Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Peach Kering


PEACH KERING


Semua berkumpul di tengah ruangan. Kamar kamar dibuka, semua jendela atas dan samping ditutup. Mereka berkumpul di tengah perapian. Kamar-kamar dibiarkan terbuka. Di dalamnya tidur anak-anak kecil dan ibunya. Jayana tidur di kamar terbuka diatas kasur sendirian. Dia langsung tertidur pulas. Badannya masih lemah


Kekacauan ini, membuat banyak diantara kami yang terguncang. Kami tak mau berpisah satu dengan yang lain. Melihat banyak orang berkumpul juga merupakan obat tersendiri.


Andy belum tidur dia hanya bersandar disisiku di sofa yang nampaknya sering sekali diduduki. Edward tiduran diatas pahaku beralaskan bantal


Andy meredupkan lampu penyangga. Dia terus menatap ke arah kamar Jayana. Dia tak bisa berkata banyak. Hanya kelegaan luar biasa terlihat di raut wajahnya.


Malam ini semua lelah. Semua ada dalam posisi beristirahat dengan bisa melihat satu sama lain. Banyak kasur di istana bawah.Tak ada yang tak nyaman.


"Aku lapar, kalian lapar?"


"Aku lapar!"


"Anakku belum makan apapun hanya air dari kemarin"


Mereka yang berkumpul saling bersahutan, mengatakan lapar


Andy yang saat ini duduk di sofanya, sambil bersandar, seketika berdiri lalu memberikan energi listrik lebih pada listrik tongkat penyangga di tengah ruangan.


"Meridian, masaklah untuk kami"


Teman Andy yang itu tak banyak bicara, dia langsung berdiri dan pergi ke sebuah ruangan.


Ada seorang ibu gendut dari keluarga ibu, mengikuti Meridian."Hai nak, kau mau masak?"


Meridian mengangguk


"Aku bantu"


Kemudian ada beberapa orang lagi yang ikut berdiri. Mereka secara sadar memilih untuk membantu Meridian, mungkin agar cepat jadi masakannya


Satu setengah jam kemudian. Masakan porsi besar datang. Tak ada prasmanan. Semua orang punya bagiannya dipiring masing-masing.


"Maaf semuanya, hanya ini yang bisa dimasak cepat, karena semua cadangan makanannya membeku. Kami sudah dua bulan tak pernah kemari"


Meridian mengatakan itu, dengan badan dibungkukan sangat rendah.


Makanannya hanya sosis dan jagung rebus. Lumayan enak dan cepat.


"Kau makanlah Andy!", Meridian mendekati Andy. Sambil membawa menu yang sama untuk sang raja


"Maaf tak istimewa buatmu, hanya bisa ini"


"Makasih Meridian, ini sudah lebih dari cukup, kita semua bisa makan"


"Aku sudah mengeluarkan beberapa ikan untuk sarapan besok, tapi...."


"Aku tahu, tak ada lagi makanan"


"Kita harus mengambilnya ke luar"


Mereka berdua berbincang serius. Andy membiarkan semua yang didekatnya mendengarkan pembicaraan itu.


"Mungkin ketika kita keluar mengambil persediaan makanan, kita bisa bertemu banyak orang yang belum mengungsi"


"Sangat mungkin"


Sekarang John dan Hans ikut bergabung. Hanya Wei long yang nampaknya asyik berbincang dengan rombongan keluarga yang ikut berkumpul menikmati jagung dan sosis


"Kau akan membawa semua yang kita temui ke bawah sini?"


"Aku pikir bersembunyi bukan ide yang baik"


"Kita harus memiliki gedung yang bisa kita gunakan untuk mengumpulkan orang banyak"


"Gedung?"


"itu sangat terlihat, harus diberi perisai agar tidak diserang"


"Lihatlah sekelilingmu, siapa yang bisa membuat perisai kuat untuk sebuah gedung?!"


Mereka diam sambil mengunyah makanan


"John, kau tak cukup kuat?"


"Harus ada sepuluh orang lagi sepertiku, baru bisa membuat perisai gedung"


"Aku bisa membantu", Andy yang sedari tadi diam sekarang ikut bersuara


"Mungkin aku juga bisa bantu!", Edward ikutan


"Bagaimana istriku, kau bisa membantu", tanya Andy sambil menatap lekat ke arahku


"Tentu saja, aku akan membantu"


"Gedung militer yang paling cocok, tinggal mengumpulkan persediaan makanan saja. Disana juga ada asrama. Gedung itu besar, sangat besar!"


"Apa ada yang sudah pernah memeriksa gedung itu?"


Andy, sekarang bertanya pada Hans dan Meridian? Mereka berdua menggelengkan kepala


Semua hening, tak ada yang menjawab


"Baiklah, terima kasih"


"Nampaknya kita harus mengamati gedung militer besok"


Yang duduk di sekitar Andy mengangguk. Mengiyakan perintah Andy


"Meridian kau tetap disini bersama Edward, kau harus masak untuk mereka"


"Edward.....?", Meridian nampaknya ragu untuk bisa bersama dengan Edward


"Tenanglah Meridian, Edward bukan yang harus kau awasi tiap saat. Dia sangat mandiri. Dia bahkan terbang sendirian dari pulau terasing diatas dan berhasil menemukanku"


Mata Meridian seketika berbinar mendengar penjelasan Andy.


