
ANDRO YANG LEMAH
Aku tak terima aku ditolak oleh gadis seperti Hannah. Harga diriku sebagai Pak Andy, masih kuat di diriku yang jelek ini.
Kiehl membuat orang yang tinggal disana menjadi kurus kering sepertiku. Sejak menolakku, Hannah bersikap seolah tak terjadi apapun diantara kami. Aku benci dia baik-baik saja, dan aku masih menginginkannya.
Kesibukan kami di administrasi, membuat perhatianku terhadap Hannah teralihkan. Hannah tetap tak bisa kupandang.
Aku pernah bertanya pada Wei, tentang Hannah, mengenai hidupnya sebelum bertemu denganku.
"Aku tak tahu banyak Andro, tapi dia itu memang jomblo dari dulu, dia ramah terhadap semua orang, tak ada yang spesial. Jadi, kau tau kan, para lelaki di kantor ini, dibuat bingung, percaya padaku Andro, aku tahu siapa saja yang naksir Hannah, mereka semua dibuat bingung", penjelasan Wei yang panjang lebar di ruang ganti karyawan, membuat aku agak senang, setidaknya Hannah tak pernah menolakku masuk ke rumahnya.
Tubuhku tak sempurna, kalau aku jadi perempuan, aku pun tak mau punya kekasih sejelek ini.
Sebentar lagi perayaan putih, ruang steril ibu akan dibuka, aku rindu sekali bertemu dengannya. Ibuku adalah perempuan paling cantik sedunia.
Pulang ke rumah, tanpa Jayana, sangat sepi. Biasanya dia selalu rewel, mengomentariku banyak hal. Ayah sengaja mengosongkan istanaku, hanya para pelayan yang datang ketika ku ke kantor, untuk membersihkan istana.
Alangkah indahnya kalau ada wanita secantik Hannah menemaniku di istana sepi ini. Setiap malam, aku berlatih kekuatan inner ku, tubuhku lemah sekali, karena berada lama di planet yang bukan asalku. Half shield ini berguna sekali menyesuaikan kulitku dengan suhu di Rocks.
Di Kiehl, walaupun beratmosfer sama seperti Rocks, tapi tetap saja sinar yang masuk dari bintang tak sama dengan di Rocks, begitu juga gravitasinya. Dan itu semua melemahkanku.
Kulitku coklat gelap, karena latihan fisik di Kiehl. Benar kata Nathan, Noah dan Joseph, aku akan seperti orang baru ketika datang ke Rocks Collapse karena tampilan fisikku jauh berbeda dari sebelumnya.
Perayaan putih sebentar lagi, ayah memberitahu untuk sering berkunjung ke ruang steril ibu. Setiap hari kucoba menyelesaikan tugas analisa sebanyak mungkin, agar malam hari aku bisa berkunjung ke ruang steril ibu.
"Andro, apa kau sudah menyelesaikan laporan yang kemarin?", suara merdu Hannah sangat mengganggu konsentrasi ku.
Tak perlu kujawab semua pertanyaannya, agar dia berhenti bertanya apapun padaku. Aku langsung menyerahkan laporannya ke meja Miss Reina. Wajahku yang kesal pada Hannah tak akan terlihat karena half shield.
Pernah suatu kali, aku melihatnya memandangku lama dengan wajah sedih. Aku tak suka dikasihani, aku bukan orang yang bisa dikasihani.
"Andro, berhentilah tak bertegur sapa dengan Hannah, aku jadi tak enak sendiri melihat kalian begitu, bicarakan baik-baik ", Wei menceramahiku lagi di ruang ganti.
Makan siangku tak lagi bersama mereka, aku tak sanggup melihat Hannah. Aku tak terima dengan diriku sendiri di usiaku yang sudah dua ratus tahun lebih, dan hanya Hannah yang bisa mencuri perhatianku.
Tapi dia menolakku, semua duniaku runtuh. Aku merasa menjadi orang paling tak beruntung di dunia, aku menyalahkan hatiku yang hanya mau berdebar kencang ketika dekat dengan Hannah.
"Andro bagaimana pekerjaanmu dalam tim Reina?" ,ayah bertanya padaku ketika selesai mengunjungi ruang steril ibu.
"Baik ayah, semuanya lancar", aku merasa tantangan di administrasi karena banyaknya tugas, bukan karena sulitnya pekerjaan.
Sejak serangan di hotel, aku berinisiatif membuat pusat data analisa sendiri, lepas dari militer, lepas dari pengawasan Spain.
Ayah menyebutnya bagian administrasi, usulku untuk membuat departemen pengolah data seperti intelejen tapi bernuansa terbuka bisa diakses siapapun, diterima oleh ayah.
