
BULU SAYAP SUKU PUTIH
Badanku segar sekali hari ini. Mana Miss Brenda? Jam berapa sekarang? Mana koin hologramku? Ooooh disana.... aku berjalan mengambil koin ku. Di sudut ruangan. Di atas meja untuk penunggu. Lalu kulihat daftar telepon, ibu, Andy, ibu, Andy, Andy....dan sisanya Andy 30 kali menelpon. Andy lebih panik ketimbang ibu.
Miss Brenda datang, "Hai Hannah kau sudah siuman, gimana sayang mualmu, sudah hilang kan...Brian dokter yang hebat, dia bisa mendiagnosa sumber penyakit mu dengan cepat. Kau mau makan Hannah, aku beli sup daging rusa plus kentang kesukaanmu".
"Mau Miss, aku lapar sekali".
Selesai makan, Miss mendekatiku, seolah ada hal penting yang mau dibicarakan. "Sini sayang... aku mau memberitahu sesuatu". Aku berjalan mendekati Miss Brenda. Dia memaksakan senyumnya. Aku duduk di sampingnya. Sambil membelai- belai rambutku yang kusut dia mulai mengatakan hal yang membuatku terpana. "Hannah, lambungmu sehat sekali, secara keseluruhan semuanya sehat. Tadi Brian melakukan pemeriksaan di tubuhmu, lalu menemukan ini". Miss Brenda memperlihatkan padaku, sebuah kotak kaca, yang isinya kira- kira seratus bulu-bulu sayap yang sangat tipis dan kecil. "Kau di marked Hannah....".
"Miss, jangan bercanda, aku masih memakai half shield kemana-mana".
"Awalnya aku juga tak percaya dengan diagnosa Brian. Tapi aku melihat sendiri jarum- jarum emas itu keluar dari tubuhmu".
"Kau sungguh- sungguh Miss!!??". Aku kembali melihat bulu- bulu sayap itu. Indah sekali!!!. "Ini bulu sayap apa Miss?".
"Kata Brian dari bentuknya yang tipis dan kecil, bulu-bulu sayap ini tak sengaja dilepaskan oleh orang yang menyukaimu".
"Jadi orang itu juga tak mengetahuinya!"
" Iya". Miss mengangguk pelan.
"Ini adalah darah Hannah, saat di dekat tubuh yang melepasnya bulu-bulu ini akan menempel seperti magnet. Jumlahnya sekitar seratus, terlalu banyak sehingga kau mual dan muntah seperti itu. Saat bertemu dengan suku putih, cobalah dekatkan jarum- jarum ini, dia akan menempel pada tubuh yang melepasnya".
Suku putih!!!Miss Brenda....satu- satunya suku putih yang kutemui hanya My King, di Kafe Bu Mimmi. Bahkan di Kafe itu, My King masih sangat terlihat mencintai istrinya.
"Miss, aku tak pernah bertemu dengan suku putih" bicaraku lirih. Miss Brenda kemudian menyandarkan badannya ke dinding. Pandangannya menerawang. Matanya yang bulat hitam berkaca-kaca.
"Suku putih tidak habis Hannah, hanya bersembunyi berbaur dengan suku pengisi. Mungkin kau telah bertemu suku penyangga putih, tapi tak mengenalinya. Coba dekatkan pada semua orang yang pernah kau temui akhir- akhir ini. Masukan saja pada liontin kalungmu. Nanti bulu sayap akan bereaksi pada tubuh yang melepasnya".
************************************************
Tubuhku sudah sangat sehat. Tak ada mual lagi. Aku menyimpan dua puluh bulu sayap pada liontin kalungku. Pagi ini, kursus memberi pesan suara, aku diterima. Mulai kursus jam satu siang sampai waktu yang di butuhkan. Bahkan bahasa yang digunakan untuk memberi pengumuman sudah membuat tak nyaman yang mendengar.
