Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Pilar Tua


PILAR TUA


Setelah bermain dengan Andro, aku mencoba untuk menata ulang pikiranku. Aku sangat berdosa pada ayah ibu? Menikah tanpa sepengetahuan mereka? Walaupun banyak orang melakukannya, tapi aku tak bisa membuat ayah ibu jadi merasa dibohongi oleh anaknya sendiri.


Aku harus membawa Andro menemui ayah dan ibu.


Andro tertidur sangat pulas, sebaiknya aku segera pergi ke pilar diatas. Di luar kamar penjaga-penjaga penginapan kami terkesiap bangun melihat aku keluar. Di luar pintu rumah penginapan aku mengeluarkan The First, para penjaga penginapan langsung membungkuk memberi hormat padaku.


"Jangan berisik, suamiku tak tahu aku memegang The First", para penjaga itu mengangguk.


Aku mengeluarkan sayap elektrik ku agar cepat sampai ke atas, waktuku sedikit. Di belakang, para penjaga elektrik juga mengeluarkan sayapnya mengikutiku.


Sampai di rumah tetua, aku mengetuk pintu. Hanya sebentar, dia langsung membuka, seperti sudah tahu aku akan datang.


"Selamat datang kembali Nyonya, mari saya antar ke atas", Abraham tahu yang akan kulakukan.


Pilar diatas lebih besar, listriknya pasti lebih banyak, semoga aku tak pingsan lagi seperti terakhir kali saat di kampung sembilan.


Aku buka kakiku selebar bahu, lalu kupegang erat The First, ku angkat keatas. Di tengah pilar lantai nya bergerak seperti gempa, lalu getaran hebat datang dari pedangku.


"Aaaaaaarghhhhhh", kuat sekali getarannya, ratusan kali lebih kuat dari di kampung sembilan. Rambutku terbang keatas, seluruh tubuhku bersinar, pedang ini mengambil energi elektrikku lalu menyalurkannya ke atas langit, ke kubah elektrik.


Hanya sebentar, tapi tubuhku seperti tercabik-cabik. "Makasih nyonya Andro, tenang saja identitas Anda sebagai pemegang The First aman bersama kami", tetua ini luar biasa, dia sudah tahu, bahwa aku merahasiakan identitasku.


Aku mengangguk, lalu terbang lagi ke penginapan dikawal para penjaga.


Di kamar Andro masih tertidur pulas, kekuatan Andro sangat lemah, dia mudah capek. Energi ku tersedot habis memperbaiki pilar, tidur pasti sangat menyegarkan


Pagi-pagi Andro sudah tak ada di kasur, seperti biasa, dia duduk di ruang makan ditemani ketua kampung sebelas dan tetua, Abraham.


Aku mengangguk menyapa mereka lalu ke kamar mandi. Abraham turun gunung untuk sarapan bersama suamiku. Menggelikan sekali, Andro kusebut suami.


Selesai sarapan dengan banyak percakapan, Andro pamit pulang, aku malas berbicara, sarapan tadi hanya ada jawaban-jawaban "Ya, Makasih, dan Tidak", cukup mengatakan itu, mereka para lelaki yang banyak berbicara.


Andro seperti biasa, memperhatikan langkahku, mengatakan "Awas!, Hati-hati!, Sebelah sini melangkahnya!", benarkah dia mencintaiku, tapi aku selalu memikirkan Pak Andy!


Sampai di kampung pertama, yang lain sudah menunggu kami, sesaat setelah aku dan Andro datang, kita semua langsung pulang kembali ke Kingdoms.


Di pesawat Andro terus menggenggam tanganku, aku tak bisa tersenyum atau marah atas kekacauan ini. Yang kutahu ini semua salah. Hatiku masih memikirkan Pak Andy, aku tak bisa menyakiti perasaan Andro.


Andro mengantarku sampai rumah gudang. Sebelum pergi dia memelukku, "Maaf Hannah, aku belum bisa membawamu ke orang tuaku", dia mengatakan itu dengan sangat lembut sambil mencium rambutku. Hari itu sore, dan aku tak kuasa menahan kelembutan dan aroma tubuh Andro, kami melakukannya lagi di rumah gudangku.


Dia pergi dengan wajah sumringah. Tapi aku tak bisa seterbuka itu pada Andro!, hidupku kacau.


Malam ini, ibu menelpon, "Hannah, gimana kabarmu sayang?"


"Melihat hologramnya tangisku pecah, "Ibuuuuu! Aku melakukan dosa padamu!"


Kuceritakan perjalananku ke barat Edges, dan pernikahanku dengan Andro, lalu kuceritakan tentang pilar tua yang kuperbaiki.


