di ujungnya, lalu diletakan kembali diatas piring.
Giliran aku yang memakannya. Hilang semua jijik ku makan sisa orang lain.
Aku lapar dan aku tak mau memuntahkan semua makanan yang ku makan.
Obat dari dokter aku simpan saja, untuk cadangan di rumah, yang pastinya sudah tak ada Andy.
Terkadang Andy melakukan hal yang menggelikan dia makan satu suap penuh, lalu dia bilang, "Maaf, masakannya terlalu enak". Aku yang lapar sekali jadi menggerutu, "Dasar, usil!".
Lalu Andy tertawa terbahak- bahak sampai seisi ruangan memperhatikan kita.
Aku tertunduk malu, tapi Andy cuek-cuek saja.
Habis, satu piring. Sebelum aku minum, Andy dengan cepat mengambil jus jeruk ku, meminumnya sampai habis setengah
"Andy.....!!" , suaraku ingin berteriak, tapi tertahan, takut membuat gaduh di ruang makan ini.
"Ha ha ha ha ha" , Andy tertawa keras lagi.
"Kalau mau minum, berikan kepadaku dulu, takut semua yang tadi kau makan keluar semua" . Aku kesal sekali dengan yang Andy ucapkan.
"Makasih sudah mengingatkan...tapi gak dihabisin setengah gelas kaya gini dong...!!, aku bicara agak tegas pada Andy.
Andy menahan tawa usil.
Selesai makan aku langsung berdiri dari kursi. Seorang bapak kurus kecil menghampiri kami dengan suara lembut, sopan dan merendah menyapa kami.....
"Maaf Pak Andy mengganggu kencan anda, saya Bapaknya Lilith, terima kasih sudah sayang sama anak kami...melindunginya. Saya salah satu cheff disini pak, bapak dan nyonya suka sekali sup daging rusa ya...., tadi pagi istri saya membuatkan sup daging rusa. Tenang pak bukan daging rusa stock rumah sakit. Saya beli daging rusa ini di pasar hutan pak cuma 50 akses. Ini nyonya.......".
Tanganku refleks menerima kiriman makanan itu, aku canggung menerimanya.
'Makasih bapaknya Lilith...". Suaraku lirih karena canggung dipanggil nyonya.
"He he he he, sama-sama nyonya. Dimakan ya..bapak Andy dan nyonya, biar istri saya dan Lilith senang. Saya mau pergi kerja lagi, mariiiii Pak Andy... Nyonya .....".
Andy dan aku serempak menganggukan kepala.
Setelah bapak tadi masuk ke pintu karyawan di belakang meja saji makanan. Andy memberi isyarat padaku untuk keluar ruangan. Aku mengekor di belakang Andy.
"Hmmmmm Andy, bapak itu memanggilku Nyonya...., kau tak keberatan?!!". Andy sambil berjalan keluar menyeletuk.
"Hannah lihatlah wajahku, kemudian bandingkan dengan wajahmu yang bershield itu".
Kemudian Andy tertawa menyebalkan lagi.
Menyesal sekali aku bertanya.
Sampai di depan kamar, aku menyerahkan bingkisan dari bapak tadi.
"Nih bingkisannya, kan bapak itu ingin berterimakasih padamu!", aku menyodorkan bingkisan itu ke Andy.
"Buatmu saja, simpan di freezer, ada pemanas makanan di ruang makan. Ntar kalau mau dimakan, dipanaskan dulu disana.
Ok Hannah, aku harus pergi, ntar kita makan bersama lagi ". Dia pergi meninggalkanku di depan kamar.
"Oh iya Andy!", aku memanggilnya sebelum dia melangkah terlalu jauh.
"Apa ujian besok?", aku bertanya setengah berteriak.
" Bahasa!!"
Kemudian dia melambaikan tangan sekali dan menghilang dari pandanganku.
Bahasa....hmmm bahasa apa?!.
Aku mengambil pakaian yang dijemur di luar tadi. Masih agak basah, tapi sudah tak menetes lagi. Kugantung saja dalam kamar.
Suara pintu diketuk, "Tok tok tok tok tok. Laundry....!". Akhirnya bajuku....
Hari ke enam test, tidurku tidak nyenyak. Mataku sembab. Aku mimpi lelaki itu lagi. Sudah beberapa hari tak mimpikan dia, kenapa sekarang datang lagi mimpi itu. Tadi malam lelaki itu berkelahi dengan seseorang bersayap hitam.
