
PILAR TUA YANG RUSAK
Hari ini administrasi akan melakukan survey langsung ke barat Edges, karena tak cukup data untuk menentukan pergerakan akses.
Tiga belas orang administrasi, ditemani militer dan medis. Ayah menggunakan kesempatan ini untuk menguji nyaliku, kembali ke daerah hutan Edges, "Kau lama tinggal di bebatuan Kiehl, cobalah ke hutan Edges, disana kau akan temukan kembali kekuatan leluhur kita", aku sadar ada perbedaan kekuatan yang besar antara inti Rocks dan Edges. Karena Edges merupakan titik awal terbentuk perisai kubah elektrik abadi.
Sebagai atmosfer baru, kubah elektrik, punya peran vital, dalam utuhnya planet buatan ini. Di barat Edges lama tak terdeteksi, pilar cahayanya. Meskipun sudah tak terlalu lagi dibutuhkan, karena kubah listrik dapat memperbaiki diri sendiri. Tapi keberadaan pilar cahaya memperkuat kubah agar tak cepat bocor.
Di perjalanan ini, aku duduk berdampingan dengan Hannah. Dalam pesawat hanya sekitar satu jam saja, tapi wangi rambut Hannah membuat aku ingin meledak.
Meledak dalam arti sesungguhnya, aku adalah manusia suku penyangga yang punya sayap paling besar. Sayapku adalah listrik, ketidak stabilan emosiku membuat aliran listrik di nadiku kacau.
Dalam penerbangan yang cuma satu jam itu, aku terus berdoa agar aku tak meledak. Rindu pada wangi Hannah dan suara merdu saat menyapaku tak bisa kutahan lagi.
Kepalaku seperti orang mabuk kendaraan, pusing berputar, "Cepatlah sampai Ya Tuhan, aku tak tahan di samping Hannah, sebentar lagi tubuhku akan meledak".
Sampai di kampung pertama, hanya ada tiga tenda besar, tenda administrasi, tenda militer, dan tenda medis.
"Miss Reina, maksudmu kita satu tenda dengan cowok?" , Jasmin bertanya bingung
"Tenang aja, pasti dalam tenda ada sekat", Hannah menjawab, jawaban cepat Hannah membuat aku kagum, darimana dia bisa menjawab itu tanpa berpikir.
Saat masuk tenda, memang ada sekat, tendanya terbagi dua di tengah, tertutup plastik gelap hitam, pintu masuk tenda sebelah barat untuk perempuan, dan pintu masuk timur buat lelaki.
Ruang pertemuan disediakan oleh ketua kampung pertama. Rapat pertama langsung diadakan di hari pertama. Sesuai kesepakatan kampung di barat Edges, dibagi menjadi tiga ring.
Survey data di ring pertama berjalan lancar, karena lokasi yang cukup dekat, dan banyak penduduk yang sudah tak asing dengan pengunjung.
Saat survey aku memilih dekat dengan Wei, paling aman, karena kami sama-sama lelaki.
Tapi survey adalah bertanya pada penduduk, malas untuk berbicara dengan yang lain, terutama Hannah.
Survey di ring kedua, harus kulakukan bersama Hannah, hanya kita berdua. Mungkin hatiku sudah bisa melupakan sakit hati ketika di tolak, jadi tak ada beban ketika harus satu tim.
Perjalanan ke kampung tujuh, lumayan berat. Sepertinya jarang yang lewat sini, aku memperhatikan langkah Hannah, walaupun cekatan, tapi dia ceroboh. Ku biarkan dia memimpin jalan di depan, berkali-kali dia hilang keseimbangan karena batuan cadas dan jalanan yang terjal. Aku bersiap untuk menangkapnya dari belakang.
Melihat Hannah dari belakang mengobati kerinduanku, aku tak suka di tolak, tapi aku menikmati moment bersama ini. Hannah mencoba berbicara denganku, tapi aku malas menanggapi, bukan karena aku marah, tapi takut, jantung ini bergemuruh lagi melihat dia tersenyum dan mengibaskan rambut putih kusutnya. Aku tak pernah menyesal mencintainya
*******************************************
Sampai di kampung tujuh, semuanya masih berjalan normal, penduduk masih bisa diajak komunikasi, warga disini tak pernah ke Tepian apalagi Kingdoms. Mereka cukup puas dengan mendapat akses dari kampung-kampung di ring pertama.
Barat Edges, memang istimewa, hutannya masih belum terjamah manusia, masih murni. Kejadian di Tepian saat itu pasti berasal dari pedalaman. Karena parasit yang menempel di tubuh mereka berbeda dengan sampel yang sudah ada di hutan Tepian. Parasit itu, lebih ganas, tapi cepat mati.
