Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Dewan Penyangga Putih


DEWAN PENYANGGA PUTIH


"Kau datang juga Abraham..., sapa ketua kampung sembilan


"Aku harus membuat pengamanan pilar bersama pasukan elit", jawab Abraham sambil mengibaskan bajunya yang basah kuyup


"Aku harus mengganti baju, sepertinya aku harus ke kamar anak-anak dulu!"


"Maaf Andro, aku harus mengambil bajuku di lemari Edward", Abraham menunjukan, dia sangat dekat dengan anak-anakku


"Tentu saja, Abraham, silahkan"


Abraham datang bersama ketua kampung sebelas. Mereka mengganti baju mereka yang basah dengan baju kering di kamar mandi


Lalu mereka berkumpul di ruang tamu, bersama denganku dan ketua kampung sembilan


"Air rempahnya sudah dingin", Abraham menggumam sambil memegang cangkir di depannya


Ketua kampung sebelas langsung berdiri, lalu dia menuju bagian belakang rumah ini. Dia kembali dengan tungku api kecil


Di atas meja sekarang, terdapat tungku api kecil, untuk memanaskan air dari teko rempah


Ketua kampung sebelas membuat lagi teko rempah itu penuh dengan air


Dia memasukkan beberapa rempah dengan sendok mungil. Gaya nya anggun sekali, sekalipun itu hanya membuat teh rempah


"Yang Mulia, anda nampak menikmati proses pembuatan teh rempah?", tanya Abraham padaku


"Ya, sangat elegan!"


"Ini adalah tradisi bumi, dari negara asia, untuk upacara minum teh", terang Abraham singkat dia nampaknya juga sangat menghormati proses ini


"Ini.....Yang Mulia, ini Abraham.....", ketua kampung sebelas memberikan satu persatu secangkir teh yang sudah siap minum, lalu dia mempersilahkan dirinya sendiri


"Bagaimana Yang Mulia...?", tanya ketua kampung sembilan


"Sempurna, rasanya sempurna sekali"


Tak mau kalah dengan ketua kampung sebelas, Ketua kampung sembilan membuat ramuan teh digelas terpisah untuk dirinya sendiri


"Maaf, aku punya racikan rempah favoritku, ha ha ha.....", suasana menjadi santai sekarang


"Andro, Yang Mulia....bagaimana kabar anak-anak? Aku sangat menghawatirkan keadaan mereka", Abraham terlihat cemas


"Mereka baik-baik saja"


"Aku sudah lama tak pernah bertemu mereka, sejak mereka di pulau terasing diatas sana", lanjut Abraham


"Hmmmm", aku tak bisa berkata


"Tapi, terima kasih telah mengamankan mereka. Aku yakin anda adalah ayah dan suami yang baik", Abraham menatap wajahku lekat


"Akan kulakukan apapun untuk mereka"


"Apa Liyana memintamu menemuiku?", tanya Abraham tanpa basa-basi


"Iya, dia ingin kau menjelaskan tentang My King ayahku dan The First, kakekku"


"Kau sudah diberitahu tentang sandiwara keluarga Sammy?"


"Sedikit, aku tak sempat membaca semua"


"Membaca?"


"Ya, Liyana memberiku banyak catatan, dia pikir bercerita langsung tak kan cukup waktu"


"Hanya Liyana?!"


"Ada juga catatan dari Jack dan Millard", jawabku datar


"Oooooh, jadi kau sudah tahu semuanya", Abraham menganggukkan kepala


"Ayah, sudah tak bisa membuka mata, Liyana memasukkan semacam cairan dingin ke telingaku agar bisa mendengar ayah"


Mereka bertiga diam, lalu menyadarkan punggungnya ke kursi. Ada sedikit kesedihan di mata mereka


"Aku tak yakin sebelumnya, mengapa Liyana memintamu menemuiku, tapi My King sudah seperti itu, Liyana masih pintar seperti biasanya"


"Kami bertiga adalah teman kakekmu, sisa dari dewan penyangga putih yang masih hidup", Abraham mulai membuka cerita


"Aku tentu saja tak bisa menceritakan semua, tapi aku mempunyai batu kristal yang sangat besar. Batu itu menyimpan memoriku yang hidup sudah terlalu lama ini"


Aku membayangkan batu kristalnya pasti sangat besar


"Batu ingatan The First ada di pedangnya. Begitu juga kami", kali ini ketua kampung sebelas ikut nimbrung bicara


"Batuan di pedangku, sudah sangat gelap, terlalu banyak memori", kemudian ketua kampung sembilan menyahuti


"Ha ha ha ha ha", mereka bertiga tertawa bersama


"Andro, ayahmu, harusnya tak perlu melakukan semua sandiwara itu", Abraham masuk lagi ke topik pembicaraan


"Mengapa, dia suka melihat lainnya bersatu?"