Sebelum pergi ke kantor, Miss Brenda mengingatkanku untuk memakai liontin yang berisi bulu sayap itu. Dia juga penasaran sekaligus kesal karena efeknya. Aku membuat daftar tempat yang harus dikunjungi. Pertama Kafe Bu Mimmi. Ups...terlalu jauh. Aku coret Kafenya, kuganti dengan....Kursus. Ok, kursus adalah yang paling mungkin. Di buku aku menulis nama-nama orang yang pernah aku temui di kursus. Banyak juga ya....masih jam 9 pagi.
Tadi malam ibu memberikan jadwal latihan fisik untukku. Kata ibu, badanku terlalu lemah sampai bisa di marked begitu banyak.
Latihan fisik pertama, chikung. Latihan kuno ini sudah sangat tua. Latihan ini cocok untuk tubuhku melatih kekuatan dan konsentrasi. Setelah selesai selama 45 menit, tubuhku lumayan berkeringat.
Latihan kedua, angkat gelas. Chikung yang berhasil selalu ditandai dengan kemampuan telekinetik, ayah yang mengajarkan. Di depan meja makan, aku berdiri kira kira 2 meter, lalu hap ku putar tangan seperti menari dan menatap lurus ke gelas diatas meja. Dan.....gelasnya diam, tak bergerak sama sekali. Sudah terlalu lama tak berlatih. Harusnya ibu mengingatkanku sejak lama. Sejak bekerja di kafe, aku tak pernah rutin lagi berlatih. Masih ada latihan lagi....jangan menyerah, kusemangati diri sendiri.
Latihan ke tiga, yoga. Baru sebentar , rasanya bagian pinggangku cedera. Otot yang tak pernah digunakan untuk berlatih sangat kaku. Aku tak bisa meneruskan yoga.
Latihan keempat biasanya angkat gelas lagi, tapi yoga dasar saja aku tak sanggup....
Yang terakhir panjat tebing. Tebing mana yang mau aku panjat, ini kota.....Ah sudahi saja latihannya. Fasilitasnya tidak menunjang latihan seperti yang ayah ajarkan. Chikung saja sudah cukup.
Selesai mandi, aku bersiap ke kursus. Naik lift penghubung saja, yang gratis. Malu meminta akses ke Miss Brenda untuk kapsul mobil.
Sampai di tempat kursus aku langsung masuk kelas dr Hosch. 20 Orang. Artinya kelas lain 15 orang. Sepuluh menit kemudian dr Hosch datang, tanpa banyak bicara dia menyuruh kami mengikutinya. Ke ruang isolasi penyakit.
Tugas hari ini, berkomunikasi dengan pasien. Tak boleh dekat-dekat, hanya dibalik pintu. Aku melihat Alex dan Macbirth, mereka sendirian dalam kamar terpisah. Aku mendekati Macbirth, dokterr Horsch mengawasi gerak-gerikku sejak pertama masuk kelas.
Ketika aku berdiri di depan pintu kamar Macbirth, dia mendekat, lalu bertanya , "Kau mau berkomunikasi dengan pasien ini Hannah?, "Lihat!! ....semuanya, Hannah akan mencoba berkomunikasi dengan Mayor Macbirth". Padahal aku tak menjawab apapun, dokter Hosch dengan gaya yang sok kenal langsung memencet tombol merah di depan pintu. Bukan untuk membuka pintu, tombol merah itu membuka kaca penghalang yang menutupi sebagian pintu. Kami bisa berkomunikasi dibalik jerusi besi.
"Mayor Macbirth? sapaku. Seluruh peserta kursus yang lain memperhatikanku. Bahkan ada yang mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, untuk merekam. "Mayor Macbirth..."sapaku sekali lagi. Macbirth duduk di sisi ranjangnya, memandang kosong dinding kamarnya.
Saat kupanggil lagi namanya, dia melhat ke arahku, tersenyum menyeringai sehingga nampak gigi-gigi kuningnya. Dia berjalan sempoyongan, kakinya yang kurus dan panjang seperti punya pikiran sendiri. Baru beberapa langkah, Macbirth terjatuh lalu dia menangis, berusaha sekuat tenaga untuk berdiri lagi.
