Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Mataku Merah.


MATAKU MERAH


"Maaf nyonya, aku lalai menjaga anda" , bapak ini ketakutan sekali.


Aku benar- benar kesal kali ini, "Maaf pak.....".


"Jayana, saya Jayana nyonya".


"Jangan panggil saya nyonya lagi. Saya belum menikah!. Terus saya ingin tanya, kenapa saya di bawa ke kamar ini. Kamar siapa ini? Apa perlu dia sama saya?" ,nafasku ngos- ngossan karena menahan marah.


"Mma ma maaf nyonya. Eh Nona. Saya tidak tahu apa-apa saya hanya disuruh Pak Andy. Saya permisi dulu" ,dia sekarang ketakutan melihatku.


Setelah Jayana pergi. Aku bercermin. Half shieldku dipaksa lepas oleh Nayys. Sakit sekali. Aku buka half shieldnya. Aku lihat wajahku tak kenapa-kenapa. Half shield yang ini rusak. Aku pakai half shield yang baru saja. Kulihat di cermin kedua mataku memerah. Aku kedip- kedipkan mataku, tetap aja merah. Mataku tidak pedih dan tidak gatal hanya merah. Half shieldnya yang baru pun terlepas tak mau menempel di kulit wajahku.


Lho kenapa dengan half shield ku!


Aku tambah lagi pelembab di wajahku. Half shieldnya masih baru, aku dapat satu bulan yang lalu, kenapa sudah rusak begini. Aku coba satu persatu half shield yang tersisa di ranselku lepas semua. Ini kenapa sih. Kok gak mau nempel.


Miss Brenda semoga nyambung telponnya. "Miss Brenda!!" Miss Brenda!!!". Koinnya berkedip terus mati. Masih belum tersambung. Aku sepertinya punya masker kain. Aku pakai itu aja dulu.


Sudah sore jam tiga, aku kurang tidur, half shieldku rusak.Tak ada satupun yang bisa di hubungi. Dan aku sendirian di kamar ini.


Aku mondar mandir di ruang tamu, dari jendela kamar. Kulihat kilatan petir dan suara gemuruh diangkasa. Apa yang terjadi di luar. Bisakah aku keluar dari hotel dan memeriksa keadaan di luar?.


PPRANG, kaca jendelaku di pecah. Seorang wanita berpakaian hitam ketat dengan sayap berukuran sedang. Mendarat dalam kamar. Aku kaget dan terjatuh, dia tak memakai penutup wajah. Wajahnya cantik sangat familiar.


Badannya yang tinggi semampai membuat dia sangat cepat mendekatiku, hanya dengan tiga langkah panjang. Dia mengangkatku tinggi, lalu menghempaskan ku ke lantai. Dalam satu hari aku dihempaskan ke lantai dua kali oleh orang yang berbeda. Kemudian dia mencekikku. Pak Jayana masuk ke dalam kamar bersama dengan banyak tentara. Mereka menyerang wanita itu dengan petir dan menombaknya


Tombak itu mengenai perutnya. Dia kalah, lalu mundur keluar melalui jendela yang pecah tadi. Aku lemas duduk di lantai. Pak Jayana dan mengajakku keluar dari kamar. Katanya tak aman disini. Aku diantar ke lobi hotel. Ramai sekali orang, lalu lalang sangat sibuk. Aku terduduk diam melihat ke sekitar, diluar hotel dijaga oleh banyak tentara.


Kelihatan dari sini, langit di penuhi oleh tentara berpakaian hitam dan kilatan petir dimana-mana. Pak Jayana meghampiriku, memberikan segelas jeruk panas. Ditengah suasana kacau begini, aku tak sanggup bilang ke Pak Jayana, aku tak bisa makan atau minum yang seperti sangat hangat seperti ini. Aku hanya bisa mengangguk, "makasih" ,kataku lirih.


Pintu hotel terbuka, rombongan anak kecil yang tingginya belum satu meter masuk ke lobi hotel ditemani oleh dua guru mereka. Ternyata para orang tua mereka sudah menunggu dari tadi disini. Sebagian yang mondar mandir di lobi hotel adalah orang tua dari anak-anak itu. Kedatangan mereka disambut oleh isak tangis ayah dan ibunya yang langsung memeluk mereka.


