Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Hidup Baru


HIDUP BARU


"Millard, kau tahu, aku rasa tak mungkin, bawahanmu melakukan translate sebagus itu, aku tahu kemampuan mereka sejak puluhan tahun lalu", My King berkerut.


"Jadi bagaimana hadiah koin akses nya, masih akan diberikan Yang Mulia?", Millard ragu.


"Berikan saja, aku akan mencari tahu sendiri, siapa yang menterjemahkannya"


"Baik Yang Mulia"


Sepagi ini, Rajaku Yang Mulia, sudah membuat aku pening, kalau bukan bawahanku , siapa yang bisa selain mereka? Sudahlah bukan tugasku untuk mencari tahu. Aku hanya kepala pelayan rumah tangga.


"Ok, staf dapur, kita akan bahas menu siang hari ini untuk My King, dan para staff, sudah disiapkan sarapan untuk Yang Mulia?", mereka berkumpul dengan sigap, memang itu yang kubutuhkan cepat-cepat. Aku tak suka ada waktu yang terbuang.


"Hannah, mana Hannah, mengapa jam segini dia belum datang?!", gadis muda itu harusnya paling awal datang, dia tinggal beberapa langkah dibelakang gedung ini.


"Maaf Pak, Hannah, paling akhir pulang tadi malam saya menyuruh dia masuk jam delapan saja...", Jenny menyuruh Hannah tanpa ijin.


"Kau ini Jenny, memang selalu bikin pusing", Jenny tertunduk takut.


"Hannah, bisakah kau datang sekarang? My King sudah ada di kantor, tak ada yang mau mengantarkan makanannya selain kamu".


"Siapkan makanan untuk My King, Hannah akan datang".


Pukul 07.00 Hannah datang, memakai masker dan sarung tangan lalu segera mendorong kereta makan ke kantor My King.


Millard mengikutinya dari belakang, dia juga memakai sarung tangan tanpa masker.


Millard mengetuk pintu, "Silahkan masuk!"


"Maaf My King, saya telat, Hannah baru saja datang"


"Hannah... jadi namamu Hannah?! Millard tak pernah menyebut namamu setahun ini. Untung saja kau telat hari ini, Hannah! Jadi aku tahu siapa namamu....", My King tertawa lebar.


Millard jadi gak menentu, bingung berekspresi. Hannah hanya diam mengangguk.


"Hannah kau sudah makan? Sudah sarapan?", My King bertanya.


"Sudah Yang Mulia, terima kasih sudah bertanya pada saya?", Hannah sopan membalas pertanyaannya.


"Maaf My King Yang Mulia, saya harus kembali ke kantor, Hannah yang akan menemani anda sarapan", Millard ijin pergi


"Makasih Millard sarapannya!", My king tersenyum.


************************************************


Selama empat tahun bekerja di gedung dapur, aku tak pernah berduaan dengan My King, baru kali ini.


"Hannah, kau tahu, tubuhku penuh racun, bahkan ada saluran pembuangan yang khusus punyaku", My King nampaknya ingin berbincang denganku.


"Iya My King Yang Mulia, saya mengetahuinya", aku tak tahu mau jawab apa, memang begitu kenyataannya.


"Kemarin , saya mengecek pembuanganku, tak ada sampah makanan. Bersih, kata petugas hampir setahun. Jadi kebetulan, sekarang aku ingin bertanya padamu Hannah?" , mengapa jadi begini My King menginterogasiku?


"Kau apakan makananku Hannah", nadanya datar tak lagi ramah.


"Saya kumpulkan untuk pupuk di kebun belakang dapur, Yang Mulia", tak mungkin aku menghabiskan makanan sebanyak itu setiap hari


"Kebun belakang dapur?", My King berkerut tak percaya.


"Ya, Yang Mulia, saya tinggal disana"


"Kau tinggal di gudang itu Hannah?", nadanya mulai melunak, tak tinggi.


"Iya, Pak Millard membolehkan saya, katanya gratis asalkan saya merawatnya"


Yang Mulia My King, bicara denganku sambil sarapan. Aku lapar sekali, hanya segelas jus peach, apelnya belum berbuah lagi.


"Hannah....." My King sekarang benar benar bicara dengan lemah lembut padaku


"Bawa aku ke kebun belakang, setelah sarapan. Aku menunggumu di kantor", aku mengangguk.


