
RINDU AYAH
Apa itu tadi, mengapa aku merasa seperti sedang diinterogasi. Andy dan kawan-kawannya menakutkan, mereka seperti curiga pada siapapun
Aku boleh keluar, dan kembali lagi saat makan siang.
Aku kembali lagi ke ruang berkumpul, tak ada siapapun. Abraham memanggil, "Iya, Abraham?, kau sudah sampai?"
"Iya Hannah, aku sudah sampai, aku menunggu kamu selesai kerja dan mengantar mereka padaku"
"Bukankah itu masih lama Abraham, aku pulang sore"
"Tak apa Hannah, aku banyak kenalan di Kingdom"
Abraham semangat sekali bertemu anak-anakku
Apa yang harus kulakukan sekarang, hanya menunggu dipanggil kah? Benar-benar membosankan
Sam mengetuk pintu ruangan, "Merryl, aku tak punya ID koinmu"
"Oh iya, tuan"
Dia memasukan ID koinku, "Sekarang ikut aku ke ruangan, makanannya sudah habis, kami semua kelaparan. Dia tersenyum lembut saperti Sam yang aku kenal, Aku ingin bertanya bagaimana kabar Samantha, apakah masih bekerja di hotel?
Aku berjalan di belakang Sam, etika orang yang sadar kedudukannya lebih rendah, tak boleh berjalan beriringan apalagi mendahului. Aku bukan Hannah yang bebas, aku Merryl yang penuh aturan dan punya banyak kepentingan disini.
Benar saja, semua makanan dan minuman sebanyak itu ludes, kecuali jusnya. Aku ambil semuanya kecuali jusnya karena nampak masih utuh belum disentuh
"Merryl!", Andy memanggilku
"Ambil saja jusnya, rasanya tak enak"
Aku mengangguk patuh, bagaimana mungkin jamur putih tak enak?
Aku letakkan kereta makanan di ruang berkumpul, menunggu diambil staf dapur. Jamur putih ini nampak normal, tak ada siapapun, aku mencicipinya, "Huek huek, rasa apa ini, kenapa jamur putih rasanya begini, tumbuh di kayu apa ini, di bangkai hewan! Ya Tuhan rasanya!"
Aku menekan tombol hijau, yang bertuliskan kitchen, agar ada staff dapur yang datang mengambil kereta makanan ini
Pantas saja, Andy tak mau meminumnya.
"Aku ambil, kereta makanannya", staff dapur yang sama dengan tadi pagi
"Hai, maaf siapa namamu, aku Merryl"
"Aku Ben"
"Jusnya, Raja tak suka"
"Kami kesulitan mencari jamur putih"
"Aku tinggal dekat sini, aku bisa menumbuhkan jamur putih, dapur mau membelinya? Aku butuh akses tambahan"
"Bawa saja contohnya besok, nanti akan kuberikan pada Miss Jenny"
Dia pergi, sambil mendorong kereta makanan, berisik sekali, gelas dan piring kotor itu.
Jenny, sudah jadi kepala dapur. Orang yang paling sering memarahiku sekaligus membelaku.
Aku yakin dia pasti sangat berusaha keras agar sampai pada posisi kepala dapur
Benar-benar banyak waktu terbuang, besok ku bawa saja, buku buku koleksiku kesini.
Baru kali ini aku bekerja, kekurangan pekerjaan. Biasanya saat kerja serabutan tak pernah bisa ada waktu untuk duduk. Bahkan di Nein ketika aku belum memiliki Edward dan Rossy. Atau saat di dapur, di administrasi! Disini membosankan sekali, benar-benar tak ada yang istimewa.
Aku bahkan sudah memakan semua bekal makananku padahal belum waktunya
Kumohon sore cepatlah datang.
"Sam memanggil"
"Iya Tuan"
"Segera kesini Merryl"
Doaku cepat dikabulkan. Aku akan menjadi sibuk sepertinya. Masih jauh dari jam makan siang tapi aku sudah di panggil lagi
"Iya Tuan, aku mendekatkan diri ke Sam"
"Bukan aku yang memintamu kesini, tapi raja"
"Oh... Iya Yang Mulia", aku segera menghadap ke Andy.
"Kau benar-benar dari Edges?", Apalagi ini, dia masih curiga padaku? Bahkan sekarang dia berdiri dari kursinya yang mewah itu, mendekatiku.
Jarak kami dekat sekali, aku hanya bisa tertunduk.
"Rambutmu grey, ini asli?"
"Iya Yang Mulia, ini asli", dia memainkan rambutku, seperti Andro memainkannya. Aroma tubuh Andy membuat aku pusing, kami tak boleh berdekatan seperti ini.
Aku limbung, karena aroma Andy membuat aku pusing. Andy menangkapku, memelukku agar aku tak terjatuh, "Saaaaaam, ini kenapa, kenapa dia mau pingsan"
Sam berlari mendekat, juga yang lainnya. Gawat ada dokter Brian, aku tak bisa diperiksa olehnya aku bisa ketahuan.
"Kau Andy, membuat pelayan ketakutan. Kau raja Andy, Raja!", Macbirth berteriak.
Wajah Andy langsung terkesiap, seperti tersadar akan sesuatu.
