
KENANGAN
Aku tak bisa bicara apapun dalam lift bersama Lingling, dia bisa pingsan melihatku masih hidup.
Anak siapa yang bersama Lingling?
Rambutnya kuning, seperti Sandy. Apakah Sandy dan Lingling?
Tak mungkin, aku terlalu banyak berpikir
Lingling keluar duluan, meninggalkanku tanpa menoleh sedikitpun. Lingling elegan sekali sekarang, penampilannya mewah dan menawan, tak sepertiku yang lusuh dan bau dapur, dunia kami berbeda sekarang
Aku tiba di lantai paling dasar, tempat rumah gudangku dulu. Senang sekali rasanya bisa kesini lagi.
Pelan-pelan kubuka pintu gedung yang menuju rumah gudangku, kebunnya tak terawat lagi, lampu di rumah gedung ku padam, tak ada listrik dalam rumahku.
Menggendong dua anak, sambil menyeret satu koper besar merepotkan sekali, tapi mencium aroma mereka yang khas membuatku bersemangat, lelahku menjadi bahagia
Ini kuncinya tak bisa kubuka, anak-anak harus bangun dulu, "Edward, Rossy, bangun nak, ibu mau buka kunci rumah?", aku meloncat-loncat supaya mereka membuka mata.
"Ibu, dimana ini?", tanya Rossy sambil mengucek matanya
Aku harus berjongkok, memegangi punggung, menunggu mereka benar-benar terjaga
Edward masih belum bisa membuka mata, duduk dengan mata terpejam, di bangku teras rumah gudang.
"Di rumah kita yang baru"
"Asiiiik, kita punya rumah baru!!!", Rossy berlari sambil tertawa dan bersorak
Edward mulai membuka mata, mendengar kegembiraan Rossy. Anak kembar punya perasaan yang bertaut.
Akhirnya mereka berdua terbangun dan berlari lincah, mengelilingi kebun yang tak terawat, seperti hutan.
Aku buka pintu rumah, semuanya masih sama, tak ada yang hilang, tak ada yang bergeser karena di pindahkan.
Pedang mainan Edward dan Rossy merupakan tongkat penyangga listrik, bukan karena pabrikkan, tapi karena kekuatan elektrik mereka yang tinggi selalu terserap ke dalam pedang saat sedang bermain bersama Abraham.
Pedang Edward kuletakan di tengah ruangan, pedang Rossy kuletakkan di lorong kamar mandi, dapur dan kamar tidur
Kamarnya cuma satu tapi cukup lebar, untuk sekarang cukup, nanti kucari lagi kasur untuk mereka.
Tak ada makanan untuk malam ini. Aku lapar sekali, anak-anak pasti lapar juga.
Salmon! Apakah masih ada?
Aku keluar menuju kebun, ke tempat kolam kecil dalam, tak nampak apapun seperti dulu, harus diberi makan dulu, kalau ingin ikannya keluar.
Aku tak punya makanan apapun untuk dilempar.
Di sisi kebun, masih menjulang pohon apel dan peach, buahnya lebat.
Aku berlari mengambil keranjang kecil dari dapur, lalu berlari keluar dan terbang ke pohon
Edward, Rossy mengikutiku terbang dengan sayap mungil mereka, berpendar bercahaya sangat indah.
Kami dengan riang mengambil buah-buah matang dari pohon, sudah penuh keranjangku, Edward dan Rossy lapar, mengambil buah mencuci buahnya di kran air kebun, lalu memakan buah-buahan dengan lahap.
"Edward, Rossy kemari! Menurut ibu, di kolam kecil ini, banyak terdapat ikan, ayo kita test", aku masukan potongan kecil buah peach, airnya masih tenang, aku masukan lagi potongan-potongan kecil, tak ada reaksi.
Air kolam, menjadi berputar punya pusaran, lalu dari tengah pusaran itu muncul ikan salmon besar, sebesar anakku.
Ikan itu menggelepar di tanah, Edward dan Rossy, mencoba menenangkan ikan yang bergerak-gerak itu, mereka tertawa gembira sekali
Aku sudah terlalu lama tak pernah kesini, ikan yang dulu kecil, sekarang sudah menjadi besar begini, tak mau lagi makan potongan buah, mereka mau buah utuh
Malam ini, kami makan besar, makan ikan bakar, dan sayur jamur putih dicampur bunga perasa.