Sepanjang ku bercerita ibu mendengarku tanpa banyak berkomentar, "Ibu bersalah padamu nak!, Kau harus mengalami semua itu sendirian tanpa kami!", diluar dugaan ibuku yang selalu sempurna bisa menerima pernikahanku dengan Andro.


Terkadang ayah dan ibu meneteskan air mata, ayah selalu mengatakan sudah jadi takdirku, tugasku menjadi pemegang The First. Lalu ibu akan menangis tersedu-sedu karena tak bisa mendampingiku.


Mereka berdua tak pernah menghakimi keputusan hidupku. Mereka berdua harta paling berharga di dunia ini.


Andro menjadi berbeda, setelah pulang dari Barat Edges, aku merasa tak nyaman dengan semua perhatiannya. Ini harus diakhiri.


Saat makan siang, Andro membayar seluruhnya. Kami duduk berdua tak lagi bersama tim. Aku benar-benar bingung. Semua marah menyebalkan itu hilang, berganti dengan perhatian dan kasih sayang luar biasa.


Sebentar lagi! Beri waktu sebentar lagi pada hatiku, akan kucoba membuka hatiku pada Andro.


Sudah empat bulan aku membiarkan Andro melakukan tugasnya sebagai suamiku. Sekarang dia yang mengambil ikannya bukan aku. Dia membiayai semua kebutuhanku. Tubuhnya perlahan mulai berisi, matanya tak menonjol lagi. Hatiku perlahan mulai terbuka pada Andro. Kebahagiaan yang Andro rasakan ketika kami bersama sudah mulai kurasakan juga.


Hari ini aku melihat Abraham datang ke kantor menemui Yang Mulia. Andro menggandengku untuk menyapanya setelah dia keluar dari kantor Yang Mulia.


"Pak Abraham, senang sekali anda mengunjungi kami disini!", Andro mengajak Pak Abraham ke rumah makan disebelah gedung.


"Tuan Andro, sepertinya pernikahan anda masih rahasia", tanya Abraham pada Andro, wajah Andro berubah menjadi serius.


"Nanti Pak Abraham, setelah semuanya menjadi normal", jawab Andro datar.


Andro punya rahasia yang tak ingin dibagi denganku. Aku pun punya.


"Tak masalah, selama kalian saling mencintai", Abraham pamit setelah menghabiskan satu cangkir kopi.


Aku tak penasaran tentang apapun itu yang disebut "menjadi normal", oleh Andro. Karena aku pun punya rahasia yang tak bisa kubagi dengannya.


Setelah empat bulan tak bertemu Spain, kali ini kulihat dia masuk ke kantor, dan seperti biasa dia menggunakan telepati memanggilku keluar. Dari jauh, di luar gedung, Spain memintaku ke markas militer nanti malam.


Andro mengikutiku dari belakang, aku tahu dia selalu mengawasiku. Saat mengantarku pulang dia memeluk dan mengecup keningku, "Kau mengenal Spain, Hannah?", dia bertanya sambil mengendus ke telingaku.


"Siapa yang tak kenal Spain disini!", kujawab cepat, Andro berhenti bergerak, lalu menatap lekat-lekat wajahku.


Hampir setiap hari kami melakukan itu, dia selalu memintanya. Malam hari, saat menjelang tidur dia berbisik padaku, "Kapan kau akan sepenuhnya tulus mencintaiku, Hannah", aku pura-pura tak mendengarnya.


Malam hari Andro selalu pergi, dia tak pernah menginap.


Aku datang ke markas militer, disambut Spain dengan sinis, "Kau sudah menikah Anna !", Spain bertanya dengan nada menjengkelkan.


"Iya, kau tahu darimana, apa datanya sudah masuk ke pusat?", aku bertanya curiga.


"Tak kan pernah ku masukan datanya, Anna, tak kan pernah kubiarkan data itu masuk ke sistem!", Spain mengancamku.


"Kau tahu Hannah, saling mencintai itu menyenangkan bukan!, tapi kau tak mencari tahu siapa Andro!" , memang siapa dia, mengapa Spain jadi misterius begini.


Tengah malam, Spain mengingatkanku lagi, "Akhiri saja hubungan kamu dengan Andro, kalian tidak satu level!"


Semakin hari tubuh Andro semakin berisi, rambut di kepalanya bermunculan, matanya tetap besar tapi tak menonjol, dan suaranya masih parau. Andro menjadi mirip seperti Andy.


Dia masih melakukan hal yang sama selama satu tahun ini, rambutnya sekarang tebal, panjang sebahu dan dikuncir, wajahnya masih berhalf shield, kecuali saat bersamaku, tak ada yang di tutupi.