
KEGELAPAN DILANGIT ROCK COLLAPSE 2
Halo, UGD, kami menemukan banyak sekali pasien dalam tahap awal infeksi, aku minta disiapkan ruang tambahan!", yang di telpon tak memberi balasan.
"Ini Hannah ya, sebentar dokter Emily mau berbicara denganmu", dia menyerahkan telpon ke dokter Emily, suasana UGD ramai sekali.
"Hannah, jangan kau bawa lagi pasien zombi kesini, MENGERTI!!!!, kami semua tak sanggup, mereka kuat sekali", dokter Emily telpon sambil mengurusi pasien yang mengamuk.
"Dok, sepertinya kau harus membiarkan Kingdom turun tangan, aku membawa pasien dalam tahap awal infeksi, mereka banyak sekali , jadi.....", aku tak tega mengatakan pada dokter yang sedang berjuang melawan lelah ini.
"Hannah, kurasa kita memang sudah tak sanggup lagi mengurus ini sendirian" , dokter Emily menyerah membiarkanku memanggil bantuan dari Kingdom.
"Andy.. Andy.... Andy......." , sudah menjelang pagi, mungkin Pak Andy sedang tidur pulas.
Andy.....Andy.....Andy....!"
"Ya Hannah, ada apa, sepagi ini menelpon"
" Maaf Pak Andy, aku butuh bantuan, Rumah Sakit Tepian, sudah tak sanggup lagi menangani pasien yang terinfeksi parasit. Jumlahnya terlalu banyak"
"Maksudmu apa Hannah, aku belum mengerti", Pak Andy bangun tidur, tak cerdas seperti biasanya.
"Pak Andy, kami menemukan banyak sekali tentara yang terinfeksi seperti zombi, mereka berkeliaran dengan luka di sekujur tubuh", bicaraku menjadi cepat.
" Tentara?!"
" Semua pasien yang terinfeksi adalah tentara, sekarang kami menemukan di hutan banyak sekali tentara yang pingsan dalam tahap awal infeksi".
"Ambulans di Tepian cuma satu, hanya bisa mengangkat sepuluh, UGD penuh, air jeruk hutan hampir tak ada".
Aku bicara sangat cepat, mungkin karena aku panik. Pak Andy terdiam sebentar, tak langsung meresponku.
"Ok Hannah, aku mengerti, tunggulah sebentar, aku dan pasukanku akan kesana dalam waktu setengah jam. Kirimkan posisi kau menemukan tentara yang pingsan".
Sampai di UGD, banyak dokter sudah siap, Emily meminta bantuan yang lain, dia sudah hampir pingsan.
Setelah menurunkan 10 pasien, kami bergegas menjemput pasien lainnya ke hutan. Jalan yang berbatu membuat perjalanan terhambat. Jam 03.30 dini hari Ling ling dan Sandy sudah terlihat lesu.
Sampai di hutan, sudah penuh dengan tentara berbaju hitam, mereka anak buah Pak Andy. Aku turun bersama dengan Sandy dan Lingling.
Salah seorang tentara itu mendekati kami, "Maaf mana yang bernama Hannah?", dia mencariku.
"Aku Hannah"
"Kami bagian dari pasukan bersayap di bawah komando Pak Andy, bisakah kau mengantar kami, ditempat tentara yang pingsan".
"Ayo sudahlah ramah tamahnya, aku Sandy siapa namamu, (Sandy melihat nama yang dijahit dibgian depan baju) oooh Daniel, kemarilah aku akan menunjukkannya", gaya Sandy yang sok tau membuat tentara itu langsung mengikutinya tanpa bertanya.
Sampai ditempat itu, bawahan Pak Andy menyalakan lampu besar dengan energi listrik dari sayap mereka. Hutan menjadi terang. Seketika langsung terlihat puluhan tentara tergeletak pingsan.
Mereka dengan sigap membawa rekan mereka yang pingsan itu, semua keluar dari hutan.
Mereka mencatat nama dan pangkatnya.
"Maaf Daniel, kenapa tak langsung dibawa saja ke rumah sakit", aku protes dengan cara mereka memperlakukan pasien.
"Tenanglah, Hannah Pak Andy akan membawa mereka sekaligus dengan pesawat tempur raksasa" , jawab Daniel santai.
"Kau sering melihat ini Daniel?".
"Pernah satu kali, tapi tak pernah lihat sebanyak ini".
"Apa kalian melakukan sesuatu di Hutan, sehingga hanya tentara yang tertempel parasit?", pertanyaan dari Ling ling membuat Daniel jadi diam.
" Ayo sekarang kita lakukan prosedur penyemprotan dengan air jeruk hutan", mereka membawa banyak sekali air jeruk hutan.
Karena tak ada alat, kami menyemprotnya satu persatu. "Ingat, setelah warna rambutnya berubah, semprot lagi untuk yang kedua kali", aku mengingatkan.
Masing-masing tentara punya alat penyemprot, jadi cepat sekali tugas ini selesai.
Setelah semprot dua kali, ada beberapa tentara yang sadar, membuka mata, tapi belum bisa bicara.
Jam 05.00, terdengar suara pesawat tempur diatas hutan, sepertinya pesawat tak bisa mendarat.
Aku melihat dari angkasa, terbang turun mendekat, " Pak Andy,....!", dia gagah sekali.
