Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Selalu di Rintangan Keempat


SELALU DI RINTANGAN KEEMPAT


Medan pemburu ternyata, adalah medan untuk menguji kemampuan kami membuat alat dari logam.


Joseph pulang, setelah melewati rintangan kedua. Andaikan masuk ke medan pemburu, adalah saat rintangan terakhir yang kita tinggalkan mungkin perjalanan di medan simulasi ini akan lebih cepat. Kami harus masuk lagi dari rintangan pertama. Berat sekali.


Di layar peta rintangan keempat, penuh dengan tanda No Wings, aku tak paham maksudnya, sampai tiba di rintangan ke empat. Kami harus memanjat dinding cadas, tanpa tali pengaman.


Tak ada yang berani mencoba, kami memutuskan menghentikan rintangan, menyerah.


"Kau lihat pijaran sinar diantara dinding batuan terjal itu, aku pikir itu listrik", aku membuka pembicaraan di makan malam yang sunyi, tak seperti biasanya.


"Kita harus membuat alat dari logam yang mampu melindungi kita dari listrik, bentuknya aku usulkan seperti cakar"


"Cakar !", teriak Kris.


"Pasti susah membentuknya"


"Ada ide lain", aku bertanya.


"Listrik suka magnet, yang bermagnet saja", Noah mengusulkan sambil menunduk malu.


"Wow Noah usulmu hebat, sering-seringlah berpendapat tak ada yang akan menyalahkanmu" , aku gembira sekali akhirnya Noah mau ikut aktif dalam diskusi ini.


Menyatukan dua logam yang berbeda jenis, susah sekali, kami hampir putus asa, sepertinya usul Noah mustahil.


Logam yang bermagnet sangat suka api, jadi ketika dibentuk api nya lumayan besar. Untuk yang tahan listrik, punya titik leleh yang lebih rendah, dan logamnya lebih solid.


Menyatukan dua logam ini, bukan urusan mudah. Di logam yang tak suka listrik, dibuat bentuk seperti bercincin lima, tempat kami memasukan jari agar kuat mencengkram, di bagian bawah lebih kecil, logam bermagnet akan menarik kami agar bisa menempel pada dinding ini.


Akhirnya ketika mendinginkan logam bermagnet, kami gabungkan dengan logam yang tahan listrik, agar suhu di permukaannya sama. Berhasil, setelah menyesuaikan suhu begitu lama, akhirnya berhasil juga.


Baru satu, butuh tujuh lagi agar, semua bisa memakai. Tiga bulan, akhirnya siap semua.


Masuk ke medan pemburu, dari rintangan satu ke empat, kami membawa makanan buah peach kering yang sengaja di ambil setiap kita ke ruang makan.


Medan pemburu benar-benar menguras tenaga. Akhirnya sampai juga di rintangan keempat. Kami mulai menaiki dinding berlistrik ini dengan mudah, ide Noah sangat keren.


Dinding ini lumayan tinggi, sebentar lagi kami sampai di permukaan, lalu satu rintangan lagi selesai.


Satu pijakan lagi kita sampai di permukaan, "Andy, tolong aku!, logamku tak mau menempel !", teriak Noah ketakutan.


Aku sudah sampai di permukaan, Noah yang terakhir, sial tak ada tali sama sekali aku tak bisa menariknya.


"Tenang Noah, aku akan menjemputmu", Kris dan Nathan mendekatiku, " Apa rencanamu Andy, kau akan terbang membawa Noah?!", Nathan tak suka dengan ideku.


"Kau punya ide lain lagi Nathan, kita bahkan tak diberi tali, semuanya logam, dalam waktu tiga bulan tak mungkin aku membuat rantai"


Kau.... bisa mati tersengat listrik Andy", Kris mencoba menghalangiku.


"Aku akan mengeluarkan sayap terkecil, secepat mungkin membawa Noah keatas, bantu aku"


Nathan dan Kris tak mengiyakan tapi mereka bersiap-siap mengambil Noah dari permukaan.


Tak ada cemas, aku akan mati, sepertinya mati pun tak ada yang ku khawatirkan.


Aku mengeluarkan sayap terkecil ku, lalu dengan cepat membawa Noah keatas. Di depan dinding ini, aku dihujani listrik, aku lempar Noah sekuat mungkin, lalu ditangkap oleh Nathan dan Kris.


Aku tekan dua kaki ku ke dinding, aku berjalan tegak lurus terhadap dinding agar menjauhkan sayap, tapi tetap saja aku tak bisa menghilangkan sayapku, karena sayapku seperti terpancing agar tetap keluar, listrik-listrik ini membuat sayap tetap terbuka. Sampai dipermukaan aku ditarik oleh Nathan dan Kris.


Ada rasa perih dibagian belakang leherku, aku ditembak peluru bius, tapi masih tersadar. " "LARI !!!!!!! ,, rintangan kelima tak ada rintangan!!!!", aku berteriak melihat cahaya rintangan kelima ada di luar mulut gua. Kami berlari semangat. Aku terjatuh di tengah, efek obat bius mulai melumpuhkan tubuhku, mereka menggotongku, rintangan kelima adalah pintu mulut gua yang bisa menutup, kami hanya perlu berlari keluar sebelum mulut gua ini tertutup.


