
ROSSY
Aku terbaring lemas tak berdaya di sebuah rumah yang jauh dari kehidupanku. Andy dan My King bersiteru, karena hal yang sederhana
Mereka yang mempunyai keluarga utuh, memang terkadang melebihkan masalah
Aku hidup sebagai seorang anak jenderal besar, tak punya banyak ambisi, hanya ingin membuat ayahku tersenyum. Dia hanya bisa tersenyum, jika ku semakin ahli dalam kemampuan innerku
Keluarga kerajaan terlalu melebihkan keinginan yang pasti tak terbatas, aku seringkali goyah melaksanakan keinginan My King, tapi melaksanakan tugas tak usah diambil pusing, hanya laksanakan
Aku enggan mengangkat tubuhku, untuk sekedar ke kamar mandi. Tubuhku lemas, tapi aku bisa berdiri dan berjalan pelan. Aku benar-benar malas untuk bergerak
Tubuhku lelah sekali, setelah semua kengerian yang kulihat sebelum terbang kesini, aku benar-benar tak ingin berurusan lagi dengan keluarga kerajaan
Andy memintaku membawa Hannah kepadanya, tapi apa daya, Rossy masih sangat sakit. Edward yang mengajukan diri membantu ayahnya
Aku tahu tidak sesuai permintaan, tapi dengan kondisi tubuhku yang hancur begini, rasanya mustahil aku mendampingi Hannah menemui Andy
"Spain, kau tak apa? Sudah diminum ramuannya?"Hannah berjalan mendekati ku yang terbaring lemah
"Masih utuh? Kau benar tak mau sembuh Spain?"
"Hannah, bisakah kau kembali ke Rocks tanpaku, katakan saja aku sudah mati"
Hannah berkerut dahi, "Maksudmu apa Spain?"
"Aku tak ingin terlibat kekacauan di Rocks?"
"Separah itukah?"
Aku melihat tatapan kosong Hannah. Dia tak tahu kebingungan yang melanda pasukan, kami diminta berpihak pada salah satu pimpinan suku penyangga
Kami tak pernah diberi kewenangan itu sebelumnya, pasukan militer kacau balau
Atasan membunuhi bawahan yang berbeda suku, bawahan berlarian mencari perlindungan. Sesama regu sahabat saling menembakkan petir, meneriakan kebenaran yang semuanya berbau rasis dan penghujatan. Tak ada lagi kata-kata bijak dalam semua ucapan ketika kita dituntut melawan saudara sendiri
Aku merinding, bahkan sesama pasukanku saling bunuh dengan kekuatan inner yang aku ajarkan pada mereka. Teriakanku untuk menghentikan peperangan seakan suara angin yang berhembus ke telinga mereka tanpa di ketahui apa yang kumaksudkan
Sepanjang hidupku yang lama, baru kali itu aku menitikkan air mata deras, melihat pasukanku saling bunuh, aku seperti tak ada di mata mereka
Andy menghentikan tangisanku dan membawaku ke kolam ikan bersama seluruh karyawan gedung dapur yang tersisa. Aku shock, masalah yang sangat sederhana tentang menyatukan dua orang yang saling mencintai Andy dan Hannah, menjadi begitu rumit di kepala pimpinan anggota dewan penyangga
Suku hitam sudah lama tak punya pemimpin resmi, aku dianggap pemimpin bayangan, karena aku tak pernah mau menjadi pemimpin. Tapi sekarang semuanya ku sesali, andai saja aku dulu menerima tawaran beberapa tetua suku hitam, tentu saja sekarang mereka akan menurutiku, tak seperti sekarang. Walaupun aku terkuat tapi aku tak punya kuasa mengatur suku ku
Aku menolak tawaran tetua suku bukan karena tak ingin mengemban tanggung jawab, tapi karena ku anggap raja cukup menjadi satu-satunya pemimpin.
"Spain...., kau masih bersamaku kan?", Hannah mengkhawatirkan aku yang tiba-tiba mematung
"Kalau kau tak mau sembuh, aku tak mau tahu, tapi sebelum kamu pergi, bisakah kau mengecek keadaan putriku?
Hannah masih saja ketus dan tajam dalam bicara denganku
"Dimana anakmu?"
"Kau bisa berjalan?"
"Bisa, hanya pelan -pelan"
Rumah ini sangat besar, rumah yang bernuansa putih. tak ada banyak barang disini. Tapi dapurnya cukup penuh dengan tanaman yang dipetik Hannah dan anak-anaknya
Kamar Rossy berada di belakang dapur, seperti bagian rumah yang terpisah. Aku pikir Hannah dan Edward pasti lebih sering di bagian rumah ini, bersama Rossy. Disini lebih berantakan, didepan sana terlalu rapi seperti tak berpenghuni
"Disini Spain, ini kamar Rossy", aku melihat gadis kecil yang sangat cantik, dengan kulit mulus seindah porselen
"Hannah, kulitnya seperti ......"
