Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Hari Terakhir Test


HARI TERAKHIR TEST


Hari ini hari ketujuh test. Aku menunggu Miss Brenda di depan ruang ujian. Dia datang bersama 3 orang yang berpakaian sangat nyentrik. Semuanya berambut grey seperti ku. Mereka memegang formulir dan kotak pensil. Sebelum masuk ke ruang ujian mereka semua tersenyum padaku.


Miss Brenda bicara panjang lebar, "Hannah, nilaimu sempurna hampir di semua ujian. Hari ini seharusnya kamu bisa bergabung bersama peserta kursus lain, melihat hewan gunung.Tapi semua dokter dan perwira yang mengujimu bersikeras agar kau melakukan uji kecantikan".


Aku hanya diam. Kemudian Miss Brenda melanjutkan perkataannya.


"Aku menyetujuinya dengan syarat pengujinya harus ketiga seniman ini. Mereka sangat terkenal dengan sifatnya yang pandai menjaga rahasia".


Aku bernafas lega.


" Hannah tenanglah...Sana cepat masuk ke ruangan", Miss Brenda menenangkanku. Di dalam ruangan uji tak ada kamera on yang merekam ku. Oleh salah satu seniman dinding kacanya di tutup dengan lapisan udara tipis yang keluar dari telapak tangannya. Kemudian perempuan itu berjalan memutari ruangan sambil melihat kemungkinan ruangan ini di pasang kamera lainnya. Dia nampak kesal, lalu menutup seluruh ruangan dengan lapisan tipis itu yang seperti menyembur dari telapak tangannya.


Aku di foto seluruh badan, di foto bagian per bagian dari wajah, leher, dada, perut dan kaki. lenganku juga di foto.


Kemudian aku disuruh berdiri dengan posisi menyamping. Mereka menggambar siluet tubuhku. Dengan foto-foto tadi mereka menggambar memperkirakan bentuk wajah dan tubuh ku. Tak ada suara diantara mereka. Mereka kerja sendiri-sendiri.


Suara alarm berbunyi. Aku tak tahu berapa lama aku di dalam ruangan ujian ini. Kemudian masih di dalam ruang ujian dari tempat yang berbeda satu persatu mereka memanggilku.


Mereka tak bicara. Seniman pertama yang melambai padaku adalah lelaki yang dandanannya sangat nyentrik, seperti mau berlibur ke pantai. Dia memberikan tanda seperti tato kecil dibagian bawah lenganku. Sebelum tato itu menghilang di sorot cahaya sinar khusus, sekilas aku melihat lukisannya A6.


Seniman yang kedua (perempuan) meminta ku untuk bisa melukis tatonya di belakang telinga. Aku menyanggupi. Lalu dia melukis di belakang telingaku A6, setelah selesai dia menyorotinya dengan sinar khusus.


Seniman yang terakhir ini (perempuan juga) tak memiliki alat tato. Dia menempelkan tangannya di punggung tepat di tali braku. Seperti ada sensasi tergigit semut. Lalu selesai.


Mereka semua menunduk dan memberi hormat padaku. Aku kaget sekali dengan sikap mereka. Refleks aku membalas dengan menekuk sedikit kaki dan menundukan kepala, sebagai rasa hormat. Sebelum keluar ruangan, seniman yang menutup ruangan dengan lapisan (seniman terakhir yang menilaiku), mengangkat kedua tangannya lalu menurunkannya lagi dengan sangat cepat.


Seluruh lapisan tipis dalam ruangan ujian menghilang. Mereka keluar ruangan bersamaan. Di luar dokter dan perwira sudah menunggu.


Mereka bertanya pada 3 seniman itu, berapa nilai uji kecantikan ku.


"Kita taat peraturan, tanyakan sendiri saja pada yang diuji", jawab seniman lelaki.


"Hannah berapa nilaimu?" , tanya dr Hosch. Aku dengan cepat menjawab , "B1". Mereka semua nampak menyesalkan jawaban ku.


Dokter Emily bertanya padaku, "Boleh kulihat tandanya".


"Jangan dokter tatonya dilukis di bagian yang sangat sensitif privat", jawabku asal.


"Oooh ok", dokter Emily mengangguk pelan. Tiga seniman itu berdiri saja melihatku. Mereka saling melirik. Kemudian menghampiri Miss Brenda. Mereka minta ijin mau melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Miss Brenda mengucapkan terimakasih lalu mengantar mereka ke lift.


Di depan ruang ujian dr Hosch memberitahu bahwa aku sudah boleh pulang. Hasilnya akan dikirim ke koin hologram.


Aku berjalan sendirian ke kamar. Lega sekali rasanya. Hari ini aku bisa pulang. Aku mengemas semuanya. Aku juga membawa makanan yang dibekukan dari Bapaknya Lilith.


Aku berlari ke ruang makan. Mencari Bapaknya Lilith, untung saja dia sedang berjaga di meja saji pintu kaca. "Saya akan pulang sekarang, pak. Bisakah saya bungkus makanan dan minuman yang dibekukan itu? , aku meminta Bapaknya Lilith.


Bapaknya Lilith menjawab , "Tentu bisa nyonya, sebentar ya.." .Sesaat kemudian dia membawa tas kain berwarna merah, " Ini nyonya, hati- hati dijalan".


