Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Kolam Ikan Tersembunyi


KOLAM IKAN TERSEMBUNYI


"Ayah......!, kantor Kingdoms berantakan, seperti usai perang. Ayah tak menyapaku balik


Kupakai telepati seperti yang ayah ajarkan, hening. Hidupku dan ibu selama tiga tahun ini memang sepi.


Bolak balik mengunjungi Rossy, dan berharap tiap saat dia bisa normal lagi. Dan bermain bersamaku lagi


Tapi hening ketika memanggil ayah di tempat seharusnya dia berada, sangatlah berbeda. Aku hampir meledak, saat sapaanku memanggil ayah tak dijawab


Diatas sana, walaupun terasing, tapi aku masih punya harapan tinggi bertemu ayah. Melihat situasi kantor ayah yang kacau, darah dimana-mana dan bau gosong daging yang baru terbakar, membuat tubuhku lemas. Ayah.....


Aku harus menghubungi ibu, di dalam ruang kecil itu, pasti aman. Aku berjalan mengendap masuk ke ruang kecil, diatasnya tertulis, Ruang Berkumpul .


"Disini tak ada orang bu....."


"Kau takut Edward, pulang sajalah ke atas sini...."


"Aku lebih takut tak bisa bertemu ayah bu..."


"Hmmmm..., Spain tadi sadar, dia bilang ayahmu ada di kolam ikan rumah gudang kita dulu"


"Ah, kolam ikan, yang kecil itu?"


"Iya, ibu juga bingung, tapi coba saja kau kesana, gedungnya dekat dari kantor ayahmu"


"Iya, aku ingat jalannya, sudah bu, nanti aku hubungi lagi"


Keluar ke jalanan juga sama, ini seperti kota mati, apa hanya Kingdoms saja yang begini, bagaimana dengan kota lain, Tepian?


Aku terus berpikir sambil berjalan mengendap menuju gedung dapur.


Kenapa jadi seperti ini.....


Di depan gedung dapur, aku berdiri sendirian, pasti dalam gedung ini, tak berbeda jauh dengan kantor ayah


Sepi, tak ada darah dan bau gosong. Semuanya masih rapi, berbeda sekali dengan gedung ayah. Aku ingat lift ada di ujung sana


Aku suka berlarian pagi hari disini. Ibu selalu meneriaki aku dan Rossy karena kami selalu ribut di jalan


Saat bertemu ayah pertama kali, adalah lift ini. Dia gagah sekali, aku sudah mengaguminya sejak di kampung. Bertemu langsung saat itu, rasanya seperti mimpi


Aku memasuki lift, dan semua kenangan pertama bersama ayah, seperti berputar kembali. Terima kasih Tuhan membiarkan ku bisa mengenang lagi ayah dan Rossy di lift ini.


Liftnya tak rusak, sudah sampai di depan rumah gudang ku. Masih terawat rapi, kupikir akan berantakan, karena kami lama sekali tak pernah berkunjung ke rumah ini, tapi rumah ini terawat sekali.


Kolam ikan? Maksud Om Spain apa? bersembunyi di kolam ikan. Bagaimana mungkin?


Aku lama memandangi kolam sambil banyak berpikir. Orang yang sangat kesakitan, meminta ibu menyelamatkan ayah di dalam kolam ikan.


Kolam ini memang aneh, selalu mengeluarkan ikan, kapan pun kami mau. Bukan ikan kecil, tapi ikan besar , seperti terhubung dengan kolam yang sangat besar.


Aku sentuh air di kolam ikan ini, tenang. Mungkin aku harus masuk ke dalamnya. Aku nekat masuk ke dalam kolam ikan


Pelajaran menyelam oleh kakek Abraham, berguna saat ini. Di luar dugaan, ternyata kolam ini seperti terowongan air. Aku selalu heran tiap memasukan makanan ke kolam ini, selalu mendapatkan ikan.


Kolam ini seperti punya inner, dia selalu melemparkan ikan pada kami. Kolam yang sangat dalam dan luas. Disana ada cahaya, aku harus menuju cahaya itu.


Ternyata cahaya ini menyinari sebuah gua


Gua di dalam kolam ikan, dimana ini? Apakah gua ini terhubung dengan sesuatu. Aku basah kuyup, berjalan menyusuri gua, yang dipasangi nyala lampu penyangga.


Aku ikuti arah lampu penyangga dipasang. Aku tiba di sebuah ruangan


Banyak orang berkumpul, semuanya melihat ke arahku. Tapi tiba-tiba kedua tanganku seperti bergerak sendiri. Tanganku terlentang keatas dan Hap Hap. Dua pedang ada di tanganku


Semua terperangah melihat dua pedang terbang ke tanganku. Aku melihat kedua pedang ini


Yang satu tua dan berkarat. Yang satu putih dan indah.


"Edward.......?", suara yang sangat kukenal


"Ayah.....?", ayahku masih hidup, aku berlari memeluknya.


Ayah tertawa senang sekali melihatku, dia bolak balik mencium wajahku lalu memelukku


Selesai memberi inner pada kedua pedang agar dapat melayang, ayah berdiri memberi pengumuman pada yang berkumpul di ruang gua ini


"Tenang semuanya, ini Edward, anak sulungku!"


