
TIDURNYA SAHABATKU
"Andy, aku dengar kau salah memprediksikan kondisi langit Tepian!", ayah geram padaku.
"Aku tak salah Ayah, memang bocor kubah elektrik dibawah Tepian, semua ahli juga meyakininya", memang itu kenyataannya.
"Itu karena kau yang memberikan penilaian awal, jadi mereka mengikutimu", ayah membuat alasanku jadi tak berarti.
"Sudah kukatakan dari awal, buat dirimu tak terlalu menonjol di militer", ayah masih berpikir aku anak kecil.
"Ayah tak mau saat ini identitasmu ketahuan, Rocks masih kacau, kau bisa jadi sasaran kemarahan banyak pihak, kamu bisa gak mengerti sedikit saja jalan pikiran ayah", selalu seperti ini, jika ada berita heboh sedikit.
"Ayah, aku sudah dewasa, aku siap mengambil tanggung jawab atas semua keputusan", aku tak mau marah ayah berlarut-larut.
"Bertanggung jawab katamu, kau mendatangkan pesawat tempur besar, tiga helikopter, peralatan medis dan peralatan satelit....kau pikir siapa yang tidak curiga, kau bisa mendatangkan semua itu dengan cepat tanpa ijinku!", nadanya mulai meninggi.
"Aku hanya bertindak....."
"Karena ada gadis yang menelpon!", ayah menggertakku.
"Itu bukan gadis sembarangan ayah, dia yang menemukan the first!"
"Kau tau siapa The First, Andy?!, Kau tau siapa dia?!"
Ayah menjadi benar benar sangat marah padaku, kali ini.
"The first itu pembuat konflik, dia terobsesi pada pengendalian"
"Ayolah ayah, the first itu ayahmu, kakekku!"
"Dengar Andy, the first adalah orang yang mencentuskan konflik antara aku dan pamanmu Sammy"
"Ayah jangan berlebihan!"
" Sekarang dengarkan Ayah, jauhi gadis itu, dia dipilih oleh The First, pasti sifatnya juga sama, senang akan pengendalian, pembuat konflik", ayah mengatakan itu sambil berkaca kaca lalu pergi meninggalkanku sendirian di kantor.
Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran ayah, dia selalu tertutup, tak banyak menjelaskan maksud tindakannya. Seandainya ibuku terbangun, mungkin ayah akan lebih baik.
"Hannah memanggil!"
"Hannah memanggil!"
"Hai Hannah", senang sekali yang dirindukan menelpon.
"Hmmm Pak Andy, maaf mengenai rencana kunjunganmu ke asramaku..."
"Ada apa Hannah, kau ingin aku kesitu sekarang?!"
" Bukan, maksudku, itu, hmmm, batalkan saja kunjungan kesini"
"Maksudmu apa Hannah"
"Penghuni asrama sudah heboh karena Pak Andy memelukku", suara Hannah berubah menjadi rendah.
"Mereka bilang Pak Andy keluarga kerajaan, dan aku.... seorang yang numpang tenar, pengambil kesempatan, wanita penggoda...."
" Ok Hannah, aku akan urusi itu, kamu tenang saja, sebentar lagi juga mereda, aku akan mengurusnya".
"Tak usah diurus Pak Andy, ntar malah jadi heboh, biarkan saja"
"Maaf Pak Andy, aku masih ada kegiatan, bye....".
"Hannah menutup telponnya, bahkan ketika ku belum berkata apapun. Apa salahku, aku hanya mencoba menolong tentara-tentara itu dan merindukan Hannah.
" Jayana......Jayana......kau mendengarku, dimana kamu", aku menggunakan telepati untuk memanggil Jayana. Hening, tak terasa pantulan suaraku, suaraku seperti termakan angin bersatu dengan riuhnya keadaan.
Aku harus menghubungi orang Kingdom untuk menanyakan keberadaan Jayana. Memang beginilah tingkah bawahan yang sudah terlalu dekat dengan atasannya, pergi tak lapor.
"Tolong carikan Jayana, suruh dia menghadapku".
" Tapi Pak...., Jayana tadi pagi masuk rumah sakit, dia pingsan di kantor".
"Apa!!!!"
***********************************************
Aku sudah satu minggu bolak balik rumah sakit menengok Jayana, dia masih belum sadar.
Kata dokter, dia masih dalam kondisi pemulihan ketika mengurus kepergianku ke Tepian, dia memaksakan diri mengurus keinginanku, sampai menguras tenaganya.
"Jayana, kau tau, ayah tak menyukai Hannah!", aku berbicara pada orang tidur.
"Kau satu-satunya orang yang mendukung hubunganku dengan Hannah, ayah tidak menyukai siapapun yang memegang the first, dia akan menganggap itu ancaman", Jayana tak merespon diam kaku diatas kasur, dengan banyak selang ditubuhnya.
