
Raga terus saja menatap pada Bara, Kakak sepupunya itu terlihat sangat mengintimidasi.
"Jadi, apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Tuan Ragata?" tanya Barata, bahkan pria itu berbicara formal dengan Raga.
"Aku ingin melamar Elira!" jawab Raga yakin,dia tidak perlu sok sokan gugup dan grogikan. Malu dengan umur yang sudah tidak lagi muda.
Jawaban yang diberikan oleh Raga membuat Bara dan Agatha saling tatap. Entah apa yang tengah mereka bicarakan dalam pikiran masing-masing.
"Kau ingin melamar Elira?" tanya Agatha, kini wanita beranak dua itu ikut angkat bicara. Apa lagi ini soal Elira, Ibu dan Ayah sambungnya sudah menitipkan Elira padanya,jadi saat ini wanita muda itu adalah tanggung jawabnya dan Bara.
"Iya Kak, aku ingin melamar Elira dan segera menikahinya. Tidak apa kan? soalnya Elira tidak ada hubungan darah denganku atau pun dengan kalian." ucapan Raga membuat Agatha terdiam, namun Bara terlihat menganggukan kepalanya pelan.
"Maaf Raga, bukannya kami menolak. Tapi kami tidak berhak menyetujui tanpa orang yang bersangkutan. Nanti biar Elira yang akan menjawabnya sendiri," ujar Bara pelan, dia memberi tahukan Raga kalau mereka tidak berhak menentukan menerima lamarannya atau bahkan menolak.
"Baiklah Kak, aku akan menunggu jawabannya langsung dari Elira." Raga terlihat menghela napasnya pelan, dia menoleh pada sang Mami yang tengah mengusap punggungnya guna memberikan ketenangan.
Sedangkan diambang pintu antara ruang tengah dan ruang keluarga, Elira hanya bisa mematung ditempat. Kedua tangannya yang tengah membawa nampan dan beberapa cangkir teh hijau sedikit bergetar.
Gejolak didadanya semakin memburu,bahkan wanita itu sampai menggigit bibir bawahnya karena gugup. Rasanya untuk melangkah saja Elira tidak sanggup.
Elira menghirup napasnya dalam dalam, dia berusaha menetralkan wajah terkejutnya saat ini. Perlahan Elira masuk kedalam ruang keluarga, dimana Raga dan yang lainnya berada. Elira bersikap sebiasa mungkin saat menyajikah minuman untuk Raga dan yang lainnya.
"Silahkan Mace,Pace, Om Raga diminum teh nya." ucap Elira sopan, kemudian wanita itu bangkit dan hendak kembali kearah dapur.
"Lira?" panggilan Bara membuat langkahnya terhenti, kedua tangannya mencengkram erat nampan yang ada didepan dadanya. Elira bahkan harus memejamkan kedua matanya terlebih dahulu sebelum dia berbalik.
"Iya, Pak Cik?" sahut Elira tenang
"Duduk!" titah Bara tidak ingin dibantah
Antara ragu dan menurut, Elira sangat sulit untuk memilihnya. Namun karena ingin menghormati orang yang sudah banyak berjasa didalam hidupnya, Elira akhirnya melangkahkan kedua kaki menuju Agatha dan Bara.
Elira mendudukan diri di sebelah Agatha, kedua tangannya masih memeluk erat nampan.
"Lira?" panggil Mace Reina, wanita bercucu dua itu bahkan mendekat pada Elira, lalu meraih nampan yang sedari tadi Elira peluk.
Mace Reina segera meraih kedua tangan Elira dan menggenggamnya erat.
"Kedatangan Mace dan Pace kesini, ada hal penting yang mau kami bicarakan dengan kamu. Kami mau melamar kamu untuk Raga, putra bungsu kami. Apa kamu mau menerima bujangan tua itu?" ucap Mace Reina dengan lembut
Kedua mata Elira mengerejab, pandangannya dia gulirkan pada Bara dan Agatha, lalu kembali beralih pada Raga yang tengah menatapnya lembut, dan kembali beralih pada Mace Reina.
"Maaf," satu kata yang terucap dari mulut Elira membuat tubuh Raga membatu, dia akan ditolak?
"Tidak apa Nak, Mace mengerti kok. Kamu pasti tidak akan pernah mau menikah dengan bujang tua kayak Elang, Mace juga gak akan mau kalau jadi kamu." Reina mencoba mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Elira saat ini, wanita muda ini pasti masih shock.
Namun saat Reina melihat Elira menggelengkan kepala, dahi Oma dua orang cucu itu berkerut. Kenapa Elira kembali menggeleng setelah menolak lamaran putranya.
"Justru Elira yang, yang tidak pantas untuk menjadi pendamping Om Raga. Mace tahu sendirikan bagaimana keadaan Lira saat ini? Lira tidak pantas untuk siapa pun, Om Raga bisa mendapatkan pendamping yang lebih baik lagi dari pada Lira." napas Elira sedikit tercekat, bahkan saat berbicara dia pun tersendat.
"Tapi Nak, kita tid..," ucapan Reina dipotong cepat oleh Elira
"Lira sudah kotor Mace, Lira gak pan..," ucapan Elira pun segera dipotong oleh Raga
"Tidak ada manusia yang bersih didunia ini Amor, Semua orang bernoda. Aku, kamu, mereka, kita semua ini bernoda, lalu apa bedanya." Raga akhirnya ikut angkat bicara setelah dari tadi menahannya.
"Aku berbeda Om, a-aku sudah terno...," ucapan Elira kembali terputus
"Aku tidak peduli dengan semua itu, bukan kamu yang menginginkannya. Kamu tidak pernah kotor Elira, kamu akan selalu terlihat suci dimataku. Jadi, apakah kamu mau menerima pinangan si Bujang lapuk ini?" ucap Raga begitu dalam, bahkan saat ini pria itu sudah berjongkok dibawah Elira, sembari membuka sebuah kotak beludru hitam yang berisikan sebuah cincin berlian murni.
Air mata Elira semakin mengalir, dia tidak menyangka kalau masih ada pria yang mau menerima dirinya yang sudah bernoda ini. Padahal Elira yakin kalau Raga masih bisa mendapatkan wanita perawan diluar sana, wajah tampan, mapan dan pastinya keluarga harmonis.
"Aku bakalan nerima Om Raga, kalau Om juga meminta izin sama Papa. Mau bagaimana pun, Papa yang akan menjadi wali nikah aku nantikan?" ucapan pelan Elira membuat Raga mengembangkan senyum. Bukannya secara tidak langsung wanita ini menerima pinangannya.
"Oke! aku akan meminta restu dan izin pada Papa mertua, bersiaplah! besok kita akan menemuinya!" ucapan yakin Raga membuat semua orang membulatkan kedua mata, termasuk Elira. Apa sebegitu ngebetnya Raga, ingin menikahi Elira.
**YUHUUUU JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU NEXT TOMORROW BABAYY MUUUAAACCC**