"Aku tahu, kulitnya indah sekali bukan, sebelum terbaring kulit Rossy seperti aku. Mungkin cairan di ruang steril, membuat kulitnya menjadi sangat indah"
"Matanya tak berkedip?", Hannah menganggukan kepalanya
"Hai Rossy, aku Spain, teman ibu dan juga teman ayahmu", dia tak merespon
"Ibumu membolehkan ku memelukmu", aku peluk gadis kecil yang sangat cantik ini dengan perasaan sedih bercampur. Rasanya semua keenggannanku untuk kembali ke Rocks tak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan gadis kecil yang bahkan tak bisa mengedipkan matanya
"Aku angkat ya", dia diam saja
Hannah melangkah mundur keluar kamar, meninggalkanku berdua bersama Rossy
"Rossy...., kau lelah bukan, mata tak berkedip pasti lelah sekali", aku gendong anak kecil yang sangat harum ini, sambil terus mengelus punggungnya
"Ibu sudah keluar, tak perlu kau berusaha membuka mata, kalau lelah tidurlah....", dalam dekapanku aku mendengar suara nafas yang ditarik sangat dalam
Tadinya nafasnya sangat teratur dan detak jantungnya sangat cepat, sekarang nafasnya dalam seperti tertidur, irama jantungnya normal, dan kepalanya terkulai di pundakku
Seperti kebanyakan anak kecil, Rossy ingin memperlihatkan kepada ibunya dia sudah sadar, dia memaksakan dirinya
Aku mempunyai inner yang paling tinggi diantara suku hitam, mungkin paling tinggi di seluruh Rocks. Keadaan Rossy agaknya bisa kupahami.
Dia benar-benar tertidur, tubuhnya wangi sekali. Bagaimana Hannah merawatnya sampai tubuhnya seharum ini. Aku menidurkannya di kasur, dia damai sekali
Aku berjalan pelan keluar kamar, Hannah menungguku diluar. Dia duduk disofa panjang yang terdapat di luar kamar
"Bagaimana Rossy? Apakah kau melihat keadaannya dengan innermu?"
Hannah bertanya cepat dan terburu-buru. Dia ingin segera mengetahui keadaan Rossy dalam pengamatanku
"Dia lelah, sekarang dia tidur", Hannah berdiri terpaku, tak percaya yang kukatakan
"Kau, kau menidurkan Rossy?", sekarang giliranku yang kebingungan dengan reaksi Hannah
"Spain...sejak terbangun Rossy belum pernah memejamkan matanya...."
"Maksudmu, dia terjaga berhari-hari? Mengapa kau tak menidurkannya!?"
Suaraku meninggi, aku tak mengerti mengapa seorang ibu tak bisa membuat anaknya tertidur?
"Aku sudah mencoba semuanya Spain, menggendongnya berjam-jam seperti yang tadi kau lakukan, mengayunkannya di ayunan, membacakan dongeng.....Semuanya kulakukan berulang ulang dan sangat lama, tapi tak berhasil!"
"Aku melakukannya dengan sangat cepat, mungkin karena aku biasa menghipnotis"
"Mungkin, mungkin saja Spain, makasih Spain..."
"Jangan begitu Hannah, aku bahkan tak mengeluarkan kemampuan innerku"
Hannah tersenyum lebar sekali mendengar tanggapanku
"Makasih Spain"
"Oh iya Hannah, kau memandikan Rossy dengan parfum tertentu, baunya harum sekali"
"Parfum?"
.
"Iya parfum! Kau pakai bunga apa? Harumnya menenangkan sekali, aku juga ingin memakainya"
"Spain, Rossy hanya ku lap dengan air, aku tak boleh memberi kulitnya dengan tambahan apapun, takut merusak kulitnya. Kau lihat kan, kulit Rossy bereaksi berlebihan terhadap cairan susu yang merendam dia di ruang steril"
"Kau tak memberinya parfum?"
"Kau mencium bau harum dari tubuh Rossy?"
Aku tak mengerti, aku tak pernah mencium aroma tubuh seharum itu sebelumnya
"Spain, ayo kembali ke kamarmu. Habiskan ramuan yang ku buat tadi. Lalu makan siang, kita ngobrol lagi di luar"
Hannah tak meneruskan pembicaraan tentang aroma harum dari tubuh Rossy. Dia hanya tersenyum lalu menyuruhku meminum obat dan makan siang. Tak ada pikiran apapun di kepala Hannah
Dari dulu, aku tak bisa menembus inner Hannah yang sangat kuat. Sekarang pun sama, aku dibuat penasaran. Mengapa tubuh Rossy wangi sekali?