Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Tubuhku menguat


TUBUHKU MENGUAT


Selama satu bulan Spain melatihku. Tubuhku menjadi ringan dan sedikit lebih lincah. Sekarang aku tak perlu takut melihat The First. Aku merasa bisa mengendalikannya.


Setiap tidur aku bahkan bisa memerintahkan permata hitam itu, untuk menyinari keningku, agar tubuhku rileks. Ketika sinar itu keluar dari permata hitam, semua kenangan pedang itu bersama pemilik sebelumnya, menari-nari seperti film di mataku. Tak ada yang sedih, semua kenangan bahagia.


Ini sudah minggu kelima. Aku memberanikan diri bertanya pada Spain.


"Jendral, bisakah kau beritahu, kapan aku selesai berlatih?"


Dia melakukan jalan cepat itu lagi. Lalu berdiri di depan ku. Tak bicara. Ku lihat disekelilingku, Sam dan yang lain tak ada, hanya aku berdua dengan Spain.


" Kenapa Hannah?! Kau mencari Sam?!.Dia dan yang lain tak ada. Ada kebocoran perisai di atas Edges. Mereka harus kesana... memperbaikinya"


"Maaf Jendral, latihan hari ini apa sudah cukup?"


Jendral gila ini, masih di depan ku. Dia membelai rambutku, kemudian melepas penjepit rambut yang menahan rambutku. Rambutku terurai. Dia menatapku, seperti tatapan orang yang jatuh cinta. Aku jadi canggung


"Ma...maaf jendral, aku harus pergi"


"Sebentar saja Hannah, aku ingin memandangmu begini, tanpa marah, tanpa kesal, hanya memandangmu sebagai manusia biasa".


Ya Tuhan Spain memelukku, lalu menciumi rambutku.


"Kau punya tugas berat Hannah, aku tak bisa membantumu, hanya bisa melatihmu, untuk mengemban tugas ini. Aku tak tahu takdir sedang mempermainkan kita semua penduduk Rock Collapse. Tapi tak kusangka, dia akan memilihmu".


Spain bicara padaku seolah dia kekasihku. Kemudian dia menengadah mendorongku menjauh, lalu matanya merah.


Suaranya berubah menjadi sinis dan kasar.


"Ayo Hannah jangan cengeng, kau belum selesai latihan. PANJATLAH TEBING ITUUUU!!!"


Spain psiko!!! dalam beberapa detik sikapnya bisa sangat berubah, aku memanjat tebing dengan kecepatan tinggi. Spain mengikutiku, dia memanjat juga. Lalu mengarahkan pedangnya hendak menebasku di tebing. Aku meloncat-loncat, menghindari pedangnya.


Sampai diatas, aku buru-buru turun lagi. Spain mengejarku. Aku berlari lalu berbalik menahan pedangnya dengan dua tangan. Aku lolos lagi. Spain mengejarku lagi, kali ini dia mengejarku sambil berusaha membunuhku. Aku melawannya dengan satu tangan, karena susah berlari sambil menahan pedang serangan. Nafasku tersengal-sengal, Spain menyerangku lagi, kali ini dia menyerangku dari depan, aku melawannya. tendangan pukulan tebasan pedang bergantian mengarah padaku. Aku kesal sekali, kulihat The First melayang di dekat pintu masuk.


"The First kemarilah!!" , pedang itu terbang kearahku, lalu kutangkis serangan pedang Spain dengan satu tebasan. BBUUMMMMM


Spain terdorong jauh ke dinding. Kemudian dia pingsan. Sekarang, sebaiknya aku pergi dari tempat ini.


Tepat ketika ku akan pergi Sam dan yang lain baru datang. Mereka kaget Spain terduduk pingsan di dinding. Sam meminta temannya membawa Spain ke rumah sakit. Sam mengantarku ke kamar.


"Hannah maafkan aku, tadi sibuk sekali, aku tak menyangka kau dan Spain akan berkelahi. Istirahatlah, mungkin Spain besok akan lebih menghukummu"


Aku melirik Sam, yang menakutiku, "Sam, sekarang aku lebih kuat! , jadi aku pasti menang"


Sam tersenyum, lalu meninggalkanku sendirian di kamar.


Pagi hari aku merasa lebih tenang, karena ku tahu caranya mengalahkan Spain gila.


Pintu diketuk. Samantha langsung masuk.


"Hannah kemasi barangmu, kau boleh pergi, Spain sudah melepasmu!"


"Bagaimana luka bekas seranganku kemarin!?"


"Dia masih dirawat, tapi tenanglah kau tak melarikan diri. Ini perintah langsung Spain. Kita pergi setelah ada pemberitahuan resmi, ok"


Aku mengangguk ragu, semudah itukah Spain melepasku?


Sammy masuk membawa gelas berisi kristal air mata.


"Ayo bawa ini ke kantor intelejen. Lalu kau bisa pulang Hannah".


