Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Kebun Bunga Perasa


KEBUN BUNGA PERASA


Sudah satu tahun aku tinggal di belakang gedung dapur. Kerja kerasku di kebun membuahkan hasil yang sempurna, kebunnya menjadi sangat indah. Aku hanya merapikan, memang dari awal kebun ini sudah sangat menawan.


Mungkin ini dulu kebun untuk stok bunga perasa Kingdom, tapi tak terawat. Ada sembilan buah lingkaran, untuk masing-masing bunga perasa. Dan satu pohon mati yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya jamur putih.


Di sekitarnya banyak pohon peach dan apel, tak ada daging rusa disini, tapi aku bisa makan semua tumbuhan itu. Melegakan sekali tinggal di kota asing, tanpa kelaparan.


Di tahun ketiga aku bekerja, akhirnya semua bunga perasa tumbuh dengan subur. Aku selalu iseng bertanya pada ibu, tentang cara menanam bunga perasa dan jamur putih. Ibu menjawab tanpa curiga, yang dia katakan kupraktekkan di kebun.


Ayah dan ibu, menghormati semua keputusanku, tanpa banyak bertanya. Punya orang tua seperti mereka adalah kebahagiaanku yang utama.


Setelah tiga tahun, tugas mencuci peralatan makan My King, akhirnya resmi menjadi milikku. Kelly tak tahan dengan luka melepuhnya, uang tambahan karena mencuci peralatan makan My King, habis untuk membeli obat luka bakar.


Hari ini, kantor utama sibuk sekali, mereka bolak balik meminta makanan dari dapur, chefnya sampai ganti lima kali karena terlalu banyak tugas. Katanya banyak kunjungan dari berbagai kota di Rocks, mereka harus membuat banyak dokumen dalam banyak bahasa.


Seharusnya hari ini aku libur, tapi karena kunjungan ini, kami semua harus masuk kerja. Tak ada peralatan My King yang harus di cuci, jadi aku diperintah ke tempat pertemuan utama untuk beres-beres disana.


Aku diminta membereskan meja-meja tempat para utusan datang. Semuanya adalah petinggi suku penyangga dan suku pengisi di Rocks. Jadi mereka sudah sangat tua, dan masih berbicara dengan bahasa asli.


Suku pengisi sangat banyak dan mempunyai bahasa yang cukup mirip, aku mendengar perdebatan, karena banyak salah terjemahan di tablet layar kecil untuk masing-masing utusan. Satu meja, satu utusan, satu tablet layar kecil.


Ini hari terakhir, dan mereka masih saja berdebat tentang bahasa. Di atas panggung ruang pertemuan ada screen besar yang berisi naskah asli pidato sambutan My King, dan banyak prestasi yang dicapai Kingdom selama sepuluh tahun terakhir. Screen itu ada dalam banyak bahasa.


Yang mereka perdebatkan ada di screen besar itu, aku hanya mengamati sambil menyediakan makanan untuk mereka.


Jam delapan malam, Pak Millard datang ke ruang utama.


"Ok, sudah cukup, sepertinya kalian terlalu lelah untuk melanjutkan tugas ini. Istirahatlah!"


"Tapi Pak Millard, terjemahannya masih kacau, kami tak ingin Kingdom jadi bahan tertawaan".


"Memang tak ada yang bisa menyamai keluarga kerajaan, kalian tenang sajalah, sudah biasa kita salah dalam menterjemahkan. Kalau mereka bingung, ada banyak bahasa di layar besar, tinggal mencocokan saja artinya", Pak Millard pasrah.


"Jenny, kau dan bawahanmu bereskan dokumen yang berserakan ini, dan jangan di pindahkan tempat tablet layar kecil yang ada diatas meja-meja utusan, susah untuk mencocokan dengan suku pengisinya, biarkan layar besar menyala, biar mereka ingat sampai mana kerjaan yang belum selesai", perintah yang sangat panjang dari Millard.


Selasai mencuci peralatan makan, Jenny dan teman-teman selalu menyisakan aku untuk membereskan sisanya. Tiga tahun bersama mereka tak membuat kita menjadi lebih akrab.


"Hannah ini kunci ruangannya, jangan lupa matikan lampunya", baik bu Jenny.


Hmmm, sendirian, apa sih yang diributkan karyawan itu?, coba kulihat dilayar besar.


Ternyata ada beberapa terjemahan yang kurang pas. Aku lihat ke belakang ke sekitar, tak ada orang. Aku pernah mengoperasikan screen besar seperti ini, sewaktu di Tepian, mungkin caranya sama.