"Tapi, ayahmu membuat pasukan hebat tanpa sepengetahuan kami, untuk membuat sandiwaranya sempurna", jelas Abraham


"Dan mereka sangat tahu siapa saja yang bermain kekuasaan di Rocks"


"Membuat banyak situasi yang direncanakan matang oleh Andro berantakan"


"Kita tak mau terlibat, tapi kita juga tak mau kehilangan berita"


"Kami harus ikut campur, terpaksa....ketika Hannah memergoki anakku, di penyalaan pilar di Kingdoms"


"Nathan tak bisa mengelak, karena situasinya sangat tak biasa, kita harus melindungi pemegang The First"


"Tapi yang bergerak karena kasih sayang seperti dirimu, sangat sulit ditebak"


"Mereka kocar kacir, ketika kau memutuskan untuk mengirimkan keluargamu ke atas"


Mereka tersenyum, lalu saling melirik


Mereka bertiga bersahutan bicara seperti aku tak ada.


"Nathan....adalah pasukan yang menghilang di penyalaan pilar?"


"Iya,.....anakku", jawab Abraham


"Kami sisa dewan penyangga putih ikut bertanggung jawab agar kehidupan the Rocks tetap bertahan. Kami memperhatikan diam-diam", Abraham sedikit menurunkan suaranya


"Teleport, itu kekuatan luar biasa....", aku ingin tahu siapa pasukan itu


"Kau akan banyak tahu nanti, sepertinya kau akan sering berkunjung kesini", ketua kampung sembilan menyahut


"Aku harus berguru pada anda semua"


"Saat tahu, Hannah adalah pemegang The First, dan kau adalah suaminya. Kami memutuskan untuk melindunginya"


"Kau, jalan hidupmu tak biasa, dan kau punya banyak teman,dan istri yang sangat menyayangimu"


"Kami tak bisa ikut campur ketika The First dan My King berkuasa, kami tak suka dengan gaya mereka memimpin"


"Tapi kamu yang penyayang,.....membuat kami memutuskan untuk melindungi setidaknya keluargamu"


"Kami tak bisa merecoki kepemimpinanmu, seperti biasanya. Tapi kali ini kami memutuskan untuk melindungi keluargamu, keturunanmu"


"Hannah, dengan luar biasa melangkahkan kakinya kesini, dengan tubuh habis seperti tulang belulang dimakan pertumbuhan si kembar dalam rahimnya"


"Datangnya dia kemari, itu seperti takdir....kami harus melindunginya, mungkin suatu saat kami memutuskan untuk melindungimu"


Pembicaraan yang sangat cepat, saling melengkapi satu sama lain.


"Mengapa kalian tak terbuka melindungi.....", tanyaku hati -hati


"Kami sangat tua,....dan melihat kalian berjuang melindungi The Rocks, kami sangat menghargainya"


"Sudah tua, tak boleh ikut campur, melihat semuanya sehat, kami sudah senang"


"Tapi kekacauan kemarin di Kingdoms, kami pun tak bisa menghindarinya"


"Karena kami pun diserang, Nathan dan Shawn diserang, saat mencoba mencari tahu, pasukan yang dibuat ayahmu"


"Brahms semakin liar, dia banyak membuat rumah-rumah laboratorium, di seluruh inti Rocks. Mengesalkan sekali!"


"Red, banyak memasang mata-mata dimana. Jenkins mulai membuat perkumpulan generasi yang outstanding, demi kepentingan dia"


"Situasi yang akhirnya membuat pasukan buatan ayahmu, mungkin saja.....berbeda pendapat, dan membuat ayahmu stroke"


"Pasukan bayangan, nama pasukan buatan ayahmu, mereka sangat setia hanya saja...."


"Mereka juga sangat pintar, mereka tahu terlalu banyak, mereka juga ingin banyak berperan...."


"Tak salah, tapi kebablasan, mereka juga mengobrak-abrik yang telah diperjuangkan ayahmu"


"Untung saja Brams mengetahui, jadi mereka tertahan karena konflik sendiri"


"Bahkan Nathan yang menceritakan padaku, sangat senang. Dia berkata tak perlu banyak usaha mereka saling menghabisi"


"Lucunya, Brams pikir.....pasukan bayangan adalah keluarga Sammy"


"Ha ha ha ha", setelah bersahutan bercerita dengan tanpa jeda, mereka tertawa bersama


"Korban dimana-mana, andai saja kalian memberitahu di awal korban tak kan sebanyak ini", aku mulai kesal dengan diamnya mereka membuat kami saling baku hantam sendiri


"Kau pikir kami diam, kami tak serendah itu"


"Kami tak bisa tampil, karena itu adalah batasan kami, tapi kami menyelamatkan kolegamu diam-diam"


"Maksudmu?"


"Sahabatmu, teman-temanmu, kami menyelamatkan mereka, agar kau bisa terus bertahan"


Aku baru menyadari keanehan, hilangnya sahabat-sahabatku dan keluarganya ditengah situasi sulit seperti itu


"Maaf kami tak bisa menyelamatkanmu dan orang-orang disekitarmu, karena kau simbol negeri ini. Kehadiran kami, di sekitar mu, bisa membuat rumor baru"


Aku sedikit mencerna maksud Abraham dan ketua kampung. Tapi aku juga tak boleh lengah. Negeri ini menyimpan banyak rahasia yang aku belum tahu