Sebelum ke Kiehl, aku telah membuat rancangan kerja dan cara membuat analisa data dengan berbagai model, dan kuserahkan pada ayah.
Ayah, menggunakan rancangan model analisa dataku di sistem administrasi di layar tablet kecil, tempat data dikumpulkan.
"Ayah boleh kutahu, mengapa ayah sangat mempercayai Spain?", suatu kali ketika makan malam bersama di istana utama.
"Kenapa Andy, kau ragu pada Spain?", ayah tersenyum padaku.
"Spain, hmmmm agak sedikit unik dalam berpikir", aku masih belum mengerti cara berpikirnya.
"Dia cerdas Andy, dia melihat sesuatu di luar cara berpikir orang kebanyakan", ayah sangat memahami Spain.
"Nanti, kalau kau sudah resmi menjadi putra mahkota, kau akan tahu Spain dan keahliannya sangat berguna", ayah tak bisa menjelaskan banyak, tapi tetap saja aku harus waspada terhadap Spain.
Separuh kekuatan militer Rocks Collapse tunduk pada perintah Jenderal Spain. Aku tak bisa menutup mata, kekuatan pesonanya melebihi dari yang seharusnya. Dia harus diawasi.
Sudah satu minggu, aku meihat Spain bolak balik ke ruang administrasi menyerahkan data pergerakan akses, seluruh wilayah Rocks Collapse.
Dia selalu mengagunakan kekuatan telepatisnya menyapaku, " Pak Andy, bagaimana kabar anda?", andaikan aku masih punya kekuatan inner seperti dulu, sapaan Spain pasti kujawab dengan telepati lagi.
Tapi sekarang kekuatan inner ku nol. Aku tak bisa menggunakannya sama sekali.
Aku sering Spain menatap Hannah sama dengan tatapanku terhadap Hannah. Entah aku yang masih cemburu, atau memang Spain menyukai Hannah.
Aku tak bisa melakukan apapun, bahkan terhadap mata lelaki yang menyukai keindahan Hannah. Bukan hanya Spain, aku benci semua lelaki yang menatap lekat pada Hannah.
"Andy, kau satu tim dengan gadis yang bernama Hannah?", ayah pernah menanyakan Hannah padaku.
"Iya ayah, kami satu tim", aku menjawab heran tak biasanya ayah mengenal staff yang bukan kepala.
"Dia sangat menarik Andy, bakat yang sangat jarang kau temukan di Kingdoms", tak berani bertanya tentang yang ayah maksud "bakat yang jarang di Kingdoms", mendengar ayah mengatakan Hannah sangat menarik membuatku cemburu.
Ayah masih terlihat sangat tampan, meski sudah sangat tua. Kupikir jika ayah menginginkan yang lain menggantikan ibu, dia bisa menunjuk siapapun tanpa di tolak.
Fisik yang lemah dan jelek ini, membuat aku menjadi sangat sensitif. Aku rapuh dalam menerima semua hal yang berlawanan dengan kondisiku sekarang.
Aku masih dalam bayangan tubuh Andy yang gagah dan kuat. Susah untuk tak terluka, membandingkan dengan tubuh Andro sekarang.
Aku harus terus berlatih, dan makan yang banyak agar tubuhku cepat pulih. Untungnya otakku masih encer, tim Reina termasuk Hannah kerap kali memuji hasil kerjaku.
Kalau otakku ikutan lemah, lebih baik ku hidup Kiehl saja. Untunglah masih ada yang bisa kuandalkan dari diriku.
Kegiatan perayaan putih, selalu saja membuat pergerakan akses bergerak cepat, tapi tak akurat, karena data hanya berasal dari inti Rocks.
Aku mengusulkan untuk menganalisa pergerakan data akses dari Edges ke inti Rocks, dan juga sebaliknya. Sekalian mengetahui kekuatan ekonomi penduduk Rocks secara menyeluruh.
Selama ini pergerakan akses hanya dianggap sekunder dalam kemajuan Rocks Collapse. Yang diukur hanyalah kemampuan soft skill per individu seperti test-test dalam penerimaan karyawan. Padahal di kalangan suku pengisi, akses dianggap seperti mata uang di jaman bumi.
Ayah mendengarkan usulku dengan penuh minat. Ayah memang menggunakan akses sebagai alat tukar, tapi tak berfungsi sebagai uang. Akses hanyalah kumpulan impuls-impuls listrik untuk memperkuat elektrikal seseorang. Dalam perkembangannya terutama di suku pengisi, akses dijadikan alat tukar.
Pergerakan akses bisa dipantau, untuk menentukan banyak hal. Tapi data akses di Edges, terutama barat Edges sangat kurang. Bahkan militer tak bisa mengaksesnya, karena kejadian zombi tentara di Tepian yang membuatku di kirim ke Kiehl.