"Maafkan aku Jayana, aku tak tahu kau masih belum pulih, tapi kau masih mendukung semua permintaanku", tangisku pecah lagi.
Di depan tubuh yang membisu ini, aku selalu menangis, menyesali permintaanku saat itu. Andai saja aku berkoordinasi dengan orang di pusat saat itu, mendiskusikannya dengan ayah, dan meminta ijin dari ayah, dan bukan Jayana yang mengurusnya, pasti Jayana tidak akan terbaring koma begini.
Aku tahu Jayana pasti mendapat tekanan luar biasa, sama sepertiku. Tekanan luar biasa dari orang nomor satu di Rock Collapse.
Aku benar-benar sendirian saat ini, aku masih enggan bicara lagi Hannah, sejak telpon dia yang terakhir, sepertinya dia cukup mendapat perhatian lebih dari penghuni asrama karena aku.
Hannah, gadis pintar yang selalu meminta trik padaku, agar tak kelihatan terlalu hebat dalam mata pelajaran. Sekarang menjadi pusat perhatian.
Ya Tuhan, saat ini, aku benar-benar tak bisa berpikir jernih. Aku merasa semua keputusanku salah. Mungkin ini yang ayah maksud bertanggung jawab, berat sekali menjauh dari semua yang kusayangi.
"Pak Andy, maaf kami harus memindahkan Jayana ke ruang vegetatif, karena sepertinya otaknya sudah memasuki kondisi tidur yang mungkin susah untuk sadar lagi, sebelum ada kerusakan lebih parah, kami memutuskan untuk memindahkannya ke ruang vegetatif", dokter Palvots dari Rumah Sakit Kingdom mengatakannya padaku lewat telpon.
Jayana vegetatif sama seperti ibu. Setelah satu bulan aku bolak balik ke rumah sakit, dia tak akan pernah bangun, asyik di alam bawah sadarnya bersama ibuku.
"Pak Andy...Apa anda masih mendengar saya?", dokter ini menunggu tanggapanku, karena aku memakai mode suara bukan hologram.
"Iya aku masih disini"
"Kami membutuhkan tanda tanganmu untuk memindahkannya, karena Jayana mencantumkan anda sebagai satu-satunya keluarga".
Tangisku pecah lagi, kali ini aku tahan suaranya agar tak terdengar oleh dokter Palvots, "Baik dokter, saya akan ke Rumah Sakit untuk menanda tanganinya.
Jayana menganggapku sebagai keluarganya, aku satu-satunya keluarganya. Jayana maafkan aku, penyesalan dan tangisku sudah tak terbendung lagi.
**********************************************
Semakin sedikit saja orang yang bisa mengetahui identitasku sebagai putra mahkota. Jayana telah berada satu alam dengan ibuku.
Sepertinya sekarang aku harus mengurus semuanya sendirian. Koin hologram Jayana ada padaku, semua datanya kupindahkan ke koinku.
Jayana menyiapkan satu koin khusus untukku, yang bisa menampung banyak informasi, bentuknya bukan koin tapi sayap seperti bros, agar rahasia.
Saat aku cek semua percakapannya adalah tentang permintaanku, bahkan ada gambar Hannah ketika memakai half shield, sepertinya dia memata-matai Hannah secara rahasia.
Kemudian ada ratusan gambar Hannah dengan wajah cantiknya. Aku rindu sekali Hannah. Mengapa yang kulakukan saat ini jadi salah. Di telpon yang terakhir itu, aku tak mendengar dia tertawa ceria. Sepertinya keputusanku tentang Tepian memang salah.
Hannah yang memintanya, aku tak bisa berpikir panjang, aku hanya ingin bersamanya melewati hari yang melelahkan itu. Cinta memang membuat orang menjadi melabrak semua kebiasaan.
Tapi.... semua tentara itu, tak ada yang mengalami kerusakan otak yang parah, bahkan tujuh puluh persen dari mereka sudah dapat bertugas lagi dengan normal. Bayangkan jadinya bila aku harus melalui serangkaian birokrasi di kemiliteran, untuk menyiapkan semua peralatan itu, mereka semua akan mati.
Malam ini malam pertama Jayana masuk ruang vegetatif, aku tak bisa mengunjunginya dengan bebas, ruang vegetatif harus tetap steril.
Dan aku merenung di kamar seperti ini, dengan semua pikiran- pikiran ini. Biasanya ada Jayana menemani dan bercanda denganku.
Ayah benar bertanggung jawab adalah tugas yang besar, apalagi bertanggung jawab terhadap orang-orang yang disayangi. Sepertinya duniaku runtuh, tak ada lagi celah untukku kabur, semua nalarku hilang, hanya penyesalan dan kerinduan yang dalam.