Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Pesta Pertunangan


Hanya membutuhkan waktu beberapa belas menit akhirnya Radja dan Berliana sampai disebuah hotel mewah. Berliana segera keluar dari dalam mobil tanpa menunggu Radja membukakan pintu untuknya.


Senyumannya melebar kala kedua orang tuanya serta Elira ternyata masih menunggunya. Berliana segera berjalan cepat kearah ketiganya, sementara Radja yang masih dibelakangnya terlihat menggelengkan kepala pelan.


" Kalian belum masuk?" Berliana terlihat celingak celinguk saat melihat para tamu undangan sudah memasuki hotel.


"Kami menunggu kalian, ayo tamu lain sudah pada masuk. Kayaknya acara sudah dimulai." Bara menggiring istri anak serta calon menantunya masuk.


Kelima orang itu mulai memasuki hotel setelah menunjukan undangan mereka. Kedua mata Berliana membulat kala melihat betapa mewah acara pertunangan ini.


"Ini serius cuma tunangan? kayaknya kita salah masuk hotel deh." Berliana berbisik pelan pada Radja yang tengah merangkul pinggulnya posessive.


Sementara kedua orang tuanya sudah berjalan terlebih dahulu didepan mereka berdua.


"Kita tidak salah Queen? kenapa? kamu mau pertunangan kita mewah seperti ini hm?" Radja sedikit menundukan kepalanya kala bernicara dengan sang kekasih.


Berliana menoleh, kedua sudut bibirnya berkedut menahan senyuman. Dia merasa kalau Radja tengah memberikan kode alam padanya. Hm harus dimanfaatkan dengan baik bukan,manfaatkan Berliana sayang.


"Kita gak perlu tunangan My King, mending langsung nikah aja. Pulang dari pesta ini juga, aku siap." ucap Berliana santai, bahkan wanita itu melepaskan rangkulan tangan Radja dari pinggulnya. Berliana tersenyum manis pada kekasihnya, dan dengan jahil dia mengedipkan sebelah matanya genit pada duda tampan itu.


Radja hanya bisa mengulum senyumannya kala melihat tingkah Berliana, pria itu melangkah cepat kala melihat Berliana dengan jahil menjauh darinya.


πŸ’


πŸ’


πŸ’


Bara terus saja menatap malas pada pria yang juga tengah menatap malas padanya. Kedua pria paruh baya itu saling melemparkan tatapan sinis dan tidak suka saat mereka bertemu.


"Kenapa pada diem dieman kayak gini sih? Papa sama Ayah mertua udah kayak mantan ketemu mantan, gak akur." Berliana terlalu jengah dengan tingkah kedua pria kelewat dewasa yang ada didekatnya.


Sementara Radja hanya menggaruk pelipisnya melihat tingkah sang Ayah dan calon Papa mertuanya. Dia sudah yakin kalau hal ini pasti akan terjadi, rival berbesanan dengan rival, kalau mereka bertemu ya seperti ini.


"Mas?" panggil Agatha pelan


Namun bagi Bara panggilan pelan yang dikeluarkan oleh sang istri terdengar seperti simponi penuh ancaman nanti saat mereka pulang.


"Ekhem, apa kabar Tuan Rajasa?" Bara bertanya seadaanya, bahkan terdengar malas.


"Ayah?" Kali ini Soraya yang harus menjadi pawang pria yang terkenal keras kepal, angkuh serta menyebalkan dihadapan rivalnya.


"Aku baik, bagaimana juga kabarmu TuanΒ  Barata." kini Rajasa ikut berbasa basi agar Soraya tidak selalu menatapnya penuh intimidasi.


"Seperti yang kamu lihat, aku sangat sangat baik sekali." Ucap Bara penuh percaya diri.


Rajasa yang mendengar itu hanya menunggingkan senyuman tipisnya, pandangannya beralih pada Berliana dan Radja, lalu beralih pada wanita yang ada disamping tubuh istri rivalnya.


"Dia anakmu juga?" Rajasa tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya pada wanita yang tengah mengalihkan pandangannya pada panggung utama.


"Bukan, dia Elira keponakan kami." Agatha menjawab dengan pelan sembari merangkul pundak Elira.


Rajasa menganggukan kepalanya, namun dia merasakan ada yang aneh pada pandangan wanita itu, pandangan kosong yang terarah pada satu titik.


"Elira? kamu baik baik saja?" entah kenapa Rajasa merasa ada luka didalam tatapan kosong yang ditampilkan oleh Elira.


Agatha dan yang lainnya ikut menoleh pada Elira yang memang tengah menatap kosong kearah panggung utama dimana sepasang kekasih akan melakukan pertunangan mereka disana.


"Lira? kamu kenapa Nak?" Agatha terlihat khawatir saat melihat keponakannya, Berliana bahkan terlihat segera mendekat saat sang Mama terlihat khawatir.


"A-aku gak apa apa Mak Cik, a-aku kayaknya ma-mau pulang aja." Elira terbata kala melihat pria yang seminggu yang lalu mengatakan akan bertanggung jawab padanya.


Tapi apa sekarang? pria itu malah akan bertunangan dengan wanita lain dihadapannya.


Pandangan mereka bertemu, keduanya membeku. Elira seakan membatu ditempatnya kala melihat pria itu turun dari atas panggung utama, dan berjalan cepat kearahnya. Pria itu tidak peduli dengan teriakan tunangannya yang terus saja memanggil namanya.


"Elira?" lirih pria yang semakin mendekat padanya


Semua orang menoleh pada keduanya, Barata mau pun Rajasa serta yang lainnya ikut mengalihkan pandangan mereka pada Elira dan tuan rumah pesta ini, yaitu Arjuna.


"Elira, aku bisa jel...,"


PLAK!



ADA PELANGI SETELAH HUJAN