Aku pamit, membawa kereta makanan My King ke dapur, lalu kubungkus sisa makanannya. Semua sudah terbiasa melihatku membungkus makanan, karena mereka tahu aku akan menjadikannya pupuk.


Aku minta ijin Millard, kembali ke ruang kantor untuk mengajak My King jalan jalan. "Tunggu aku Hannah, kau tak boleh membawa Yang Mulia pergi sendirian harus dengan pengawalan", Millard panik.


"Pak Millard, hanya ke belakang gedung...", aku mencoba menenangkannya.


"Tapi disana itu kotor tak terawat, kalau yang mulia terkena racun lagi bagaimana? Apa kau mau dihukum mati?" Aku tak bisa berkata kata, hukuman mati tidak dalam anganku.


"Baik Pak Millard, saya akan menunggu anda untuk menemui Yang Mulia"


Akhirnya My King menuju ke kebun belakang gedung dikawal dengan enam tentara, Millard dan aku.


Merepotkan sekali.


"Hannah kau yang melakukan semua ini??", tanya My King takjub melihat kebun belakang.


"Ini rapi sekali, sangat terawat, kau bahkan menanam sembilan bunga perasa dan jamur putih!, lalu itu pohon apa?" My King menunjuk pohon berjajar yang mengelilingi kebun


"Itu peach dan apel Yang Mulia!", aku menjawab dengan sungkan.


"Mana buahnya, aku mau coba!" My King seperti anak kecil


"Maaf My King, sekarang belum waktunya berbuah mungkin tiga bulan lagi"


"Oh, begitu ya", nampak wajahnya sedih.


"Semuanya mundur aku ingin berbicara berdua dengan Hannah", lalu ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi serius.


Millard melirikku, lalu menyuruhku untuk maju ke depan mendampingi My King.


"Hannah, jangan sungkan padaku, kau bisa menanam bunga perasa, pasti kau bukan orang biasa? Siapa orang tuamu Hannah, Kau lebih baik bicara jujur Hannah, karena aku punya datamu. Aku hanya ingin kejujuranmu", aku tak bisa mengelak.


"Ayahku Jack Parish, ibuku Liyana Sammy Hunt", My King tersenyum, dia tak marah.


" Buah tak jatuh dari pohonnya", anak Jack mendampingiku.


"Millard berikan posisi yang bagus untuknya di kantor utama", aku tak mengerti, ooooooh, di dokumen resmi orang tuaku, ayah dan ibu memang dekat dengan My King.


"Satu lagi Hannah!", My King nampaknya masih penasaran.


"Jack dan Hannah, keduanya jago bahasa, keduanya bertemu karena minat yang tinggi terhadap bahasa suku pengisi, kau yang menterjemahkan materi pertemuan kemarin...?" My King langsung menarik benang merahnya.


Aku mengangguk dan tertunduk, sifat usilku ketahuan.


"Bagus, kita punya orang berbakat, ha ha ha ha ha" , My King tertawa senang sekali. Millard yang sedari tadi di rangkulnya jadi tak enak sendiri.


"Tapi....My King, Hannah hanya elementary dan sekolah malam...mungkin kita tak bisa....", Millard menjelaskan statusku.


"Posisi yang terbawah juga tak apa Millard, asal dia bisa menemaniku kemanapun", Ini akan membawa kehebohan besar, aku tak suka.


"Baiklah saya pikir ada pekerjaan untuk Hannah di kantor utama", Millard menyetujuinya.


"Bagus Millard!".


***********************************************


"Hannah, ini surat penugasanmu yang baru, di bagian administrasi, mejamu ada di ujung sana", bagian administrasi Kingdom adalah yang paling sibuk, mereka punya lebih dari sepuluh staff adminstrasi.


"Kau beruntung Hannah, aku ingin tanya apa yang kau bicarakan waktu itu, di kebun belakang dapur", Millard sedikit berbisik.


"Rahasia.....", Millard tak lagi bertanya.


Aku tak tahu jasa apa yang dilakukan ayah dan ibu pada My King, sehingga saat itu juga, pekerjaanku diganti menjadi di kantor.


"Satu lagi Hannah, kau harus tetap menyempatkan diri melayani Yang Mulia makan", perintah yang tak bisa di tolak.


Tugas baru , hidup baruku, seperti biasa aku akan cepat menyesuaikan diri dengan semuanya, melupakan semuanya.