"Sini aku periksa, barangkali kau sakit", Dokter Brian mencari nadiku, memeriksa mataku
"Detak jantungnya cepat sekali, Andy. Dia takut padamu. Kau pikir dia siapa, Hannah!? Sudahlah Andy yang meninggal tak mungkin hidup lagi"
Mereka semua mengira aku tak bisa bahasa suku penyangga putih. Aku mengerti yang mereka bicarakan. Andy merindukan Hannah, merindukanku, dia masih bisa merasakan bahwa aku adalah Hannah.
Setelah melupakanku, lalu berpura-pura menjadi Andro dan mendekatiku lagi, lalu mencampakknku tanpa penjelasan, sekarang dia merindukanku yang sudah mati! Aku benci kamu Andy!
"Suruh dia pergi Sam", perintah Andy datar
Aku dipapah oleh Sam, keluar ruangan.
"Maafkan Raja, dia hanya sedang mengingat sesuatu"
Aku berjalan sendirian sempoyongan ke ruang berkumpul, Sam tak menemaniku. Dia bergegas masuk lagi ke kantor.
Mengapa dia memanggil hanya untuk memegang rambutku. Dia merasakanku, tapi dia ragu-ragu. Aku tak bisa biarkan Andy tau tentangku. Bagaimana Edward dan Rossy. Aku tak bisa hidup tanpa mereka.
Aku tak bisa berlama-lama disini, aku harus memikirkan cara agar bisa ke kantor militer.
******
Sore menjelang, aku harus menjemput anak-anak bertemu Abraham
"Ibuuuu", Sekarang sekujur badan mereka berwarna-warni. Mereka menumbuk bunga perasa lalu mengoleskannya ke tubuh
"Sekarang kita harus mandi, kakek Abraham menunggu di luar gedung", mereka berlari menuju kamar mandi
Bertemu Abraham lagi, padahal baru sepuluh hari lalu aku datang kesini
Rossy cantik sekali, sekarang rambutnya merah, dan Edward berambut hijau. Mereka berdua sukses mengecat rambutnya. Abraham pasti terpingkal-pingkal melihat penampilan mereka sekarang.
"Rossy, rambutnya Ibu sisir dulu!", gak mau gini aja Rossy suka begini
Rossy tak mau disisir rambutnya, dia ingin rambutnya tetap dikuncir tengah seperti itu. Ya sudahlah, aku malas berdebat
Edward menyisir klimis rambut hijaunya yang baru ke belakang, seperti Spain. Aku tak bisa berkata-kata, anak-anakku tak bisa terlalu diatur. Karena dari kecil sudah sering kutinggal pergi, jadi ketika bersamaku, mereka sangat ingin menonjolkan maunya.
Aku berlari keluar gedung dapur menuju lift. Rumah gudang ada di basement. Lampu lift berkedip, ada yang akan masuk. Rombongan raja, Andy. Aku peluk erat Edward dan Rossy.
Ya Tuhan, tolong jangan ada yang menyapa dan mengajak bicara mereka
"Oh hai Merryl" Macbirth menyapa
Aku mengangguk, "Siapa ini? Anakmu?"
"Iya Tuan" aku menjawab cepat
"Cantik dan tampan", Macbirth mencubit pipi Rossy
"Maaf tuan, jangan cubit pipi saya, saya tahu saya cantik, tapi mencubit pipi bukanlah ekspresi kekaguman yang baik", Aduuuuuh Rossy kenapa kamu bicara begitu
Seketika, semuanya menoleh ke suara anakku, "Maaf Yang Mulia, Rossy memang suka begini bicaranya!"
Aku menunduk ketakutan, takut ketahuan. Yang di tengah berambut putih adalah ayah mereka
Tapi Rossy dan Edward bukan anak biasa, mereka suka menantang, bukan pemalu
Rossy meminta turun dari pelukanku, lalu bergandengan tangan dengan Edward menuju lelaki berambut putih di tengah rombongan
Yang lain seperti membukakan jalan untuk anak-anakku
Andy berjongkok menyambut mereka, aku berdiri cemas di ujung lift
"Yang Mulia terima kasih sudah membangun barat Edges, sekarang tempat kami tidak terpencil lagi", Edward dan Rossy bersamaan mengucapkannya, mereka mengidolakan raja. Mereka suka berpura-pura bertemu raja dan menyampaikan hal ini
"Terima kasih kembali", Andy menjawabnya sambil tersenyum lebar. Bahkan yang lain juga ikutan tersenyum
"Kalian kelas berapa?", tanya Andy ramah
"Kami kelas empat" , jawab Rossy cepat
Andi berkerut, lampu berkedip aku sudah sampai
"Maaf Yang Mulia, kami harus duluan"
Aku menggandeng Rossy dan Edward keluar lift.
Sampai di pintu lift mereka melepaskan diri dari tanganku, lalu berlari loncat memeluk Andy.
Aku dan yang lainnya kaget, Sam sampai menahan liftnya agar tetap terbuka
Mereka berdua memeluk Andy dengan sangat kencang, Andy bingung.
"Ayah kami juga bernama Andromeda, kami selalu bermimpi punya ayah seperti Raja", Edward bicara tanpa sensor
Aku lemas mendengarnya, kakiku seperti tak bertulang.
Andy, tak bisa berkata. Jangan Andy, jangan berkata apapun pada anakku
"Kalian mau kemana sekarang? Aku antar"
Abraham dan Andy saling kenal, bagaimana ini?
" Kakek!", keduanya kompak menjawab