"Andy,....Jayana?", Meridian mengingatkan Andy


"Dia hanya butuh istirahat dan makanan yang lembut. Banyak orang disini, aku akan minta salah satunya memperhatikan Jayana"


Setelah semuanya selesai makan, dan dapur selesai dibereskan. Kami bersiap untuk tidur kembali


**********


Sudah pagi, koin di tanganku menunjukan saat ini sudah jam enam pagi. Aku mendengar suara orang ramai di ruangan dapur. Meridian sudah tak ada, dia pasti sudah memasak didapur, bersama orang-orang yang membantunya tadi malam


Pahaku sakit dan kaku, kepala Edward sudah sangat berat. Aku memindahkan kepalanya ke sebelah, dia sudah beralaskan bantal tapi masih saja ingin tidur di atas pahaku


Kepala dan badanku bersandar di sisi tubuh Andy. Aroma tubuhnya sudah tak terlalu harum seperti dulu ketika pertama bertemu di kursus. Mungkinkah karena dia pernah sakit parah, atau karena hal lain


Aku lihat garis wajahnya, masih tampan seperti dulu. Tapi sudah ada kerutan di ujung matanya dan keningnya. Dari kejauhan mungkin tak terlihat. Tapi dari jarak sedekat ini, sangat nampak


"Hannah.....", dia menggumam lirih memanggil namaku, tapi matanya terpejam. Sepertinya mimpi buruk


Bahkan ketika aku disisinya, dia masih memimpikanku. Kemudian matanya pelan-pelan terbuka. Aku tersenyum memandangnya dalam jarak yang sangat dekat


Dia mengecup keningku, lalu memelukku. "Ingin sekali dari dulu aku terbangun, dan melihat kau disisiku", Andy berbisik


"Aku juga merindukanmu", aku tak tahu mengapa mengatakan itu untuk Andy. Dibalik keresahanku atas keputusannya terhadap hidupku dan anak-anak yang aku tak mengerti. Di hati ini, aku masih menginginkannya


"Kau tahu Andy, mungkin semua yang disini bisa melihat kita?!" ucapku lirih


Dia melepas pandangannya dariku, "Mungkin Meridian punya sesuatu yang bisa kita makan untuk sarapan"


"Kau lapar?"


"Tidak, aku ingin pergi ke gedung militer sekarang"


"Aku lihat ke dapur"


"Aku ke kamar mandi dulu", balas Andy


Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruangan dapur. Suara gaduhnya membuat ku cepat sampai


"Meridian kau ada makanan yang bisa siap sekarang, Andy ingin sarapan sekarang. Dia ingin cepat ke gedung militer"


"Semuanya masih setengah beku, mereka membantuku melelehkannya"


"Bagaimana jagung dan sosisnya masih ada sisa?"


"Habis semua"


"Andy suka memakan buah peach kering", Meridian menunjuk toples sedang di sudut. Peach kering dari rumah gudang?


Aku berjalan mengambil toples itu. Lalu keluar dari dapur. Dalam perjalanan, aku memikirkan Andy yang begitu merindukanku. Dia merawat semua bajuku, menjaga rumah gudang tetap rapi. Dia bahkan mengeringkan buah peach ini. Mungkin kepribadian Andy sekarang dan dulu tak sama lagi. Begitu juga pribadiku


Tapi aku menyadari kita berdua telah bertumbuh menjadi pribadi yang sangat berbeda, dan masih saling merindukan


Andy sudah mencuci muka, berjalan hati-hati ke arah sofa tempatku duduk


"Masih banyak yang tertidur", bisiknya pelan


"Kau bawa makanan apa?"


"Hanya ini", aku mengangkat toples buah peach


Dia agak tercengang, "Kau tahu Hannah, sebelum kau datang menjadi Merryl, aku sudah sering mengambil buah peach untuk dikeringkan"


"Tapi saat aku dan anak-anak datang kebun seperti hutan"


"Ha ha ha", aku tak berani mendekat ke kebun, belum berani"


"Tapi rumah dan isinya kubersihkan"


"Kau dibantu siapa?"


"Sendirian", jawaban yang membuatku tak bisa bertanya apapun lagi. Dia mengambil buah peach dan merawat rumah gudang untuk menghilangkan kesedihan. Tentu saja dia tak ingin bersama siapapun


Nampaknya hidupku lebih bahagia, karena aku punya Edward dan Rossy


Kami makan buah peach kering tanpa banyak bicara lagi. Pernah mempunyai pengalaman kehilangan satu sama lain, membuat hidupku dan hidup Andy diliputi kesedihan, membuat sarapan buah peach menjadi penuh perenungan