
DUA CHUBBY KU
"Rossy!!!! Edward!!!!, ayo cepat nanti ketinggalan kapsul mobil lho, kan jauh ke inti rocks sayang.." dua kesayanganku sedang bengong memandangi makanannya.
"Ini kenapa anak ibu, kok diam aja, kenapa? ga suka makanan nya?"
"Enak ibu, cuman kok warnanya jadi ungu, kemarin kan hijau", Rossy selalu memperhatikan hal kecil
"Ibu kalau yang ungu sama merah, semuanya dari edges?!", tampanku Edward sama kritis seperti adiknya.
"Ayo.....mau dihabiskan gak, kalo gak mau dimakan sekarang, kita bawa aja, gimana?"
" Iya bawa aja!", semangat Rossy
"Tapi nanti habisin ya bagianmu, jangan minta kakak yang habisin!", Edward tahu watak Rossy, hobi mengiyakan permintaanku
"Habiiiisin kakak, ntar Rossy habisin makanan warna warni ibu", Edward tak bisa marah dibujuk genitnya Rossy.
"Ini ibu buat gulung ya makanannya, pake nori, supaya gak ada yang tanya warna warni makanannya"
Mata mereka bulat, senyumnya mengembang dari bibir-bibir kecil itu, sambil menganggukan kepala menyetujui apapun yang kuperintahkan.
Sebagai ibu mereka, terkadang aku ingin ada sedikit kenakalan lucu dari mereka, tapi tak ada, mereka sangat mengerti ibunya, tak pernah pernah membantah apalagi mempertanyakan keputusan ku terhadap hidup mereka.
Mereka banyak bertanya tentang negeri ini, bertanya tentang bagaimana membuat sesuatu, bertanya tentang makanan, apapun kecuali bapak mereka
"Pergi sana Edward, siapa sih kamu, jangan main kesini, sana pergi", dari kejauhan aku melihat Edward menggandeng adiknya yang sedih menitikkan air mata karena tak bisa bermain dengan siapapun. Mereka tak punya ayah, dan lebih kesalnya lagi, kudaftarkan ayahnya dengan nama Andromeda, raja negeri ini, nama yang paling banyak di gunakan lelaki di Rock Collapse.
Aku menunggu mereka di gerbang sekolah Tepian, aku memeluk mereka, menunggu salah satu dari kesayanganku bercerita tentang pengalaman sedihnya barusan. Tapi mereka berdua hanya bertingkah seperti biasa, "Hai ibu, dah lama nungguin kita ya, maaf tadi kami berdua main dulu", selalu seperti itu, tak ada emosi meledak seperti anak kecil pada umumnya.
Di perjalanan Rossy selalu bercerita tentang pelajaran yang dia dapat hari ini. Edward selalu penasaran tentang daerah daerah di Rock Collapse. Mereka secara alami mampu berbicara banyak bahasa sepertiku, seperti kakek neneknya.
"Ibu, aku pingin ketemu kakek nenek, aku pingin makan keripik jamur putih yang masih hangat" , tiba-tiba saja Edward mengingatkanku pada ayah dan ibu.
"Minggu depan akan ada perayaan agung di kota Nein, pemetik bunga pasti berkumpul disana. Kita janjian ketemu kakek disana!", aku yakin ideku disambut ceria
"Aku mau ketemu nenek", Edward bersikukuh ingin keripik jamur putih yang masih hangat
" Ok, ok, nanti ibu bujuk nenek, cucunya kangen berat! Edward senang sekali, ibu adalah idolanya karena hobi mereka mengeksplor kekayaan suku-suku di Rock Collapse, tapi Edward tak terlalu suka botani, dia suka sejarah.
"Akhirnya sampai juga kita di lift penghubung kampung pertama, sini ibu bantu turun, hap hap!", dua permata ku pasrah aku gendong turun dari lift penghubung.
Kami berjalan ke perbatasan kampung pertama, lalu naik lift penghubung lagi ke kampung tujuh, lalu naik mobil kapsul menuju rumah kami di kampung sembilan.
Aku aman tinggal di sini, semua penduduk kampung mengenalku. Sejak pertama datang dengan badan sangat kurus dan hamil, tanpa banyak bertanya mereka menerimaku dan mencukupi kebutuhanku.
Pilar listrik disini tak pernah rusak lagi, beberapa tahun ini, raja banyak membangun lift penghubung, dan menyediakan kapsul mobil, dengan akses tak terbatas untuk penduduk kampung dalam.
