Hidup Dalam Dunia Berperisai

Hidup Dalam Dunia Berperisai
Berpisah Dengan Anak-Anakku


BERPISAH DENGAN ANAK-ANAKKU


Aku membawa The First palsu di punggungku, malam ini. The First bisa ku panggil, tapi tempat nya, akan kosong, aku tak mau membuat orang bertanya-tanya.


Sebelum jam sebelas malam, aku harus bisa masuk ke kantor untuk menukar pedang.


Wanita itu! Dia bisa masuk ke kantor militer dengan bebas. Dia cleaning servis terakhir. Sebelum dia masuk ke kantor, aku totok dia tepat di belakang lehernya, pukulan ringan tapi cukup ampuh untuk membuat wanita pingsan.


Aku sembunyikan dia dulu di atas pohon, aman di ranting ini tak akan jatuh. Aku olesi hidungnya dengan racikan obat tidur ala ibu, ampuh. Aku takut dia terbangun, kaget lalu terjatuh dari pohon.


Aku sudah menyiapkan baju cleaning servis yang sama. Saatnya mengambil koin akses di tubuhnya, pelan-pelan.... dari lengannya keluar cahaya bulat tipis, dia sebentar lagi habis kontrak, bulatan akses nya akan menghilang


Aku ambil aksesku, aku ganti dengan milik wanita ini. Tas besar ku letakan di atas juga.


Aku terbangkan pedang palsu ke atas atap kantor militer, kuberi inner, agar bisa datang ketika dipanggil


Aku berjalan melewati penjaga, mulus, tanpa dicurigai. Tepat di depan patung, sepi, itu dia The First, aku panggil yang palsu agar datang mendekatiku.


Aku merasakan yang palsu, aku arahkan dia datang melalui lubang angin di atas pintu masuk. Pintunya tinggi, tak akan ada yang menyadari


Dapat!!!, dia terbang rendah ke arahku, "The First kemarilah, pedangku mendekat ke tanganku. Aku letakkan yang palsu ke tempat asalnya.


Aku buat The First terbang keluar melalui lubang angin diatas pintu tadi, "Diam!!!, berhenti disitu!", aku terbangkan dia sampai diatas pohon.


Aku harus keluar lagi, "Hai.... kamu baru datang sudah mau keluar lagi!", aku dimarahi penjaga


"Maaf, aku lupa membawa pembalut, sebentar, aku pergi dulu"


Aku lari keluar, berputar seolah-olah aku pulang, padahal aku hanya berputar untuk terbang ke atas pohon.


Dari dalam tas, aku ambil pembalut, kumasukan ke sakunya. Aku masukan koin akses wanita ini ke tubuhnya lagi. Aku pun memasukan koin akses milikku. Aku berdirikan dia di jalan arah aku berlari, ku pijat, lehernya agar dia bangun.


"Maaf, ibu tak apa tadi ibu seperti kesakitan, jadi saya......", dia kebingungan


"Kalau ibu sudah baikan saya pergi dulu, mariiiii", wanita itu terus melihat ke arahku.


Tapi dia harus masuk kerja, dia berlari. Aku lihat dia dihentikan oleh penjaga. Dia kebingungan, tapi menemukan pembalut di saku. Petugas melepaskannya.


Aman, aku bisa pulang sekarang


*****


Aku tak bisa langsung pulang ke kampung sebelas, Abraham harus membuatkan alasan untukku.


"Hai Abraham, aku sudah mendapatkan The First, tinggal carikan alasan untukku agar bisa sebentar pulang ke kampung sebelas"


"Kau terlalu cepat Hannah, bagaimana nanti kalau Andro curiga?"


"Aku tahu...., harus ada sesuatu yang membuat aku diijinkan pulang"


"Hmmmm, katakan saja, ayah anak-anak ingin bertemu"


"Maksudmu, berpura-pura ada Andromeda lain di kampung sembilan?"


"Iya, katakan saja begitu, lalu, ketika kau kembali ke Kingdoms, bilang saja, ayah mereka tak datang, dia hanya mengerjaimu"


"Kau yakin Andy, tak akan ikut campur?"


"Andro, lelaki matang berpendidikan, dan punya manner tinggi, dia tak akan ikut campur urusan se privat itu, dia pasti mengijinkanmu"


"Ok, aku akan coba"


*****


"Tuan Sam, aku ingin ijin sebentar hanya dua hari, ayah anak-anakku ingin bertemu...."


Sam kaget, tapi dia berusaha menutupinya


"Ayah dari anak-anak mu?"


"Iya"


"Sebentar, aku akan bertanya pada Yang Mulia sekarang"


Aku menunggu di luar kantor, tak berani masuk, aku takut melihat ekspresi wajah Andy.


" Kau boleh Merryl, tapi besok kau harus bekerja lagi"


"Lusa?!, perjalanan sangat melelahkan, aku takut anak-anak kelelahan"


"Sebentar, aku tanya dulu"


Sam masuk lagi, baru kali ini, aku lihat Sam seperti orang bodoh


"Merryl, itu... kata Yang Mulia, selesaikan urusanmu dengan suamimu, biarkan Edward dan Rossy disini bersama Yang Mulia"


"Apa!"