Aku setengah berlari menuju kamarku lagi. Aku ingin cepat pulang. Kemudian Miss Brenda datang membawakan koin hologramku yang disita Suster Sasha saat hari pertama test. Dia membantuku berkemas, lalu kami pulang ke kota Dams bersama-sama.


Miss Brenda tak mau naik lift penghubung dia memesan kapsul mobil untuk dua orang. Beberapa menit kemudian kapsul mobil datang. Miss memasukkan kodenya. Pintu terbuka. di bagian bagasi dimasukan semua barang bawaanku. Setelah seat belt terpasang, Miss mengatakan "Check". Lalu kapsul mobil bergerak.


"Miss?", tanyaku.


" Iya Hannah", jawab Miss Brenda seperti ibuku


"Apakah kau sangat kaya?, kau memesan kapsul mobil tanpa pikir panjang".


Miss terkekeh mendengar pertanyaanku.


Aku cuma melirik saja mendengar jawaban Miss Brenda. Kemudian dia tertawa, melihat lirikanku.


Miss Brenda menceritakan pengalamannya bertemu 3 seniman pengujiku tadi. Mereka semua pecinta keindahan. Ketiganya pelukis dengan gaya yang berbeda. Lelaki yang nyentrik adalah pelukis naturalis, pelukis wanita-wanita kalangan atas yang suka dilukis sedikit lebih cantik dari aslinya. Yang sangat seksi adalah pelukis realis. Dia senang sekali melukis dengan arang. Dan yang berambut panjang adalah pelukis surealis, dia suka melukis dengan kekuatan elektrikalnya".


Mendengar penjelasan Miss, aku mengerti mengapa mereka sangat berbeda mengekspresikan diri dalam menilai ku.


Sampai di rumah aku merapihkan kembali bajuku ke dalam lemari. Dari bawah Miss Brenda bertanya


" Makanan apa yang kau bekukan ini Hannah?" Aku langsung turun ke bawah, berlari secepatnya.


"Miss yang memakai tas kain merah ini punyaku".


Miss kaget dengan aku yang berlari cepat sekali menuruni tangga.


"Lalu ini apa? Miss menunjuk bungkus makanan dari Bapaknya Lilith.


"Sama, isinya sama. Mau makan sekarang Miss. Aku panaskan".


"Tidak usah, buat nanti malam saja. Aku capek sekali Hannah. Aku mau tidur dulu".


"Baik Miss". Lalu Miss Brenda masuk ke kamarnya dengan beberapa kali menguap.


Aku kembali meletakan 2 bingkisan makanan itu ke freezer. Setelah makan malam hari ini, sepertinya aku harus mulai minum obat mual sebelum makan.


Sudah jam 7 malam, Miss Brenda belum keluar dari kamar. Aku makan malam sendirian saja, nampaknya Miss Brenda tak akan bangun sampai pagi. Aku ambil bingkisan makanan yang berwarna merah. Aku masukan ke dalam pemanas. Triiiing. Pemanasnya mati, sudah siap. Aku nikmati makan malam tanpa mual yang terakhir kalinya. Karena tak tahu lagi kapan bisa bertemu Andy.


Sambil menikmati makan malam aku berpikir mungkin setelah haid ku selesai mualnya hilang. Makananku habis, bersih tak bersisa.


Makasih Andy, ini enak sekali.


Sebelum tidur. Aku mengecek menstruasiku. Aku masih haid tinggal flek sedikit. Mungkin besok haid ku berhenti.


Aku tak bermimpi lelaki itu lagi malam ini. Tidurku nyenyak sekali. Pagi- pagi jam 5 aku kebawah mau minum. Miss Brenda sedang menikmati sop daging rusa buatan Ibunya Lilith. Dia kelaparan.


"Pagi Miss".


"Pagi juga Hannah. Hari ini ku cek wajah mu ya.


"Oh iya Hannah, tadi jam 4 pagi ada pengumuman pembersihan saluran air, jadi semua pipa ditambahkan air jeruk hutan. Aku sudah minta ijin ke pangkalan, sakit kecapekan".


Aku diam tak berkomentar. Air jeruk hutan di pipa air rumah Miss Brenda, artinya setelah aku mandi.


Penampilanku akan berubah total. Sudahlah, pasrah, Miss Brenda seperti orang tuaku. Aku tak keberatan dia melihat rambut putihku.


Aku mengunyah obat untuk mual. Miss melihat ku.


"Kau punya maag Hannah, sejak kapan?", tanya Miss Brenda kaget.


"Sejak satu minggu test kemarin.", aku asal jawab saja.


"Aku pikir orang sejenius dirimu tak akan stress bila ujian Hannah".


"Ah Miss, ada-ada saja", aku tak bisa mengatakan alasan yang sesungguhnya.


Miss Brenda bercerita tentang air jeruk hutan. "Biasanya Hannah, pembersihan pipa dengan air jeruk hutan dilakukan setiap 10 tahun. Kau tau kan saat kau disiram menggunakan air jeruk hutan matamu sangat pedih. Dan yang suka mewarnai rambutnya dengan warna palsu, akan kebingungan hampir satu minggu. Susah mewarnai rambut yang terkena air jeruk hutan".


Aku diam saja mendengarkan. Aku tak mau memikirkan membayangkan reaksi Miss Brenda setelah melihat warna asli rambutku.