
DI INTEROGASI ALA ANDY
Aku duduk berdua di belakang dengan Andy, berdua. Sam memilih duduk dengan supir di depan.
Aku heran mengapa kapsul mobil raja malah tak otomatis, memakai supir manusia. Mengapa tak seperti kapsul mobil lainnya
Aku duduk berjauhan dengan Andy, syukurlah Andy tak bertanya apapun, tapi sepertinya dia akan mulai bertanya
"Anakmu lucu-lucu sekali Merryl"
"Makasih Yang Mulia"
"Kau tahu hukumannya bila berbohong pada raja? Mati"
Aku hanya tertunduk
"Mengapa kamu menyembunyikan kemampuan bahasamu"
"Aku pegawai baru Yang Mulia, aku tak ingin dianggap pamer"
Andy bertanya tak memandangku, tapi memandang keluar jendela.
Tak ada lagi pertanyaan dia hanya diam.
Aku keluar dari mobil, tepat di luar gedung. Kemudian menyusul raja, semua orang memandangku. Aku benar-benar sudah gila
Aku datang paling awal, seluruh shift pagi belum datang. Untunglah
Shift pagi ada dua puluh orang, semua lengkap hari ini tak ada yang ijin
Selesai briefing, kereta makanan untuk raja datang, "Merryl kau tadi satu mobil dengan Yang Mulia?!", teriak Ben sengaja
"Satu mobil!" yang lain ribut
"Tadi aku tak sengaja bertemu itu saja", jawaban macam apa itu, Hannah!!!!
"Oh iya Ben, ini jamurnya!", aku mengeluarkan jamur putih yang sudah dibungkus rapi.
"Oh ini, bagus juga jamurnya, nanti akan ku berikan pada Miss Jenny"
Ben segera pergi, untunglah tak ada lagi yang bertanya macam-macam
Aku mengantar kereta makanan dengan perasaan yang campur aduk
Aroma kuat ber inner tinggi di ruangan ini, sudah mulai terbiasa di penciumanku. Tak lagi pusing
"Saya sudah selesai yang Yang Mulia, saya pamit dulu"
"Tunggu Merryl, jangan pergi!"
Sam dan aku sama-sama terkejut
"Iya Yang Mulia, ada perlu apa lagi"
Dia memberiku puluhan lembar kertas kosong.
"Gambarkan kampung halamanmu dulu dan sekarang perbedaannya, sebelum dan sesudah di bangun"
"Tapi saya tak bisa gambar, Yang Mulia"
"Kalau begitu tulis saja!"
"Duduklah disana, siapkan meja dan bangkunya Sam, biarkan dia duduk di belakangku"
Sam melaksanakan perintah
Aku duduk seharian disini, memandang punggung Andy yang sudah lama sekali ingin ku peluk
Aku tak mau mengerjakan perintahnya, aku bahkan tak tahu harus mulai menulis atau mulai menggambar dari mana
"Maaf Yang Mulia, sudah waktunya makan siang, saya pergi dulu"
Andy mengangguk
Aku keluar dari ruangan yang mencekik leherku. Andy ingin membuatku tetap di sisinya.
Makan siangnya sudah siap, aku segera mengantarnya.
Ada jus lagi, bau jus jamur putihnya lebih wangi. Mungkin yang ini lebih enak
********
Hari ini Andy menghabiskan semua makanannya
"Merryl, jam berapa anakmu selesai sekolah?"
"Jam dua siang Yang Mulia, tapi mereka suka membaca di perpustakaan sampai sore"
Andy tersenyum, aku tak mengerti arti senyumannya
"Sekarang jam dua Merryl, kita jemput mereka"
Kita !! , apa aku tak salah dengar?
"Tapi Yang Mulia, sore ini, ada pertemuan...."
"Masih sempat waktunya Sam, masih sempat!"
Aku mengikuti Andy dari belakang, dia ingin bertemu Edward dan Rossy lagi. Aku tahu anakku memang candu, siapapun yang pernah ngobrol dengan mereka pasti ingin bertemu lagi.
Tapi Andy ayahnya, ikatan batin mereka pasti lebih kuat. Aku tak tahan begini terus. Aku seperti orang jahat, yang membiarkan ayah dan anak saling merindukan tanpa mengetahui identitas asli mereka
Lagi, dalam ketidak tahuan, Andy berbuat aneh lagi denganku. Sama ketika aku minta makanan sisanya. Sekarang dia akan menutupi identitasku yang sebagai pelayan, takut anak-anak ku malu.
Padahal tak perlu begitu, toh mereka tak tahu dia ayahnya.
Banyak siswa yang belum pulang. Mereka melihatku berjalan di belakang Andy dan Sam.
"Raja Andromeda!!!", salah satu dari siswa ada yang mengenali Andy. Gempar satu sekolah.
Apa-apaan ini....Aku benar-benar tak bisa menerima permainan Andy di sekolah anak-anak. Bukankah nanti mereka berdua jadi terlalu terkenal, jadi pusat perhatian
Sampai di perpustakaan, petugas perpustakaan langsung memberi hormat.
