Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Tidur Ternyenyak


TIDUR TERNYENYAK


Pagi ini, aku dan Hannah melakukan survey di kampung sebelas. Penduduk kampung sebelas lebih banyak dari kampung sembilan. Kali ini aku tak ingin berpisah dari Hannah, aku menemaninya. Hannah tak terbiasa dengan sikapku yang baru. Dia memandangku lekat-lekat, aku tak peduli, aku ingin dia mendapat perhatianku.


Kami mendapat pesan untuk mensurvey tetua di pilar atas. Jalan menuju kesana cukup terjal dan berliku. Nampaknya jalan ini tak pernah dilewati manusia, aku tebak mereka kesini dengan terbang.


Sampai di rumah tetua, aku dikejutkan dengan tampangnya yang kelihatan lebih muda dari sesepuh di kampung sembilan dan sebelas. Namanya Abraham, dia menatapku tajam, ingin melakukan telepati terhadapku. Tapi innerku sangat lemah, aku tak mendengar apapun.


Aku ingat dulu ayah, pernah menyebut nama Abraham sebagai teman kakek. Ayahku pasti senang mendengarku bisa bertemu dengan teman kakek. Meski ayah tak menyukai keputusan yang kakek buat terhadap Rock Collapse, mungkin dia tak menolak teman kakek, seperti Abraham ini.


Aku lihat Abraham menatapku tajam, seperti hendak melakukan telepati padaku. Tapi aku tak mendengar apapun, dia tahu aku sakit.


Innernya yang luar biasa pasti bisa menebak siapa aku sebenarnya.


Kampung sebelas memang luar biasa dari pemuda sampai yang tertua mempunyai inner tinggi.


Aku merasa lega, bahkan dari yang tua hingga yang muda, tak mempermasalahkan Hannah, inner mereka semua, menyatakan Hannah mencintaiku. Melegakan sekaligus membuat aku ingin menaklukan Hannah agar bisa membuka diri denganku.


Setelah pulang survey dari rumah tetua Abraham, aku tak bisa membuka mata lagi lebih dari jam sepuluh malam. Mataku seperti sudah ada pengaturnya, ini semua karena jam disiplin di Kiehl.


Aku memilih tidur di sofa sama seperti kemarin. Hannah tak banyak bicara hari ini padaku. Dia hanya bicara pada penduduk, tapi tidak padaku. Aku mencoba mengerti kemarahannya, karena aku pun begitu kemarin terhadap nya sebelum aku diyakinkan oleh para penduduk yang ber inner tinggi.


Tengah malam Hannah terbangun lagi seperti kemarin. Dia membuka half shieldku lalu memandangku lama. Aku sengaja memandang balik matanya yang sayu melihatku


Aku tak kuat lagi menahan gemuruh di jiwaku. Aku berdiri mendekap Hannah dengan kuat, aku tak mau lagi menunggu. Kami sudah sah.


Dalam pelukanku Hannah seperti mencari aroma tubuhku. Aku tak kuat menghadapi sikap nya yang begitu, dia pasrah dengan semuanya. Ini resmi menjadi malam pertama kami.


Tidur malam ini adalah yang ternyenyak sepanjang hidupku. Aku merasa menjadi orang yang paling dicintai di dunia ini.


Pulang ke Kingdoms dengan status baru sebagai suami Hannah. Aku harus membuktikan pada Hannah aku adalah lelaki yang tepat untuk dia.


Setelah beberapa bulan mencoba menjadi suami sempurna, aku mulai melihat perubahan sikap Hannah. Dia mulai menerimaku. Tak lagi wajah kusut ketika melihatku, tapi wajah mengharapku tak pergi.


Pernikahanku dengan Hannah belum aku kabarkan ke ayah, aku masih pulang ke istanaku tiap malam. Aku masih belum menyiapkan diri untuk berbicara pada ayah tentang Hannah. Dia bukan penyangga putih yang berlevel seperti yang ayah harapkan. Dia menjadi penyangga putih karena ketekunannya dalam melakukan sesuatu, bukan karena turunan.


Hannah tak pernah minta di kenalkan pada orangtuaku, aku pun sama. Aku tak pernah minta di bawa ke rumah orang tuanya di timur Edges. Kami saling mengerti.