Firasatku saat itu pasti ada kebocoran kubah, yang memang terbaca di satelit. Tapi mengapa kebocoran itu menutup sendiri terlalu cepat, sehingga di perkirakan sebagai anomali cuaca, dan menyeretku ke Kiehl. Apakah ada pemegang The First di pedalaman yang mampu memperkuat kubah elektrik? Sampai sejauh ini, tak ada yang bisa meperkuat teoriku. Barat Edges masih normal.
Selesai survey di kampung tujuh, kami harus berangkat lagi ke kampung sembilan. Aku lihat wajah Hannah sudah kecapekan, ingin membiarkan Hannah beristirahat disini. Tapi, dia terlalu bersemangat menjelajahi Edges, mungkin karena dia juga dari Edges, perjalanan ini mengobati kerinduannya.
Aku membisu sepanjang perjalanan ke kampung sembilan, kuawasi langkah Hannah dari belakang. Hari menjelang sore ketika kami sampai di kampung sembilan. Perhatian kami berdua tertuju pada lima pilar listrik, yang menyambut kami di gerbang kampung sembilan. Hannah bertanya ini itu tentang pilar cahaya yang sudah tak menyala.
Ini adalah pilar cahaya tua, yang awal, harusnya masih menyala, kenapa rusak begini. Akhirnya kubuka mulut ini untuk bicara dengan Hannah, aku ingin mencari ketua kampung sembilan, memastikan kerusakan pilar cahaya.
Rumah ketua kampung, ada di ujung jalan setapak kecil, banyak papan petunjuk mengarahkan ku pada rumah kecil rapi, berhiaskan bunga-bunga perasa sama seperti rumah gudang Hannah.
Aku ingin mengetuk pintunya, tapi kakek tua berjanggut, sudah membukanya, "Selamat datang tuan, silahkan masuk......!", Aku dijamu dengan minuman rempah yang menyegarkan.
Istrinya ramah sekali, dia menyuguhkan banyak makanan.
"Mana istri anda tuan Andro?, anda tinggal di mana?" , Istri? Mengapa dia mengira aku sudah beristri?
Nyonya ketua kampung menanyakan istriku, "Hmm itu sedang melihat pilar cahaya yang rusak, kebetulan kami bekerja satu kantor", nyonya itu tersenyum.
"Dulu, suamiku juga pergi berkantor di Kingdoms, tapi dia kembali lagi kesini, katanya tak tahan rindu ingin berjumpa denganku", cerita nyonya ketua kampung, di selingi tertawa semangat ketua kampung.
"Kau tahu, Tuan Andro, seperti anda sekarang yang merindukan istri anda, padahal anda baru saja berpisah di depan sana, ha ha ha ha", ketua kampung senang sekali dengan obrolan ini.
"Kami di pedalaman tak butuh surat atau banyak puisi untuk mengetahui perasaan seseorang, kami yang tua-tua ini jago melihat aura, tak bisa kita ditipu dengan dokumen pernikahan palsu. Kami tahu mana yang saling mencintai, ha ha ha", dia dan istrinya saling pandang.
"Maaf, kalian tinggal berdua saja?", aku ingin mengalihkan topik pembicaraan ke yang lain.
"Anak kami ada di militer, kejadian di kota Tepian waktu itu, membuat dia enggan menengok kami lagi, waktu itu, parasit banyak masuk ke kampung pedalaman, banyak dari kami yang kena. Tapi para sesepuh, yang kuat innernya tak bisa ditempeli, hanya yang muda, seperti anak kami", nyonya ketua pandangannya menerawang.
"Aku hanya ingin menunjukan pada penduduk desa anakku sudah berhasil di inti Rocks, seperti ayahnya dulu. Aku memintanya kesini membereskan masalah pilar cahaya, dia membawa banyak temannya, karena ku memberitahu bukan pilar ini saja yang rusak, tapi.....", Nyonya ketua tak meneruskan.
"Istriku tak tahu pilar cahaya, tak bisa disentuh sembarang orang, jika rusaknya parah hanya bisa diperbaiki oleh pemegang The First, atau salah posisi pilar bisa diperbaiki oleh kita yang paham medan listrik petir. Anakku bersikeras dia dan kawan-kawanya tahu tentang medan listrik petir. Saat itu kacau, cahaya pilar malah membuat kampung pedalaman menjadi daerah zombi", kenang ketua sembilan sambil minum secangkir air rempah yang sudah tak hangat lagi.
"Waktu itu anakku memperbaiki bersama kawan-kawannya yang berbeda kesatuan, karena panik masing-masing dari mereka menghubungi kesatuannya, jadilah banyak tentara yang terkena infeksi" , lanjut ketua kampung.
"Saya senang ada yang mau kesini lagi, suami istri innernya lumayan stabil, bisa menghalau gelombang parasit", nyonya ketua menjelaskan pentingnya suami istri untuk bisa berkunjung kesini.
"Mana istrimu Tuan? Ayo kita temui dia? Kasihan pasti sudah lama menunggu"