Dengan susah payah, Macbirth berhasil mendekati pintu. dia meluruskan kedua tangannya kedepan menahan badannya supaya tak jatuh. Setelah beberapa detik, dia memandangiku, kemudian tersenyum dan menganggukan kepala. "Ahhh Nyonya Andromeda.....!!! Apa kabar, kau di terima masuk kursus..., selamat!". Gaya bicaranya masih menarik, dengan garis wajah seperti itu, kupikir Macbirth pastilah lelaki yang tampan sebelum sakit.
"Hai Mayor, kau baik- baik saja di sini?".
"Aku baik nyonya, senang sekali ada yang menanyakan kabarku".
"Kau masih mengingatku Mayor, makasih". Dia tersenyum riang
"Aku Mayor Macbirth, otakku tak terganggu nyonya, ingatanku masih hebat seperti biasanya", sambil menepuk-nepuk dadanya kemudian dia sempoyongan lagi. Kali ini dia mencoba berdiri tegak, hanya beberapa detik saja. Akhirnya dia memilih untuk menahan tubuh dengan kedua tangan yang lurus ke pintu.
"Nyonya Andy.... Hannah..., bisakah kau memeriksakan adikku agar bisa menggunakan half shield sepertimu?".
Sebelum menjawab, dokter Hosch dengan cepat menekan tombol merah..... pintu kaca menutup. Macbirth berteriak , "Tolong lah Hannah!, Nyonya Andy!Andromeda tolonglah!".
Dokter yang tingginya lebih dari dua meter ini mengkomentari pembicaraanku dengan Macbirth, "Kau boleh membicarakan apapun tapi tak boleh menjanjikan apapun pada pasien, jangan bebani kondisi psikologis. Ingat itu!!!".
Semua peserta lain menganggukan kepala seolah mengerti yang dokter Hosch katakan. "Sekarang siapa lagi yang mau mencoba?". Pemuda berkulit coklat di barisan belakang mengangkat tangannya, "Siapa namamu?". "Sanjay dok, Sanjay Dev".
"Silahkan!" Saat pintu kaca dibuka, Sanjay hanya terpaku melihat kondisi pasien, dia tersadar ketika dokter Hosch menepuk bahunya.
"Hmmm Kkkapten Hwang! Kolonel Nyong!" Badan Sanjay yang kecil terlihat sedikit gemetar ketika memanggil nama pasien. Dua pasien itu mendekati pintu." Siapa kalian! Mau apa datang beramai-ramai, pergi!! mengganggu saja, pergi!". Sanjay semakin takut, tubuhnya terpaku, mungkin karena dua pasiennya tidak ramah. Dokter Hosch menutup pintu kacanya.
"Pelajaran kedua, "Siapkan mentalmu!". "Terakhir siapa yang mau mencoba"." Saya pak, eh dok". Gadis kecil mungil berambut biru yang berdiri tepat di belakangku.
"Namaku Mina", dia memperkenalkan diri kepada dokter Hosch bahkan sebelum ditanya. Dokter Hosch berdiri canggung melihat Mina begitu bersemangat. Pintu kaca di buka separuh. Itu Andy, melihat pintu kaca dibuka, dia langsung berlari lalu berteriak "Steak!!!! mana steak ku!!" Badannya tinggi dan gemuk membuat Mina mundur satu langkah, tapi tak ada gurat ketakutan di wajahnya. "Saya Mina, Kolonel Andy!" Bagaimana kabarmu?".
"Hai.... Mina, mana steak ku", dia tak merespon pertanyaan Mina, tapi menyapanya.
"Aku ingin makan steak".
"Kolonel Andy, bagaimana kabarmu?".
Andy melihat ke semua peserta kursus, kemudian pandangannya tertuju padaku.
"Hai Hannah, Nyonya Andi!". Dia mengenalku.
"Sampaikan pada Andy aku minta steak, aku merindukannya", kemudian dia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil! Dokter Hosch menekan tombol merah.
"Pelajaran disini selesai!. Kita ke kelas lagi!"