Ada luka gores kecil di lehernya. Dan mimpi itu selalu diakhiri dengan dia yang memelukku erat sampai aku kehabisan nafas.
Hari ini sarapan ditemani Suster Diana. Tentara yang bermata coklat, tak datang lagi ke sebelah Suster Diana. Andy juga tak ada. Aku tak bisa makan.Tubuhku menggila, seperti punya otak yang bukan punyaku, padahal aku jelas-jelas yang mempunyai tubuh ini. Mengapa hanya mau makan makanan yang sudah dimakan oleh Andy. Bahkan minum saja aku tak bisa.
Ditengah lamunanku yang seperti sedang memandang Suster Diana, Bapaknya Lilith datang membawa satu piring saji yang isinya semua menu sarapan pagiku.
"Maaf nyonya saya telat, ini saya baru memanaskan nya. Tadi malam Pak Andy mampir kemari lagi. Dia mengambil 4 piring makanan dan 4 gelas jus. Dia memakan sedikit- sedikit dari semuanya. Lalu menyuruh saya membekukannya. Kata Pak Andy, setiap sarapan dan makan malam meminta saya memberikannya kepada nyonya".
Aku membisu tak percaya apa yang kudengar. Sambil meletakan piring dan gelas yang disiapkan Andy untukku, Bapaknya Lilith menggumam, "Pak Andy sama keluarga saya yang gak dikenal aja baik sekali, apalagi sama nyonya... Sudah nyonya, saya pamit mau kerja lagi. Mariiii....".
Aku melihat menu yang dipilih Andy untukku, semuanya makanan kesukaanku.
"Suster, kemana sebagian tentara yang biasa makan disini?", tanyaku.
"Perang", jawab Suster Diana singkat.
Aku makan semuanya dengan lahap, habis tak bersisa. Andy menyiapkan makanan ku untuk 2 hari.
Mataku berkaca- kaca.
Mengapa kau baik sekali, bahkan terhadap gadis bershield seperti ku yang baru beberapa kali ketemu. Pulanglah dengan selamat Andy.
Jam sepuluh pagi aku masuk ke ruangan ujian. Di depanku ada microphone dan screen kecil. Lalu ada suara lelaki berbicara lewat pengeras.
"Nona Hannah ini ujian reading dan listening, terjemahkan yang kau bisa saja kalimat per kalimat. Selamat berjuang Nona Hannah".
Kemudian secara bergantian suara dan screen monitor kecil itu memberi soal. Suara yang kudengar hanya satu kalimat, kemudian aku terjemahkan. Lalu screen kecil itu menampilkan satu kalimat, aku baca dan ku terjemahkan.
Setiap selesai menterjemahkan, langsung terdengar dan muncul lagi soal lainnya. Sangat cepat, berganti-ganti bahasa sampai aku bingung apa yang aku ucapkan. Lalu suara alarm berbunyi.
Ahhh lelah sekali, aku mau pingsan, aku tak menyangka ujian bahasa ternyata merepotkan begini. Aku tak tahu berapa jam aku diuji? Saat keluar Suster Diana menunggu dengan wajah yang cemberut.
"Suster ...tadi berapa jam aku di uji ya... ? Aku agak sungkan bertanya ke suster yang cantik tapi galak ini.
"Tiga jam". Aku mengerti sekarang mengapa wajahnya cemberut, aku juga sangat bosan, bila disuruh menunggu selama 3 jam.
Suster Diana mengantarku ke kamar. "Nanti malam, ada nonton film dokumenter bersama peserta kursus yang lain jam 8 malam. Jam setengah tujuh bersiap makan malam".
Aku mengangguk.
Badanku loyo. Aku cuci muka, berganti half shield dan tidur...
"Agrrrrhhhh lepas!! Lepas!!! Siapa kamu!!! Mengapa memelukku terus???!!!!!!" Kemudian dia menciumi leherku, nafasnya memburu sangat bernafsu.
"Aku merindukanmu" , bisiknya lirih samar-samar.. Aku berteriak sekencang kencangnya. "Leeeeepaaaaaaaas!!!!!!!!".
Aku terbangun dengan baju basah penuh keringat. Jam setengah enam, sebaiknya aku mandi sekarang. Mimpi lelaki itu lagi. Mengapa sering sekali aku bermimpi tentang dia. Aku memasang hair cup, agar rambut grey ku, tak kena air shower. Baju ku basah seperti habis lari, padahal kamar nya dingin. Mimpi itu seperti nyata...