"Gerakan kakimu, Andy", suara Noah membangkitkan semangatku, dia jarang bicara, Noah menyuruhku mengerakkan kaki agar mempercepat mereka menarikku keluar.


BBRAAAK !!!, pintu mulut gua tertutup sesaat setelah aku diluar gua, tepat waktu. Kita semua tertawa, kita lolos medan pemburu.


Lolos dari medan pemburu, membuat berat badanku menurun sangat drastis. Di Kiehl, berat badan sangat susah naik, kita hampir seperti kerangka berjalan.


Latihan fisik yang sangat berat, dan medan pertempuran yang sangat sulit membuat tubuhku seperti mal nutrisi, kurang gizi. Sama seperti Nathan, Kris dan Noah.


Peluru bius terakhir tak membuat perbedaan, aku tak kehilangan ingatan, aku masih ingat semuanya.


**********************************************


Lima tahun aku di Kiehl, Noah pulang tahun lalu, aku bersama Nathan dan Kris satu pesawat menuju Rock Collapse. Aku akhirnya pulang.


Berat tubuhku menyusut drastis, tak ada lagi tubuh kekar, tubuhku mulus tak berotot, sepertinya vegetarian dan latihan fisik di Kiehl membuat ku kehilangan massa otot.


Semua bajuku di koper yang di siapkan Jayana terlalu besar. Sampai di perbatasan aku berpelukan dengan Nathan dan Kris, berat berpisah dengan mereka, setelah semua pelatihan gila itu.


Aku berhenti di pusat kota Kingdom, mencari pakaian yang pas denganku. Di Kiehl tak ada cermin, untuk apa cermin disana? Aku menertawakan diriku, jika ada cermin, banyak yang bunuh diri mengiris tangannya dengan pecahannya.


Masuk ke toko pakaian aku memilih baju dengan satu normor lebih kecil dari ukuran ku yang biasa.


Masuk ke ruang ganti, aku terperangah melihat wajahku di cermin. Tubuhku kecil sekali, bahkan lebih kecil dari Noah, kepalaku yang plontos, membuat penampilanku, menjadi seperti gelandangan.


Tak akan ada yang mengenalku dengan penampilan baru seperti ini, kulitku coklat, mataku besar lebih menonjol, tulang rahangku sangat terlihat. Semua pembuluh darah di tanganku nampak jelas, aku benar-benar seperti gelandangan yang kurang gizi.


Aku harus bertemu ayah.


Selesai membeli baju empat nomor lebih kecil dari biasanya, aku meminta hadiah masker kain pada penjaga toko ini, mereka memberi tiga masker kain.


Aku sekarang mengerti mengapa sepanjang jalan, orang-orang memandang kasihan padaku. Kiehl membuatku menjadi seperti kerangka berjalan. Aku menunggu di luar gerbang Kingdom, sistem di gerbang akan langsung mengenaliku sebagai Pak Andy.


Tengah malam aku terbang, terbang di depan jendela kamar tidur ayah. "Ayah membuka pintu jendela, "Andy!??", dia mempersilahkan ku masuk ke kamarnya.


Setelah menutup jendela aku membuka masker kain, ayah menitikkan air mata, "Maafkan ayah Andy, maafkan ayah, disana pasti berat sekali"


"Ayah berikan aku identitas baru, aku tak mungkin bisa keluar dengan penampilan seperti ini, dan mengaku bernama Andy, terlalu banyak perhatian, aku ingin tenang, setidaknya sampai badanku kembali seperti semula".


"Tentu saja, Andy, kau anakku satu-satunya, apapun untuk menebus kesalahan ayah"


"Kau mau minum Andy, ayah punya air disini"


"Makasih ayah"


"Andy, kau terkena peluru bius, apa semuanya masih kau ingat?"


"Masih ayah, aku baik-baik saja, bagaimana Jayana, dia masih di ruang vegetatif?"


"Masih, dia mungkin terlalu senang bertemu ibumu", ayah tersenyum sedih.


" Andy, masalah Tepian ayah minta maaf, kau bertindak benar, semua tentara yang kau selamatkan sembuh, kata dokter, sedikit saja kau terlambat mereka semua menjadi zombi", ayah bicara dengan hati-hati padaku.


"Ayah hanya emosi karena masalah The First!"


"Pedang kakek maksud ayah, kapan ayah menemukannya?"


Seketika, ayah menangis tersedu-sedu, lalu memelukku," Maafkan ayah, Andy, maafkan, kehilangan ibumu terlalu lama, membuat ayah lupa rasanya mencintai, maafkan ayah"


Aku tak mengerti maksud ayah, tapi aku suka dengan pelukan hangat ini dari ayah, sepertinya sudah lama sekali ayah tak memelukku.