Jiwa usilku main, aku gemas dengan terjemahan yang salah, ini bisa membuat salah paham, aku mengkoreksi banyak bahasa. Mereka berpendidikan tinggi, tapi payah. Jangan-jangan tabletnya juga dipasangkan di kursi yang salah. Aku lihat bahasa di tablet, dan nama suku di mejanya, benar juga separuh dari tabletnya salah tempat.


Hari ini sibuk, aku pasti tidur pulas malam ini.


"Millard memanggil !, Millard memanggil !"


Jam berapa sekarang, bukankah masih jam lima pagi, ada apa Millard?, "Hannah, kau lupa ini hari pertemuan agung, kau harus ada disini, sebelum My King datang, My King akan datang pagi, mengecek terjemahan, karena selalu ada yang salah dan a b c", paaaaanjaaaaaang Millard menjelaskan, rasanya cukup bila dipakai waktunya untuk mandi dan sarapan.


"Baiklah pak Millard, saya akan datang, tempat tinggal saya dekat", ada suara lega dari sana, sepertinya Milard baru sadar aku tinggal di belakang gedung dapur.


Jus buah peach dan apel ditambah bunga perasa hijau untuk sarapan hari ini, keripik jamur putih yang berwarna-warni, sisanya kutunggu makanan dari kereta dorong My King.


Di dapur, para chef sudah bersiap, dengan alat-alatnya, jam enam pagi sudah sibuk sekali.


Aku mengantar sarapan untuk My King, kali ini diantar ke ruang pertemuan. Dia gagah sekali dengan kemeja putihnya, badannya tegak pandangannya tajam, membaca tulisan di layar besar.


"Millard, kemarilah, apa kau yakin, karyawan kita yang mengerjakan ini?", tanya My King ke Millard.


"Iya Yang Mulia, saya yakin sama seperti momen-momen pertemuan suku yang lain, pasti banyak yang salah ya?", suara Millard lemas.


"Bukan begitu Millard, sebaliknya, ini adalah terjemahan yang sempurna, seperti suku aslinya yang menulis, luar biasa, aku harus memberi penghargaan pada mereka", Millard bingung tapi tetap tersenyum.


Saat pertemuan dimulai, aku mendampingi My King, untuk mengambil makanan dan minuman. Sampai setahun aku harus memakai masker dan sarung tangan untuk melayani My King, karena keringat dan salivanya tidak bisa sembarangan disentuh, katanya karena dulu pernah diracun.


My King banyak memuji kerja keras bagian penterjemah, "Acaranya sangat sukses, salah mentranslate membuat acara jadi mulur karena banyak protes. Sekarang benar-benar tepat waktu, kalian sudah bekerja keras, Millard beri mereka hadiah koin akses".


Kemudian My King bicara dengan bahasa suku lokal yang banyak di barat Edges. Para penterjemah itu diam, tak merespon, sial My King tahu itu bukan karya mereka, terjemahan suku pengisi di barat Edges yang paling banyak salahnya.


Aku hanya bisa mematung, di belakang sudut ruangan menunggu di belakang kereta dorong makanan My King. Semoga ulah isengku tak ketahuan.


Sampai akhir acara, aku aman. Semua orang pegawai makan-makan kecuali aku. My King duluan meninggalkan gedung setelah semua utusan pulang, aku sengaja masuk ke ruang cuci, Lalu makan sisa makanan My King, tak ada yang salah, semuanya enak, tak masalah.


"Hannah, kau sedang apa?!", suara bu Jenny mengagetkanku, "Hmm ini bu, aku lapar , jadi aku makan sisa My King".


" A a aku membawa makanan untukmu, aku lihat kau belum makan apapun dari pagi", Bu Jenny memperhatikanku, dia menemuiku sambil membawa semangkuk sup telur, dan susu.


"Kau tak sakit Hannah, makan semua ini", sambil menunjuk kereta dorong My King.


"Tak apa Bu Jenny, aku sering memakannya, mungkin karena makananku berantakan jadi tak masalah, tolong jangan beritahu siapapun. Tapi, masakan untuk My King benar-benar enak".


"Kau yakin Hannah tak apa?, aku mengangguk.


Lalu dia pergi meninggalkanku, setelah meletakan semangkuk sup dan susu hangat untukku. Semoga Bu Jenny tak mengadukan aku ke siapapun, bahwa aku bisa makan makanan My King.