Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Aku berbeda


AKU BERBEDA


Saat berbaris mendata pedang Spain terus melihat ke arah pedang samurai yang dibawa oleh Lingling.


" Ling ling, Spain terus melihat ke arah mu, apa yang tadi dia katakan ketika mendekatimu?"


"Spain bilang pedang ini milik leluhur suku hitam, dia heran kenapa pedang itu memilihku padahal aku berambut hijau".


"Oh ini samurai suku hitam!"


"Hannah kira-kira berapa umur Spain? , dia sangat tampan yaaah!"


"Ya ampun Ling ling, bukankah kamu sudah pacaran dengan Patrick, kau ini......"


" Hannah!.... Patrick bahkan tak bisa mengingat nama panjangku, pacarnya terlalu banyak"


"Ada apa ribut disana?!!!!!" Salah seorang tentara berteriak mengomeli kami yang mengantri sambil mengobrol. Karena di barisan belakang semuanya berbincang dengan lirih.


Satu orang di tanya hampir sepuluh menit, beberapa bahkan ada yang di test untuk mengetahui kesiapan memiliki pedang. Aku bosan sekali karena giliranku masih lama. Karena tak boleh mengobrol aku dan Ling ling dan juga yang masih mengantri memperhatikan pendataan pedang.


Ada pedang yang sangat berat dibawa oleh dokter muda yang kepayahan membawanya. Tentara pendata pedang melihat pemuda itu, lalu menyuruhnya mengangkatnya. Dia mencoba tapi tak bisa, kata tentara itu


"Ganti saja pedangmu, pedang itu bukan milikmu, kalau dia memilihmu, maka pedang akan seringan bulu"


"Tapi pak, ini pedang leluhurku, tolonglah!!"


Tentara itu menggelengkan kepala lalu menyuruh pemuda itu memilih lagi pedang.


Spain berteriak


"SETIAP PEDANG SESUAI DENGAN KEKUATAN PEMILIKNYA YANG MEMAKSAKAN SILAHKAN PILIH LAGI"


Teriakan Spain membuat separuh barisan menghilang kembali ke gedung senjata.


Giliranku untuk mendata sebentar lagi.


Sandy mendapat pedang yang sangat kecil berjumlah sepuluh buah. Sandy juga bingung dengan pedangnya. Jumlahnya berubah ubah. Tentara yang mendata pedang itu tersenyum


"Namamu siapa?"


" Sandy, Pak!"


"Apa kau punya sayap elektrik"


"Punya pak"


"Tunjukkan!"


Sandy menunjukan sayap elektriknya yang kecil tapi bisa membuatnya terbang.


"Pedang ini hanya menyukai yang mempunyai kekuatan elektrik tahan lama. Selamat, Sandy. Aku juga pemilik pedang ini sebelumnya, Namaku Sam."


Tentara itu memperkenalkan dirinya apda Sandy. Sandy bingung hanya bisa mengangguk.


Giliran Ling ling, kali ini Spain segera maju untuk bertanya langsung pada Ling ling.


"Kau berambut hijau Ling ling, sepertinya kau bukan orang yang tepat untuk samurai itu" Tegur Spain.


"Pedang ini memilih saya pak" Ling ling menjawab dengan kesal.


"Ok, sekarang aku uji kelayakanmu untuk bisa mendapat pedang ini" , Spain masih meragukan Ling ling.


Aku disuruh mundur lima langkah.


Kemudian Spain seperti sedang bertelepatis dengan Ling ling.


Mungkin yang dimaksud layak adalah kekuatan ini. Telepatis dan telekinetis. Ling ling sudah bisa, aku yang mengajarinya.


Sesaat kemudian Ling ling mengambil pena di meja tentara yang mendata, Sam. Kemudian dia mengambil bunga, tanah, dan mengikat tali sepatuku. Sepertinya perintah Spain dalam telepatisnya. Kemudian Spain mengambil gelas kaca yang berisi penuh air. Dia melirik ke arah Ling ling. Gelas kaca itu melayang terbang ke arah ku. Aku segera menangkapnya.


"Ok, kamu lulus, tapi aku akan mengawasimu menjaga pedang leluhurku" , Ling ling mengangguk semangat


Spain pergi dengan kesal.


Giliranku sekarang.


"Namamu siapa nona?"


"Hannah, Hannah Jacklyn"


"Mana pedangmu?"


Aku meletakan pedangku diatas meja tentara yang bernama Sam ini. Dia kaget sekali, karena ketika ku letakan pedangnya, suaranya seperti benda yang sangat berat


KREEKKKKK BRAKKKK


Meja pendata tentara Sam hancur, karena pedangku.Tentara yang lain yang melihat langsung merapihkan kertas yang berserakan dan mengambil meja baru. Aku buru-buru mengambil pedang ini. Sam dan tentara lain sibuk merapihkan dokumen yang berserakan, sebelum Spain datang.