"Kau diijinkan pulang, asal mereka disini, itu kata Yang Mulia, kumohon Sam, menurut sajalah. Kau tahu, Yang Mulia sangat berbeda padamu. Mendengar ayah dari anak-anakmu, dia sangat tidak suka"


"Aku......, menurutmu aku harus bagaimana Tuan Sam, apakah aman Edward dan Rossy?"


Aku tak pernah berpikir, Andy akan bertindak sebegitunya pada anak-anak.


"Aku mau bicara dulu dengan para sesepuh di kampungku, bolehkah?"


Sam mengangguk


Aku berdiri menjauh dari Sam, "Abraham, Andy tak mengijinkan aku pulang dengan anak-anak, dia ingin aku saja yang pergi, kau salah Abraham, Andy bereaksi berlebihan"


Abraham terdiam


"Bagaimana Abraham, apa yang harus kukatakan, aku buntu"


"Katakan saja, itu lebih baik, titipkan saja anak-anak dengan Andy. Anak-anak tak perlu tahu masalah orang tua mereka"


"Tapi aku akan berpisah dengan....."


"Tolonglah Hannah, demi Rocks Collapse"


*******


"Yang Mulia, maaf merepotkan, kalau anda keberatan saya bisa membawa ...."


"Pergi saja Merryl, tak baik membawa anak-anak dalam masalah kalian"


Dia dingin dan sok tahu, tahu apa dia soal hubungan, dia bahkan meninggalkanku


*******


"Maaf Hannah, kau harus datang kesini"


"Tak apa Abraham, sudah jadi tanggung jawabku"


Aku terbang bersama para pemuda dari kampung sebelas dan sembilan, mereka mengawalku.


Sampai di pilar atas, semua tongkat penyangga, miring, cahayanya sudah tak bening lagi, bercampur hitam


"Aku harus matikan dulu pilarnya"


Mereka semua mundur, lalu membentuk lingkaran. Aku membenarkan posisi pilarnya, lalu cahayanya padam.


Aku berdiri di tengah lima pilar, The First kuarahkan keatas, "ARRRRGGGGGGHHHHHH", goncangannya lebih hebat dari yang terakhir kali


Hanya beberapa menit, tapi itu sangat menguras energi, "Abraham serangan parasit ini, terlalu massif, tak wajar"


"Aku juga berpikir begitu", Abraham berkerut.


"Kita harus membangun banyak pilar cahaya, untuk menguatkan perisai kubah listrik"


"Kingdoms yang bisa melakukan itu"


"Kau penjaga pilar, laporkan hal ini, pada pusat"


"Akan kucoba, akan kucoba!"


*******


"Aku harus pergi sekarang Abraham, aku bisa naik kapsul mobil pertama"


"Baik Hannah, sampaikan salamku untuk Edward dan Rossy, aku akan menengok mereka dua minggu lagi"


Aku melambaikan tangan pada Abraham, dan seluruh penduduk kampung sembilan dan sebelas, mereka memperlakukanku sangat spesial.


Dalam perjalanan aku sangat merindukan dua pahlawanku, hidupku yang tak biasa, menjadi bermakna semenjak mereka lahir


Aku sampai tengah hari di gedung dapur, aku ingin melihat mereka. Aku berlari menuju lift.


Kosong, rumahku kosong, ini hari minggu dimana mereka?


"Maaf Tuan, saya sudah kembali, apakah Edward dan Rossy ada bersamamu?"


"Mereka sedang bermain bersama Yang Mulia di Istana Utama"


"Istana?! , aku tak punya akses masuk istana tuan, dapatkah anda membawa mereka kembali, aku benar-benar merindukan mereka"


Sam tak menjawab


"Tuan?"


"Merryl, bagaimana dengan ayah mereka?"


"Dia mengerjaiku, dia tak datang! Dia tak berani muncul dihadapan para tetua"


Aku mengatakan sesuai yang direncanakan


"Aku akan membawa mereka, kau ada di gedung dapur?"


"Iya, aku ada di gedung dapur"


Sam benar-benar bertindak seperti Andy, Andy selalu terpesona dengan gadis berhalf shield sepertiku, dia benar-benar tak normal


Dua jam aku menunggu, Sam belum datang juga. Setengah jam lagi, akan kutunggu setengah jam lagi


"Ibuuuuuu", itu dia ratu dan rajaku datang, aku sangat rindu aroma tubuh mereka.


"Eit, kenapa rambut kalian putih begini"


"Tadi kami mandi air jeruk hutan, bersama ayah Andro"


"Hush tak sopan, tak boleh sebut begitu pada raja!"


"Tapi ayah Andro senang kami memanggilnya begitu ibu", Rossy ngeyel


Sam mengantar mereka, berdiri di kebun, sepertinya dia ada sesuatu yang hendak dikatakan


"Makasih Sam, sampaikan terimakasihku pada Yang Mulia"


"Merryl, anak-anakmu berambut putih, warna sebelumnya palsu?!"


"Iya rambut asli mereka putih, mereka pandai meracik bunga, aku yakin warna rambut mereka sebentar lagi akan berbeda", aku tersenyum membayangkan


"Apa ayahnya dari penyangga putih?"


"Iya"


"Maaf aku lancang, boleh kutahu siapa"


"Andromeda"


"Kau ini, banyak Andromeda disuku putih"


"Maaf tuan, saya sangat lelah, saya mau istirahat"


Sam pamit pulang, nama Andromeda sangat pasaran di suku putih. Dia pasti kesal sekali mendengar jawabanku