Aku diantar ke kantor kepala intelejen.


"Siap Jendral, ini ada rekaman kristal air mata untuk nona Hannah".


Jendral ini punya wajah kaku, tak ramah sedikitpun. Dia mengambil kristal itu lalu menaruhnya di mikroskop proyektor.


Ada hologram Spain yang sedang didorong oleh petugas rumah sakit.


" Sam... Sammm...." ,dia berusaha berteriak memanggil Sam. "Rekam aku!. Hannah Jacklyn diperbolehkan pulang dan masih dalam pengawasan". Kemudian dia pingsan.


"Kau Hannah Jacklyn!!! ,tanya orang didepanku


" Iya "


"Pulanglah, nikmati sisa hidupmu!"


Sam mengantarku pulang sampai rumah Miss Brenda. Di luar pintu. Miss Brenda, Lingling dan Sandy sudah menungguku.


"HANNNNNAAAAH" ,mereka bersamaan memelukku. Sam langsung pergi.


************************************************


" Hannah kenapa pedangmu tidak di letakan di bawah saja?"


"Pedangnya berat Miss, bisa gempa nanti"


"Oh oh oh"


"Boleh Miss pegang?"


Aku mengambilnya dengan satu tangan


"Itu, kau bisa mengangkatnya Hannah"


Aku cuma tersenyum.


"Miss Aku tak bisa meletakan begitu saja ke tangan Miss. Miss aja yang coba ambil dari tanganku".


"Ok!!" , Miss bergaya sombong.


Miss mencoba mengambil the First dari telapak tanganku yang terbuka. Bahkan bergerak semili pun tidak. Dia penasaran mencobanya beberapa kali. Lingling dan Sandy juga ikut-ikutan. Tak ada satupun yang berhasil mengangkatnya. Aku lepaskan lagi The First agar melayang saja di udara.


Saat makan malam, Ling ling dan Sandy menceritakan kehebatan pedang mereka. Mereka tak menyangka akan memiliki pedang sendiri.


"Hannah kau tahu setiap pedang hanya menurut dengan yang mempunyai kekuatan diatasnya. Jadi sebenarnya orang paling kuat bisa memerintah semua pedang" , Sandy berceloteh sambil makan cemilan yang dibuat Miss Brenda.


"Aku dan Lingling sudah mencoba. Kami tak bisa memerintah pedang yang lain. Artinya kekuatan kami seimbang" ,lanjut Sandy.


"Miss mengapa kita jadi punya kekuatan mengendalikan senjata pembunuh begini?", tanyaku pada Miss Brenda


"Mungkin karena kekuatan mengolah pikiran yang sangat kuat dari masa terciptanya Rocks".


"Kalau begitu seharusnya Miss bisa mengendalikan pedang Lingling dan Sandy"


"Kau benar Hannah!, dulu aku juga punya pedang, tapi kuserahkan lagi pada militer, karena tak berguna buatku"


"Miss kau mau mencoba mengendalikan pedang kami ?" , tanya Lingling penasaran


"Apa nama pedang kalian?"


"Thirsty" ,jawab Lingling.


Miss kemudian melakukan gerakan tarian aneh yang membuat kami terpingkal-pingkal. Dia memutar mutar tangannya, meloncat- loncat, sambil berteriak


"THIRSTY KEMARILAH!"


Miss konyol sekali.


Thirsty hanya bergerak sedikit, kemudian diam lagi.


"Kau Sandy apa nama pedangmu?"


"Swingers, Miss"


Miss Brenda melakukan tarian aneh itu lagi dan berteriak


SWINGERS KEMARILAH!, pedang sandy tak bergerak sedikitpun.


Kami tertawa bersama-sama.


"Kalau kau Hannah apa bisa kau memanggil pedang kami?" , tanya Lingling iseng


"Kalau bisa! kalian harus memasak makanan kesukaaanku selama tiga hari...ehmmm satu minggu. Bagaimana???"


"Ok" , kata Sandy sambil cekikan


Aku bayangkan Thirsty dan Swinger bersamaan. Lalu.....


Swingers dan Thirsty tepat di depanku melayang, lalu kuambil mereka dengan kedua tanganku.


Sandy terjatuh dari tempat duduknya. Lingling langsung berdiri. Miss Brenda terperangah.


"Sandy...Lingling kalian harus memasak untukku selama satu minggu" ,aku tersenyum puas.


Sandy berlutut di depanku,


"Oh dewi kekuatan Hannah, ajari aku!"


"Apa-apaan sih Sandy, bikin orang gak enak aja!"


Aku masuk kamar, di luar Sandy masih menggedor-gedor pintu sambil berteriak minta diajari.


Ada suara Miss dan Lingling yang tertawa melihat tingkah Sandy. Di kamar aku merenung. Sudah sekuat apakah aku sekarang? Mengapa Spain membuat pelatihan seperti itu untukku?