Selagi anak-anakku makan, aku membersihkan rumah yang sangat berdebu. Untunglah air keran kamar mandi masih berfungsi.
Tengah malam, anak-anakku tertidur di kursi ruang tengah. Aku sudah selesai membersihkan rumah, seadanya dulu, besok kulanjutkan lagi, agar tak berantakan dan berdebu saja
Aku memindahkan mereka di kasur yang satu-satunya, cukup besar, cukup untuk kami bertiga
Untunglah aku tak butuh pemanas air seperti suku pengisi, aku suka air dingin. Berendam di air yang masih mengandung air jeruk hutan, membuat kulitku menjadi putih mengkilat, dan rambutku menjadi putih. Aku harus membuat rambutku menjadi grey setelah mandi.
Rumah ini, menyisakan kenangan yang indah buatku, aku masih ingat tiap detilnya. Saat pertama, menginjakkan kaki disini, merawatnya, lalu hidup berdua dengan Andro dan diusir paksa oleh Spain.
Rumah gudang ini saksinya.
Lebih baik aku akhiri saja berendamnya, kalo tidak mataku besok akan sembab. Dan anak-anakku akan bertanya seharian, mengapa mataku sembab, mereka tak suka melihat ibunya menangis.
Bau seprei kasur, yang aku ambil dari lemari pakaian seperti habis dicuci. Tak gatal, seperti ada yang merawat seluruh isi lemari.
Anak-anakku tidur pulas sekali, setelah satu minggu setiap malamnya kami tidur di tempat duduk di pusat kota. Aku menidurkan mereka beralaskan pahaku.
Tak ada sedih di wajah mereka, asalkan bersamaku. Tidur di bangku-bangku istirahat sepanjang Inti Rocks adalah hal biasa bagi orang-orang Edges, kami tak cukup akses untuk bisa menginap.
Kami tak pernah merasa kedinginan tidur di bangku karena kami suka hawa dingin, semakin dingin semakin baik. Bangkunya dialasi selimut tebal, cukup nyaman. Hanya tak nyaman, untukku. Aku tidur sambil duduk.
Akhirnya bisa tidur terlentang, Ya Tuhan, hanya bisa tidur terlentang saja, sungguh merupakan kenikmatan. Mataku tak mau lagi terbuka, hanya mau terpejam, lalu gelap
*******
Sinar matahari pagi menyinari kaca kamar, aku terbangun. Sudah siangkah? Celaka!
Jam di tangan Edward menunjuk jam 6 pagi. Syukurlah belum terlambat.
Aku lari cuci muka, menggosok gigi. Aku lihat beberapa seragam cleaning service yang diberi Miss Juanita. Masih sama bajunya, seperti bagian dapur dulu, aku memakai baju untuk hari ini, hari selasa.
Anak-anakku tak perlu dibangunkan, siapkan saja ikan bakar dan sayur nya lagi. Mereka sudah kulatih mandiri dari kecil selama di Edges.
Di meja makan, kutempel note, "Ini ikan bakarnya, dilarang bertengkar, ingat mandi! bauuuu keringat!!!! Ibu kerja dulu".
Sejak kecil, mereka sudah bisa membaca, dan sering ku tinggal kerja mencari bunga perasa, atau kerja serabutan apapun di Tepian.
Bedanya, disana aku bisa menitipkan mereka pada tetanggaku, disini mereka benar-benar sendiri.
Keluar dari teras, aku berikan kekuatan inner di pintu rumah, sehingga terhubung dengan jiwaku.
Melangkah keluar kebun melewati jalan ini lagi, aku tiba-tiba seperti melihat Andro, di luar pintu gedung dapur, melambai padaku.
Aku berlari, lalu diam mematung, Andronya tak ada lagi, ingin sekali memeluknya sekali lagi, memeluk tulang- tulang keras itu, yang memberi banyak kehangatan dan perlindungan.
Menjadi ibu tunggal dari anak kembar, membuatku merindukan kasih sayang ayah dari anak-anakku.
Air mataku mengalir deras lagi, melewati half shield. Tanganku sedikit gemetar, mengusap air mata yang membasahi wajahku. Aku harus kuat, hanya sebentar saja, sampai The First kuambil lagi