"Sudah hampir pagi, ayo kita bawa, kawan- kawan ini keatas". Mereka semua bersayap. Jadi mereka bolak-balik membawa pasien.
"Hannah terimakasiih, sudah menelponku", Pak Andi memelukku. Lalu senyum dan mengangguk pada Lingling dan Sandy. Lalu dia pergi terbang masuk ke dalam pesawat bersama semua tentara yang lain. Hutan langsung terasa sepi.
Diperjalanan menuju Rumah Sakit, kami tak banyak bicara. Sekarang aku yang menyetir, Ling ling kecapekan begitu juga Sandy.
Aku lapar sekali, berhenti di warung pinggir jalan, membeli secangkir air dan sarapan. Aku juga beli untuk Ling ling dan Sandy. Kali aja mereka terbangun dan minta sarapan. Sandwichnya enak sekali, mungkin karena aku lapar.
Dipeluk Pak Andy, membuat aku menjadi bersemangat. Aroma Pak Andy mengingatkanku pada Spain. Tubuh Spain juga beraroma sangat harum sama seperti Pak Andy. Tapi harumnya berbeda.
Kota Tepian sepi sekali, padahal ini hari Minggu, hari pasar, seharusnya pasar hutan sudah sangat ramai sepagi ini.
Aku jadi rindu kota Nein, dan kafe Bu Mimmi.
Sambil makan sandwich di tepi jalan, aku lihat ke angkasa, kenapa jam 06.30 masih seperti malam, tidak biasanya.
Orang yang berkumpul di pasar juga sudah mulai melihat ke langit angkasa, mereka juga terheran-heran dengan cuaca pagi ini.
"Ini kenapa masih gelap sekali ya?", ibu yang dibelakangku, nyeletuk spontan.
"Itu malah masih ada bintang?", teriak bapak- bapak dibelakangnya.
Ada pemetik bunga lewat di depanku dia sudah sangat bungkuk, membawa sekeranjang penuh bunga, "Mungkin seperti ketika The First masih hidup, sama seperti ini, langit gelap!, perisai, kubah elektrik kita bolong, kita akan terlempar.....", pemetik bunga itu berkata sambil berjalan, membuat orang-orang yang mendengarnya panik, termasuk aku.
Aku pernah memimpikan ini, ketika di sinari oleh permata hitam dari pedangku. Persis seperti ini. Aku berpikir keras, kemudian pemilik sebelumnya, dia....melakukan apa ya.....duh, aku tak ingat. Coba aku pikir lagi. Terlalu ramai disini, aku tak bisa fokus.
Aku berlari ke mobil, Sandy dan Ling ling masih tidur, aku letakkan sarapan dan minuman ke dalam mobil, ke dekat mereka. Aku bergegas lari masuk ke hutan di dekat pasar. Aku mengambil the first, dari tubuhku. Aku ingat lagi waktu itu, ingatan itu......Ya aku ingat!!!
Aku berdiri ku buka kakiku selebar bahu agar kuat, the first di genggam dengan dua tangan lalu diarahkan ke langit. Seingatku, kakek itu terbang ke langit.
Kenapa aku tak terbang, diam saja, oh mungkin karena sayapku tak dibuka. Tapi aku perempuan gimana caranya. Aku ingat sayapku hanya keluar disepanjang tulang belikat lurus ke bawah. Aku buat saja sobekan memanjang ke bawah.
Aku berlari lagi ke pasar hutan, mencari toilet. Dalam toilet aku buka bajuku. Lalu kubuat sayatan memanjang di belakang, tempat keluar sayap. Untunglah baju ini, tempat semua peralatan ada, sangat berat, tapi berfungsi baik buat kami yang membantu medis.
Sudah, sayatannya rapi, tak akan terlihat, aku tak perlu memakai pakaian dalam yang akan menghalangi tumbuhnya sayap. Sudah selesai. Aku harus bergegas ke tempat sepi lagi.
Sampai di hutan dekat pasar, aku melakukan hal yang sama lagi. Berdiri dengan kaki selebar bahu, The first di genggam dengan dua tangan. munculkan sayap, lalu arahkan the first ke langit.
Berhasil, aku terbang, aku harus mencari tempat tergelap lalu di langit, lalu mengarahkan the first ke perisai, agar perisai tertutup lagi. Itu! aku lihat disebelah sana, kubah perisai elektrik yang berlubang.
Pemandangan diatas sini luar biasa, aku bisa melihat planet Kiehl dan stasiun pendaratannya. Manusia tak nampak dari sini. Setelah ini, energiku akan terkuras, Semoga Tuhan masih melindungiku.
" HYAAAAAAA!!!!!", aku berteriak sambil mengarahkan the first ke bagian yang kubah yang berlubang. Seperti ditarik oleh kekuatan besar, aku harus menahan The First yang membuat perisai baru. Pedang ini bergetar sangat kuat, aku harus bisa menahannya.
"AAAARGGGGGHHH", aku tak bisa menahannya lebih lama. Ayo cepatlah pedang bermata hitam, apapun yang akan kau lakukan, kumohon cepatlah!!!
Tiba-tiba getarannya menghilang, pemandangan di langit angkasa berubah normal, menjadi terang, mampu menyerap sinar bintang. Huff selesai... Sebaiknya aku segera turun ke Tepian.