Aku melihat pedangku, pedang berkarat rusak ini, ternyata sangat berat. Di pegangan pedangnya, seperti ada bulatan yang tertutup karat. Aku bersihkan dengan tanganku yang sudah terlanjur kotor karena karat pedang ini. Permata hitam indah sekali.


Sam tak banyak bertanya tentang pedangku.


"Maaf pak, bisa saya minta tisu atau apapun untuk membersihkan pedang ini, pedangnya sangat kotor"


Sam yang masih kesal dengan mejanya yang berantakan, memberikan sebungkus tisu besar padaku. Aku keluar barisan. Di depan gedung ada kursi berjajar, aku duduk disitu sambil melihat Ling ling dan Sandy yang bermain dengan pedang barunya. Aku mengusap tanganku yang kotor karena pedang ini. Aku bersihkan pedangnya yang berkarat. Dasar pedang tua mau di bersihkan juga tetap berkarat dan jelek. Semuanya sudah selesai di data. Kami masuk ke dalam aula kursus sudah banyak kursi disitu. Spain masuk lalu bertepuk tangan.


"Selamat kalian semua lulus kursus ini!"


Semua berteriak bersorak girang.


"Yang dokter dan tentara kalian akan langsung mendapat penempatan besok. Yang sipil bisa memilih ingin masuk kesatuan apapun"


Kemudian ada beberapa pengumuman lagi,


"Tadi pedang kalian belum di cantumkan namanya. Lihat ke seluruh bagian pedang ada ukiran namanyakan. Mungkin tadi belum muncul namanya, karena masih penyesuaian. Aku panggil nama kalian lalu sebutkan nama pedang itu.


Nama pedang Ling ling, Thirsty. Menakutkan sekali namanya Nama pedang Sandy,Swingers.


Ling ling dan Sandy karena merupakan pengganti yang mengundurkan diri namanya disebutkan di awal. Aku tetap di urutan terakhir.


Pedang Radiant, The King. Namanya membuat semua orang penasaran dengan pedang mewah itu.


Semua mulai berisik karena tinggal beberapa orang di absen terakhir.


"Hannah!"


"The First"


"SEMUANYA DIAM!" ,teriak Spain kesal


"Ok Hannah, apa nama pedangmu?"


"The first!"


"Apa! Ulangi sekali lagi"


Aku sedikit berteriak


" THE FIRST, PAK!"


Spain dan tentara yang lain dengan gerakan yang secepat kilat sudah ada di depanku. Aku sampai terjatuh dari tempat duduk ku. Sam tentara yang mendata ku tadi membantuku berdiri. Semua teman-temanku menjauh ke sudut ruangan. Sebenarnya pedang apa ini. Kenapa Spain dan tentaranya bereaksi seperti ini.


"Maaf nona Hannah, bisa ulangi apa nama pedang ini" ,kata Sam dengan lembut.


"The ....the first pak, apa ada yang salah dengan pedang ini pak?" ,tanyaku bingung.


"Dimana kamu menemukannya?!!" ,Spain garang sekali bertanya padaku.


"Di sudut kursi pak, tadi di dalam gedung senjata. Ada kayu berlubang, didalamnya ada payung-payung rusak dan pedang-pedang berkarat semuanya bertuliskan the first. Saya hanya mengambil yang pegangannya masih bagus".


Spain mematung, tak berkedip memandang pedang ku.


"Sam bubarkan yang lain!"


Tentara yang lain membubarkan peserta kursus, hanya aku yang tertinggal. Semua kursi dirapihkan tinggal kursi tempat aku duduk yang tersisa. Aku ditinggalkan di ruangan sendirian. Kemudian datang Sam membawa makanan dan minuman.


"Maaf Hannah kau pasti kaget sekali, pedang itu sudah lama dicari, tapi tak pernah ketemu"


,bicaranya hangat tak seperti tentara umumnya.


"Jenderal sedang mengkonfirmasi data mu, jadi dia mungkin akan berdiskusi dengan dokter yang membimbingmu"


Aku mengangguk sambil makan roti yang diambilkan Sam untukku.


"Siapa pembimbingmu Hannah?"


"Dr Hosch"


"Jadi kau pasti calon dokter ya"


"Bukan aku hanya elementary dan sekolah malam"


Kemudian Sam seperti mengingat sesuatu


"Apa kau melalui tes khusus agar bisa masuk ke kursus ini?"


"Ya"


"Siapa penguji fisik mu?"


"Pak Andy"


Seketika raut wajah Sam yang tadinya tenang menjadi gelisah. Aku dibuat penasaran oleh sikap Sam yang berubah. Ku ingin membaca pikirannya, kata Pak Andy orang yang sedang cemas tak akan sadar dia sedang dibaca pikirannya.


"Lindungi gadis yang masuk kursus dengan test khusus, Dia berbeda". Aku mendengar suara itu di kepala Sam, siapa yang dimaksud Gadis itu. Apakah aku????? Memang aku, karena aku satu-satunya yang masuk kursus dengan test khusus. Jadi... Aku berbeda