Lift tak bisa di bangun di kampung dalam, karena bisa merusak pilar. Jadi kampung dalam, diberi kapsul mobil untuk transportasi. tak seperti di Inti Rocks, yang harus menggunakan koin untuk memesan kapsul mobil, kami hanya perlu menekan kode angka untuk masuk ke kapsul mobil, seperti di kota Nein.
Kapsul mobil tidak berhenti di tempat yang kita inginkan, mereka punya halte sendiri seperti bus atau MRT di jaman bumi.
Tak ada bangunan kosong di kampung sembilan, jadi pilihannya tinggal bersama ketua kampung atau tinggal sendiri di rumah tamu.
Sifatku yang tak bisa melihat orang jadi repot karena masalahku, membuat rumah tamu jadi pilihan utama.
"Ibu lihat ada kakek Abraham di depan rumah!", Rossy berlari girang, menuju Abraham yang otomatis merentangkan tangannya agar Rossy bisa langsung memeluknya.
"Ohhh cucu kakek yang cantik! Gimana sekolahnya , ada cerita seru apalagi sekarang", pertanyaan sederhana yang bisa membuat Rossy bicara selama berjam-jam.
Tapi hari ini Rossy murung, hanya diam lalu menyandarkan dagu mungilnya di pundak kekar Abraham.
"Oh putri cantik kakek, kok sedih ? Ada yang mau diceritakan?", chubby ku yang perempuan hanya menggelengkan kepalanya
Tak pernah mau mencertikan kesedihan, karena takutnya ibunya akan menjadi semakin sedih, takut aku akan menjadi terbebani.
Yang tampan berjalan santai masuk rumah, bergandengan tangan denganku, " Edward?", tanyaku sambil mengoyang goyangkan tangannya kedepan belakang
"Bagaimana sekolah di Tepian, apakah menarik, atau seperti biasa?", tanyaku hati-hati
"Seperti biasa buuu, tak ada yang menarik, mereka hanya menyukaiku sebentar, lalu menjadi iri, dan mulai membenciku", dia menceritakannya sambil tersenyum.
"Ibu tak pernah tahu betapa merepotkannya menjadi pintar di kota, dulu ibu hanya sekolah elementary di Edges, yang pintar bahkan tak dianggap pintar, tak penting, toh nantinya kami semua jadi pemetik bunga! ", kami tersenyum bersama, matanya berbinar-binar mendengar cerita ku, tak lagi sedih.
"Bagaimana ibu sekolah di Inti Rocks?", dia mulai bertanya tentang aku.
"Ganti baju dulu sana, nanti malam ibu cerita, sekarang ada kakek Abraham, main aja dulu!", tak pernah ganti baju ketika Abraham sudah datang tetapi mencari pedang mainannya, lalu mengajak kakek itu bertarung.
Aku tak bisa marah karena dia tak menurut saat kusuruh ganti baju, setidaknya dia nakal sedikit, hanya didepan Abraham anakku bisa berekspresi.
"Edward, Rossy, ayo ambil pedang kalian, kita berlatih lagi", teriak Abraham
"Ayo kakek!", Rossy sangat gembira
Dua permataku, berdiri dengan posisi kuda-kuda, lalu keduanya mengeluarkan sayap, panjang dan lebar sepertiku, tapi di tengah sayap mereka ada pijaran listrik kuat, yang bukan seperti ku.
Abraham bersiap memegang pedang mainannya dengan erat, lalu Edward dengan kaki kecilnya berlari sambil terbang menggenggam pedang menyerang Abraham dari depan.
Rossy, cantikku mengambil posisi memutar lari ke belakang Abraham, menyerang punggung.
"Aaaaaaa", Abraham pura-pura kalah terjatuh, mereka menindih perut Abraham lalu memukulnya bertubi-tubi
Anak-anakku bisa mengeluarkan emosi saat bersama Abraham, dengan latihan fisik. Sama sepertiku dulu dengan ayah yang banyak melatih ku memetik bunga di area yang sulit di pegunungan.
Aku memilih tak nampak pintar di sekolah, agar punya banyak teman, pintar pun tak ada jadi soal, di kampung Edges.
Tapi Edward dan Rossy beda, mereka memilih sekolah di Inti Rocks, di Tepian, mereka ingin diakui pintar oleh banyak orang.
Walaupun kota terpencil, tapi Tepian tetaplah kota. Anak-anak disini dituntut harus pintar, pintar adalah utama, yang lebih pintar adalah saingan, musuh.