Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Kurang Garam


KURANG GARAM


"Ini Edward pedangmu!", paman melempar pedang berwarna kecil dan sangat ringan


"Ini pedang mainan, Paman Meridian?", aku bahkan bisa membawa pedang kedua orang tuaku


"Kau masih kecil Edward, bertingkahlah seperti anak kecil!", paman berkata dengan senyuman tipis di bibirnya


"Oke lah, apapun kuturuti, kau yang memimpin disini!"


"Wow, wow, kata memimpin sepertinya terlalu berat bagiku!"


"Ha ha ha", kami tertawa bersama


"Ayo lewat sini Edward!", jalan keluar ini bukan yang ayah tunjukan


"Kau pasti bukan lewat sini ketika kemari"


" Iya, bukan, ini jalanan lebih kotor dan gelap. Apakah kita akan naik lift ke atas ?", tanyaku sambil berhati-hati melangkah


"Tentu saja, lihat itu disana lift nya!", lift nya di sudut lorong. Seperti bukan lift hanya lorong biasa


"Paman yakin kita melalui jalan yang benar", aku benar- benar tak suka bau tanah basah ini


"Ini jalan satu-satunya ke atas untuk ke menara Kingdoms. Persediaan makanan kemarin juga diangkut lewat sini", paman menjelaskan dengan langkah yang cepat


Kemudian dia berhenti dan memandang ke ubin. Sepertinya mencari simbol tertentu seperti di gedung yang banyak kursinya itu


"Kau mencari tanda ini paman?", aku menunjuk ke arah ubin yang bercorak berlian.


"Ya itu, kau sangat detail Edward"


Aku memang sangat teliti


"Mari sini, kita berdekatan!", paman merangkul pundakku, kemudian menekan dengan kakinya tanda berlian itu


Hal yang sama terjadi, ubinnya terangkat, dan keluar besi melengkung dari sisi-sisinya, yang membuat kami seperti masuk ke dalam sangkar besi


"Jadi kita ke pusat kota akan mengambil.....", tanyaku yang belum diberitahu apa yang harus diambil diatas sana


"Garam!", jawab paman singkat


"Gaaaaraaaam!", aku kaget


"Kenapa Edward, kaget!", paman menyeringai geli


"Untuk persediaan makanan sebanyak itu, mereka hanya mengambil sepuluh bungkus garam" , paman menggelengkan kepalanya


"Mereka jelas tak pernah masak, apa ibumu suka masak Edward?", paman balik bertanya


"Suka, rebus, bakar saja, kadang......tanpa rasa", aku harus akui ibu memang hanya masak itu-itu saja


"Dia pasti jarang masak yang sesungguhnya", paman menggumam lirih


"Garam walaupun hanya sedikit kita membutuhkan dalam memasak, tapi itu mengubah semua rasa"


"Aku benar-benar ingin makan makanan yang sesuai garamnya!", jawabku bersemangat


"Oh iya paman, aku penasaran kolam ikan tempat ayah bersembunyi mengapa jadi terhubung ke gua?"


"Maksudmu kolam surga?!!", paman terperangah


"Apa kolam ikan kecilku adalah kolam surga?!", aku yang balik kaget


"Sebentar Edward, apa kolammu kecil, dan suka mengeluarkan ikan?"


"I i ya!", paman semangat sekali


"Apakah ikan salmon?"


Lift berhenti, paman mendorong pintu besi diatas, dia pertama keluar, lalu menarikku ke atas


"Ini di depan menara....." , aku terpana


"Ayo cepatlah kita ke supermarket besar itu?", paman menunjuk ke arah pertokoan besar yang lumayan jauh, membuyarkan kekagumanku


"Disana banyak garam dan bumbu bagus. Oh iya Edward apakah ikan salmon"!


"Maksudmu kolam ikanku?", paman mengangguk mantap kembali lagi bertanya tentang kolam ikanku


"Iya salmon!"


"Wow......, kolam ikan mu adalah sungai bawah tanah Edward, yang terhubung dengan danau payau bawah tanah juga. Itulah mengapa kau bisa menemukan gua dibawah sana"


Paman Meridian wajahnya penuh semangat menceritakan kolam ikanku


"Kau tahu salmon suka melahirkan telur-telurnya disungai, dan kembali lagi ke air laut yang asin ???!!!", dia bertanya tapi tak butuh jawabanku


"Ikan istimewa dibongkahan bumi", decak kagum paman


"Apa paman mau aku bawa kesana?", pasti dia senang sekali


"Kata ibu sewaktu pertama ke rumah gudang, ikan yang keluar dari kolamku kecil, sekarang setelah dimasukan beberapa buah, ikan yang keluar besar sekali!" , pasti paman terkejut mendengarnya


"Kau pikir ikan-ikan mu bertambah besar?", paman tertawa riang sekali


"Apa ada yang salah dengan pemikiranku paman? Kata ibu juga begitu, mereka bertumbuh", aku agak kesal teoriku tentang ikan disalahkan paman


"Mereka salmon Edward, ikan yang kecil itu adalah anaknya yang baru berumur beberapa hari atau beberapa bulan"


"Ah, aku tak mengerti paman!"