Andy mengangguk, tapi matanya mencari Edward dan Rossy.
"Maaf, Yang Mulia, kalau boleh saya tahu, Anda ingin menemui siapa?"
"Edward dan Rossy, kau melihat mereka?"
"Oh iya, mereka di ujung koridor, sedang membaca setumpuk buku"
Andy mempercepat langkahnya setengah berlari, aku dan Sam mengikutinya. Andy mengintip mereka yang sedang asyik membaca dari kejauhan. Aku juga menikmati memandang mereka.
Andy melangkah mendekat, Edward yang pertama melihat Andy, langsung lari minta di gendong. Kali ini Edward pemenangnya, Rossy hampir menangis, kalah cepat. Andy segera mengangkat mereka berdua.
Sekolah heboh, petugas perpustakaan langsung menutup perpustakaan.
Andy mengusap air mata Rossy, "Kau kenapa cantik, kenapa menangis?"
"Edward duluan melihatmu, aku kalah"
Andy tersenyum senang, "Apa yang kalian baca?"
"Keluarga Raja" Edward menjawab cepat
"Kau Rossy?"
"Sama, Yang Mulia, ada lima buku itu disini, aku tak perlu berebut"
"Kalian membaca tentang aku?", mereka berdua saling memandang lalu tersenyum geli.
"Kami pikir, kami adalah anak-anakmu, karena di akta lahir kami, Andromeda adalah ayah kami", lalu mereka bersama tertawa. Aku menangis, aku tak tahan. Sam memperhatikanku
"Kau tahu Yang Mulia, kami meminta peluk ke semua lelaki dewasa yang bernama Andromeda", Rossy terbahak- bahak sambil dipeluk Andy.
"Kami tak menyangka, malah Yang Mulia, yang merindukan kami", Edward mulai mengeluarkan kepintaran bicaranya
""Ini buku keluarga raja, yang ketujuh yang kami baca, aku pikir kita berdua benar-benar keturunan raja"
Ya Tuhan, Edward, kau mulai lagi
Andy mendudukan mereka dipangkuannya, " Oh ya, jadi kau pikir, aku ini ayah kalian, atau aku saudara kalian?", Andy tersenyum geli, tapi tidak anak-anakku
"Edward ! Rossy!, jangan begitu terhadap yang mulia!'
"Biarkan saja Merryl, aku ingin dengar"
"Kami berdua bisa memindahkan barang dengan kekuatan inner", Rossy pamer kekuatan
Buku yang banyak itu di terbangkan dengan sekali tatap
"Kami bisa banyak bahasa" , sambung Edward
"Kekuatan elektrik kami tinggi, kami berdua bisa menyalakan seluruh lampu di sekolah ini?"
"Jangan Rossy!!!", aku berteriak mengalihkan perhatian Rossy. PRANG!!!!, lampu perpustakaan pecah.
"Maaf yang mulia, mereka terlalu banyak membaca buku"
Untunglah Rossy terlalu bersemangat, kalau tidak aku ketahuan.
"Daripada sibuk membuktikan kalian anak raja, mengapa tak biarkan kepintaran kalian yang diperkuat, mungkin suatu saat ayah kalian akan mendengar betapa hebatnya Edward dan Rossy, lalu memutuskan untuk menemui kalian!", anak-anak terdiam
"Kami sudah sangat hebat Yang Mulia, tapi ayah tak pernah menemui kami", Andy memeluk mereka berdua.
Aku benar-benar biadab disini, menyaksikan ini semua. Edward Rossy, itu ayah kalian. Dadaku sakit sekali, aku ingin sekali memukul dadaku. Tapi tak bisa, mataku berlinang
Sam menatapku, "Maaf Sam, aku terharu melihat anak-anakku dipeluk Raja negeri ini", Sam memberi tisu untukku.
"Pulang?", mereka mengangguk menerima tawaran Andy untuk pulang
Andy tak melepaskan pelukannya dari Edward dan Rossy.
Di mobil mereka terus bercerita, tak berhenti, aku pikir, sekarang Andy pasti sudah mulai mendengar suara " Nging" di telinga karena mereka tak mau diam.
Kami turun di depan gedung dapur, Andy masuk mengikuti kami, seluruh karyawan menunduk memberi hormat
Di lift, Edward dan Rossy diam, nampaknya otot-otot di mulut mereka kelelahan bicara.
Aku membuka pintu belakang gedung dapur menuju rumah gudang, sebenarnya kaki ini agak berat melangkah kesini bersama Andy, yang juga Andro.
Andy menurunkan Edward dan Rossy, rumah ini, juga membawa kenangan pahit buat Andy.
Dia mematung agak lama, memandangi rumah gudang dan kebun.
Sam menepuk punggungnya, lalu bertatapan, bertelepati dengan Andy, "Sudahlah Andy, Hannah sudah tak ada lagi"
Andy melambaikan tangan, lalu pergi