Setelah melakukannya tiap malam, aku selalu melihat sedikit wajah cemas di matanya. Mungkin karena hubungan kami terjadi tanpa restu orang tua. Maafkan aku Hannah, aku masih bingung mengungkapkannya pada ayah.


Data pengesahan pernikahan kami, belum muncul juga di sistem. Padahal kalau itu muncul, aku punya alasan pernikahan kami dilakukan karena ada tuntutan pekerjaan. Tapi data pengesahan itu tak kunjung keluar dari sistem informasi. Aku kehilangan ide untuk memberitahu ayah.


Hubunganku dengan Hannah tak baik-baik saja, aku masih cemas dia akan meninggalkanku.


"Andro kau lihat dimana kusimpan koinku", Hannah selalu mencari koinnya sebelum tidur, dia pelupa. Itu satu-satunya yang Hannah minta dariku, mencarikan koin untuknya.


Aku meninabobokan Hannah, setiap malam, awalnya dia sungkan, "Mengapa kau tak langsung pulang saja Andro, aku biasa dirumah ini sendirian", Hannah menanyakan sikapku yang selalu pulang menunggu dia tertidur.


"Aku ingin, aku adalah lelaki yang terakhir kau lihat sebelum tidur, aku tak ingin ada yang lain", Hannah hanya tersenyum lalu tertidur.


Jawabanku atas semua hal ditanggapi dengan kesan yang sama, kadang ku pikir Hannah tak pernah mencintaiku, dia hanya bertahan tak punya pilihan.


"Hannah kau menceritakan pernikahan kita pada ayah dan ibumu?", sore itu di kebun bunga perasa


"Iya sudah", Hannah menjawabnya enteng, sambil menyiram bunga


Aku tak habis pikir, mengapa Hannah gampang sekali menceritakanku pada orang tuanya?


"Kau mengatakan kita sudah menikah?"


"Iya"


"Kau mengatakan data pernikahan kita sudah dimasukkan ke sistem pusat?"


"Iya"


"Bagaimana mereka meresponnya, apa tak marah?"


"Iya"


"Kau mau mengajakku bertemu orang tuamu?"


"Iya"


Jawaban singkat Hannah membuatku senang sekaligus panik. Aku tak siap memperkenalkan Hannah pada ayah.


Kehidupan suami istri kami, hanya diketahui oleh tim Miss Reina. Wei dan Jasmin tak pernah menceritakan pada siapapun, karena aku memohon pada mereka. Mereka juga tahu aku mengalami krisis kepercayaan diri karena wajahku yang jelek.


"Aku tak siap bertemu dengan orang tua Hannah, kau tahu kan Wei, Aku takut orang tuanya akan berpikir aku memanfaatkan kebaikan Hannah" , karena dalam situasi yang normal Hannah pernah menolakku.


"Andro, kalau kamu ingin hubungan mu langgeng, kau harus cari cara menemui orang tuanya", gaya Jasmin menasehatiku.


"Iya Andro, kalau dia tak menginginkanmu dari awal dia pasti sudah menjauhimu", giliran Wei sekarang menasehatiku.


Aku diam mendengar nasihat mereka, aku harus membuat Hannah diterima oleh ayahku.


Malam ini ayah ulang tahun, aku akan jemput Hannah menemui ayah. Aku datang lagi jam sepuluh malam setelah jam sembilan tadi aku menidurkannya.


Rumah Hannah kosong, tak ada siapapun disini, kemana Hannah?, aku tunggu Hannah sampai jam 12 malam. Dia belum datang, ini keterlaluan.


Aku menghadiri ulang tahun ayah sendirian tanpa Hannah. Besok akan ku coba lagi menengok Hannah jam segini.


Ternyata Hannah mempunyai kehidupan malam. Sudah tiga malam ku memperhatikan Hannah loyo sekali. Apakah dia melakukannya dengan pria lainnya?


Perayaan ulang tahun ayah selalu meriah, bahkan banyak pertunjukan dari berbagai departemen di kantor. Aku tak bisa menemui ayah secara terbuka, tengah malam mengetuk jendelanya sambil membawa Hannah tinggal mimpi.


Hari ini di ruang makan kantor, semua orang ribut tentang perayaan ulang tahun My King, ayahku. Saat ini amarahku tak terbendung, suara berisik ruang makan, banyak membuat aku hilang kesabaran.


Hannah harus menjelaskan semuanya padaku, tak bisa berlarut-larut. Aku bisa gila