"Ikan salmon melahirkan di sungai, dan tetap berada di sungai sampai dia siap ke laut"


Aku menyimak sambil ngos-ngosan mengikuti langkah kaki paman yang sangat cepat


"Sungai itu bermuara ke kolam ikanmu, tentu saja dia akan meloncat keluar ketika kau beri makan"


"Lalu yang besar?"


"Kau menggunakan beberapa buah, mungkin yang keluar dari kolammu, adalah induk yang akan melahirkan, yang merasa terganggu dengan buah yang kau lemparkan ke dalam kolam ikan"


Aku sepertinya mengerti jadi ikan yang besar mau bertelur dan diganggu oleh buah- buah yang kumasukan ke sungai tempat dia bertelur


"Aku bertaruh, ibumu dulu menggunakan remahan makanan untuk memancing ikan keluar", paman sangat tahu ikan ini


"Salmon suka berpindah ke tempat yang banyak makanannya", jelas paman singkat


"Edward kita sudah sampai!", Paman menghentikan langkahnya dengan nafas dihela


Supermarket terbesar di Kingdoms. Paman berjalan masuk ke dalam dengan sangat percaya diri, dia sangat mengenal supermarket ini. Tiap lorongnya dia tahu


"Buka ranselmu Edward, kita mulai masukan garam-garam ini", aku menurunkan ransel kosong dan membuka sletingnya


"Ini garam yang kau butuhkan paman?", aku lihat warnanya putih dan seperti kepingan-kepingan kecil


"Apakan garam ini berasal dari danau air payau?, Kita tak punya laut", ucapku lirih


"Kau pintar Edward, laut di Rock Collapse tak ada yang besar, hanya pantai kecil, tapi pasti terhubung dengan laut yang besar. Aku pikir danau yang kau sebrangi untuk mencapai gua adalah sumber air asin terbesar di negeri ini"


Aku cuma mendengarkan, paman sedang mencari teori yang mengungkapkan darimana garam ini berasal


"Kau ingin aku masak apa Edward, kau telah membantuku", paman bertanya sambil memasukan garam- garam ke ransel miliknya


"Aku ingin masakan ibu", gumamku lirih


"Ternyata kau masih anak-anak, kau masih merindukan ibumu"


"Apakah orang dewasa tak pernah merindukan ibunya?"


Paman terdiam, "Tentu saja kita juga sering merindukan ibu....., kau bahkan bisa mengoreksi orang tua sepertiku, sama seperti ayahmu!"


"Apa paman sangat mengenal ayah?"


"Kami hanya berteman dan saling bantu"


Tak ada pembicaraan lagi. Paman bergegas keluar dari supermarket ini


Kemudian dia terhenti di sebuah kotak kaca, yang bertuliskan bunga perasa dan jamur putih


"Aku bertaruh Hannah makan bunga perasa dan jamur putih!", paman bertanya hal yang menurut ibu harus dirahasiakan


Aku diam


"Aku pernah mendengar dia menanam kebun bunga perasa dan menumbuhkan jamur putih", paman bicara sambil masuk ke kotak kaca itu


Dia mengenakan sarung tangan, lalu mengambil semua bunga perasa dan jamur putih


"Ini ambil, jangan biarkan yang lain tahu kau memakan ini, mereka kebanyakan suku pengisi"


Aku mengambil bungkusan itu


"Edward tak semua bisa menumbuhkan bunga perasa, kecuali kau sudah sangat kebal dengan racunnya, atau kau memang suka mengkonsumsinya", paman seperti menyelidiki


Aku diam sambil mengikatkan bungkus bunga perasa ke ranselku. Tak bisa masuk ransel sudah penuh garam


"Rambutmu putih Edward, walaupun putihnya masih belum seputih orang tuamu, tapi aku yakin suatu saat kau akan seperti mereka" , paman menepuk punggungku lalu keluar dari supermarket dengan langkah kaki yang sangat cepat


"Tasnya berat?", tanya paman yang melihat jalanku bertambah lambat


"Tidak paman", aku hanya berjalan sambil merenung


"Paman kau sangat suka memasak?", aku sedikit berlari mengikuti langkahnya


"Iya, aku suka saat dipuji masakannya enak"


"Aku juga suka dipuji paman, bolehkah aku belajar masak juga"


"Ha ha ha, banyak hal yang bisa kau lakukan untuk mendapat pujian Edward"


Pagi ini hidupku ceria lagi, berbincang dengan teman ayah di sepinya kota. Walaupun negeri kami sedang tak biasanya, tapi aku percaya sebentar lagi aku akan bisa sekolah lagi dan membuat banyak pujian seperti dulu