Pintu hotel terbuka lagi kali ini rombongan anak-anak seperti peri, mereka terbang dengan sayap imutnya. Rambut mereka murni. Mereka tak ada yang menyambut tapi langsung masuk ke sisi sebelah kanan hotel. Mungkin orang tua mereka ada di ruangan sebelah sana. Tak ada lagi yang masuk. Sudah malam. Di luar sepi, tak ada lagi suara petir, tentara yang berjaga di luar sudah berganti shift.


Aku ketiduran di sofa, terbangun karena Miss Brenda membangunkan ku.


"Ayo ikut aku, tak nyaman tidur di sini". Aku dibawa di ruangan sebelah kiri hotel. Ternyata disini adalah lorong besar yang kanan kirinya berupa kantor, banyak departemen disini.


Departemen kesehatan berada di ujung dekat lift. Ruangannya paling besar. Saat ku masuk, Miss Brenda memperkenalkanku.


"Ini Hannah ponakanku, dia tertidur di lobi ". Semuanya hanya menoleh sebentar senyum padaku kemudian melanjutkan aktifitasnya lagi.


Miss Brenda tak banyak bicara. Dia mondar mandir keluar masuk ruangan. Kemudian membawa satu box obat-obatan kemudian lari lagi masuk ke dalam lift. Aku ingin membantunya tapi kursus ku baru dua hari, aku tak bisa membantu apapun.


Jam dua dini hari Miss Brenda sudah sangat kelelahan. Dia duduk memejamkan mata. Kelelahan. Kemudian ada dokter yang mendatangi meja Miss Brenda, melihat dengan wajah yang sama lelahnya. Aku kenal wajah itu, itu dokter Brian yang mengambil bulu sayap di leherku. Dia melirik kepadaku, tersenyum ramah lalu mengambil satu box obat disamping meja.


Semuanya kelelahan. Negara sedang diserang pengacau.


Jam 4 pagi, Miss Brenda terbangun dan kaget.


"Ya Tuhan aku ketiduran", kemudian dia melihat kotak obat disamping meja.


"Hannah, apa kau melihat siapa yang mengambil box obat disini" ,sambil menunjuk kearah obat dia bertanya kepadaku.


"Dokter Brian Miss. Sudah dua box obat dia ambil". Wajahnya yang panik menjadi agak tenang. Kemudian dia berdiri lagi. Ke kamar mandi. Lalu pergi lagi ke lift.


Sesaat setelah Miss Brenda pergi. Ada bunyi petir keras sekali dari dalam hotel. Semua yang ada di dalam hotel berlarian keluar, mencari tahu yang sedang terjadi.


Aku pun ikut berlari. Kulihat lantai lobi hotel gosong di bagian tengah. Blokade tentara masih berjaga di luar hotel. Diluar terdengar suara petir keras sekali. Sekarang penyerangan sudah sampai depan hotel. Padahal ada dinding cahaya pelindung di belakang pintu masuk. Tapi petir itu kuat sekali bisa menembus dinding cahaya.


Tak ada yang terluka. Dinding atas pintu kaca berlubang, nampaknya petir tadi masuk menjebol dinding. Untung tak ada korban karena jam 4 pagi. Tak ada yang di lobi.


Dari lorong sebelah kanan hotel, terbang seorang gadis mungil menangis sambil berteriak memanggil mamahnya.


"Mamah!" Mamah"! ,dia terbang cukup tinggi, sehingga tak ada yang bisa meraihnya. Tentara bersayap semuanya diluar menghadang pengacau.


Dia terbang ke tengah lobi diatas lantai yang gosong. Mungkin orang tuanya sibuk dan dia kaget mendengar suara petir lalu keluar kamar.


Aku melihat ada kilatan cahaya masuk dari lubang diatas pintu dan mengarah ke bocah terbang itu. Semua yang melihatnya berteriak


"AWAAAAAS!!!!!"


Aku juga panik, aku berlari secepat mungkin menangkap gadis itu lalu memeluknya. Terdengar suara seperti listrik meledak lalu gadis kecil yang terbang tadi menangis di pelukanku.


Samar- samar kulihat ibunya berlari mendekatiku,


"Anakku kenapa kau disini!!!"


dia mengambil bocah terbang itu dari pelukanku. Aku lega gadis itu selamat.


Badanku lemas sekali.


Aku terjatuh di lantai, kulihat Miss Brenda, Pak Jayana dan Andy berteriak tapi aku tak bisa mendengarnya, kemudian semuanya gelap.