"Ayah, apa yang terjadi, mengapa Kingdoms jadi begini?"


"Semuanya begitu cepat terjadi Edward, ayah tak tahu harus cerita darimana, tapi....ini bukan cerita yang bisa didengar oleh mu"


"Ayah.....", mata ayah begitu sayu, sepertinya ayah tak tidur berhari-hari


"Spain, apa dia bersama Hannah?", pertanyaan pertama yang diajukan ayah adalah Spain, bukan kabar Rossy atau ibu


"Aku begitu terburu-buru ingin Hannah membantu keadaan disini, aku tak mengerti jalan pikirannya, mengapa dia malah mengutus kamu?"


"Ayah, Rossy sudah bangun, tapi dia tak merespon apapun, ibu takut terjadi apa-apa pada Rossy. Ibu tak mau meninggalkannya"


"Tapi Spain, apa dia tak memberi tahu Hannah, untuk segera membantu kita ?"


"Om Spain terluka parah, dia hanya bicara sedikit"


"Oh...Rossy sadar, akan ku kirim Brian kesana, andai kutahu dimana Brian sekarang"


"Tak ada dokter disini?"


"Tak ada...hanya karyawan dapur"


"Dimana yang lainnya yah?"


"Tak tahu Edward, Dewan Penyangga terbelah, mana lawan mana kawan, ayah juga tak tahu. Bahkan kakekmu juga ingin membunuh ayah...."


Ayah bicara sambil berkaca-kaca. Ayah tak sanggup untuk bercerita apapun sekarang. Sepertinya ayah masih shock.


Semua yang berkumpul disini, menggunakan seragam. Nampaknya ayah menyelamatkan yang bisa diselamatkan saja, yang tak jauh dari kolam ikan. Karyawan gedung ini.


"Kau tahu Edward, seminggu yang lalu semuanya masih normal. Tak ada yang menghebohkan, kemudian ayah menerima perintah untuk segera mengangkatmu menjadi putra mahkota, lalu.."


"Aku, putra mahkota?"


"Lalu datang perintah lagi, untuk segera memperjelas status pernikahanku dengan Hannah, lalu datang lagi dokumen pernikahan ku dari kampung sembilan, lalu datang lagi perintah untuk menyingkirkan Hannah, lalu banyak sekali perintah dalam sehari berdatangan..., semuanya resmi dari dewan penyangga, satu hari! Semua perintah itu datang dalam waktu satu hari.. ..."


Aku hanya bisa menatap ayah, yang bercerita dengan nada yang sangat lemah


"Aku sumber masalahnya, tapi rakyatku jadi korban....", ayah meneteskan air mata


"Mereka tak tahu apapun tentang konflik dalam dewan, tapi mereka dibunuh, mereka saling bunuh, karena beda pemimpin ..."


"Mereka memang mencari waktu yang tepat untuk memisahkan diri dari kekuasaan suku putih"


"Siapa yang tak tahu itu Edward, semua juga tahu, karena kepintaran buyutmu, kita bisa menjadi keluarga kerajaan"


" Mereka tamak yah"


"Kakekmu, My King, sudah mengendus masalahku dan Hannah akan berpotensi konflik, dan bakal dimanfaatkan"


"Karena itu dia minta supaya aku dibunuh"


"Ha ha ha.....iya Edward, karena kesatuan bangsa lebih penting daripada cucunya sendiri", aku tak bisa membedakan ayah tertawa atau menangis


"Kakek....kandungku...."


"Aku meminta Spain agar memberitahu Hannah, kau dalam bahaya"


"Tapi om Spain, tidak....."


"Spain aneh....dia pasti memberitahu Hannah dengan cara yang tak biasa, tapi dia berhasil, kau diselamatkan, dan aku punya alasan membuatmu tinggal di pulau aman diatas sana"


Aku tak pernah tahu, kerumitan yang harus dihadapi ayah karena kami. Tapi Ayah, apakah benar cara ini, apakah kami harus sembunyi?


Kakek buyutku, pemilik pedang pertama, pasti sudah menyadari potensi konflik ini, dia tahu suku penyangga putih bukanlah yang terpintar, terkuat, atau terhebat. Tapi dia tahu semua orang ingin hidup damai.


Dia membuat kelas dan standar-standar penilaian unik di masyarakat yang begitu rumit, dan tak membedakan. Berbeda dengan jaman bumi. Hanya yang layak yang pantas mendapatkan, dia ingin kesetaraan, dan perdamaian suku diatas segalanya.


"Ayah.....apakah kakek buyutku juga sengaja, membuat konfik abadi, agar para suku bersatu?"


"Ha ha ha ha....., kau memang anakku Edward, Kakek buyutmu, dan ayahku mereka berdua akan melakukan segalanya agar tak terjadi perpecahan suku, semuanya.......!"


Ayah bicara dengan semangat dan suara tangis yang tertahan. Tak bisa dibayangkan kekalutan pikiran ayah saat ini.


"Ayah...... aku masih disini", aku menggenggam tangannya dan menatapnya dengan kerinduan.


"Kau sangat hebat ayah, kau tetap yang terhebat, jangan bersedih...."